
"Astaghfirullah, astaga, copot jantung ku!" Galuh terkejut dengan spontan dia mundur dua langkah kala keluar dari kamar mandi.
Beda lagi dengan Davis langsung terpaku melihat penampakan menggiurkan, menggoda imannya.
"Kamu ! Beraninya masuk ke kamar aku! Aku sudah menguncinya! " Galuh berteriak histeris, terkejut, marah juga malu karena dia hampir telanjang.
"Aku menduplikat nya ." Dengan tanpa merasa bersalah menunjukkan kuncinya yang dia kasih gantungan Teddy bear.
"Brengsek! Keluar! " Galuh memekik pelan melempar benda yang di dekatnya. Yakni buku-buku nya bertebaran dan Davis mendekat mengikis jarak antara mereka.
Greb. Kedua tangannya Galuh di tahan, dengan nafas memburu ia berkata, "Aku kangen dan ingin susunya.." Mata Galuh melebar terkejut.
Tanpa ijin dia melakukannya, dengan satu tangan menahan kedua tangan Galuh satunya menahan pinggulnya Galuh dengan giginya ia menarik lilitan handuknya.
Dengan rakus kepalanya menunduk dan menyeruput, menghisap nya tanpa aba-aba. Kaki nya bahkan masuk diantaranya kedua kaki Galuh.
Begitu intim berontak pun kalah tenaga lelaki itu asyik dengan kegiatannya. Galuh lemah, lunglainya berasa banget tenaganya tersedot. Melenguh panjang, menjerit kecil karena gigitannya Davis.
Davis melepaskan tangannya dan kedua tangannya asyik di pinggulnya bahkan meremasi benda kenyal menghimpit nya. Galuh menggelinjang menarik rambutnya Davis kuat.
"Davis.. Please ... Lepaskan aku!" Galuh masih memakai otak waras nya tak mau terlibat hubungan bebas sebelum nikah.
Davis menegakan badannya menciumnya, bibirnya dilumatkan dengan lembut lalu beralih ke kening nya Galuh. Setelah merapikan kain yang melorot separuh itu ia berlalu menuju kamar mandi.
Galuh ambruk terdiam luruh ke lantai, lemas sekujur tubuhnya. Hampir menggila dia jika tak dilepaskan entah apa yang terjadi diantara mereka.
Davis menuntaskan hasratnya di kamar mandi bersolo, dia tak menampik ingin menyentuhnya namun bagaimanapun ia tak mau merusaknya.
Dia memang tertarik pada Galuh namun untuk mengajak nya make out lebih jauh ia masih berpikir jernih. Tak ingin mereka bertengkar dan berakhir dengan kebencian.
__ADS_1
Galuh bangkit kala sudah mendapatkan kekuatan lagi mengganti pakaiannya juga melap bagian bawah nya yang basah. "Tenang Galuh , tenang ayo bicarakan lagi dengan Davis."
Galuh mencoba untuk menenangkan diri sendiri duduk di tepi ranjang, tepatnya kasur tipis sembari menata buku-bukunya yang dia lempar barusan.
Davis pun keluar dan duduk di hadapannya Galuh, saling menatap satu sama lainnya. Hening sejenak.
"Berikanlah kunci kamar aku!" Jangan lakukan ini, aku tak ingin kita bertindak gegabah." Galuh mengulurkan tangannya menengadah meminta nya.
Davis menunduk sambil meremasi tangan nya. Sejujurnya ia gugup akan mengatakan ide nya dengan senyuman manis ia pun berkata.
"Maafkan aku, aku sudah meminta pertanggungjawaban mu saat kau mencium bibir ku pertama kali. Dan ini aku anggap bentuk keseriusan aku.
"Aku mau kita serius, setelah lulus kita tunangan, aku akan berkerja dan setelah satu tahun kita menikah. Ini keputusan aku!"
Davis menatap Galuh penuh dengan kesungguhan dan keikhlasan. "Jujur secara agama aku di larang pacaran sama Ortu aku. Tapi bisa apa kita terlanjur melakukannya. "
"Itu spontan jadi tutup lah badan mu dengan kain yang lebar. Aku suka jika kau menjaganya. Selama ini kau membiarkan terbuka. "
Davis memberikan pengertian kepada Galuh juga mengungkapkan perasaan nya. Galuh hanya terdiam memandang wajah tampannya tak berkedip.
