Atas Nama Cinta

Atas Nama Cinta
36.


__ADS_3

Para petugas medis keluar dari ruangan operasi. Larasati bangkit menyongsong mereka, "Kami sudah berusaha semaksimalnya. Pasien sudah di bawa ke ruang pengawasan khusus. Jika dia stabil keadaan nya dan tidak ada kendala lain maka besuk pagi dia akan di pindahkan ke ruang inap. Terimakasih."


Larasati tersenyum bahagia, " Terima kasih Dokter. Terimakasih. Aku yakin dia bisa melaluinya dengan baik. Terimakasih mas." Ucap Larasati lirih.


"Pulang Larasati besuk kau kemari lagi, kau sedang hamil tak baik jika kau berjaga. Biarkan aku yang melakukannya." Ucap Akbar. Larasati tersenyum mengangguk." Baiklah. terimakasih atas bantuannya. Aku akan pulang. Kalian akan menemani aku kan? " Tanya Larasati pada ke-dua sahabat nya.


Keduanya mengangguk sambil berjalan beriringan meninggalkan rumah sakit, dan Dirga memutuskan untuk bersama dengan Dirga.


"Pulang Ma Pa istirahat saja besuk kemari lagi tolong bawakan baju ganti juga makanan untuk kami." Pinta Dirga pada orang tuanya.


"Baiklah kamu jaga kesehatan jika letih istirahat bergantian dengan nak Akbar. Kami pulang duluan." Heru dan Adista pun mengikuti pulang ke rumah.


"Kita harus lebih bersabar lagi Ma, nanti putri mu akan menyapa kita. Hatinya masih terluka di tambah kehamilan itu dia lebih sensitif." Heru berusaha menenangkan Adista dengan mengusap punggungnya.


Adista menangis tak bersuara kala di tolak Larasati hingga sekarang ia masih mengeluarkan air mata nya. Berulangkali usahanya mengusap air matanya tertangkap pandangan Heru.


Semuanya adalah kesalahannya yang ingin tahu rasanya memiliki wanita lain namun berujung kericuhan dan sakit hati berkepanjangan bahkan anak lelaki nya jatuh cinta pada adiknya sendiri.


"Seharusnya aku mengatakan itu sejak dia remaja jadi Dirga tak sesakit ini." Batin Heru sedih.


Flashback.


Suara sirene ambulans mendekati IGD, para petugas medis berlari membantu petugas ambulance juga memeriksa keadaan pasien. Ada dua yang di angkat yakni Bagaskara juga Larasati.


Penanganan dibagi dua tim, "Pasien hamil kita akan memeriksa keduanya ibu dan anak". Ucap petugas yang menyongsong kedatangan mereka.


""Pasien mengandung 26 Minggu ada ini tas ia baru saja dari rumah sakit ini untuk periksa kandungan tadi pagi." Jelas seorang wanita berpakaian kasual namun banyak noda darah di tubuhnya.


"Pasien ini luka parah saya hanya membalut nya darurat sesuai prosedur. Saya tak mungkin membedah di tempat karena minim peralatan. Saya dokter Rizka bertugas di rumah sakit Bunda Kasih. Kebetulan saya satu gedung dengan pasien." Jelas wanita itu pada petugas medis.

__ADS_1


Ini bukan tempat kerjanya dokter Rizka jadi dia hanya mendampingi nya saja juga menjelaskannya.


Semuanya mengangguk mengiyakan " Kalau begitu kami ambil alih, terimakasih sudah membantu." Kata salah satu dari dokter yang menarik brankar yang di tempati Bagaskara.


Rizka menghentikan langkahnya kemudian menunggu nya di ruang tunggu. Sedangkan kedua suami istri itu ditangani oleh petugas medis di dalam ruangan tindakan.


Rizka meminta ijin kerja mendadak karena tetangga nya, dia mengenal Larasati, walaupun mereka tidak akrab namun Rizka tahu Larasati orang yang ramah walaupun sedikit acuh.


Di ruangan serba putih dan tertutup, semua petugas memeriksa keduanya di tempat terpisah. Larasati. Dia terbaring dengan mata terpejam dan nafasnya normal.


