
Bismillah. Assalamualaikum. Selamat membaca.
Di lantai-lantai rumah
Debu dari jalanan sudah membuang diri
Datang lagi
Pergi lagi
Di lantai-lantai rumah
Hujan tak sampai datang
Ditenggelamkan lagi
Sebercak memori saja
Butiran kotor itu bukan empunya
***
''Ketahuilah, seseorang yang husnudzon dalam menilai suatu keadaan, sebelumnya pasti memiliki perasaan suudzon. Sekadar ketakutan yang kemudian dihilangkan karena mengingat yang demikian itu perintah Allah Ta'ala.''
(Masih dalam keadaan menjalani UAS. Lampung,Β )
***
SuJaLa Squad
Aurel menambahkan Anda
Aurel
Guysssss hello hello hello! Welcome in WAG SuJaLa Squad! ππππππ
Dari pesan WA yang datang bertepatan dengan online-nya Najla, langsung dibacanya jua. Sejenak sempat berlipat-lipat tipis lah kulit dahinya itu. Kata hati kembali bertanya, apalah artinya SuJaLa? Suatu kata yang sepertinya tak bersemayam pada kamus Bahasa Indonesia.
Najla beralih untuk tak membalas WA masuk dari Aurel. Bergegas lah gadis yang kini berhijab hitam itu membereskan baju-baju yang telah disetrika. Biar rapi dan indah dipandang.
Di belahan bumi yang lain, Ismi tengah menikmati Seruit sambil direbahkannya jua kaki yang terselimut celana training. Sebuah benda mati yang bisa menayangkan potongan-potongan gambar seolah berisi kehidupan di dalamnya Ismi tak pedulikan jua. Kendati di sana sebuah film televisi pagi tengah berjalan di atas rol scene puncak konflik. Ponselnya bergetar-getar, sekadar dibukanya tanpa peduli untuk membalas chat Aurel.
Lain lagi, Mina justru seperti insan yang kehilangan kesibukan di tanggal merah ini. Esoknya hari Senin, ia pandang-pandang lemari bajunya di kamar. Beberapa potong baju sekolah digantung dengan baik. Beberapa berisi gamis panjangnya sebanyak tiga buah. Di sudut paling atas lemari, terdapat setumpuk celana jeans, beberapa rok, dan baju lengan panjang-pendek.
Sungguh, ia kini hanya berkacak pinggang dengan sebelah tangannya. Seolah tampak menimbang-nimbang suatu hal, seraya dirabanya jua kain-kain baju itu oleh pandangan.
Saat chat Aurel masuk, ia membuka dan tak peduli untuk sekadar membaca. Terpenting, notifikasinya tak penuh, jadi biarlah dibuka tanpa perlu dibaca. Alhasil, ia lemparkan jua ponsel itu di kasurnya yang memiliki respons naik-turun saat suatu beban menimpanya. Kasur yang empuk.
Aurel
Heiii kalian apa-apaan, sih? Cuma read WA-ku? Omaygatttt.
Guysss
Kawannnn
My BFF
SuJaLa kuuuuuu
__ADS_1
Please respons meΒ π
ππ£π’π’π’π’π’
Najla
Ismi
Mina
Senyap. Getaran ataupun suatu nada khas chat WA masuk tak lagi mengusik penghuni grup itu. Tertanda untuk kiriman terakhir Aurel ia memberi woro-woro yang indah maknanya.
Aurel
Aku hanya ingin memberi tahu. Aku lolos untuk menjadi bagian penari yang akan menyambut kedatangan presiden di Bandar Lampung mendatang. Dalam rangka peresmian jalan tol Trans Sumatera itu. Im so very happyΒ β€β€β€ buttttt im so very sad are with all you. Im left. Byeee πππ
Aurel keluar dari grup
Hatinya kini cukup memanas. Hingga-hingga balok-balok es yang tersembunyi di matanya itu perlahan meleleh. Terasa dingin sampai ke ulu hati. Keadaan rumah yang kosong, membuatnya leluasa untuk terisak-isak karena tangis. Memeluk kembali boneka karakter Hello Kitty itu. Menerabaskan pandangan pada kaca jendela kamar.
''Apa aku salah kalau aku kecewa sama kalian?''
***
Gedung olahraga sekolah kembali ramai pada masanya. Mulut-mulut seolah berusaha memanjangkan bibir agar sampai lah teriakan dari pita suara itu ke tengah lapangan. Dua tim futsal dari kelas 10 Mia 1 dan 12 Isos 4 tengah menjadi mayoritasnya objek pandangan terfokuskan. Satu bola beramai-ramai dikejar oleh kaki yang tak mau saling mengalah. Laksana gula berjalan yang hendak diperebutkan oleh ribuan semut.
