
Bismillah. Assalamualaikum. Selamat membaca.
Dengarkan aku
Kalau lautan jangan dibeku
Kalahkah ia ditemu
Kekalau api disatu
Jangan dipeluk
Tubuhmu melepuh
Kau mengaduh
Jadi dengarkan aku
Dengarkan
***
''Bukan tak segan. Bukan tak peduli. Apa arti peduliku kekalau nanti membawamu pada nafsu yang berujung pilu?''
(Simulasi UNBK. Lampung, 11 Desember 2018 )
***
Tentang hari yang mengenaskan itu, masih jua mengaduk-aduk ruang pikiran Najla. Bagaimana mungkin tangannya untuk kali pertama menyentuh tangan pria selain Bapak? Bahkan, tangan Bapak gurunya di sekolah saja ia tolak secara halus. Semua itu berlangsung sejak Najla SMP. Dan kini sudah berakar kuat mengikat jiwanya.
Biji-biji jagung yang tengah ia gagas habis dari bonggolnya menggunakan pisau telah usai. Pikirannya bergumam tentang Ashad, tangannya bergerak tanpa perintah.
''Teh!''
''Eh, i-iya Ibu. Ada apa?''
''Malah ngelamun. Udah sini biar Ibu aja. Udah siang, kamu mandi sana.''
Ia tak mengelak. Bangkit dari bangku belakang itu, tangannya menyambar handuk yang tergantung di dekat sana. Sebuah kalimat bagai menelusup pelan batinnya. Mengemasi gundah gulana yang tak lekas beranjak. Sadar jua dan kegengsian Najla bersikap wajar di depan Ashad kembali ke daratan. Dipikir-pikirnya menangisi karena khawatir Ashad diapikan hati oleh Najla jelaslah salah. Baiknya ia menangisi sekadar karena Allah. Karena Allah.
Sebuah tekad lantas menggebu-gebu, Najla tahu apa yang perlu ia lakukan. Sedikit, sudah bersinar wajahnya itu. Senyum mengembang sempurna.
***
Lembaran berikutnya ia buka. Berderet-deret tulisan dari sebuah novel yang ia genggam tak sampai hati. Sampai mata tuk didalaminya saja sungkan-sungkan. Terburu dikejar-kejar keengganan, tersebab Najla bukan tipikal insan yang hobi memburu bahasa imajinasi. Biar kini, dianggap batu lampiasannya saja. Kegiatan lomba antar kelas akan segera selesai, sedang perwakilan dari kelasnya tak satu saja yang berhasil mengikuti babak-babak selanjutnya hingga di titik final. Barangkali, tiap-tiap lomba antar kelas yang menarik-ulur otot tubuh itu anak IPS akan banyak menangnya. Laksana kandangnya mereka, anak IPA dibuat murung dan kalah telak.
Mulut-mulut yang jiwanya tak sabaran mengantre untuk sampai di meja penjaga perpustakaan itu saling beradu suara. Buku dalam dekapan mereka tak sekadar satu ataupun dua buah. Sejumlah mata pelajaran yang diikuti tentunya. Sedangkan Najla berbahagia ria saja, datang pagi-pagi buta enggan mengantre sudah bisa membuatnya kini berleha-leha di perpustakaan. Kabar ketiga sahabatnya belum sampai ia lihat dan tak lama kemudian mereka tergopoh-gopoh datang bersama napas yang naik-turun. Najla tam mengetahuinya.
''Asli, antrean sepanjang ini kita kapan dapetnya coba?'' tanya Mina.
Butiran-butiran sebesar biji jagung sudah tertepi sampai pelipis mereka. Ismi tak peduli saja, terbiasa ia mengolahragakan diri. Mina menjadikan sebuah bukunya kipas, sedang Aurel menyeka peluh itu dengan sangat anggun menggunakan tisu. Kenyamanan amatlah senyap di tubuh Aurel. Sudah ia pikir-pikir nanti kekalau semakin banyak raga berdatangan, lantas jaraknya tak jauh dari Aurel, ia khawatir bau-bau tak sedap hinggap di hidung mereka.
