Atas Nama Cinta

Atas Nama Cinta
Bab 12: Hutang


__ADS_3

Bismillah. Assalamualaikum. Selamat membaca.


Biar kau julur


Aku berbalas


Kau membahu


Balas budi kutahu


Kau melepas


Aku masih terikat


***


''Dan sungguh, manusia yang baik adalah manusia yang tak bisa melupakan kebaikan manusia lainnya. Bukan mengingat kebaikannya kepada manusia yang lain.''


( Lampung, 9 November)


***


Sedari tadi benda itu dijungkir balikkan olehnya. Sampai kedua matanya menyipit-nyipit dan telunjuknya dipaksa menarik sehelai uang dalam celengan. Bak gajak hendak menyusup ke lubang semut saja. Celengannya sudah cukup berat. Uang koin serta uang kertas yang membuatnya gendut. Dalam hitungan beberapa bulan jua lah waktu yang dibutuhkannya.


''Teh! Udah siang ini, kamu belum sarapan atuh?'' Dari ruang tengah Ibu sudah menggerakkan alarm jiwanya yang selalu gatal melihat anak-anaknya urung mengisi perut di pagi hari. Tak pernah dibiarkan olehnya jua kekalau sang anak bergegas membawa kaki ke sekolah tanpa sarapan, terkecuali memang sedang berpuasa sunah.


''Iya, sebentar lagi.'' Sedikit lagi, uang kertas yang sempat menyembulkan diri ujung kertasnya itu pelan-pelan ditarik. Pelan, takut kalau-kalau malah membuatnya terbelah.


Satu embusan napas pun melayang ke udara. Kala usai didapatnya sebuah nominal uang kertas 10 ribu dengan susah payah. Diselundupkannya lah ke dalam tas. Sekali lagi sebelum ia sarapan lantas berangkat sekolah, disempatkannya dahulu memantulkan bayangannya di cermin.


''Teteh hari ini kita berangkat bareng ya!'' Aini menuangkan sayur bayam ke dalam piringnya. Sedangkan Najla baru saja tiba. Tasnya ditaruh di lantai ruang tengah. Terduduk ia di sana.


''Apa gak kepagian?''


''Iya. Tumben Adek berangkat cepet? Nanti di sekolah belum ada orang kumaha?'' Timpal Ibu. Wanita itu turut sarapan bersama dua puterinya.


''Gak apa-apa. Lagi pengen pagi aja, Bu, Teh.''


Najla sekadar menganggukkan kepalanya. Ingin hati mengejek alangkah langkanya Aini berangkat pagi buta seperti ini. Hanya saja percekcokan urung ingin Najla panaskan pagi-pagi. Biar matahari di langit Timur yang masih menggeliat pelan untuk sekadar menyertai selimut kehangatan. Mengemasi embun yang mendekap daun-daun. Sehelai daun kakau yang sudah menguning di samping rumah jatuh, bagai tak menua. Sudah kebasahan gelembung air pagi-pagi, membuatnya masih jua segar di mata.


Pada pagi yang masih pucat itu, Najla dan Aini menyambutnya. Memberangkatkan diri ke sekolah usai dikecupnya punggung tangan Ibu. Sama-sama menggunakan sepeda masing-masing. Menghirup udara yang telah membekas kuat dalam indera penciuman. Aktivitas manusia belum terlalu hidup. Barangkali di dalam sebuah bentangan kain masih banyak tubuh-tubuh yang menyusup. Tak ayal terdapat pula yang sudah menyesap segelas kopi di bangku depan rumah. Lantas kopinya tertahan di genggaman, merespons sapaan Najla dan Aini.


''Assalamualaikum, Wa.'' Demikianlah dua insan kakak adik itu menyapa.


''Waalaikumussalam.''


