
"Miko mendapatkan hukuman skorsing ? Dan itu hanya seminggu? Itu terlalu ringan. Jika bapak dia bukan salah satu investor pasti sudah di depak tuh!" Davis mengomel sambil mencomot makanan di tangan Galuh.
Dengan santai nya ia mengarahkan tangan Galuh ke mulutnya, mengunyah makanan pelan. Interaksi antara mereka menarik perhatian Dirga juga Cicilia.
Mereka saling menatap sekilas. "Sejak kapan kalian begitu akrab? Apa aku ketinggalan kereta kali ini?" Cecar Cicilia. Galuh membenarkan kaca mata nya merotasi matanya sebal.
Tercetak jelas wajah kesalnya melirik Davis langsung di balas dengan ciuman jarak jauh. Galuh acuh saja memakan dinsum nya tanpa menatap sekitar nya. Davis menghabiskan mie ayam bakso nya yang tersisa beberapa suapan.
"Biang onar yang sakit jiwa itulah ungkapan yang pas untuk dia!" Komentar Galuh malas. "Sayang tak boleh berkata seperti itu! Itu kasar sekali! " Tekan Davis mencebikkan mulutnya.
"Lantas apa ungkapan yang aku mesti sematkan untuk kelakuan kamu yang songong itu! Itu tak sengaja apa bibir mu luka ? Robek ? Cacat ?" Tanya Galuh dengan sinis.
"Apa ini maksudnya?" Dirga dan Cicilia bertanya bersamaan dengan wajah kebingungan.
"Kami tak sengaja jatuh, maksud nya tergelincir bukan di rencana. Dan insiden tersebut menyebabkan kami berciuman. Hanya ciuman sepintas."
"Kau tahu hanya dua bibir menempel bukan ciuman yang saling ******* gitu. Hanya menempel biasa saja. Kau tahu apa yang dia lakukan?"
"Apa?" Seperti orang yang bego keduanya kembali bertanya bersamaan. "Dia minta aku bertanggung jawab! Yang ada dia memang banyak! Bagaimana tidak ? Sudah memeluk dadaku menempel di dada nya. Jelas yang rugi kan aku!"
Galuh tersungut-sungut sambil terus makan makanan camilannya di meja mereka. Cicilia tergelak juga Dirga. "Konyol!" Dirga melempar mata mengejek Davis.
"Asal kau tahu bibirku masih perawan juga alat tempur aku, dan jelas satu paket itu milik kamu!" Tekan Davis ke Galuh. Gadis itu tersedak minuman, menyemburkan air mineral yang di raih nya barusan.
"Dasar orang tak waras! Apa kau gila? Aku bukan penganut *** bebas." Maki Galuh sambil melap mulutnya dengan tisunya.
__ADS_1
Dirga dan Cicilia tertawa terbahak-bahak melihat keunikan keduanya. "Makasih kamu udah melupakan dia dan beralih ke Cicilia. Aku dukung hubungan kalian!" Ucap Galuh sungguh sungguh.
Mereka saling menatap, ada rasa canggung lagi diantara mereka. "Mhm.. Dirga bagaimana jika ke rumah Larasati. Dia sudah ambil cuti kuliah untuk melahirkan. "
"Ngomong omong hubungan kalian sudah agak baikan. Kau tahu, kita mencoba untuk lebih dekat lagi." Davis mencoba mengalihkan perhatian.
"Iya.. Dia sudah tak seperti dulu, menerima kunjungan orang tuanya walaupun hanya terdiam saja." Sahut Dirga sendu.
"Bagaimana jika akhir pekan kita ajak semuanya dan piknik kecil untuk merekatkan hubungan antara mereka." Usul Davis.
Semuanya mengangguk mengiyakan ajakan itu. "Ku harap ini tak kacau dan membuat semua orang menjadi renggang lagi." Galuh menimpali.
"Aku pikir ini akan menjadi awalan bagus kita optimis saja. Tak ada salahnya kita coba. Kemarilah." Davis memberikan kodenya untuk mendekat. Davis mencetuskan ide nya .
Larasati berjalan mengitari taman di depan kompleks apartemen miliknya. Setiap pagi dan sore ia habiskan waktu nya jalan-jalan memutarinya sebanyak tiga kali. Berakhir dengan duduk-duduk santai di bangku taman setelah itu dia kembali ke apartemen.