Tiada pikir panjang, buku-buku di tangan Aurel ia jatuhkan di atas tumpukan buku Ismi. Keterkejutan berada di wajah Ismi. Bebannya bertambah, kekesalan mencuat hingga ubun-ubunnya laksana kepulan asap muncul di sana.
''Izin ke toilet bentar.'' Tak sampai peduli ia dengan air muka Ismi.
''Berat woy!''
Sudah cukuplah satu seruan dari Ismi, banyak pasang mata di sana tertarik menatapnya. Menelisik apa-apa jua yang terjadi sampai suara itu melengking hampir menyakiti gendang telinga. Antah berantah kata apa yang meluncur dari mulut Ismi, sekadar sebuah kuas kata penerjemah perasaan anyelnya yang tak tertahan. Sepersekian detik kemudian ia jadikan lantai perpustakaan itu kasur tidurnya buku-buku yang ia pangku. Kalau tak demikian, sampailah pada pergelangan tangannya yang ngilu dan kaku nantinya. Sungguh, Ismi sebal sendiri.
''Berat lah buku-buku ini. Aurel tak mengerti memang. Asal pergi tanpa minta tolong agar aku bawakan bukunya.''
__ADS_1
''Kalo ada Najla, kamu udah diomel-omel sama dia, Is.''
Seperti diingatkan.
''Oya. Najla mana ya? Kita orang belum ketemu dia dari tadi.''
Dari dalam, sebuah suara menyeru Najla. Sigap, Ismi dan Mina tertarik untuk menjulurkan kepala ke dalam.
''Najla, tolongin Bu Eko bisa gak?''
Najla terkesiap. Mata bulatnya memandang ke arah Bu Eko.
''Iya, ada apa, Bu? Apa yang bisa Najla bantu?''
''Coba ke sini dulu, Nak.''
Tergeraklah jua kaki Gadis bertubuh jangkung dan kecil itu. Tibanya di meja Bu Eko, ia dipinta turut mengulurkan tangannya merapikan buku-buku dari murid. Ditata sebaik mungkin sesuai judulnya di gudang perpustakaan. Dari luar, Ismi dan Mina barulah menemui jawabannya. Gadis yang baru mereka pikirkan sudah berada di perpus sebelum kehadiran mereka. Bergumam-gumam pula jam berapa Najla tiba.
Kian jauh jam itu bergerak pada putarannya dari tempat semula, kian panjang jua antreannya. Aurel tiba bersama semerbak pewangi tubuhnya yang tajam menusuk indra penciuman. Ismi mengomel-ngomel memarahinya.
Tak ayal, tiba di barisan Ismi, Mina, dan Aurel, ketiganya turut serta dipintakan bantuan mengurusi buku-buku bersama Najla. Lelah sudah merajam diri akibat berdiri memangku banyak buku, kini pantaslah ditambah lagi mengangkut serta meeta menatanya. Ismi hampir mengomel sebelum Najla mengetahui gelagatnya, lantas memberi sedikit petuah.
''Udah atuh jalanin aja. Yang ikhlas. Biar jadi pahala.''
Kalimat-kalimat tanpa adanya proses filtrasi dari mulut Ismi tertelan kembali. Justru dirasanya malah menohok diri sendiri.
Aurel menatanya dengan kaku. Debu-debu tipis di gudang membuatnya sedikit mengeriputkan diri. Ismi dan Najla yang mengangkut buku-buku itu. Mina menjadi sekretaris dadakan di perpus, membantu Bu Eko mencatat nama-nama murid beserta judul bukunya. Sempat, perdebatan kecil dari mulut Aurel dan Mina terjadi. Aksara tangan Aurel yang cukup bisa dikatakan mengacaukan pandangan tetapi memaksa diri untuk menjadi pendata, sedangkan Mina yang rangkaiam aksara dari tangannya laksana susunan huruf Times New Roman mengajukan diri.
