
Udara pagi yang sejuk membuat Linda ingin sedikit mengolahragakan tubuhnya. Setelah mandi pagi dia segera turun ke taman hotel untuk joging. Dengan mengenakan celana senam dan hoddie serta masker untuk wajahnya dan tak lupa headset yang terpasang ditelinganya, dia menuruni lift itu dengan santai.
Setelah tiba ditaman dia segera bergabung ikut berolahraga dengan beberapa orang. Rasanya lega sekali bisa menghirup udara bebas diluar sana paling tidak ya tidak terkurung disangkar emas. Walaupun indah tetap saja tidak nyaman jika tidak diperbolehkan keluar oleh orang yang menghukumnya.
Axel terbangun saat ponselnya berbunyi, rupanya Hilda yang sedang menghubunginya. Dibiarkannya ponsel itu berdering terus tanpa diindahkannya.
Mata Axel menyapu ruangan itu mencari seseorang, namun semuanya nampak sunyi tak ada suara apapun yang terdengar selain helaan nafasnya saja.
Axel segera mengucek-ucek matanya dan mencari keberadaan Linda. Tiap ruangan sudah di ceknya namun Linda tidak ada dimana-mana. Dengan tak sabar dia segera menghubungi Linda.
Linda yang sedang berjoging terpaksa menepi sebentar sambil mencari kursi santai.
"Iya Axel ada apa?"
"Kamu dimana?kepalaku pusing sekali" ujarnya sedikit berbohong.
"Aku...aku sedang berolahraga, kamu istirahat sebentar ya nanti aku segera ke atas" Linda.
"Tidak pakai lama sayang....pusing sekali kepalaku ini" ucapnya pelan agar Linda percaya.
"Baiklah...10 menit lagi aku balik" Linda.
"Jangan ditutup telponnya, biar aku bisa mendengarkan desah nafasmu" Axel mulai nakal.
"Iddiihh... jangan macam-macam deh kamu, sudah ya aku tutup" Linda segera menutup ponselnya dan kembali mendengarkan musik. Axel terus saja mengganggunya, berkali-kali dia terus mencoba menghubunginya namun tak pernah diangkat sekalipun.Axel menunggu dengan resah.
Setengah jam kemudian Linda baru tiba dikamarnya, dia melihat wajah Axel yang sedikit ditekuk. Linda merasa aneh melihatnya, baru kali ini dia melihat sisi Axel yang lain.
"Kamu kenapa?ngambek?marah?"tanyanya sambil meletakkan sarapan pagi dimeja.
"Kamu kemana?kenapa tidak ijin padaku?"jawab Axel.
"Memang kenapa harus ijin padamu Xel? sudahlah jangan merajuk seperti balita. Kamu itu bukan siapa-siapa aku" ucapnya sambil duduk dihadapan Axel.
"Makanlah...aku sudah membawakanmu sarapan" namun Axel tak jua bergeming, dia tetap diam ditempatnya. Dia tidak suka mendengar kata-kata Linda serasa ada yang sakit dihatinya.
"Istrimu menelpon Axel, angkatlah" Linda
"Tidak"
__ADS_1
"Kasihan dia...baiklah aku akan ke balkon agar aku tidak mendengar pembicaraan kalian" Linda segera mengangkat tubuhnya dan hendak berjalan menjauhinya.
"Stop" ucap Axel, pada akhirnya dia mengangkat telpon Hilda didepan Linda.
"Ada apa lagi menghubungiku?semua sudah jelas kan?kita hanya akan bertemu dipengadilan"ucapnya tegas.
Linda mengernyitkan dahinya tanda tidak mengerti omongan Axel.
"Ku katakan sekali lagi kita akan bercerai dan kamu jangan pernah lagi untuk menghubungiku, mengerti!!" Axel mengucapkan dengan tegas, seolah-olah dia berusaha meyakinkan Linda jika sudah tidak ada lagi hubungan antara dirinya dengan Hilda. Namun Linda tampak masa bodoh dengan ucapan Axel karena itu bukan urusannya. Dia tetap melanjutkan pergi menuju ruang balkon.
Axel gemas dengan sikapnya, seharusnya wanita itu senang karena dengan begitu hubungan yang pernah tertunda bisa terajut kembali tetapi kenyataannya dia seperti biasa saja. Pusing sendiri jadinya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"dia bertanya-tanya sendiri.
"Apakah dia sudah tidak mencintaiku lagi?" Axel mulai cemas.
"Tidak boleh ada yang memikimu selain diriku Linda, aku akan singkirkan setiap pria yang mendekatimu" ancamnya.
Axel segera menyusul Linda ke balkon, dia segera menghentikan langkahnya saat mendengar Linda sedang bercakap-cakap dengan seseorang ditelpon, dia menajamkan kupingnya berusaha mencuri dengar.
"Linda, aku kesana kemaren mengunjungimu tapi kamu tak ada ditempat. Mereka bilang kamu sudah dipindahkan ke penjara wanita, aku cari ke penjara wanita namun tak ada namamu disana. Tolong katakan kemana mereka mengirimmu?" dokter Pandu sangat mengkhawatirkan keadaan Linda.