"Kamu, yang mencuri kunci kamar aku. Jika tidak tak akan ada insiden tersebut. Kamu sumber masalahnya. Kamu penyebabnya." Galuh menunduk sambil mengusap wajahnya menghapus air matanya yang akan terjatuh.
Entah ungkapan apa yang bisa dia jabarkan pada saat ini.
Antara takut dosa jika lepas kendali akan menghancurkan semua nya , dirinya juga keluarga yang menunggu nya untuk kembali, ingin merasakan kenikmatan namun tak ingin melakukan kesalahan.
Sekecil apapun itu dia tak ingin melakukannya. Tak ingin menghancurkan semua rencananya, kuliah dengan tenang lulus kuliah langsung bekerja membantu orang tua nya.
Memilih kota ini jauh dari kampung halaman untuk menunjukkan bahwa ia mampu dan menghindari perjodohan itu. Serta menunjukkan bahwa ia mampu berkarya dan menjadi kebanggaan keluarga nya.
__ADS_1
"Ayo kita keluar dan membeli beberapa hijab instan buat kamu. Dan jangan lagi memakai pakaian ketat. " Davis berdiri mengulurkan tangannya.
Galuh hanya menatapnya bingung, karena ia belum memutuskan untuk menutup semuanya. Dia masih kebingungan juga apa mungkin ini akan lebih baik dan mudah ia lakukan?
Masalahnya adalah Davis masih saja suka menyelonong ke tempat kost nya. "Aku tak mau nanti kamu masih saja suka datang tanpa di undang seperti beberapa saat lalu."
Bantahannya Galuh membuat Davis langsung terpaku menatap. "Aku tahu, tapi aku hanya ingin perduli sama kamu."
"Mengerti lah jangan marah, aku hanya memastikan bahwa kamu aman. Nantinya aku janji tak akan menyerobot masuk tanpa ijin aku janji!"
Davis memberikan penjelasan kelakuannya dalam beberapa terakhir ini. Ia mengangkat tangan seolah bersumpah, menyakinkan Galuh.
"Pakai uang aku untuk membeli hijabnya, juga keperluan mu yang bersangkutan dengan hijab kamu." Katanya lagi dengan tenang mencoba untuk memberikan pengertian pada Galuh.
Tak ada jawaban atau penolakan dari Galuh, wanita itu diam di bimbing oleh Davis naik motor menuju ke Mall lalu menuju ke toko busana muslim.
Membeli beberapa hijab instan juga cardigan dan celana legging rangkapan dress-nya. Davis memakai jasa taksi online untuk berpergian kali ini.
Dia sengaja melakukannya sengaja karena berbelanja jika dengan motor moge nya akan kesulitan membawa barang belanjaan mereka.
Mampir ke food court di sana Davis menjatuhkan pilihan ke makanan Jepang. Mereka makan bersama dengan kesunyian. "Kamu belanja terlalu berlebihan."
"Kan bisa ambil satu aja atau dua. Seperti ini seolah-olah kamu yang membutuhkan barangnya." Galuh mengutarakan isi pikirannya.
Selama belanja Davis lah yang memilih nya seperti orang kalap ia belanja banyak sekali hijab juga pakaian muslim yang simpel sederhana sesuai pribadi Galuh.
"Aku ingin kau memilih pilihan dan tak ribet memadukan nya. Dan terlihat manis seperti biasanya. "
"Aku ingin kau cantik di depan mata aku yang lainnya aku tak perduli. Jadi tetap lah seperti ini. Sederhana dan cantik juga sangat penyayang serta perduli akan sekitar mu."
__ADS_1
Davis menjawabnya dengan santai memakan makanannya. Galuh hanya terdiam menatap sekilas lalu menyantap makanan itu.
Tanpa diketahui Davis Galuh banyak menyimpan rahasia yang jelas dia tak ingin di manfaatkan oleh orang lagi.