''Aku gak mau berhubungan sama debu. Please aku aja, Mina.''
''Bukan apa-apa, kasihan Bu Eko nanti gak bisa baca tulisanmu, Aurel.''
''Ih.''
Sampai di penghujung antrean, Bu Eko bernapas lega. Tersisa dua siswa dan kini otot-ototnya bisa diregangkan. Energinya bisa di-charge ulang.
''Eh Ashad. Mina kamu yang tulis ya, Nak. Ibu capek sekali ini.'' Bu Eko memundurkan kursinya. Undur diri jua untuk pergi ke kantor.
''Siap, Bu.''
''Wihhh sampeyan bantu-bantu tho, Min? Sama siapa aja?'' tanya Jojo.
''Itu. Sama Najla, Aurel, Ismi.''
Nama pertama yang terujarkan Mina, tepat sang pemilik nama tersebut menyembulkan diri dari gudang. Pandangan dan isi kepalanya masih penuh terhadap buku-buku, sampai tak ia ketahui kehadiran Ashad serta Jojo.
''Masih ada gak bukunya?'' tanya Najla.
''Nih. Tinggal punya Ashad sama Jojo.''
Tak ayal, bergerak terangkat jua kepala Najla. Ditatapnya gelisah dan sejenak kepada seorang insan. Yang ditatap bagai ditampar gelisahnya Najla, diberi rasa yang sama.
''O.'' Sudah. Ber-O canggung lah Najla. Suasana sedikit kikuk dan akhirnya Najla menyerah. Masuk lagi ke gudang. Tanpa tahunya, sikap itu kian menggunungkan sesal di hati Ashad. Dari matanya perasaan tak enak hati sudah disorotkan amat dalam.
***
''Maaf ya, Naj.''
''Soal yang di pasar? Atuh kenapa minta maaf? Perasaan semuanya mah baik-baik aja.''
''Waktu itu aku liat kamu nangis, Naj.''
__ADS_1
Keempat insan lain di meja itu bermain sandiwara. Mencegah-cegah kata apa saja keluar, takut kekalau mengganggu Ashad dan Najla. Kendari tawa ingin dilambungkan ke alam bebas. Cara bertingkah dan berdialognya antara Ashad dan Mina lah yang mampu mengocok kulit perut. Kaku, hambar, datar, perasaan bersalah laksana canda yang tanpa tujuan utama di pendengaran mereka.
''Tapi Ashad liat kan kalau Najla teh biasa aja ke Ashad sampai sekarang?''
''Iya, biasa. Masih kayak awal SMP. Jutek cuma sama aku.''
Wajah yang sedari tadi disembunyikan dengan gerakannya yang menunduk itu, terangkat sedikit. Tenggelam lagi melihat pergerakan tangannya yang memutar-mutar sedotan di dalam gelas es teh.
''Hih. Intinya Ashad teh datang ke meja kantin ini buat minta maaf soal kejadian di pasar, kan? Ashad gak dalah. Najla yang salah, Ash. Buru-buru jadinya malah pegang tangan Ashad. Lagipula, Najla nangis teh merasa bersalah sama Allah. Bersalah banget, walaupun Najla gak sengaja dan Allah tau itu.''
Punggung tangan Aurel dibiarkan membekap mulutnya. Sudah singgah dalam bayang-bayang bagaimana dua insan yang dikenalnya amatlah menjaga diri itu, harus terperangkap pada adegan ketidak sengajaan. Sementara itu, Ismi dan Mina diam-diam penasaran apa yang terjadi kepada Najla dan Ashad setelah itu. Dua insan yang memang teramat menggemaskan, si gadis sesangar serigala, si lelaki sesabar ulat.
''Iya intinya kayak gitu. Najla maafin aku kan kalau seandainya sikap diam aku waktu itu nyakitin?''
''Iya.''
''Oke. Makasih atuh ya,aku juga maafin Najla kok walau gak sengaja.''
''Iya.''
