Atas Nama Cinta

Atas Nama Cinta
37.


__ADS_3

Bagaskara mengerjap matanya memicing menyesuaikan cahaya sekitar nya. Sebentar membuka sebentar menutup matanya, setelah itu ia menatap sekitar nya. Sepi, ada orang yang tidur di seberang nya. Di sofa ruang tunggu satu ruangan dengan nya, " Itu bukan Larasati, membelakangi nya.


Tubuh laki-laki terlihat jelas, siapa? Batinnya menatapnya tak berkedip. "Mungkin dia Akbar? Ya, pasti dia dan Larasati pasti di rumah." Batin Bagaskara.


Klek. Bunyi pintu di buka, seseorang masuk ke dalam ruangan. "Hei, Dirga bangun! Kerbau kau!" Hardik Akbar menendang sofa dengan kakinya.


"Subuh,. apa kau tak bangun? Sana bersih-bersih shalat!" Lelaki itu meletakkan dua sterefom makanan, melepaskan jaket juga pecinya menyimpan di dalam tasnya.


"Kak Bagaskara!" Seru Akbar melesat ke dekat lelaki itu dan reflek menekan tombol emergency untuk perawat.


Dirga yang malas-malasan langsung ikut bergerak mengikuti nya. Derap langkah kaki mendekati mereka, dokter dan perawat berlarian menuju ke mereka langsung mengecek kondisi Bagaskara. Keduanya memberikan ruang untuk petugas medis.


"Sepuluh menit lalu saya mengeceknya belum ada tanda beliau sadar. Dok." Ucap perawat menjelaskan tentang keadaan dengan gugup. Takut di salahkan oleh dokter seniornya.


Dokter mengangguk sambil memeriksa motorik mata, berikut lainnya. "Senang Anda sudah bangun dari tidur panjang. Kita lihat perubahan fisiknya bagus, semuanya normal. Semoga lekas sembuh dan pulang ya? Beraktivitas seperti biasa." Ucap sang dokter.


"Amin." Sahut Akbar cepat, Bagaskara hanya mengangguk mengiyakan ia masih lemah.


Setelah selesai memeriksa dokter pun undur diri, tak lama Larasati masuk membawa paper bag bersama Cicilia, Galuh. "Mas Bagaskara." Seru Larasati tertahan menahan harunya melangkah mendekat.


Wanita itu mengambil alih duduk di sampingnya Bagaskara , Akbar pun menyingkir duduk di sofa diikuti oleh Galuh Cicilia. Dirga menatap sendu ke arah keduanya tidak ada niatan menutupi perasaannya.


Galuh dan Cicilia mengikutinya dari belakang, Akbar hanya berdecak melihat ekspresi Dirga yang nelangsa. Akbar memilih berdiri di sisi teman-temannya.

__ADS_1


"Aku senang, Alhamdulillah kau sudah sadar. Aku bahagia, kau mampu melewatinya." Isak Larasati memeluk lengan Bagaskara. Bagaskara mengusap halus , gerakannya pelan nyaris tak berasa. Larasati mengerti jika suaminya baru saja sadar setelah semalaman dia belum terjaga.


Menurut dokter seharusnya ia sudah siuman pasca operasi, namun dia belum memberikan tanda-tanda sadar. Walaupun menunjukkan dia melewati masa kritisnya. Dan semua pemeriksaan terhadap kesehatan mengalami kemajuan namun Bagaskara masih belum sadar.


"Aku mencemaskan mu,. Apa yang kau pikirkan? Apa kau tak sayang sama kita?" Larasati hanya terisak sambil mengelus-elus lengannya Bagaskara.


"Alhamdulillah, kalian selamat." Jawab Bagaskara lirih nyaris tak terdengar. Namun Larasati mengerti maksud suaminya. Ia berdiri dan meletakkan tangan suaminya di perutnya.


"Kami tak terluka semuanya berkat dirimu. Kau sudah menjalankan tugas sebagai suami dan ayah yang hebat. Aku hanya pingsan karena shock melihat kejadian itu dan darahmu."


"Baby sehat dia tak ada cedera, kami mencemaskan keadaan mu." Jelas Larasati tersendat-sendat di sela isakan lirih nya.


"Maafkan aku, membuat mu khawatir. Terimakasih." Bagaskara mengusap halus perut Larasati yang buncit. Juga menatap teman-teman nya Larasati.


