
"Aku sayang pria yang akan menjadi suamiku" jawab Linda yang membuat kepala Axel menjadi pusing tiba-tiba
Dia harus menaklukan hari yang sulit mulai esok.
Ibu dan anaknya sudah didepan mata tetapi kenapa sulit sekali menjangkau mereka. Andai semua masalah bisa ditebus dengan uang, tentu hidupnya sudah bahagia sekarang ini.
"Axel...apakah kamu tetap akan mengirimku ke LN?" Linda.
"Oh...iya...iya...tentu saja, memangnya kenapa?"tanya Axel.
"Eehmmm...Hilda akan mencabut tuntutannya jadi ku pikir kamu tak perlu lagi menyuruhku kuliah jauh-jauh" Linda.
Axel mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Linda.
"Excuse me" Axel mengulang pertanyaannya.
"Istrimu akan menarik tuntutannya kepadaku" terang Linda.
"Oww...baguslah jadi dia tidak bisa menindasmu lagi" Axel
"Baiklah kalau begitu antar aku pulang sekarang juga....akhirnya aku bisa bebas dari hukuman, aku sudah tidak sabar ingin bertemu Sky" Linda tersenyum sambil menatap langit seolah melihat wajah anaknya diatas sana.
Disaat Linda sedang berbahagia justru Axel sedang memutar otaknya, bagaimana caranya agar Linda tetap bersamanya dan tidak memintanya cepat-cepat pulang kerumah.
"Sayang...hukumanmu masih berjalan, paling cepat seminggu lagi baru kamu bisa keluar dari hotel" Axel
"Kenapa begitu?Hilda bilang akan melepaskanku mulai besok atau secepatnya" Linda mulai bersikeras namun Axel berusaha memberikan pengertian sejelas-jelasnya.
"Sayang...semua itu ada prosesnya dan tidak mungkin Hilda secepat itu akan melepasmu, jadi kamu menukar dengan apa kebebasanmu itu?apa yang dia minta darimu?"Axel bertanya dengan seksama.
Linda kaget dengan pertanyaan Axel,dia baru sadar sekarang jika kebebasannya tidaklah gratis, harus ada yang dikorbankan. Rasanya dia salah berbicara dengan Axel sekarang. Pasti Axel akan mencecarnya terus sampai dia berkata dengan jujur.
"Tidak Axel, dia tidak meminta apa-apa dariku" Linda berbohong kepada Axel, namun Axel tidak percaya begitu saja kepadanya karena dia tahu bagaimana liciknya Hilda itu.
__ADS_1
"Semoga benar apa yang kamu katakan"ujarnya mengakhiri perdebatan dengannya.
Setelah membersihkan tubuh dan mengganti baju tidurnya, Linda tidur lebih awal.
Axel segera pergi ke balkon untuk menghubungi Hilda, dia harus tahu apa yang sudah terjadi sebenarnya. Dengan semangat menggebu-gebu Hilda segera berlari masuk ke dalam kamar untuk menerima telpon dari pria yang masih berstatus suaminya itu.
"Sayang...Axel ada apa? tumben kamu menghubungiku? hari ini adalah hari kebahagiaanku, aku merindukanmu Xel" ucap Hilda dengan tak tahu malu.
"Hentikan kemunafikanmu Hilda, katakan apa yang sudah kamu lakukan kepada Linda? Apa alasanmu tiba-tiba ingin menarik tuntutanmu kepadanya? Aku tahu kamu adalah wanita yang cukup licik Hilda, jadi tidak mungkin kamu akan menarik tuntutanmu begitu saja, aku yakin kamu pasti menekan Linda, jawab iya kan??" Axel sangat geram berbicara dengan Hilda, beruntung wanita itu tidak ada dihadapannya, karena bisa saja dia akan melempar wanita itu kejalanan jika ada didepannya sekarang ini.
"Axel...aku tidak seperti yang kamu tuduhkan, aku tidak sejahat itu, pahamilah aku Xel. Dulu kamu begitu memujaku tapi kenapa sekarang kamu membenciku? apakah sudah tidak ada rasa yang tertinggal walau hanya sedikit Xel? aku tahu kita akan berpisah, berikanlah aku kenangan yang manis sebelum perpisahan" jawab Hilda pelan.
