Atas Nama Cinta

Atas Nama Cinta
Kelahiran Anak Hilda


__ADS_3

Walau sudah diberi induksi namun Hilda belum nampak akan melahirkan, padahal air ketuban sudah mulai berkurang dan seringkali mengalami pendarahan..


Linda memeriksa kondisi Hilda, jalan lahir belum bertambah, stuck dipembukaan ke lima.


"Siapkan ruangan Sc" perintah Linda kepada para perawat.


"Aku tidak mau...aarrhhh" Hilda memegangi perutnya.


Axel memberi kekuatan pada Hilda agar dia bisa segera melahirkan.


"Mungkin kita bisa menggunakan metode vacum dok" saran suster Ririn.


"Masih jauh jalan lahirnya, terpaksa kita harus melakukan Sc. Pak Axel saya harus meminta persetujuan anda, ikutlah dengan saya" Linda segera keluar dari ruangan itu diikuti oleh Axel. Linda mencari beberapa berkas yang harus ditandatangani oleh Axel.


"Silahkan tanda tangan disini" Linda menunjuk ke bagian tanda tangan menyetujui.


"Aku tidak ingin jika kamu yang melakukan Sc ini Linda" ucap Axel khawatir.


"Tenanglah...berdoalah agar ibu dan bayi selamat" Linda memasukkan berkas ke filling kabinet, lalu dia kembali ke ruangan Sc diikuti oleh Axel.


Axel mondar-mandir didepan ruangan operasi, dia khawatir sesuatu terjadi pada Hilda karena akan berimbas kepada Linda nantinya, dia tidak ingin Linda mendapat masalah apapun, khususnya dari Hilda.


"Seharusnya aku memaksa Hilda ke rumah sakit grup H jadi aku tidak akan se-khawatir ini" Axel berdoa untuk ke dua wanita itu, agar semuanya berjalan dengan lancar, dia menjadi sangat guguo dan tidak nyaman.


Axel segera menghubungi ibunya, memohon doa agar Hilda dimudahkan proses kelahirannya. Setelah mendapat telpon dari anaknya, Alma dan Daniel tidak membuang-buang waktu untuk pergi kesana menengok cucu mereka, ini adalah cucu ke tiga mereka.


Terdapat kepanikan saat akan mulai operasi, Linda segera menelpon Frans dan meminta bantuan beberapa dokter, dia juga meminta Axel menyiapkan kantung darah yang cukup banyak. Permintaan Linda tentu saja membuat Axel khawatir, dia yakin ada yang tidak beres dengan kondisi istrinya.


"Maaf Axel...kemungkinan rahim istrimu akan diangkat, karena kasus plasenta akreta, plasenta masuk ke dalam endometrium yang dalam dan tak bisa dilepas, maka rahim perlu diangkat agar tak terjadi pendarahan yang sangat hebat. Jika rahim tak diangkat atau terkesan dibiarkan akan mengancam nyawa istrimu..sabar ya" Linda menepuk-nepuk bahu Axel.


"Apa tidak ada cara lain lagi agar rahim Hilda tidak diangkat?" Axel nampak kecewa.


"Maaf...nyawa istrimu lebih berharga, doakan kami ya" ucapnya lalu dia pun segera pergi keruang operasi untuk mulai pembedahan.


Axel terduduk sambil menutup wajahnya, dia sangat khawatir sekali.


Operasi kelahiran normal biasanya hanya membutuhkan waktu 40-50 menit sudah selesai namun Linda mengoperasi Hilda lebih dari 2 jam.


Alma terus saja bertanya pada Axel apa yang terjadi. Axel tidak begitu paham dengan bahasa kedokteran, dia meminta ibunya bersabar menunggunya. Sejujurnya dia takut operasi ini gagal karena Linda menjadi taruhannya, tidak mungkinkan dia akan menuntut ibu dari anaknya?sebaliknya Hilda pasti akan memanfaatkannya dengan memenjarakannya atau mengasingkannya sejauh mungkin.


Akhirnya selesai juga proses persalinan itu. Bayi laki-laki seberat 3,6kg lahir dengan selamat namun kondisi Linda masih tertidur akibat obat bius yang diterimanya.


Linda menepuk-nepuk punggung bayi itu agar menangis, akhirnya keluarlah tangisan bayi itu memecah kesunyian malam. Linda memperlihatkan bayi itu kepada Axel sambil tersenyum. Setelah itu dia menyerahkan bayi tetsebut kepada suster untuk dibersihkan.


Alma dan Daniel nampak bahagia melihat cucu mereka namun tidak dengan Axel.


