Atas Nama Cinta

Atas Nama Cinta
Bab 13: Hati-hati Karena Hati


__ADS_3

Bismillah. Assalamualaikum. Selamat membaca.


 


Masih di atas telaga


Pada sebuah cerita


Niscaya luka bercahaya


Ada yang bersuka ria


Ada yang bermuram durja


Kini kau benci


Kelak kau akan menghargai


***


''Dan hati mana yang kurang mengenal cinta Allah? Hati mana lagi jikalau bukan hati yang kecintaannya kepada manusia dan dunia berada pada barisan yang utama.''


(Lampung, 11; November 2018 )


***


Sepasang kaki itu barulah terpijakkan lagi pada keramik berwarna mocca polos. Usai dibawanya pada sebuah ruangan tempat pembuangan akhir apa-apa yang telah dikonsumsi manusia. Nyawa-nyawa yang tertambat pada raganya masing-masing pun baru saja berdatangan. Antah berantah dari mana awalnya. Bisa saja kelas, atau tempat-tempat lain yang masih satu halaman SMA Negeri 1 Agung.


''Eh!'' Digerakannya jua bahu itu sampai menggoyangkan bahu di sampingnya.


''Atuh Mina teh jangan senggol-senggol. Untung Najla gak jatuh.''


''Ehhhh.'' Nadanya geram. ''Cari siapa sih? Sebentar lagi ekskul akan dimulai, Naj. Masih sempet-sempetnya cari seseorang? Ashad kan?''


Najla yang sudah terduduk di lantai masjid tak jadi. Keterkejutan membuat tubuhnya merespons untuk berdiri. Entah jua sudah keberapa kalinya Mina menggoda ia dengan Ashad. Dua tahun berturut-turut satu kelas dengan Gadis itu, barang sekali pun Najla tak pernah menguraikan perasaanya dalam bentuk curhatan. Namun akhir-akhir ini persembunyian hati Najla laksana menyeruakkan pintu lebar-lebar. Mempertontonkannha kepada Mina.


''Mina udah berkali-kali ngeledek Najla sama Ashad. Najla gak suka ya, Min.'' Benar tak sukanya. Tak suka fitrah hati itu mampu terjamah manusia.


''Naj. Di mata aku, selama kenal kamu 2 tahun ini keliatan banget. Tapi sampai sekarang kamu masih mengelak kenyataan itu?''

__ADS_1


Ruang dalam dada Najla kian naik turun saja. Mina membuatnya terpacu, bertambah pula batang hidung Ashad yang ia tangkap tengah memasuki ruangan ekskul KIR. Seruntutan adegan yang membuat pipinya tiada henti menunjukkan lipatan yang menjorok ke dalam karena senyum. Taman bunga sedang memanjakan ia sepanjang hari ini. Segelas teh yang tak jadi membelai kerongkonganya. Namun masih saja bisa  meninggalkan bekas merah jambu di hati.


''Najla teh gak suka.''


''Ampun, Najla udah bohong ya Allah.''


''Nah kan. Ya udah kalau kamu masih ngeyel. Dua tahun emang gak cukup untuk bisa saling mempercayai.''


Mina membuat tubuhnya perlahan menjauh. Najla terdiam saja. Aroma-aroma percikan api sudah menyebarkan baunya. Apinya siap melahap. Dengan alasan tanpa hadir sepasang tangan yang siap merajut lagi ikatan itu. Sebatas kaku tubuh Najla kini. Hatinya sudah dibuat untuk ditarik ke kanan dan ke kiri. Sebentuk hatinya dilukiskan setitik air tengah tergenang pada sehelai daun talas. Sampai detik ini, Najla memang sangatlah sempurna menutupi apa-apa yang dianggapnya tak pantas diperlihatkan. Kendati Mina selalu menuturkan seribu kata perihal hari dan hatinya yang dilalui. Jadi, kini Najla bak terkurung pada jeruji besi dan kuncinya adalah membuka diri.


Insan sudah beramai-ramai masuk masjid untuk mengikuti kegiatan ekskul minggu ini. Pelan-pelan Najla membawa tubuhnya untuk terduduk. Di antara keramaian yang mencubit hatinya seolah merasa sendiri. Sebuah kultum singkat yang terbiasa menjadi pembuka acara tak sampai barang menyentuh lembut hatinya. Ia sibuk dengan daun-daun yang rapuh itu.


''Dari Abu Musa al-Asy'ari Radhiyallahu 'Anhu katanya: Rasulullah SAW. bersabda: "Apabila seseorang hamba itu sakit atau bermusafir, maka dicatatlah untuknya pahala ketaatan sebagaimana kalau ia mengerjakannya di waktu ia sedang berada di rumah sendiri dan dalam keadaan sehat." HAdis Riwayat Bukhari.


Maksudnya hadis ini adalah, siapa saja yang istiqamah terhafap suatu amalan dan di suatu hari ia meninggalkannya karena udzur yang benar, maka amalan istiqamahnya itu akan tetap ditulis untuknya. Allahu Akbar.


Contohnya saja kita salah dhuha. Rutin salat dhuha. Di suatu hari kita sedang berpergian jadi tidak sempat melaksanakannya, Mahabaik Allah tetap memberikan kita pahala salat dhuha.


Demikian kultum singkat yang dapat saya sampaikan. Semoga bermanfaat. Kurang dan lebihnya saya mohon maaf. Dan kepada Allah saya mohob ampun. Saya akhiri wassalamualaikum warrohmatullahi wabarakatuh.''