Dari seberang jalan menyapa, dan dari pelataran rumah menjawab. Di antara pertigaan jalan, kecepatan kaki Aini mengayuh pedal sepedanya mulai menurun. Najla tak tahu menahu. Ia masih melaju saja tanpa menyempatkan diri memutar kepalanya melihat Aini. Tiada tahunya jua, sang Adik justru di pertigaan itulah bersua dengan Ashad. Bahagia bukan main, Aini saat ini.


''A Ashad!''


''Iya, Aini. Tumben atuh berangkat pagi sekali?'' Ashad menyamakan posisinya di samping bocah SD itu.

__ADS_1


''Enggak Teteh, enggak Ibu, ternyata A Ashad juga ngomong kayak gitu.''


''Hehe. Ya kamu tumben kayak kesambet apa aja.''


''Hehe. Iya sih.''


''Ya udah AA duluan ya?'' Sudah hendak dikayuhnya dua kali lipat, Aini menarik lagi kecepatan pedalnya dengan perkataan.


''Nanti! Aini pengen ngobrol sama A Ashad. Sedikittttt aja.''


''Kapan-kapan ya? Soalnya A Ashad ada jadwal piket.''


''Sebentar! Satu kalimat aja, A!''


Ashad membuang napasnya. Melapangkan dada.


''Ya udah. Mau ngomong apa atuh?''


Pikiran Aini sudah melayang pada secarik kertas. Pada tinta-tinta yang usai membatu berupa serangkaian kata. Dengan girangnya gadis itu mengatakan apa-apa yang menjadi suatu hal yang Najla rahasiakan. Dengan lugasnya ia berkata, ''Teh Najla suka sama A Ashad.''


Pelan sekali ia berkata. Hanya saja cukup membuat Ashad terpaku. Kata tanya 'Benarkah?' menggelitik pikirannya. Namun 'bercanda' bisa jua ia percayai karena Aini masih kecil. Kendati anak kelas 5 SD zaman ini sudah banyak yang bergelut dengan lembahnya asmara.


''A Ashad harus percaya sama Aini. Aini gak bohong kok.''


***


''Ini.''


''Waktu itu kan aku pinjam uangmu atuh, Min. Yang buat iuran itu.''


Diletakkan lah tas gendongnya di kursi. Baru tiba sudah direalisasikan jua niatnya yang telah dibulat-bulatkan sejak malam. Jantung-jantung manusia masih bisa dihitung jari adanya di kelas itu. Sebuah suara berisik di luar mengalihkan topik pembicaraan Najla dan Mina. Ashad masuk kelas.


''Assalamualaikum,'' ujarnya.


''Waalaikumussalam.'' Salam terjawab bersamaan dari daging tak bertulangnya Najla dan Mina. Pagi-pagi sudah dibuat olahraga saja jantung Najla. Ia tegarkan, samarkan rasa dan bersikap tak peduli dengan kehadiran Ashad. Semuanya dilakukan dengan seolah-olah tanpa sebenarnya.


''Ashad tuh.''


Terputar jua lah kepala Najla ke arah Mina. Bisikan yang cukup membuatnya tersentak, mendapat titahan dari mana Mina untuk melirihkan dua kata itu? Kepala Najla mendadak dicengkram risau. Hatinya ditimpuk debar keras.


''Maksud Mina teh apa coba?''


''Aduh Teteh Najla kakaknya Adek Aini. Aku juga wanita. Mudah peka.''


''Udah ah. Ini uangmu. Najla bayar hutang.''


''Enggak Naj. Kamu lupa apa gimana sih? Waktu itu-''


''Sahabat yang baik teh yang mau membayar hutang kepada sahabatnya. Dan Najla ingin menjadi sahabat baikmu. Selain itu, Najla juga gak mau atuh kalau di akhirat teh ditagih hutang karena uang ini.''


''Kamu memang titip uang ke aku waktu itu, Naj.'' Sudah geram jua menjelaskan yang sebenarnya sudah bertele-tele, dilampiaskan jua persaan geram itu lah dengan memukul pelan pipi Najla.

