Atas Nama Cinta

Atas Nama Cinta
Bab 8: Persahabatan Kita


__ADS_3

Bismillah. Assalamualaikum. Selamat membaca.


Andai kurengkuh


Sudah mati tercabik-cabik


Sedari dahulu sudah diluka


Sebab cinta pada-Nya bertahan


Pedang-pedang jatuh


Lidah-lidah ingin melumpuhkan


Aku segenap tujuan


Memangsa kisah surga kutuankan


***


''Andai aku karena kamu. Karena dia. Karena mereka. Karena kalian. Aku tak akan bertahan sampai detik ini. Bukan soal karena, tapi soal niat cinta yang setia pada-Nya.''


(Sibuk dihujani UH. Lampung, )


***


Baru saja dipandang sejenak layar ponsel dengan walpaper bawaan itu. Tanpa ubah-mengubah atau masuk-memasuki pada ruang aplikasi yang beraneka jenis. Entah bagaimana jua urunglah terpikirkan oleh Najla menyelami dunia ponsel layar sentuh itu. Kendati pucuk-pucuk yang merekahkan kelopak serta menyebarkan bau harumnya sampai menyesakki ruang dada.


Di ruang tengah lah ia kini. Tak sampai dibawa-bawa ponselnya itu. Cukup tergeletak di atas meja belajar. Sedangkan ia tengah mengajari Aini mengerjakan PR.


''Nah ini dicari FPB-nya dari bilangan yang sudah Adek hitung tadi.''


''Oh.''


Kembali berkutatlah Aini. Angka-angka yang berkibar di hadapannya itu dijerumuskan ke ruang daya pikirnya jua. Bagi-membagi, perkalian, dan pertambahan, ataupun pembagian. Tiga soal di hadapannya genap ia kerjakan. Bertuturkan celoteh bimbingan dari Najla. Kendati kerap berdebat, tentu Najla lah yang selalu benar.


''Udah kan?''


''Udah, Teh.''


''Kalo diajarin itu jangan ngeyel! Kamu mah ngeyelan.''


Berlalu jua Najla dari hadapan Aini yang tanoa tahunya mengejek dengan menggerak-gerakkan daging bibirnya, seolah mengikuti perkataan Najla tanpa suara.


Ruang berdindingkan papan yang biasa terasapilah arah sepasang kakinya melangkah. Menuangkan segelas air putih. Lantas meneguknya seraya duduk pada sebuah kursi kecil yang memang disediakan oleh Bapak sejak dulu. Sepasang matanya itu melirik ke arah luar dapur. Di antara sela-sela dinding papan tersyairkan Bapak tengah membuat sesuatu di luar. Dihampirilah jua.


Otot-otot lengannya yang sudah besar seketika kian mengembang kala difungsikan menggunakan golok. Sebuah kursi kecil tengah dibuatnya lagi dari papan bekasan yang sekiranya masih kuat untuk dimanfaatkan.


''Bikin jojodog, Pak?'' Dikibaskan olehnya sebuah karung. Dimanfaatkan sebagai alas.

__ADS_1


*Jojodog: Kursi kecil dan pendek. Biasanya digunakan untuk tempat duduk saat memasak di tungku.


''Iya. Gimana HP-nya? Bagus gak?'' Tak jua beralih pandangannya dari papan yang mulai dipaku.


''Bagus! Tapi Teteh takut salah pake. Nanti rusak gimana?''


''Mencoba atuh. Kalo gak dicoba mah gak bakalan tahu.''


''Besok aja. Tanya sama temen Teteh.''


Dialog kembali terjeda. Unsur pembicaraan usai meluluh, ganti diriaki oleh suara palu yang menggebu-gebu menelusupkan badan cungkring si paku.


''HP-nya dirawat baik-baik, Teh!'' Seorang Wanita muncul dari jalan kecil samping rumah. Menyandarkan sepedanya di bawah pohon kakau. Empat bugkus es cendol dibawanya. ''Biar enggak gampang rusak. Belinya susah.''


''Iya, Bu.''


''Inshaa Allah Teh.'' Koreksi Bapak.


''Hehe. Maksud Teteh iya Inshaa Allah.''


Sudah melupa jua Najla tentang pesan yang sempat Bapak tuturkan. Memuat isi kekalau mengiyakan atau mengtidakkan sesuatu yang belum terjadi jangan sekara 'iya' atau 'tidak'. Sama jua dengan perjanjian yang WAJIB ditepati hukumnya. Diruntutkannya bersama kata 'Inshaa Allah' berarti akan berusaha namun tidak berarti berjanji.


