Atas Nama Cinta

Atas Nama Cinta
Jangan Ganggu Saya


__ADS_3

"Ku pikir pernikahan Queen yang akan bermasalah tetapi kenapa malah pernikahan Axel yang dilanda masalah?"tanya daddy kepada istrinya.


"Aku sudah bilang bie, tetapi Axel tidak mendengar perkataanku. Memang aku masih megang tradisi keluargaku, kata orangtua dahulu tidak boleh ada dua pernikahan ditahun yang sama. Tetapi anakmu tidak percaya hal itu, dia mengatakan jika aku itu kuno masih memegang tradisi lama tetapi sekarang terbuktikan?aah...semoga saja semuanya baik-baik ya bie, aku tidak ingin ada perceraian diantara anak-anak kita" Alma menyenderkan punggungnya didada suaminya.


"Kita harus memisahkan mereka jika ingin pernikahan Axel langgeng, aku tahu Axel sudah mendua. Hilda sudah tergeser dihatinya, Axel berani mengancamku jika aku sampai mencampuri urusan mereka dan menyentuh mereka. Lihat anakmu berani menentang daddynya hanya demi seorang wanita yang bukan siapa-siapanya, kamu tahu artinya apa kan?"tanya Daniel.


"Jujur ya bie, secara personal aku lihat Anita lebih baik dibanding Hilda tetapi walau bagaimanapun Hilda adalah bagian dari keluarga ini, aku tetap akan mendukung Hilda" mommy Al


"Aku sependapat denganmu" daddy Niel.


"Aku akan buatkan kopi untukmu bie"


"Kiss" Daniel memajukan wajahnya agar dicium oleh istrinya.


"Muuaachhh" Alma mencium tipis suaminya itu lalu dia segera pergi ke dapur.


Hari sudah menjelang sore Axel pamit kepada orang tuanya, dia harus pulang kerumah istrinya sekarang juga. Sudah cukup dia bermalas-malasan dirumah orang tuanya hari ini.


Rasanya malas sekali jika harus pulang kerumahnya namun dia adalah kepala keluarga mau tak mau, suka tak suka dia harus menjalani pernikahan ini.


Begitu sampai dirumah dia mencari istrinya namun Hilda tak ada dimana-mana. Dia bertanya kepada mbok Jum dan Wati mereka hanya bilang jika majikannya pergi siang tadi seorang diri.


"Biarlah dia pergi sesuka hatinya, mungkin dia sedang shoping seperti biasanya" begitu pikir Axel, dia pun melanjutkan aksinya, langsung masuk ke ruang musiknya dan menyalurkan semua kegelisahan yang ada dengan menabuh drum sekeras-kerasnya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 malam tetapi Hilda belum pulang juga, akhirnya Axel menghubungi istrinya itu.


"Kamu dimana?ini sudah malam kenapa belum pulang juga?" tanya Axel.


"Maaf pak saya temannya Hilda bantu jawab aja, istrimu sedang dirumah sakit, dia kelelahan dan mengalami pendarahan"jawab dari seberang sana.


"Apa?katakan dimana rumah sakitnya, saya akan segera kesana"Axel kaget setengah mati begitu mendengar kandungan istrinya bermasalah kembali.


"Mampus lo Da, cepat cari rumah sakit terdekat, laki lo nyari elo" Ririn panik dan langsung menutup telponnya.


"Hah!! ayo cepat cari rumah sakit mana saja yang dekat sini" Hilda cs buru-buru mencari rumah sakit terdekat dan langsung mendaftarkan diri sebagai pasien.


"Rumah sakit gue aja, gue kan bidan disana" Ririn mengarahkan Tio menuju rumah sakit ibu dan anak tempatnya bekerja, jaraknya hanya 1 km dari kafe tempat mereka nongkrong.


Ririn langsung mencari kamar kosong dan mandaftarkan Hilda sebagai pasien disana.


"Gue nggak bisa jawab telpon laki lo, 10 menit lagi baru gue angkat" Ririn bersiap menuju lokernya dan mencari seragam perawatnya.


Axel berkali-kali menelpon istrinya namun tak diangkat jua. Jauh didasar lubuk hatinyadia merasa bersalah, karenanya dia mengabaikan istrinya, padahal dia sudah berjanji akan membahagiakannya dalam keadaan apapun.


"Aku harus menebus semua kesalahanku, semua karena kesalahanku" Axel mengutuk dirinya yang telah menyia-nyiakan istrinya, dia tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi jika sampai Hilda kehilangan bayinya. Walau itu bukan darah dagingnya tetapi sebagai seorang suami dia merasa tetap harus bertanggung jawab.


Setelah panggilan yang kesekian barulah Hilda mengangkat telponnya.


"Aku dirumah bersalin ibu dan anak Xel" jawab Hilda lemah.


"Shareloc sayang,aku segera kesana aku dalam perjalanan sekarang" Axel melajukan mobilnya secepat mungkin agar bisa sampai tujuan. Dia benar-benar menghawatirkan istrinya.