"Aku merindukanmu...otakku beku tak bisa menemukanmu" ucap Pandu sedih.
"Jangan seperti itu, aku pergi untuk kembali" Linda
Percakapan Linda dan dokter Pandu membuat Axel marah, bisa-bisanya pria itu mencari wanitanya, bukankah sudah diberitahu jika Linda adalah calon istrinya tapi kenapa tidak peka juga pria itu. Apakah harus dikirim ke Papua dulu baru dirinya akan mengerti.Ingin sekali dia menonjok pria itu, daripada menahan kesal lebih baik terang-terangan saja dirinya.
Axel segera melanjutkan langkahnya menuju balkon dan dari samping tiba-tiba dia mencium pipi Linda dengan gemes.
"Pagi sayang....wangi sekali dirimu.. cup..cup"
"Siapa dia sayang?"Axel langsung melihat kearah ponsel. Linda ingin segera mematikannya namun tangan Axel lebih cepat menangkap gerakannya.
"Ohh...dokter Pandu, hay dokter bagaimana kabarmu?" Axel sengaja berdiri disamping Linda sambil menyuapi sarapan yang Linda bawa tadi.
"Ax-Axel...apa-apaan sih" Linda menghapus bekas ciuman Axel. Merasa tidak enak hati dia pun pamit pada Pandu.
Dokter Pandu kaget melihat Axel bersama Linda, pikirannya sudah menerawang jauh. Dia tidak menjawab salam Axel namun dari raut wajahnya menunjukkan kemurkaan.
__ADS_1
"Nanti aku hubungi lagi" dokter Pandu langsung mematikan ponselnya. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Aaarrgghhhh....pria sinting itu kenapa selalu bersamaa Linda?!! Dasar sinting, istri baru melahirkan sudah dekat dengan wanita lain. Aku harus menyelamatkan Linda dari predator itu" Pandu mengepalkan tangannya, dia harus memikirkan cara agar Axel tak lagi mengganggu Linda.
"Jangan sampai Linda jatuh ke tangan buaya darat itu" pikirnya.
Linda mengomeli Axel yang sudah berbuat tidak sopan kepadanya. Namun Axel dengan santai menanggapinya.
"Memangnya kenapa?apa aku salah jika aku mencium pipi calon istriku?seharusnya kamu bangga sayang dengan begitu pria itu tidak akan mendekatimu lagi. Aku sudah memberi kode kepadanya agar dia tidak mengganggu dirimu tetapi dokter itu bebal sekali otaknya, dia tidak mengerti kode yang ku maksud. Semoga dengan begini dia bisa sadar dan kamu juga tidak dosa sayang" ucap Axel seenaknya saja.
"Kamu yang banyak dosa Axel" ucap Linda sewot.
"Seandainya kamu menutupi hubungan kita maka dokter itu akan banyak berharap padamu, sedangkan kamu sudah ditakdirkan untukku. Jadi lebih baik dari sekarang kamu jauhi dia agar tidak sakit hatinya nanti. Daripada kamu yang dosa nantinya yang" Axel menyuapi Linda namun dia tidak mau.
"Aku hitung sampai tiga jika kamu tidak mau membuka mulutmu maka aku akan membuka paksa dengan lidahku"ancam Axel.
Seketika Linda melotot, dia takut dengan ancaman Axel daripada kena cium yang tidak akan ada habisnya lebih baik dia membuka mulutnya untuk disuapi.
"Kenapa kamu selalu mengintimidasi aku sih Xel?"tanyanya putus asa.
"Karena kamu memang harus dipaksa sekarang ini sayang" Axel menarik dagu Linda dan mencium tipis bibir mungilnya.
"Aku sangat....sangat....sangat mencintaimu mommy Sky" ucapnya dengan hangat.
Ada rasa bahagia dilubuk hati Linda namun dia tidak mau sampai terlena dan mabuk lagi seperti dahulu. Dia harus meyakinkan hatinya sendiri dan juga melihat keseriusan Axel.
"Tapi aku sudah tidak punya rasa lagi kepadamu Xel" ucapnya yang membuat hati Axel sedikit miris.
"Aku akan menumbuhkan kembali rasa itu, aku tahu kamu sakit hati kepadaku, aku tahu jika aku salah jalan tapi kini aku sudah menemukan kembali tempat ku pulang maka aku akan mempertahankan tempat itu. Jika kamu sudah tidak mencintaiku lagi, maka biarkan aku yang mencintaimu sayang" Axel menggenggam tangan Linda dan menatapnya dengan perasaan yang sangat dalam.
"Jangan seperti itu Axel, nanti kamu akan sakit sendiri" ucap Linda.
"Biarkan aku sakit saat ini, aku akan anggap ini sebagai hukuman untukku. Aku akan menjalaninya dengan ikhlas" ucap Axel.
Linda menjadi serba salah dengan sikap Axel. Dia segera melepaskan tangannya dan menjauhi Axel.
*****
Met sore kesayangan....selamat berbuka puasa bagi yang menjalaninya🤗😘😘
__ADS_1