"Ini akhir pekan, kamu pasti capek banget karena itu aku tak membangunkan mu." Balas Larasati hanya menggosok lengan sang suami.
Saat tidur semalam Bagaskara hanya mengenakan singlet dan celana pendek. "Mau sarapan apa nih?" Tanya Bagaskara. "Bibir ayam depan sana ramai yuk ke sana!" Ajak nya sambil menuntun sang istri.
Mereka berjalan beriringan menuju gerobak bubur ayam di ujung taman. Yang nampak ramai di kunjungi oleh pelanggan. Tak ada yang mengetahuinya jika lelaki itu seorang CEO.
Sebuah mobil mendekat nampak Davis dan Akbar turun dari mobil Honda city. Ke-dua nya menghampiri Bagaskara dan Larasati. "Yuk sarapan sama kami, enggak jauh-jauh kok."
Ajak Davis langsung tanpa salam, mengajak keduanya saling menatap. " Mengapa mendadak gini?" Keluh Larasati.
__ADS_1
"Kamu mau ikut?" Tanya Bagaskara kepadanya istrinya, dan di jawab nya dengan senyuman. " Ok Tapi kami nebeng sama kamu jangan di tinggal?" Ucap Bagaskara dibalas cekikikan kedua sahabat Larasati.
Mobilnya meluncur ke jalanan yang sedikit lengang karena hari libur jadi aktivitas tak sepadat hati biasanya. "Wah besar rumahnya." Gumam Larasati. Bagaskara mengetatkan rahang nya melihat jalanan yang ditempuh terlebih memasuki bangunan ini, kesal iya. Dan ia tak tahu bagaimana dengan reaksi sang istri nantinya.
Mereka berhenti di parkiran samping rumah lalu ke belakang rumah, di sana ada Cicilia Galuh dan dua orang yang di bencinya. Larasati hanya terdiam menatap mereka tak bergerak terpaku. Bagaskara pun memeluk tubuh sang istri dan kedua sahabat nya 5ak tahu jika Larasati berhenti mengikutinya.
Cicilia melempar kode pandangan Davis dan Akbar bingung lalu baru ngeh saat Galuh menunjuk dengan dagunya. Dirga dan kedua orang tuanya terdiam mereka saling melempar pandangan.
"Maafkan aku, ini ideku. Murni keinginan ku, ku pikir kau dan mereka sudah mengakhiri persengketaan. Jadi aku ingin kita kumpul gitu. Makan barbeque sambil..."
Davis tak meneruskan kalimatnya kala Larasati mengayunkan langkah kakinya mendekati mereka. Adista meletakkan baki buahnya menyambut kedatangan Larasati.
"Maafkan kami, kami tak membawa buah tangan saat bertamu." Kata Larasati bergetar.
"Tak menjadi masalah, kedatangan kamu sudah membuat kami bahagia." Sahut wanita cantik itu merengkuh tubuh Larasati memeluknya. Adista menitikkan air matanya, "Maafkan kami nak.." Bisikan Adista terdengar lirih bersama isakan nya.
Bagaskara menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Mungkin ini menurut hormon baby-nya." Batinnya, tersenyum melihat pemandangan di depannya.
Yang lainnya ikut terharu melihat adegan itu, " Ayo sayang kita makan ." Ajakan Adista membuat Larasati mengikuti nya, karena lengannya di ampit wanita itu membimbingnya untuk duduk di sebelahnya.
Semuanya mengambil tempat masing-masing, walaupun agak kaku semua berbincang sambil makan daging barbeque. "Sungguh kami tak merasakan mual-mual atau sejenisnya? Oh, Subhanallah alhamdullilah ,anak yang baik sama ibunya." Timpal Adista mengelus perut Larasati.
Keduanya terlibat perbincangan seputar kehamilan dan bayi. Topik yang sengaja di bahas Adista, berbagi informasi tentang kehamilan dan ibu menyusui.
Mengingat putri sambung nya sudah kehilangan sang ibu sejak bayi, cita-citanya menjadi ibu seorang putri telah di kabulkan. Adista bahagia bersama mereka, hanya Dirga dan Heru yang tak mendekat, karena Larasati masih memasang muka datarnya.
__ADS_1
"