"Dia sedang otw kesini, Tio kamu pulanglah jangan lupa terus cari berita tentang Anita, aku sudah mengirimkan langsung kereningmu" Hilda pura-pura tertidur lemas, Ririn tetap berjaga diruangan Hilda.


"Aku pulang sekarang, besok aku akan beri kamu kabar lagi baik-baik ya jaga anak kamu" Tio mengelus-elus rambut Hilda.

__ADS_1


"Cepat pulang sana, nanti keburu suamiku datang" usir Hilda. Tio segera mengambil kacamatanya dan langsung keluar menuju parkiran.


10 menit kemudian Axel datang dengan buket bunga yang sangat besar sebagai permohonan maafnya kepada istrinya.


"Maafkan aku sayang...maafkan aku, apa semua baik-baik saja suster?"tanya Axel kepada suster Ririn.


"Untung saja istri anda segera mendatangi rumah sakit, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan" suster Ririn.


"Baiklah...terima kasih suster" Axel berterima kasih kepada suster Ririn karena telah menolong istrinya.


"Lain kali dijaga istrinya ya Pak, jangan biarkan wanita yang sedang hamil berjalan seorang diri, harus diberi pendamping" ujar suster Ririn lagi.


"Baik suster saya pastikan hal ini tidak akan terjadi lagi" Axel.


"Saya tinggal dulu ya, ibu harus banyak istirahat ya" pesan suster Ririn sebelum pergi meninggalkan mereka berdua.


"Sayang...kenapa kamu tidak menelponku?aku akan mengantarmu kemana saja" Axel duduk disamping ranjang sambil memegangi tangan istrinya.


"Yakin kamu mau antar aku?bukankah kamu sibuk dengan wanita itu, iya kan?bahkan telponku juga kamu abaikan terus" Hilda nampak marah dengan Axel.


"Maafkan aku sayang, aku memang bersalah kamu adalah prioritasku sekarang ini. Aku berjanji tidak akan pernah mengabaikanmu lagi" Axel mencium kening istrinya.


"Baiklah...pegang janjimu, jika kamu macam-macam lagi maka aku benar-benar akan pergi darimu dan kamu tidak akan pernah melihatku lagi nantinya" ancam Hilda


"Baiklah aku janji"Axel terpaksa berjanji walaupun hatinya menolak.


"Besok kita pindah kerumah sakit H ya, biar penanganannya maksimal disana" Axel


"Tidak mau, aku sudah cocok disini bahkan aku ingin melahirkan disini"Hilda bersikeras tidak akan mau diperiksa di rumah sakit grup H. Axel akhirnya mengalah dan mengikuti kemauan istrinya.


Malam itu Axel menginap disana menemani istrinya.


"Aha.. rupanya dia memakai nama Langit, jadi begini permainanmu suamiku. Baik kita lihat sampai sejauh mana hubungan kalian" Hilda segera mengirim pesan kepada Anita.


"Aku kangen" Hilda


lama tak ada jawaban dari Anita, dengan tak sabar akhirnya dia memutuskan untuk menelpon Anita.


"Ada apa tuan" jawab Anita dengan mata mengantuk.


"Oh jadi benar ya ada hubungan diantara kalian?hei gundik, apa kamu kira bisa semudah itu kamu ingin mencuri suami orang hah! dimana dia menyembunyikan mu?cepat katakan sekarang atau jangan sampai aku yang menemukanmu dan melemparkanmu ke jalanan. Kamu tidak akan bisa lepas dariku gundik, ingat aku akan selalu membayangimu" Hilda berbicara dengan sangat kasar, dia sudah sangat membenci Anita karena dia telah berhasil membuat suaminya mendua, dia tidak mempercayai kata-kata Axel yang akan selalu setia kepadanya. Selama masih ada wanita itu kedudukannya bisa saja terancam, jalan satu-satunya adalah melenyapkan wanita itu dari muka bumi ini agar hidupnya bisa tenang kembali.


"Ma-maaf nyonya, aku bukan seperti yang nyonya bayangkan, diantara kami tidak ada hubungan apa-apa sungguh. Saya sudah pergi jauh nyonya saya tidak ingin terlibat hubungan apapun dengan anda dan suami. Saya punya kehidupan sendiri jadi saya mohon jangan ganggu saya lagi" Anita berbicara dengan sangat memelas, dia tidak pernah bermaksud merebut kembali Axel dari tangan Hilda, dia sudah merelakan mereka bahagia karena dia tahu siapa dirinya, dia bukanlah wanita yang Axel inginkan untuk menjadi pendampingnya. Tidak ada namanya dihati Axel walaupun mereka menjalani hubungan selama itu, dan dia tidak berhasil mencuri hati Axel karena sudah ada nama wanita lain dihatinya.


"Aku tidak percaya dengan kata-kata busukmu itu, ingat aku sedang mengandung anak Axel jadi kamu jangan pernah bermimpi sekalipun untuk merebutnya dariku, jika sampai kamu berani macam-macam maka anakmu yang akan mendapat hukumannya. Apa kamu tidak punya suami?apa anakmu itu anak haram? makanya kamu mati-matian ingin merebut suamiku?"tanya Hilda dengan geram.