Kanopi-kanopi daun pohon kakau itu memayungi sebuah keluarga yang kini telah sempurna pada perkumpulan kecil. Berbicara hangat. Matahari terpantulkan tak menembus daun-daunya yang hijau tua. Empat bungkus es cendol dituangkan ke dalam gelas. Mendinginkan kerongkongan insan yang rindu kebersamaan itu.


***


''Asikkk HP baru ya!''


''Ish! Mina kamu orang jahat kali! Bukannya bantu Najla malah tertawa saja.'' Seperti biasa, nada suara Ismi hendak ditinggikan ataupun tidak memang terdengar tinggi. Cukup angkuh. Sebenarnya tidak berniat demikian.


''Aku bercanda kok! Lagian, Najla gak marah. Ya Naj ya?''


''Hm.''


Keluarlah Ismi dari bangkunya akan duduk di kursi Najla. Hanya saja, seorang Gadis sudah lebih dulu mengambil alih kursi tersebut. Mendudukkan tas selempangnya lebih dulu.


''Hai!!! Good morning, salam kenal!''


Tiga nyawa yang sempat saling beradu kalimat itu dibungkamkan dengan kehadiran gadis yang mendadak riang gembira. Perkenalan urunglah hadir di sela-sela mereka, sudah menyapa hangat saja gadis itu. Najla, Ismi, dan Mina terbengong-bengong menatapnya. Yang ditatap justru tertawa sampau terbahak-bahak, seraya menyingkapkan helaian kerudungnya ke bahu. Sebuah pagar yang indah di giginya menampakkan diri.


''Hello. How are you guys?'' Langit perbincangan masih mengheningkan cipta. ''Okay-okay! Kenalkan, my name is Aurel. Lebih lengkapnya Aurel Hermansyah! Hahah. ''


Lagi, tawanya bergelak-gelak. Hampir merobekkan sudut pikiran jikalau ia gadis yang waras bagi terkaan Najla, Ismi, dan Mina.


''Why? Kok diem aja? Maaf ya aku hanya bercanda. Nama asliku Ananda Aurel Soefitanto. '' Anggun sekali penampilan dan cara bicaranya. Bros merah muda terpasang di sebelah kanan kain kerudung, sebuah jam melingkar cantik di pergelangan tangan, tas, sampai gantungan resletingnya tak luputlah dari kuas-kuas khas ala wanita. Merah muda. Tangannya yang dijulurkan itu memperoleh sambutan pertama dari Ismi.


''Hai! Kenalkan namaku Ismi. Hm, kamu orang yang kemarin tak berangkat karena ke Jambi kan? Kamu pecinta merah muda kan?''


''Yes. But, bagaimana caranya kamu tahu banyak hal tentangku?'' Terduduk manislah Aurel pada kursi di samping Najla. Sungguh Gadis di sampingnya itu masih bungkam tak terbuka barang sedikit saja bibirnya. Bersama Mina keduanya hanya gadis desa yang diumpamakan tengah memijaki lantai bioskop untuk kali pertamanya. Perbincangan Ismi dan Aurel kian mahal saja ke taraf perjalanan keliling Indonesia.

__ADS_1


''Enggak! Kalau aku dari seluruh tempat liburan yang paling aku suka di Indonesia hanya Lampung lah. Sang Bumi Ruwa Jurai. Tanah kelahiranku dan keluarga besarku.''


*Sang Bumi Ruwa Jurai: Sebuah kalimat yang menjadi simbol pada logo Lampung.


Beruntung, tayangan bioskop anak kompleks yang ditonton anak dusun itu berakhir tak sampai dua jam. Jeritan yang menyeruak dari mulut speaker sekolah yang keberadaannya di sudut-sudut lorong menjadi pembatas ujung dialog mereka. Duduk nyaman. Aurel mulai meningkahkan kalimatnya bersama Najla dan Mina.


''Pokoknya, kalian bertiga akan menjadi kawan terbaikku mulai dari sekarang!'' tukasnya menjadi penutup awal kisah keempat karakter yang berbeda itu. Bisik-bisik tanpa suara Najla berbahagia jua mendapati kawan baru yang memiliki latar belakang berbanding terbalik dengannya.


''Sebentar! Kita selfie pakai HP barunya Najla dulu dong! Sebelum guru masuk!''


''Eh-eh.'' Najla kerepotan jua menanggapi tingkah Ismi yang mendadak merebut ponsel dari genggamannya.