Satu kesempatan terbang entah ke mana. Najla menghilang kendati raganya masih di sana. Berkali-kali diliriknya Mina dari jarak sekian meter. Barang sekali saja tidak Gadis itu meliriknya jua.


***


Tenang-tenang saja langkah Najla dibawa. Pandangannya tak lagi disibukkan dengan lantai koridor, justru sebuah pemandangan asing tengah menayangkan diru di dekatnya. Helai-helai kain yang besar itu dibentang-bentangkan jua oleh beberapa pasang tangan. Insan-insan di sana tampaklah bersuka ria. Hingga dipeluk-peluk jua yang terjamah sepasang mata Najla mereka tengah memperebutkan kerudung.


''Pokoknya aku pesen yang kayak punya dia ya, Bu.''


''Bu Eko, aku yang hitamnya. Yang besar juga.''


Silih berganti seiring langkah kaki Najla yang kian mengikis jarak jauh dengan mereka, suara-suaranya sudah bisa dibawa masuk ke indera pendengaran. Seorang siswi yang lain mencoba memakainya. Enggan melepas.


''Tapi minggu depan ya, kerudungnya. Kan Ibu harus belanja dulu.''


''Iya Bu. Pokoknya jangan lupa ya, Bu.''


Sabana yang sempat kering itu hidup subur lagi. Indah di mata melihat siswi-siswi mulai mendambakan diri mengenakan kerudung syari. Pun jua hatinya tak henti beryukur. Pada kesunyian yang tak banyak insan tahu, ia menyematkan sebuah harapan. Keindahan islam kian tertanam kuat pada banyak jantung.


Najla terus saja melangkah. Mantap dan tingkatan ibadahnya ditekadkan memiliki diagram yang selalu memuncak. Insan-insan lain mulai memperbaiki diri, Najla tak mau kalah jua menunjukkan kecintaan kepada Illahi dari yang lainnya.

__ADS_1


''Najla!'' Seseorang menyerunya dari arah kiri.


''Aurel. Kamu kenapa?''


Tak sampailah dipedulikan ramainya tempat kali ini oleh Aurel. Datang-datang sudah jatuh memeluk Najla. Terisak-isak suaranya.


''Broken heart. Sakit. Perih, Naj. Dia jahat.''


''Tenang dulu atuh, ya. Duduk di sana yuk!'' Dituntunnya Aurel pada sebuah bangku panjang di depan kelas 12 Mia 4. Sebenarnya sudah paham jua Najla dengan singkat-singkatnya kalimat yang Aurel katakan.


''Coba sekarang Aurel teh cerita sama Najla.''


''Aku diputusin sama Dava. Padahal aku gak tahu salahku apa, Naj. Tiba-tiba dia bilang mau jemput aku sekolah, dan barusan di depan gerbang dia putusin aku! Di depan gerbang Naj. Banyak orang. Dia membuatku malu juga harus menangis saat itu. Sedangkan dia pergi tanpa penjelasan apa-apa.'' Sudah terekam jelas naik turunnya irama kata yang Aurel bawakan. Sebuah bara api pun segunung mutiara berebut posisi pada peti hatinya.


''Alhamdulillah.''


Aurel terperanjat. Langsung menarik diri lah ia dari tubuh Najla. Punggung tangannya segera menyingkap bulir bening di sudut mata.


''So, you happy? ALhamdulillah? Kenapa kamu lebih jahat dari Dava, sih Naj?''


Ah, Najla tersesat pada belantara kata yang belum matang dikatakan. Spontanitas saja lidahnya itu menuturkan demikian. Sebuah kebiasaan baik yang kerap dilakukannya karena keburukan yang mengikat diri usai terlepas. Sayang saja kali ini kalimatnya tertambat pada detik waktu yang tak siap menerima.


''Maaf-maaf. Aurel jangan salah paham dulu atuh. Maksud Najla teh baik kok.''


''Aku belum paham. Coba jelaskan sebelum kita salah paham.''


''Najla seneng Aurel bisa terlepas dari kemaksiatan. Pacaran itu dosa, Rel.''


Langit-langit hening. Aurel membeku.


''Aku belum paham.'' Terdiam seraya menunduk jua lah gadis itu. ''Ayooo pulang sekarang Naj. Aku malah pusing kamu omongin kayak gitu. Pokoknya di lain waktu kamu harus mebjelaskan apa maksudnya kok bisa dosa? Dan yang waktu itu aku liat cogan anak basket disebut dosa jug. Huh.''


Najla terkekeh mendapati sikap Aurel yang demikian. Akalnya sudah waswas dengan sebuah ruangan yang berantakan nantinya, setelah didapati ruang yang berantakan jua bersama Mina. Keduanya berlalu. Dari arah belakang sepasang tangan tiba-tiba mengalungkannya di leher Mina dan Najla.


''Kalian mau pulang? BAreng dong.''


Najla sudah bersahabat dengan jenis suaranya yang sedikit lebih serak. Mina. Ruangan yang sempat dikiranya berantakan itu sudah rapi kembali. Alhasil pergilah ketiganya dengan sama-sama merapatkan jari.


***

__ADS_1


Bersambuuung. Writer block melanda 😔 maaf kalau tulisannya gak kayak biasanya. Wassalamualaikum.


__ADS_2