"Kenapa kamu bengong nak?itu bayimu" Alma melihat bayi merah itu melalui kaca jendela. Axel tak bisa berkata apa-apa, tidak mungkinkan dia mengatakan jika itu bukan anaknya?sudahlah terima saja kenyataan ini.


Saat Hilda siuman, keluarga sudah mengitarinya dan menghias ruang bersalinnya dengan berbagai macam hadiah dan tulisan 'welcome baby boy'


"Yeayeee...punya ponakan baru" Queen nampak sangat heboh karena bahagia dengan kelahiran anak Axel.


"Sayang...lihatlah dia mirip denganmu, matanya sipit" ujar Queen kepada Frans.


"Kamu gak nitip saham kan ke dia?"tanyanya sambil mendekati suaminya.


Frans menoyor jidat Queen setelah mendengar ucapan istrinya.


"Macam-macam saja pikiran kamu, bukankah kamu selalu menempel kepadaku?lalu kapan aku selingkuhnya?"tanyanya balik.


"Aah iya benar juga ya, aku itu kan bagaikan tumbuhan parasit yang bisa menepel dimana-mana...wkwkwk" Queen


Frans memeluk pinggang Queen sambil berbisik


"Kapan kamu akan memberiku anak?"tanya nya.


"Besoklah kita buat adonan suamiku" Queen


"Ngaco aja kamu kalau bicara" Frans


"Mau punya anak gak?"Queen


"Ya mau lah" Frans

__ADS_1


Kedua suami istri itu masih saja sibuk dengan omongan bayi-bayi mereka.


***


"Sukurlah kamu sudah sadar nak" Alma menggendong anaknya Hilda.


"Ini bayimu...dia tampan" ucapnya.


"Terima kasih mom" Hilda mencium baby itu dan dia nampak tidak yakin dengan bayinya.


"I-ini bayiku mom?"tanyanya


"Iyalah sayang...ini bayimu" Alma bersikap lembut padanya seolah tak ada apa-apa dengan menantunya.


Hilda diam dan tak banyak bicara setelah melihat wajah anaknya.



Tak ada wajah Axel sama sekali, benar-benar njiplak wajah Tio. Walau dia gemetar melihat kenyataannya namun keluarga seolah memberi dukungan kepadanya.


Axel mendekatinya dan mengusap-usap punggung Hilda, dia pun memberikan dukungan kepadanya.


"Axel" ucapnya sambil melihat bayinya. Axel diam dan hanya manggut-manggut.


"Ini anak kita" Hilda menarik tangan Axel agar mendekati mereka berdua.


Axel mencium dan menggendong bayi itu, sungguh pemandangan yang sangat tidak kontras sama sekali. Axel berwajah bule tetapi kenapa anaknya berwajah oriental? mereka pasti mengira jika Axel bukanlah ayah dari bayi itu.


"Firasatku mengatakan jika dia bukanlah cucuku" ucap Daniel saat mereka berdua bersama istrinya.


"Bie, wajah bayi itu masih berubah-ubah, mungkin saja wajahnya mirip dengan wajah Hilda selagi bayi sudahlah jangan berhusnuzhon" Alma berusaha membesarkan hati Daniel, walaupun didalam dirinya timbul keraguan juga. Setidaknya nanti dia akan menanyakan hal ini pada Axel tapi bukan sekarang.


"Dokter" panggil Alma


"Boleh lihat data-data tentang bayi ini?"tanya Alma.


"Tentu saja boleh nyonya, apa yang bisa saya bantu?"tanya Linda.


"Saya ingin lihat golongan darah cucu saya" Alma


"Nyonya, saat ini belum diambil sampel golongan darahnya, biasanya nanti setelah kepulangan batu data akan diberikan.


"Biasanya bisa langsung loh Dok" ucap Alma.


"Ini sudah malam nyonya, mungkin besok baru akan dilakukan pengecekannya" nampak Linda sudah mengganti pakaiannya kembali dengan pakaian rumah, dia akan pulang sebentar lagi.


"Kamu kan asistennya menantu aku ya?"tanya Alma, sebab dia mengenali wajah Linda.


Linda mengangguk dan tersenyum.


"Ka-kamu seorang dokter?"tanya Alma heran.


"Iya nyonya" jawab Anita sambil membungkuk.


"Dia Linda mom" ucap Axel tiba-tiba.


"Iya dokter Linda, mama tau mantan asisten istrimu" ucap Alma


"Saya pamit dulu nyonya, hari sudah menjelang pagi. Axel aku pamit" ucap Linda


"Aku antar" Axel


"Tidak...tidak usah, saya bawa mobil sendiri" Linda pun segera berpamitan pada kedua orang itu. Begitu pun ketika dia bertemu dengan Daniel, dia pun nampak pamit.