"Aku sengaja tak mengatakan pada ayah, beliau sudah tua kasian jika hilir mudik perjalanan jauh untuk ke sini." Kata Larasati.


Bagaskara mengerjap menjawabnya dan berkata lirih, "Terimakasih.". "Cepat sembuh, semoga ini terakhir kalinya kau sakit. O, ya wanita itu sedang dalam penyelidikan lebih. Dan Papa sudah mengurusi semuanya, juga menuntut nya. Dia dibantu asisten mu." Jelas Dirga lebih jauh. Semuanya terdiam sejenak, canggung dan kaku.


"Aku pamit, semoga kau cepat pulih dan pulang serta beraktivitas seperti biasa. Bye semuanya." Dirga melangkah keluar dengan tergesa begitu meninggalkan ruangan itu.


Ingin menjauh secepatnya agar tak ada yang melihat nya terpuruk, dia yang mengenaskan karena cinta pertama nya patah sebelum berkembang.


Lelaki itu menangis terduduk di balik kemudi mobilnya. Terisak sambil menenggelamkan wajahnya di kemudinya. "Apa segitunya aku tak pantas bahagia karena karma Papa yang sudah berbuat jahat pada nya. "

__ADS_1


"Maafkan Papa, Bibi. Maafkan dia, semoga kau bahagia di surga sana. aku janji akan menjaga putrimu layaknya seorang kakak yang melindungi adiknya. "


"Walaupun dia sangat membenciku karena ulah Papa terhadap mu. Mama juga menyesali perbuatan Papa, maafkan kami." Jerit Dirga pilu. Menangis tersedu-sedu di dalam mobilnya.


Semuanya sudah terlambat untuk memperbaiki segalanya, andai saja Papa tak lepas tangan dan tak menyakiti nya. Dirga merasa pesimis dengan segala upaya nya untuk mendekati Larasati.


"Adikku terlalu menderita diperlakukan seperti itu juga dijadikan alatnya, sudah sewajarnya saja dia membenci kami semuanya." Gumamam Dirga.


Lelaki itu menegakkan tubuhnya dan mengusap wajahnya dengan tisu box menatap lurus, kosong. Hampa, setelah siap ia pun bergerak mengemudikan mobilnya meninggalkan rumah sakit.


Di ruang rawat inap Bagaskara sudah memulai minum susu dan bubur encer, Larasati melayaninya dengan telaten. Sementara temannya pulang meninggalkan sepasang suami istri itu berdua melewati waktu kebersamaan mereka.


Ketiganya meninggalkan tempat itu setengah jam setelah kepergian Dirga, dan akan kembali sore nanti dan tentunya Akbar akan menemani pada malam hari sedangkan kedua rekannya menemani Larasati di apartemennya.


"Makasih, kau ada di saat-saat seperti ini." Ucap Bagaskara lirih. "Aku istrimu Mas. Sudah kewajiban ku, kau juga memberikan kebebasan ku. Aku pikir akan seperti mimpi buruk jika menikahi mu."


"Aku pikir akan seperti di sinetron ikan terbang itu.." Sahut Larasati, Bagaskara hanya tersenyum memainkan jari-jarinya Larasati. Tak lepas dari senyuman Bagaskara berkata.


"Kau cantik, tapi apa yang terjadi pada mu diluar kehendak mu. Aku prihatin, kau di jadikan sebagai alat pelunasan utang. Sejujurnya aku tak memiliki apapun yang bisa ku tawarkan untuk mu sebagai gantinya."


"Aku bahkan tak bertindak adil padamu, aku selalu membuat keputusan sepihak tanpa bertanya kepada mu. Maafkan aku juga turut serta menyakiti hati mu."


Bagaskara menatap wajah sang istri lekat tak berkedip , Larasati hanya terdiam berkaca-kaca membalas tatapan matanya Bagaskara.

__ADS_1


"Aku lebih diperlukan manusiawi saat disisi mu. Kau tak pernah membentak, atau berkata kasar. Bagaimana bisa aku membenci mu. Walaupun kau tak adil ... Namun kau membuat aku hidup nyaman, aku bisa apa.."


Larasati tersedu-sedu menundukkan wajahnya, Bagaskara hanya menghela nafasnya melihat tingkah sentimental sang istri.


__ADS_2