Beberapa jepretan sudah tersimpan otomatis. Seorang guru memasuki kelas. Rapi-rapilah seketika sikap Najla, Ismi, Mina, dan Aura.


***


Perbincangan itu sudah ke mana-mana saja jalurnya. Pertengahan jalan, tepian, ujung, dan mulut jalan sudah dikecap tanpa ketidak telitian. Guru Bahasa Indonesia itu sudah berdongeng dunia nyatanya. Ya, dongeng. Suatu pembahasan yang disebut dongeng oleh murid-murid itu sebabnya jadi pengundang kantuk, pengantar kepada si tuannya bunga tidur.


''Itulah sedikit kisah tentang Bapak. Jadi, bagaimana apa ada yang mau ditanyakan lagi? Ohya struktur kelasnya sudah dibuat?'' Sebelah alisnya bagai ditarik sesuatu hingga terangkat. Pandangan diluaskan. Lidah-lidah di dalam sana kecuali dirinya berujar, ''Belum, Pak.''


''Ya sudah. Mumpung masih banyak waktunya, saya tinggal. Kalian pilih siapa yang akan jadi ketua kelas dan pengurus-pengurus lainnya.''


''Iya, Pak.''


Salam penutup tertuturkan, lantas hilanglah dari balik pintu sosok lelaki bertubuh cukup tinggi itu. Berkepala empat lebih, dalam hitungan usia. Kini, tinggal dijalankan amanah yang telah dititipkan itu. Siapa-siapa jua yang siap ditimbun tanggung jawab pada pundak. Tak ada yang bergerak, justru kembali bergumam dengan apa-apa yang dikehendaki dari masing-masing diri. Obrolan, perkenalan yang masih berjalan, dan sekali lagi urung tampak sebuah hati yang tergerak menegakkan amanah.


''Pokoknya, dont forget follow akun instagramku!''


''Instagram teh gimana bikinnya ya, Rel?'' Wajah Najla berkecimpung pada ruang-ruang hampa.


''Uhh sini-sini. Aku buatkan akun instagram untukmu ya, Naj.''


Diraihlah ponsel Najla oleh Aurel. Bebas jua ia bergerak-gerak lincah menelusuri beragam ruang aplikasi yang nol penilaiannya dalam otak Najla. Kala menyisir pandangan kepada segala penjuru kelas, satu tiupan angin laksana menggelitik denyut nadinya. Membuat ia sedikit tersentak. Tanpa aba-aba pikiran, bergeraklah membawa dirinya ke depan.


''Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh.''


Satu salam. Satu pandangan terfokuskan dari puluhan pasang mata itu.


''Waalaikumussalam warrahmatullahi wabarakatuh.''


''Tadi, kita teh sudah diamanahkan untuk memilih siapa aja yang akan jadi pengurus kelas. Jadi, bisa kita mulai sekarang? Hampura, maaf ya sebelumnya teh kalau Najla kayak ngesok gitu di depan sini. Tapi ya kan karena kita semua dititipkan amanah dari Pak Akmal, sekarang ayo kita laksanakan amanah itu.''


''Najlaa!!! Love you! Keren!'' Siapa lagi lah yang bertuturkan Bahasa Inggris jikalau bukan Aurel. Gadis itu cukup perasa dan empuk batinnya. Sampai bahasa sederhana Najla mampu menelusup.


Aksi tunjuk-menunjuk mulai terjadi. Saling merendahkan diri. Saling enggan. Saling meminta. Budayanya murid baru yang masih malu-malu. Kendati demikian, para pengurus sudah terpilih. Khususnya Najla, ia menjadi seksi kebersihan. Ketua kelasnya si penghuni hati Najla yang tengah dipadam-padamkan api asmaranya itu. Ashad. Tak perlu dideskripsikan lagi, getaran itu sudah pastilah bersemayam.


Kisah yang tampaknya akan bersemayam kuat dalam benak Najla hari ini, tatkala sepasang kakinya dilangkahkan menuju masjid. Kerudung lebarnya menjadi bahan tawa untuk kesekian kali.


''Dek, kerudungnya buat taplak meja kelas kakak aja!'' Segerombolan wanita pada suatu kelas itu tertawa besar. Bertatap mata saling berbeda arah kaki. Najla menuju masjid, mereka ke kantin. Kalimat istighar jualah penyejuknya. Terima kasih tuturan pada akhirnya. Ujian kesabaran teruntuk ladang pahala.

__ADS_1


***


Bersambuunng. Terima kasih. Wassalamualaikum.


__ADS_2