Atas Nama Cinta

Atas Nama Cinta
Bab 14: Di Kafe


__ADS_3

Bismillah. Assalamualaikum. Selamat membaca.


Ada yang masih serat


Kakinya sudah terikat


Pun ada


Bulan malang tiada


Kesejukan yang riang melanda


Berlama lah


Berlama lah


***


''Tidak semua hati sama. Ada yang perlu memapah diri ada yang sudah memantapkan hati.''


***


Surya sudah mulai mengeriput. Bercak oranyenya yang kian merebak lebar hampir menyelimuti langit sudut Barat. Burung-burung sudah berteduh di sarangnya lagi. Kelelawar siap membawa diri berkelana dengan rentangan gelapnya sang payung alam bumi. Sore itu, jendela-jendela jua sudah dibawa menutup diri. Lampu berkibaran cahayanya. Gorden-gorden rumah difungsikan.


''Dek, cepet ambil air wudu! Nanti enggak Teteh ajarin ngerjain PR kalo diem aja.'' Satu-dua tetes air wudu jatuh dari muka Najla. Ditariknya lagi lengan baju panjangny itu.


''Iya-iya! Teteh bawel ih. Adek ambil air wudu nih.'' Tanpa dirapikannya dahulu buku-buku tulis itu, biar saja ia tinggal. Mengambil air wudu ditemani Najla.


Azan maghrib sudah gencar berkumandang ke segala penjuru sekiranya tiga menit yang lalu. Ibu tengah berhalangan untuk salat, jadilah Najla mengambil alih mengimami salat yang dilaksanakan pada pertemuan malam dan sore itu. Seperti biasa, usainya kegiatan meliuk-liukan lidah berlafadzkan aksara arab dari Al-Quran dilaksanakan. Ibu terduduk di hadapan mereka pada ruang tengah. Kehangatan menjalar dengan cepat berkat suara tuturan indah dua puterinya itu. Kendati jemarinya masih telaten mengemasi biji-biji kedelai itu ke dalam plastik. Usai seruntutan proses dari mencucinya kini dibungkus rapi. Esok pagi sudah siaplah menyapa perut-perut manusia yang menginginkannya. Atau jantung-jantung para insan yang hendak menyalurkannya lagi kepada perut-perut itu.


''Alhamdulillah.''


''Alhamdulillah.'' Aini mencerminkan apa yang sudah sang kakak tuturkan itu.


''Nah makin geulis anak-anak Ibu kalo lagi ngaji mah ya?'' Gurauan Ibu berhasil membentuk lengkungan pada bibir kedua anak gadisnya.


''Adek paling geulis ya kan, Bu?''


''Heem.''


''Kasihan deh Teteh kalah.'' Najla masih berbunga. Jadi setumpuk bara apa saja yang dituangkan untuk menarik-narik kericuhan masih kalah saing. Ashad. Iya, Lelaki itu lagi. Satu kisah jarang terekam pada jejak kakinya, mendadak bertandang begitu saja. Otomatis isi dalam kepalanya bekerja sangat baik tentang jejak tersebut. Najla mengangguk saja lah menanggapi Aini. Menaruh kitab suci umat islam itu pada persemayamannya lagi; lemari buku di kamar Najla.


Aini beranjak ke kamarnya jua. Sedangkan Najla kembali ke ruang tengah. Turut mengulurkan tangan pada biji-biji kedelai itu. Mempercepat pekerjaan Ibu dan mengurangi daya energi wanita tercintanya itu untuk berletih-letih lebih lama. Dari dalam kamar, Najla melipat wajahnya. Tiba-tiba saja masam berkat kelalaiannya hingga terlupa menyimpan setangkai buah anggur di lemari baju. Tiga hari, dilihat lagi kini sudah membusuk.


''Ibuuuuu Teteeehhhhh!''


''Kunaon Adek? Mending bantuin Teteh sama Ibu bungkusin kacang.''