Ya Linda pernah menjadi bagian dari keluarga itu, tapi itu dulu. Setidaknya dia tidak menghilangkan rasa hormat kepada mereka walaupun anak mereka sudah membuat hidupnya menderita.


"Suster...besok saya off, jika ada pasien saya tolong di handle dokter lain dulu, jika ada yang sudah janji segera telpon saya, biar nanti kita janjian ulang saja"ucapnya lalu dia segera meninggalkan rumah sakit itu.


Axel tetap melihat Linda hingga sosok itu menghilang.


"Matamu jika melihat wanita lain selalu saja tidak pernah berkedip" senggol Alma.


"Istrimu baru saja melahirkan" Alma mencoba mengingatkan anaknya.

__ADS_1


"Apa mommy tahu siapa dia?"tanya Axel sambil tetap memandang kedepan.


"Dia dokter yang menangani istrimu, kenapa?kamu tertarik?"pancing Alma.


"Dia Linda mom...mantanku yang dulu kutinggalkan" ucap Axel dengan nada sesal.


"Mama hafal wajah dokter Linda Xel, tapi itu bukan Linda yang kamu maksudkan?apa ada Linda yang lainnya?" tanya Alma kembali


"No...hanya ada satu Linda dihidupku mom" Axel.


"Tapi kenapa berbeda wajahnya?"Alma


"Aku akan mencari tau nanti mom...aku baru mengetahuinya beberapa hari ini" Axel


"Ya Tuhan...jadi yang menolong istrimu adalah mantan pacar suaminya?sungguh ironis sekali" Alma tak bisa berkata apa-apa lagi.


"Axel...anakmu" Alma tak melanjutkan kata-katanya.


"Iya...aku mengerti mom" Axel


"Kamu yang sabar ya nak" Alma nampak memeluk anaknya.


"Daddy akan pulang nak...kasihan mommymu sudah nampak lelah" Daniel


"Yes dad"


"Besok kami akan kemari lagi" Daniel.


"Baiklah...hati-hati kalian dijalan ya" Axel taklupa mencium tangan orangtuanya.


"Queen mommy akan pulang"


"Ooh..oke mom, yuk yank" Queen menarik tangan suaminya lalu pamit pada Hilda setelah itu merekapun masuk ke dalam mobil Daniel, Frans yang membawa mobil itu.


Didalam mobil Queen mulai memprovokasi mereka.


"Anaknya chinese banget ya mom, kok wajahnya gak ada tampang Axel sama sekali deh" Queen


Alma menasehati putrinya.


"Bayi jika baru lahir ya masih berubah-berubah wajahnya sayang. Mungkin wajahnya mirip Linda kecil, kan bisa saja iya kan?"Alma mencari persetujuan


"Aku setuju apa kata Queen" ucap Daniel.


"Sudahlah bie...jangan memancing-mancing, menantumu baru melahirkan, jangan sampai omongan kalian yang seperti ini didengar olehnya atau Axel yang mendengarnya, itu akan membuat sakit perasaannya, apalagi Hilda baru saja melakukan operasi pengangkatan rahim, bisa setress nanti dia. Biarkan dia pulih dulu" ucap Alma bijak.


Mendengar perkataan Ibu Suri Daniel dan Queen hanya bisa saling berpandangan saja.


"Dengar dad apa kata ibu ratu...ekekwkwk"Queen.


"Baiklah...baiklah...apapun titahmu ratuku" Daniel menghela nafas pasrah sambil melirik ke arah putrinya.


Axel menemani Hilda hingga keesokan harinya.


*****


"Anak lo Tio banget mukanya" ucap suster Ririn ditelinga Hilda.


"Kenapa gak ada wajah Axel ya" Hilda nampak tidak suka dengan kenyataan yang ada.


"Emang Tio papanya, gimana sih lo" Ririn


"Tapi....tapi kan gue juga nyampur tidur sama Axel" Hilda


"Tapi kan setelah ada anak lo, tetap saja lebih kuat Tio lah, ibaratnya Axel cuma nambahin garam dikit di kue yang udah jadi...hahaha...gak ada apa-apanya" Ririn tertawa.


"Diam lo ya...jangan banyak omong" semprot Hilda.


"Tenang..elo aman kalau sama gue" ucapnya sambil memandikan bayi Hilda.


Axel tak banyak bicara, dia hanya minta ijin pada Hilda untuk beristirahat, dia sangat lelah dan mengantuk.


*****

__ADS_1


Met pagi genks....happy reading ya😊


__ADS_2