Atas Nama Cinta

Atas Nama Cinta
33. Berdebat


__ADS_3

Larasati tersenyum manis mengecapi es krim yang dibelikan Akbar, hingga ke pinggiran cup nya, Galuh dan Cicilia tertawa kecil melihat tingkah lakunya. Akbar pura-pura tidak tahu.


Bermain game online asyik mabar. Sekarang mereka di gerai mitshu olahan es krim juga minuman berbau susu juga ada kue dan desert lainnya.


Akbar di sini hanya sebagai baby sitter Larasati dan pastinya dibayar sebab itu langsung gercep dia jika ada notifikasi pesan dari Bagaskara.


( To : Bos)


Tuan putri sedang happy semua aman terkendali.


Tak lupa dia mengirimkan gambar Larasati yang imut posenya, padahal Akbar hanya asal jepret foto saja. Dan itu mendapatkan respon.


( To : Akbar )


Lagi dong fotonya, banyakin pakai gaya apa saja, ia imut coba aku di dekatnya udah ku banting di ranjang.


"Astaghfirullah. " Akbar mengelus dadanya, jantung nya serasa copot, untung saja tingkah absurd lelaki gemulai itu tak terlihat cewek cantik dihadapannya itu.


Ketiganya asyik ngerumpi mengenai suatu brand new di toko online. Mereka bertiga sudah biasa begitu asyik sendiri mengacuhkan Akbar yang mabar.


"Ladies abis ini ngapain lagi." Celetuk Akbar yang masih sibuk dengan gadgetnya.


"Aku mau main game seperti kamu. Kita ke tempat kamu ya Akbar?" Sahut Larasati, Akbar melongo. Shock.


"Halo aku kan cowok, tempat kost ku kebanyakan cowok jika bawa cewek bisa gempar nanti. Ke tempat lain aja yuk?" Seru Akbar


"Terus kemana ? Warmindo aja gimana? Ada free WiFi juga perut kenyang? Ntar aku ajarin main game apa aja yang cocok ma kamu!"


Akbar membujuk Larasati agar mau takutnya jika di kost dia mereka ketemu biang kerok lalu di kerjain bisa celaka. Nih anak orang banyak tiga lagi, jika satu insyaallah dia bisa bertiga kan repot.


Akhirnya mereka bergerak ke tempat usulan Akbar dan menuju ke sana, Memesan makanan juga minuman setelah itu dia mensetting game yang di sukai Larasati.

__ADS_1


Wanita cantik itu langsung ceria asyik dengan ponselnya, juga Galuh dan Cicilia. Akbar memotret dulu beberapa kali lalu mengirimkan pesan ke Bagaskara setelahnya larut dalam game mabar.


Hari beranjak senja, Bagaskara memasuki bangunan itu mengedarkan pandangannya ke sudut ruangan. Melihat sang istri duduk di sana lesehan ada bantal kecil juga ketiga temannya setia menemaninya.


Bagaskara memanggil pelayan warmindo menanyai tagihannya, lalu membayarnya baru mendekati sang istri.


"Asyik, gimana main game nya seru?" Tanyanya sambil duduk lesehan di sebelahnya. Larasati menoleh tersenyum.


Cup. Wanita cantik itu langsung menyapanya dengan ciuman. Akbar mendelik, Galuh dan Cicilia ternganga shock. Pasalnya sahabat nya ini sangat cuek dan acuh pada suaminya, dulunya. Sekarang saat hamil menjadi cengeng, suka merajuk sekarang mesum?


"Ayo, pulang. Kasian temanmu mereka butuh privasi." Bujuk Bagaskara seraya merangkul pundak nya. Bahkan lelaki meletakkan kepalanya di pundak sang istri.


"Ok. Aku pulang duluan, ya. Makasih traktiran nya. " Larasati tersenyum bangkit mengajak Bagaskara mengulurkan tangannya lelaki itu tersenyum kecil sambil memberikan kodenya pada Akbar. Dan dia mengerti bahwasanya semua tagihan sudah dibayarkan Bagaskara.


Mukanya terselamatkan dihadapannya cewek-cewek cantik ini alias sahabat nya. Akbar, Galuh Cicilia pulang bersama satu mobil tentunya dengan mobilnya Cicilia karena yang mampu di kelompok mereka adalah Cicilia, Galuh keluarga menengah dan Akbar sama seperti Larasati kuliah dengan beasiswa.