Jojo bangkit mengikuti Ashad. Dikatakannya kalimat kepada Najla urung ia pergi, ''Gak kreatif sampeyan, Naj. Jawabnya 'iya' terus.''
Perginya dua lelaki itu, dalam waktu singkat membuat meja kantin Najla mulai berisik. Tiga wajah temannya saling mendahului menatap Najla. Membuka bungkusan tanya yang sedari tadi mendekam di pelupuk jiwa. Hingga tertambat pada budayanya anak muda dengan kata 'cie' yang mentah-mentah ingin Najla tolak. Sudah gerak jantungnya entah berkekuatan berapa, kini ingin merasa tenang justru disiramlah jantung itu untuk berdenyut di luar batas normal.
''Ya Allah aku tuh gak bisa bayangin gimana kamu di sana, Naj,'' celetuk Mina.
''I think, kamu dan dia jadi kikuk! Yes or not? Ngaku!''
''Terus-terus, akhirnya Najla jatuh cinta sama Ashad. Begitu kan?'' Ismi tak kalah jua untuk meramaikan topik pembicaraan.
''Baru jatuh cinta sama Ashad sejak kejadian di pasar itu, Naj? Yakin?''
Ingin menggeletakkan diri saja di atas kafan saat itu juga bagi Najla. Tak pernah pemikirannya mampu menerka kejadian itu menembus waktu dan pembicaraan yang panjang. Ashad mengatakannya di antara tiga jantung yang amat peduli soal asmara, sedangkan Najla kerap menjauhi topik satu itu. Terlebih, jika berhubungan dengan lelaki bernama ASHAD.
''Tuh kan! Pipi kamu orang merona, Naj! Kamu suka sama Ashad beneran?'' Ismi mengecilkan volume suaranya.
Satu karbondioksida terlepas dari ruang paru-paru Najla. ''Pindah topik pembicaraan atau Najla yang pindah tempat duduk?''
Lidah-lidah terkunci. Sebuah topik baru Aurel berikan. Tentang sabananya yang beberapa hari ini tak jadi kering kemarau. Demikian, Najla menjadi pendengar saja. Petuah urung ia berikan, sedang bermalas-malas mendebat temannya sendiri. Jadi, hanya Mina dan Ismi yang heboh menanggapi.
Siangnya, surya bergeser sedikit dari posisinya yang sempat berada tepat di atas kepala Manusia. Tas-tas diajak pulang lagi oleh si empunya masing-masing. Panas serta merta bisingnya suara motor mendominasi ruang lingkup sekolah. Di antaranya Najla berhasil keluar dari parkiran, seraya keempat ujung-ujung jarinya memijit pelipis. Ada denyutan yang membuat kepalanya terasa cukup berat. Namun tak begitu dirasa dan terasa.
''Eh, Ash! Beneran kan sampeyan suka Najla? Ndak usah ngelak lagi.''
''Shtt. Aku lagi cari Najla.''
''Tuhkan. Awas nanti Najla sukanya sama aku lagi.''
Pelan, buku tulis di tangan Ashad mendarat di kepala Jojo.
''Nah. Sampeyan cemburu kan kalo Najla sukanya sama aku? Wes to---. Eh Ash! Mau ke mana sampeyan?''
Di sisi jalan itu, tak sampai Ashad menghiraukan Jojo. Ia berlalu seraya berseru memanggil Najla. Gerakan sepedanya tahu-tahu sudah menjauh saja. Tak tahunya, jujur Najla mendengar seruan Ashad. Sudah kepalang tak tahan dengan denyutan di kepalanya, dan enggan denyutan dalam dada turut sibuk jua.
''Pikaseubeulen! Najla milih kabur aja. Pura-pura gak denger. Ampun Ya Allah, Najla kayak gini.''
*Pikaseubeulen\= Menyebalkan.
***
Bersambuuuunng.
__ADS_1
Terima kasih menyempatkan waktu membaca. Semoga bermanfaat. Wassalamualaikum.