"Menurut pemerikasaan detak jantung nya normal, tak ada luka dan saya kira ini darah dari sang suami." Jelas dokter residen pada seniornya.


"Kau benar dia tak memiliki apapun luka fisik, coba tes ulang berhubungan dengan kehamilan, bayi nya apa ia terkena gegar otak atau luka dalam lainnya." Titah sang dokter senior.


"Baik dokter." Sahut dia dan mulai pemeriksaan terhadap Larasati. Setelah pemeriksaan USG, perawat yang membantu dokter koas itu mulai menjalankan instingnya.


Di ruangan berbeda Bagaskara di berikan pertolongan mengenai tindakan "Sedikit lebih dalam saja pasti organ dalam akan robek. Sadis penusuk nya. " Bisik sang dokter yang menjahit nya.


"Untung stamina nya bagus. Darahnya keluar cukup banyak dan beruntung ada dokter umum di dekat rumah nya masih ada di rumah." Bisik dokter muda itu pada rekannya.


"Benar keberuntungan nya sangat banyak, ada dia sukses di bisnis juga gossip dia nikah dengan artist." Balasan berbisik dokter muda itu.


"Jika hanya bergosip pergilah keluar jangan di depan pasienku. Kau pikir dia tak mendengar suara kalian?' Semprot dokter senior di depan mereka.


Para perawat tersenyum menahan tawa agar tak keceplosan di depan dokter senior itu.


Di ruangan sebelah, Larasati mengerjap menatap sekeliling nya ," Mas Bagas!" Serunya langsung terduduk kepalanya mencari-cari sesuatu.


"Anda terbangun? Bagaimana ada keluhan? Anda di bawa ke rumah sakit terdekat dari apartemen tempat anda tinggal. Ada yang menusuk Anda dan suami. " Jelas dokter.

__ADS_1


"Tenang saja Anda tak apa-apa hanya suami Anda yang terluka," Jelas nya lagi.


"Suamiku ada di mana?" Tanya Larasati gusar. "Beliau sudah ditangani oleh petugas medis lainnya. Apakah ada keluhan terhadap anggota tubuh nya? Sakit, atau kram mungkin?" Tanya dokter muda itu.


" Tak ada, aku baik-baik saja, dimana Suamiku?" Tanya Larasati.


"Bisakah anda memanggil wali? Anggota keluarga terdekat?" Tanya Dokter lagi.


"Mertua ku sudah tua dan sendiri di desa, aku yatim piatu. Apakah aku boleh memanggil teman ku?" Tanya Larasati ragu


*Tentu, jika itu membantu Anda menjadi rileks." Jawab petugas medis.


"Anda harus melaporkan ke administrasi mengenai tindakan medis yang kami lakukan." Lanjut dokter Larasati hanya mengangguk.


"Tas saya?" Tanya Larasati lagi menatap sekeliling nya.


"Silahkan tadi di bawa sekuriti dan dokter tetangga anda Rizka. Dokter Rizka?" Jelas nya lagi.


Larasati di bantu perawat keluar dari ruangan menemui dokter Rizka dan sekuriti yang mendampingi mereka ke rumah sakit. Ada petugas kepolisian yang berjaga melihat perkembangan korban.


"Larasati kau baik-baik saja?" Tanya dokter muda itu memeluknya. Wajah cemasnya terlihat jelas.


"Maaf sudah merepotkan mu dokter. Saya baik-baik saja setelah pemeriksaan, saya pingsan karena melihat darahnya." Jelas Larasati.


Dokter muda itu tersenyum bersyukur sambil mengangsurkan tas milik nya juga ponselnya Bagaskara juga benda berharga nya, jam tangan kunci mobil juga dompet.


"Bagaskara masih di dalam masih pemeriksaan dan tindakan yang lebih lanjut. Juga ada petugas kepolisian yang berjaga melihat perkembangan mu dan Suamimu." Jelas dokter tersebut. Larasati hanya terdiam mengangguk.


Kemudian mereka kembali duduk bersama di sana. Larasati mengirimkan pesan singkat ke sahabat nya, Akbar Galuh Cicilia. Bagaimanapun hanya mereka bertiga yang di milikinya dari sebelumnya dia di kenali sebagai nyonya Bagaskara.

__ADS_1


__ADS_2