Tersingkap jua lah selembar tirai kain pintu kamar. Bibir Aini bergelombang, kedua alis matanya mengerut, wajahnya teramat kusut. Sebelah tangan masih memegang tirai pintu, sebelahnya lagi memegangi buah anggurnya.


''Ya ampun, belum abis?'' tanya Ibu.


''Keburu busuk, Bu.''


''Atuh Adek mah, dilelebar.''


*Dilelebar: sebuah makna yang berarti sangat disayangkan suatu makanan atau barang tak termakan atau tak terpakai.


''Adek lupa, kalo buah anggurnya masih sisa.''


''Makanya, jangan disembunyiin segala atuh. Busuk, jadi gak kemakan kan? Sama Teteh pelit sih, masa cuma dikasih lima biji.'' Nyatanya, sulit jua untuk sehari tak ribut bersama Najla. Kebahagiaan itu mampu ditaklukan untuk sebuah keributan.


''Ibu! Teteh malah ngeledek!'' Mengadu, sampai merengek-rengek pada lengan Ibu. ''Teteh masih mending bisa makan lima! Adek cuma tiga, ini nih keburu busuk.''


''Rasain! Besok-besok kalo Bapak pulang bawa buah anggur lagi, simpen aja semuanya di lemari. Terus lupain lagi.''

__ADS_1


''Ih Teteh! Bu Teteh nakal ih!''


''Udah-udah. Teteh jangan ngeledek Adek lagi. Adek juga gak boleh pelit-pelit sama Teteh. Sampe ditaro di lemari, pasti baju di lemari kotor ya?'' Tuturan nasihat itu lembut sekali. Didapatinya langsung Aini merespons dengan menganggukkan kepala. ''Nah, mubadzir juga jadinya gak kemakan. Makan bareng-bareng lebih nikmat. Lebih berkah. Besok-besok jangan kayak gitu lagi ya?''


Sekali lagi, Aini mengangguk. Kendati sebenarnya Ibu dan Najla sama-sama ingin bergelak tawa mendapati tingkah Aini yang berlebihan terhadap buah kesukaannya itu.


***


Beberapa kalimat itu tertuangkan sudah pada media papan tulis spidol. Hasil tulisan tangan dari sang guru Bahasa Inggris membuat anak muridnya terbata-bata  jua dalam membaca. Sudah berbahasa asing, bertambah pula kondisi tulisan yang hampir asing jua di mata mereka


''Pak!'' Seorang murid bernama Jojo, kawan sebangku Ashad, mengangkat tangannya usai guru bernama Bambang Udara itu menjatuhkan diri di kursi.


''Iya. Ada apa?''


''Itu yang sebelah kanan tulisannya apa ya Pak? Ten ten apa itu Pak?''


''Ohhh. Itu? Itu tenses ya. Jangan ten-ten. Ten-ten itu suara klakson motor.''


''Tintin, Pak!'' Dalam satu seruan, melalui puluhan mulut para murid.


''Oh iya-iya. Itu maksudnya ya. Hehe.''


Najla berbisik ke telinga Aurel. ''Daya humor Pak BU lumayan, bikin otak Najla gak begitu pusing belajar Bahasa Inggris. Hehe.''


Pemilik dari sepasang telinganya justru tergugu. Laksana besi bernyawa. Kendati bola matanya masih memandang bolak-balik dari papan tulis lantas ke bukunya. Kendati jemarinya jua masih mengapit sebuah pulpen bertubuh merah muda, hitam tintanya.


''Oke. Sudah dicatat semuanya?''


''Sudah, Pak.''


''Sekarang materi tenses kita catat dulu. Dipelajarinya minggu depan ya? Sekarang kita belajar berbicara Bahasa Inggris aja.'' Peci putihnya yang bulat itu dibenahkan lagi posisinya. ''Coba, kamu.'' Telunjuknya bergerak ke arah Ashad.


''Iya, saya Pak.''