__ADS_1


Gadis di hadapannya tampak memutar kembali suatu hal. Ada kepingan-kepingan yang sempat tertinggal? Ada kebenaran yang kini baru tertambat di alam kesadarannya. Najla meringis jua, merasa bersalah.


''Iya, maaf. Najla teh baru inget sekarang, Min.''


Di sela-sela percakapan ringan Najla dan Mina, Ashad risau serisau-risaunya. Pasalnya, ia sudah hendak membuihkan biji niatnya hari ini yang sudah dilewati pertimbangan keras.  Masih menyapu teras kelas, lama-lama geram sendiri jua. Hendak mundur untuk menumbuhkan niatnya itu, hanya saja bayang-bayang balas budi tiadalah henti menggaruk pikiran serta merta hatinya.


''Ash.''


Ashad menoleh. ''Ada apa, Naj?'' ditanyanya Gadis yang kini berdiri di pintu.


''KALAU PIKET yang bersih. Hari ini ada penilaian final untuk lomba bersih-bersih kelas.''


''Iya.''


''Jangan cuma iya-iya! Laksanain! Tuh lantainya masih kotor.''


Sebuah embusan napas tertahan. Laksana disabar-sabarkan lorong hatinya itu. Tiga tahun sudah perlakuan tak bersahabat dari Najla itu ia serap. Lantas menuju tiga tahun nanti. Jadi, kini isi kepala Ashad dan hatinya tak lagi menganggap sungguhan apa yang telah Aini katakan itu. Lega jua hatinya.


''Iya, Najla.''


Terpasang lagi wajah Najla yang dikusut-kusutkan. Ia melenggang ke kelas. Melihat daftar nama siapa saja yang piket hari ini.


Kian melaju jarum panjang jam dinding, kian ramai jua insan-insannya. Di suatu waktu kala istirahat pertama pun, Ashad melancarkan aksinya. Biasa saja, justru tak bisa biasa kekalau ia tak bisa membalas budi baik Najla waktu itu.


''Ini buat kamu.'' Najla terperangah menatap uluran tangan yang menyerahkan segelas teh hangat itu. Dadanya berdesir tak jelas. Dipandanginya lagi segelas teh hangat itu. Beruntungnya, keramaian tengah tak ada. Ashad mencuri waktu pada tempat yang tepat. Di perpustakaan.


''Buat apa?''


''Buat kamu atuh, Naj.''


Keduanya sama-sama membuang wajah.


''Najla juga bawa air minum. Ngapain Ashad ngasih Najla minum?'' Terangkat jua kaki Gadis itu dari tempatnya. Menaruh sebuah buku yang sempat dijadikan bahan bacaan.


''Balas budi waktu itu. Kamu ngasih aku segelas teh hangat pas di kelulusan SMP.''


Lidah Najla sudah hendak berujar. Jeda sesaat.


''Oh! Itu? GAK usah! Jangan geer atuh. Justru waktu itu Najla teh ngasih air teh disuruh Ibu karena Ashad udah mau bantuin Ibu. Waktu itu Najla yang balas budi ke Ashad.''


''Oh gitu.'' Pelan Ashad mengangguk. ''Ya udah. Maaf ganggu Najla. Assalamualaikum.''


''Waalaikumussalam.''


Sunyi-sunyi dari sikap berisik tingkahnya, Najla memainkan mata. Sekadar melirik ke arah punggung Ashad yang siap menghilang di balik rak-rak buku. Lantas dilipatnya lagi pandangannya itu.


''Astaghfirullahaladzim. Ya Allah ya Allah, tolong bantu kondisikan jantung Najla.''


Ditahan-tahan degup jantung dan kebahagiaannya, mencuatlah melalui air muka Najla. Memerah tak pudar-pudar. Hingga ia terduduk di lantai, bersandar di dinding perpustakaan. Dibekapnya jua wajah yang bersemu itu dengan buku.


***

__ADS_1


Bersambuuunng. Wassalamualaikum.


__ADS_2