Pada barisan kursi kedua penonton, ada satu hal yang janggal. Mampu memicu kawan-kawan sekelasnya jua untuk berpikiran keheranan. Bagaimana mungkin antara Najla, Ismi, Mina, dan Aurel, keempatnya sedang tak sempurna berada pada kursi yang sama.
''Kalo kayak gini caranya, yakin deh kelas-kelas Isos yang akan menguasai kemenangan lomba futsal antar kelas ini.'' Mina melipat kedua tangannya di depan dada.
''Belum tentu juga, Min. Bisa saja lah dari kelas Mia juga. Perkataan kamu orang seakan-akan sudah tak percaya dengan kemampuan kawan sekelas kita ya.''
''Ya bukan begitu maksudku.''
Dua tim yang kini akan menjadi objek tontonan banyak pasang mata sudah bersiap-siap di bibir lapangan. Dilakukan peregangan otot agar tak cedera parah lah nanti kekalau suatu hal yang tak diinginkan terjadi. Mina dan Ismi kembali mengandalkan pita suaranya. Tak mungkin akan diam mematung saja saat perwakilan dari kelas mereka siap memangsa bola di lapangan. Namun, perasaan itu tak berlaku bagi Najla.
''Naj, Ashad tuh.'' Sengaja Mina menyenggol bahu Najla. Beberapa kali sempat mengedipkan mata, bersikap seolah tak peduli lagi.
''Iya Najla mah tahu kalau Ashad juga main. Emangnya kenapa coba?''
''Hmmm B aja di muka, tapi gak bisa B aja kan kalau di hati?''
Najla bergidik. Lain ngeri maksudnya, sebuah pernyataan dengan bahasa tubuh kekalau ia masa bodo saja.Β Tak ayal maksud yang lebih tepatnya tentu pura-pura masa bodo.
Pada lapangan hijau itu sebuah bola dipermainkan ke sana ke mari. Bertemu banyak kaki, kadangkala melambung dan keluar garis lapangan. Sorak sorai pendukung masing-masing tim, pun jua penonton dari kelas lain seolah bermain spot jantung. Dua kelompok itu sama-sama mampu membangun dinding pertahanan, dan panah-panah penyerangan. Permainan yang apik dan menggemaskan detak jantung.
Dari tempatnya, tentu lah sesekali Najla menilik ke arah Ashad. Kali ini tak ada sepasang kaca yang menutupi matanya. Memang pada waktu-waktu khusus saja ia mengenakannya. Apa boleh buat kekalau nanti kacamatanya jatuh, dan berhasil dibuat remuk redam oleh kaki-kaki pemain lain yang tak sengaja, terlebih kakinya sendiri.
Gerakan kakinya sangat baik dalam mengontrol bola. Butiran-butiran bening yang berada di jalur pelipisnya sudah tak dihiraukan. Najla berusaha menahan diri jua agar tak dibuat jatuh kian dalam kepada pesona Ashad. Kekalau di relung hati yang luas itu sekadar tertanam pohon-pohon dunia, sedang bunga-bunga surganya tak ada pastilah kali ini menjadi kesempatan terbaik. Dipuaskan hati Najla untuk kian menghidupkan nafsu berbaju cinta itu memandang Ashad. Tentu jua karena peluh-peluh itu bak magnet yang mampu membuat denyut jantung berada pada perhitungan abnormal. Rambutnya yang basah dan wajah lelah bukan pembunuh daya tarik.
Demikian jua, yang tengah menghinggapi sebuah hati yang sedang merasa sendiri. Dia tak berpaling dari kerumunan para olahragawan yang memperebutkan ring bola. Jantung-jantung yang lain ramai, ia membeku. Wajah-wajah yang lain dibuat merah tergoda, ia sedatar papan triplek. Bukan hatinya yang dibariskan kepada ingatan terhadap agama, ialah hatinya yang sedang menciut karena dunia. Dunia yang seolah mendua dan mau membersamainya saja kala lembaran uang ia hidangkan. Sedangkan keluh kesahnya yang butuh sekali telinga serta hati justru ditepikan di pinggiran tempat yang asing. Ya, dirasanya sedang beradaptasi dengan dunia baru yang asing. Dunia lamanya antah berantah di mana kini berada.
''Hei! Kamu gak nonton kawan kelasmu yang lagi main futsal?'' Seorang siswi menghampirinya.
''Enggak.''
''Cuek banget.''
Pergi lah siswi bertahi lalat di dagu itu. Wajahnya dibuat semasam mungkin atas tuntunan hati nurani.
__ADS_1
''Ish! Siapa juga yang suruh nyamperin aku.''