''Buatkan satu kalimat tanya.''


''Iya. Nanti biar temanmu yang menerjemahkannya ke Bahasa Inggris.''


''Umurmu berapa?''


''Nah. Singkat ya. Gampang ini. Coba kamu,'' ujar Pak Bambang mengarahkan telunjuknya pada Najla.


Sungguh Gadis itu lambat sekali pemahamannya dalam Bahasa Inggris. Sempat terperangah jua mendapat titahan demikian. Terkhusus lagi, yang memberi kalimat tanya Bahasa Indonesianya adalah Ashad.


''Uhm. Anu-'' Pada sekian detik Pak Bambang mengizinkan daya pikirnya bergerak, langsung dilemparkan jua pada kawan sebangkunya.


''Sebelahnya coba.''


''Sa-saya, Pak?''


''Hm.''


Kawan-kawannya sudahlah menggelembungkan harapan tenang karena Aurel yang ditunjuk. Pastilah permasalahan menerjemahkan kalinat tanya yang pendek itu akan tuntas.


''How-'' Di bawah meja kesepuluh jemarinya saling terkepal. ''I dont know, Pak.''


Sebuah tawa ringan keluar dari mulut Pak Bambang.


''Lah barusan bisa Bahasa Inggris tapi masa gak bisa ngartiin pertanyaan tadi? Lucu kan ya? Lucu!'' Pandangannya disebarkan ke seluruh murid kelas itu. Ketidak sangkaan dan pupusnya harapan mereka didapatkan. Aurel tak sepandai yang mereka terka.


''Oke, jadi Bahasa Inggrisnya yaitu how old are you? Mah seperti itu ya.''


Najla sendiri terkaget-kaget mengetahui Aurel tak bisa menjawab. Kini temannya itu justru membekap wajah dengan kedua tangan. Tanpa tahu sudah merah padam dan sebentuk linangan air mata mengalir.


***

__ADS_1


''Eh, tunggu dulu!'' cegah Ismi. Berhentilah ketiga sahabat itu di depan kelas. Dikeluarkannya sebuah amplop dari dalam tas. ''Besok aku izin gak berangkat ya. Ada acara Begawi.''


''Begawi? What is it?''


''Kamu udah baik-baik aja kan, Rel? Dari tadi diem akhirnya ngomong juga,'' ujar Mina.


''Berusaha untuk baik-baik aja. Padahal aku malu banget tadi. Ini memang udah jadi kebiasaanku kalau ngomong, tapi bukan berarti aku pinter Bahasa Inggris.'' Hatinya kembali redup.


''Gak apa-apa. Sudah kamu orang jangan risau terlalu dalam. Mending aku jawab aja pertanyaanmu ya? Begawi itu upacara adatnya orang Lampung.''


''Semoga lancar ya acaranya.''


''Aamiin. Terimo kenai. Najla dan kawan-kawan aku pulang duluan ya? Kapan-kapan aku ceritakan meriahnya upacara adat Begawi. Dahh.''


Usai kepergian Ismi kembali ke rumah, Mina pun demikian. Tinggallah Najla dan Aurel. Gadis penggila apa-apa saja yang berwarna merah muda itu menuturkan ajakan kepada Najla untuk pergi ke sebuah kafe sederhana tingkat desa. Awalnya menolak, tetapi Aurel berhasil membujuknya. Hingga diangkutlah sepeda itu ke bak mobil Aurel. Sedangkan Aurek dan Najla duduk di bangku belakang sopir. Memang, jenisnya mobil campuran terbuka dan tertutup. Tertutupnya memiliki dua kursi depan dan belakang.


Kesederhanaan kafe ala pedesaan sudah Najla dan Aurel pijaki. Biasanya tempat seperti itu menjadi objek keindahan kaum muda dan mudi untuk berfoto. Gambar-gambar indah yang memanfaatkan media dinding, serta merta dengan tulisan anak zaman sekarang seperti 'Jomblo? Gak zaman, zamannya single'.