Bagaskara membersihkan diri dari jejak keringat seharian bekerja sedangkan Larasati sudah mandi langsung ke dapur memasak makanan untuk mereka.


Larasati jika di apartemen sering memasak makanan untuk mereka, karena hobi juga ingin bergerak agar bayinya sehat. Sesekali ia yoga melihat instruksi YouTube.


"Iya tinggal menaruhnya di piring Mas. " Bisik Larasati.


"Kamu wangi sayang" Bagaskara menciumi bibirnya Larasati secara berkala. Memeluknya erat.


"Udah yuk kita belum check adik. Nanti jika sehat di lanjut. Kasian nanti di bawah ga puas." Larasati tersenyum sambil mengusap-usap rahang nya Bagaskara.


"Pakai cara lain sayang ngerti kan? Enggak harus masukin. Bisa kan ?" Rayu Bagaskara.


Larasati hanya terkekeh sambil menyentil ujung hidung suaminya dengan manja.


Lelaki itu langsung mencium pundaknya dan mengganggu aktivitas Larasati menaruh lauknya di piring.

__ADS_1


Sesekali ia menyuapi suaminya itu dengan sisa kuah di centong atau menyelipkan tempe atau perkedel kentang di mulutnya Bagaskara. Lelaki itu terkekeh.


"Soto nya enak sayang, besok-besok bikin lagi ya? Makasih atas masakan Al varian buat aku enggak bosan. Makasih ya! Aku yang cuci piring nya, tenang saja di sana! " Bagaskara menarik piring kotor itu langsung mengecup istrinya lagi.


Larasati hanya tersenyum dan berlalu menemani nya menonton film sembari mengobrol ringan. Dan Bagaskara terkekeh geli saat melihat Larasati yang terkulai karena sudah tidur lebih dahulu.


Padahal dia mengajaknya begadang menonton film Drakor kesukaan nya. Setelah mematikan saluran nya ia berganti mengangkat tubuhnya dan meletakkan di ranjangnya lalu ia menyusul di sampingnya.


Sesuai jadwal Bagaskara memeriksa kan Larasati tentang perkembangan janinnya. Setelah melewatkan satu bulan pemeriksaan karena urusan projek nya. Ia membawa sang istri dengan penuh semangat dan membawa saku camilan di dalam tas kecil yang di tenteng nya.


Bagaskara menghela nafas kala melihat Larasati menyalakan mini fan di wajahnya karena gerah dan menunggu antrian. Larasati mengajak ke rumah sakit umum. Jadi begini lah mereka mengantri.


"Buang uang Mas mengapa harus ke spesialis jika yang umum gratis aja ada kok."


Jawab Larasati saat mereka berdiskusi tentang di mana mereka memeriksa kesehatan si kecil.


Dirga menatap wajah Larasati yang manja pada Bagaskara, lelaki itu yang dengan luwesnya menyuapi dan memberikan makanan juga minuman ringan.


Dirga mengantar Ibunya ke dokter karena penyakit gula darah nya. wanita cantik itu menatap anaknya yang tak berkedip menatap Larasati.


"Sayang ingatlah dia adik mu ! Jaga pandangan mata juga hatimu! Ingatlah!" Pesan sang ibu mengelus lengan nya Dirga.


"Aku mengerti Bu!" Sahut Dirga lirih, terluka lagi hatinya melihat pemandangan mesranya Bagaskara dan Larasati.


"Sebentar Mas aku perlu sebentar!" Larasati berpamitan pada suaminya yang bengong karena tingkah ajaib Larasati.


"Sudah ku bilang kak Dirga jauh-jauh dari aku! Ngerti enggak!" Bentak Larasati, seketika membuat Dirga malu demikian pula sang ibu jaraknya mereka duduk tak jauh hanya beberapa meter saja.


"Kau salah paham Larasati. Ini tak seperti dugaan mu!" Dirga berusaha berkelit


"Kau akan tahu nantinya cepak atau lambat!" Dirga melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


" Aku tahu kau kakakku, tapi nyatanya jika kau tak suka jangan bersikap acuh saja ." Sahut Larasati.


"Aku tahu kau kakakku kita satu ayah beda ibu. TAPI AKU TAK MAU SAMA KAMU! Menjauh dari ku! Sumpah aku tak mau terlibat dalam keluarga kalian." Bantah Larasati geram.


__ADS_2