Lapangan basket sudah akan hening lagi. Sebabnya permainan telah selesai. Insan-insan mulai kembali atau pergi ke mana saja masih dalam ruang lingkup sekolah. Aurel turut serta membawa tubuhnya beranjak dari sana. Ke perpustakaan, tempat tasnya dititipkan kepada Bu Eko.
''Udah selesai, Rel tandingam basketnya?''
Wanita itu menyadari kehadiran Aurel. Sibuk mendata buku-buku yang telah dikembalikan oleh murid di akhir semester tak membuat Bu Eko buta kata-kata untuk menyapa Aurel.
''Iya, udah, Bu.''
''Biasanya bareng Najla, Ismi, Mina. Tumben dari tadi pagi sendirian aja?''
Usai sudah tas itu di dekapannya, meringis jua Aurel. Keadaan tengah tak memihak untuk ia kembali berhubungan baik dengan mereka. Kendati dinanti-nantinya jua kehadiran tiga insan itu untuk membujuk, menanyai, dan meminta maaf. Sungguh, Aurel akan berlapang hati memaafkan mereka. Sayang seribu kali sayang, sampai detik ini hal itu masihlah bersemayam di dalam angan.
''Enggak apa-apa, Bu. Mereka ada kesibukan kayaknya. Jadi aku milih untuk sendiri aja, daripada mengganggu.'' Kebohongannya turut bermain.
''Persahabatan macam apa yang gak bisa mendengarkan curhatan sahabatnya?''
Sedikit kata-katanya. Banyak lukanya. Sedang kini Aurel memilih untuk menyandarkan luka pada meja perpustakaan. Kepalanya seperti terasa ditutup beban berat sampai ia rebahkan di sana. Menatap buku-buku yang tertata rapi, kendati tak serapi kondisi hatinya sejak detik pagi di hari lalu.
***
''Akhirnyaaaa yang ditunggu-tunggu datang! Makasih ya, Kak. Ini uangnya sekalian sama uang Ismi.''
''Sama-sama, Dek. Kalau butuh kerudung, cadar, gamis, atau kailus tangan pesan tempat Kakak lagi, ya. Hehe.''
''Siap, Kak hehe.''
Dua bungkusan itu Mina bawa jua ke kelas. Sengaja memesan kepada kakak kelasnya yang berjualan secara online, karena pembayaran di akhir dan ia bisa menabung lebih dulu sambil menunggu barang datang. Sekadar beberapa insan saja yang kini berada di kelas. Yang lainnya? Entah jua.
''WIh! Sini-sini mau langsung aku coba.''
Lekas Ismi pasangkan jua di wajahnya yang bulat itu. Tak ayal jua seraya menghadap sebuah cermin milik kelas. Jenis cadar yang sekadar menutupi sampai batas hidung saja. Ismi dan Mina saling tertawa kecil dan mengaku bahagia. Selekasnya Ismi berkata, ''Kebetulan nih kalau jadi hari Minggu nanti aku mau menghadiri acara di Bandar Lampung.''
''Acara apa?'' tanya Mina.
''Itu, acara meet up sama Natta Reza dan Istrinya itu. Aku harus bercadar kalau mau menghadiri acaranya, biar terlihat lebih sopan.''
Satu hati yang sedari tadi membisu, dan sekadar jantungnya yang berdetak serta merta napasnya yang berembus, berbisik jua. Apa-apa mendadak ia pikirkan buruk terhadap tingkah dua sahabatnya kini. ''Maksudnya pakai cadar teh untuk apa? Kenapa niatnya jadi agak belok kitu atuh?''
Tak sampai lama, bergegas Najla kemasi debu yang mendadak melekat di hati dan pikirannya itu. Husnudzon.
''Natta Reza? Kakaknya Aurel?''
''Ih! Bukan lah. Kamu ini masa gak tahu, sih? Siapa dia?''
''Kalian merasa gak kalau dari kemarin teh sampai hari ini kita kehilangan Aurel?''
Kalau disimak baik-baik, benar jauh lah jalurnya ujaran Najla itu dengan pusat perbincangan Mina dan Aurel. Di kepalanya seolah dibukakan sebuah lembaran oleh nama Natta sebagai Kakak Aurel. Kendati sedari pagi isi kepalanya sudah pergi berkelana mencari Aurel. Berkelana pada ruang-ruang tanya dan kehilangan.
''Iya! Dia orang apa gak berangkat ya, hari ini? Tasnya gak ada!'' Ismi berseru.
''Terakhir di grup, keadaannya gak baik, kan? Meskipun ada kabar baik.''
Najla dan Mina sama-sama menyetujui kata Mina. Jadi, pikiran mereka kali ini tuntas. Tuntas mengerti kekalau persahabatan sedang diuji. Kesalah pahaman terjadi.
***
Bersambuuunng.
__ADS_1
Next gak nih? :)
Wassalamualaikum.