''Kamu mau pesan apa, Naj?'' Aurel melihat daftar menu pada selembar kertas.


''Yang murah aja Najla mah.''


''Gak usah sungkan-sungkan. Kita samaan ya?''


''Eh. Jangan. Najla es teh aja.''


Najla paham selera dan situasi kantongnya dengan Aurel amat terlampau jauh. Mana mungkin ia menyamai Aurel? Demikianlah ketidakmungkinan yang tengah Najla rasakan.


''Naj. Please, ini aku yang bayar kok. Tenang aja okay.''


Tak berselang lama pesanan datang. Dua piring sosis bakar dengan masing-masing piring berisi 3 buah sosis. Serta merta dua gelas jus anggur. Sungguh, Najla jadi tak rela meneguknya. Ingatannya mendadak terpaut dengan Aini.


''Aku mau tanya, yang kamu maksud zina mata dan dosa pacaran itu bagaimana?'' tanya Aurel dengan santai.


''Oh, Aurel mau bahas ini?''


Aurel mengangguk.


''Gini, dalam Islam, lelaki dan perempuan bukan mahram itu haram hukumnya berduaan. Saling baper. Ya hampir sejenis pacaran gitu lah. Sama aja dengan zina mata, hati, pikiran, tangan, kaki, bahkan daruratnya teh bisa ke zina ********.''


''Terus?''


''Dalam Quran surat An-Nur ayat 30, 'katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, 'hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya;  yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang mereka perbuat' begitu sudah dijelaskan dalam Al-Quran.''


Masih sebatas terangguk tanda paham saja lah Aurel. Hatinya urung sampai diraba kuat tentang hal itu. Meskipun Najla sudah sangat bahagia karena Aurel mulai penasaran. Sebuah jalan yang baik untuk menuju kebaikan.


Hidangan Aurel sudah kandas, Najla hanya memakan sepotong sosisnya saja. Ia membuka wadah bekalnya yang sudah dicuci tadi di sekolah. Serta merta botol minum yang sudah kandas isinya.


''Kok gak dihabisin? Kita belum pulang nih kalau makan sama minumnya belum kamu habiskan.''


''Hehe. Udah cukup satu aja sosisnya teh. Sisanya mau Najla bawa pulang aja ya, Rel? Boleh kan?''


''Kenapa? Mau dikasihkan ke ayam Najla di rumah?''


''Eh bukan atuh. Mau Najla kasihkan Aini. Dia pasti suka. Apa lagi, minumnya teh jus anggur ini. Dia paling seneng sama anggur dan kemarin malem anggur yang dibawain Bapak malah busuk. Bayangin, masa atuh disimpen di lemari! Haha. Aya-aya wae.''


*Aya-aya wae: Ada-ada saja.


''Ya ampun. Aku makin sayang kamu deh, Naj. Aku pesenin yang baru ya buat kamu bawa pulang. Untuk Ibu dan Aini.''


''Ini aja. Sayang kalo gak dimakan.'' Jemarinya sudah bergerak mengemasi makan dan minuman.


''Iya itu kamu bawa, aku tambahin juga sama makan dan minuman yang baru.''


Hendak mencegah apa yang akan Aurel lakukan, sudah terlanjur pergi lah GAdis itu. Najla sekadar tersenyum dan mendoakan kebaikan Aurel agar mendapat balasan. Satu hal yang seolah hilang dari pandangan Najla, insan-insan yang berkunjung ke kafe tersebut amatlah membuat sejuk pandangan mata. Kaum wanitanya menggunakan gamis, jilbab lebar, serta kaos kaki. Ia tak menyangka, seperti akan mendapat banyak sahabat sesurga dan istiqamah di jalan-Nya.

__ADS_1


***


Bersambuuung. Koment ya😉 terima kasih. Wassalamualaikum.


__ADS_2