"Maaf...bukan seperti itu, saya sudah punya calon suami nyonya, kita punya kehidupan masing-masing jadi mulai sekarang berhentilah mengganggu kami" pinta Anita


"Aku akan berhenti mengganggumu jika kamu benar-benar telah menikah, maka tak ada alasan lagi bagi suamiku untuk mengejarmu" Hilda


"Sebaiknya katakan kepada suami nyonya untuk berhenti mengejar saya" Anita langsung mematikan ponselnya, baginya tidak ada gunanya berbicara dengan wanita yang sedang emosi tinggi. Tidak akan ketemu jalan keluarnya.


"Aarrgggg..wanita sialan,gundik sialan...dia berani memutuskan panggilan telponku" Hilda marah-marah karena Anita sekarang sudah berani kepadanya, dia benar-benar akan mengancamnya jika bertemu nanti.


"Sampai nerakapun akan aku cari kamu bedebah" raut wajah Hilda sudah tidak dapat dikondisikan lagi, dia marah dan terlalu marah.

__ADS_1


"Tio harus berhasil mencari wanita keparat itu"ucapnya.


Dia segera menyalin nomor Anita ke hp-nya agar memudahkannya melacak keberadaan wanita itu. Setelah itu dia segera mengembalikan ponsel Axel ke tempatnya semula. Lalu dia pun segera tidur dengan hati yang terbakar panas.


Axel bangun menjelang subuh, dia segera mengecek ponselnya jika Anita atau Sky menghubunginya namun ternyata tidak ada notif apapun. Dia segera mengirim pesan kepada Anita namun hanya centang satu, rasanya dia sudah tidak sabar ingin mendengar kabar mereka namun apa daya ponsel Anita sedang dalam mode off. Dia harus menunggu dengan sabar sampai Anita membalas pesannya.


Pagi itu dia mengurus semua keperluan Hilda, hanya saja tidak memandikannya. Hilda belum ingin mandi pagi itu.


"Kamu tidak pergi ke kantor?"tanya Hilda


"Tidak, aku akan menunggu istriku disini" jawabnya sambil menyuapi istrinya.


"Pergilah bukankah kamu biasanya tidak mau mendengar ucapanku" Hilda melirik Axel.


"Aku sudah berjanji akan mengurusmu maka aku akan menepati janji itu"Axel


Hilda tersenyum sedikit, karena dia meragukan ucapan suaminya tapi bodo amatlah dia harus merebut kembali perhatian suaminya. Setelah selesai menyuapi, Axel menungguinya di sofa sambil memainkan ponselnya.


Dia sedang meminta jadwal Anita hari ini, karena kabarnya Anita sudah mulai bekerja. Dia tidak sabar menunggu berita hari ini dari anak buahnya.


Lama dia menunggu kabar namun tak ada kabar apapun yang di dapat. Axel segera keluar untuk menelpon sebentar.


"Bagaimana kapten Mira, kenapa belum ada kabar juga tentang nona?"tanya Axel tak sabar


"Nona belum keluar dari apartemennya tuan" jawab kapten Mira


"Segera pergi kesana dan suruh dia mengaktifkan ponselnya" perintah Axel.


"Baik tuan" Kapten Mira segera membunyikan bel apartemen itu, setelah 10 menit kemudian barulah Anita dan Sky keluar sambil membawa koper dan tas ranselnya.


"Nona...tuan Axel meminta nona segera menghubunginya" ucap Mira


"Maaf Mira saya tidak ada kepentingan apapun dengan tuanmu, dan mulai sekarang jangan ikuti saya Mira, saya bukan tuanmu" Anita segera memencet lift dan segera masuk ke dalamnya. Mira pun dengan cepat masuk ke dalam lift itu.


"Tapi tuan Axel inginkan saya untuk menjaga nona"Mira bersikeras namun Anita lagi-lagi menolaknya.


"Apa nona akan bekerja dengan membawa anak nona juga?"tanyanya heran


"Lalu kenapa harus membawa koper segala?"tanyanya lagi.


"Itu bukan urusanmu, maaf Mira saya ingin hidup tenang jadi jangan ganggu saya lagi. Saya punya privasi sendiri Mira, kembalilah kepada tuanmu, katakan padanya jangan mengurusi saya lagi karena saya bisa mengatur hidup saya sendiri, saya butuh ketenangan. Saya harap anda mengerti maksud saya" Anita segera keluar dari gedung apartemen itu dan langsung masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya.


"Cukup sampai disini semuanya Mira, jangan ganggu hidup saya, selamat tinggal" Anita segera menutup kaca mobilnya dan mobil itu pun langsung berlalu.


Mira dengan cepat menghubungi Axel menceritakan apa yang sudah Anita katakan.


"Tahan dia...cepat tahan dia, jangan sampai dia lolos kembali" ucapnya lalu dengan setengah berlari dia langsung masuk ke dalam ruangan Hilda untuk mengambil jaket dan kunci mobilnya. Hilda tau gelagat itu, dia pun menahan kepergian suaminya dengan caranya sendiri.


*****


Met pagi kesayangan...happy weekend ya gaess😉😘


Foto terakhir yang Axel miliki😂


__ADS_1




__ADS_2