"Dengar Hilda, jika aku sudah mencintai seseorang maka aku akan mencintainya dengan sepenuh hati tetapi jika cintaku dikhiananti maka aku akan membencinya sampai mati" jawab Axel sarkas.
"Jika sampai aku tahu kamu melakukan hal-hal hina kepada Linda maka aku tidak akan segan-segan memasukanmu ke penjara, camkan itu" -klik- Axel menutup ponselnya dan tak menghiraukan beberapa panggilan dari mantan istrinya itu. Setelah menghabiskan sebatang rokok dia pun segera masuk ke dalam ruangannya, dia berhenti sejenak untuk melihat wanita yang disayanginya yang sedang tertidur pulas membelakanginya.
Besok dia harus menghadapi ayah Linda dia akan menguatkan mentalnya malam ini. Jika sampai ayah Linda menolak dirinya, maka dia akan tetap berada didekat Linda. Walaupun tidak yakin pada dirinya sendiri setidaknya dia akan berusaha melunakkan hati ayah mertuanya itu.
Setelah lama merenung Axel pun tertidur di samping Linda. Dia memeluk pinggul itu dengan posessif seolah takut dicuri orang.
Sepertinya dia ingin membangunkan Axel, namun dia takut Axel akan marah akhirnya dia hanya mondar-mandir saja diruangan itu. Axel membuka matanya sedikit memperhatikan wanita itu, dia menjadi sedikit kesal.
"Apa dia sudah tidak ingin berlama-lama kembali denganku? apa aku kurang memperhatikan dia?hmm...kurasa tidak, aku sudah melakukan yang terbaik untuknya. Biar saja aku tidak akan bangun sampai nanti sore, aku masih ingin berdua dengannya" Axel kembali memejamkan matanya dia sengaja membiarkan Linda menunggu, karena dia tahu jika Linda tidak akan berani membangunkannya. Axel tersenyum samar melihat Linda yang sedang salah tingkah.
Setengah jam kemudian ponsel Linda berdering, dia segera mengangkatnya.
"Dokter Pandu? iya ada apa ya?" Linda bangkit dari duduknya dan buru-buru berjalan kearah balkon.
"Maaf Linda, papamu..." Pandu menjeda kalimatnya.
"Ke-kenapa dengan papaku Pandu?" Linda mulai khawatir.
"Kuharap kamu jangan marah ya, Papamu menginginkan kita segera menikah" Pandu tidak melanjutkan kata-katanya dia menunggu reaksi Linda namun tak ada jawaban dari Linda hingga Pandu harus mengulang memanggil namanya.
__ADS_1
"Pandu...aku-aku tidak bisa menjawab sekarang" Linda terdiam
-Pandu menghela nafas-
"Baiklah aku tidak memaksamu Lin..ini keinginan papamu, aku hanya menyampaikan saja" Pandu nampak sangat kecewa dengan Linda, sebenarnya dia sadar jika Linda tidak akan mungkin memilihnya karena ada Axel yang selalu membuntutinya namun dia tidak ingin kehilangan harapan, satu-satunya jalan adalah dengan mendekati ayahnya dan itu berhasil apalagi ayahnya Linda sangat membenci Axel, dia mengambil celah kebencian itu.
"Aku...aku akan membicarakan ini dahulu dengan ayahku Dokter Pandu" Linda menggigit bibirnya disaat berada dalam kebimbangan.
"Aku tunggu jawabanmu dokter Linda, aku harap segera mendapat kabar baik darimu, selamat pagi" ucap Pandu lembut dan Linda mengangguk yang tentu saja tak dapat dilihat oleh dokter Pandu.
"Apakah dokter itu masih mengganggumu?"tanya Axel tiba-tiba sudah berada dihadapan Linda sambil melipat tangannya bersedekap.
"Aaahh...Axel" Linda buru-buru menyelamatkan handphone-nya yang hampir jatuh karena kaget dengan keberadaan Axel yang tiba-tiba.
"kamu mengagetkanku saja" ucapnya
"Jawab...apakah dokter itu menghubungimu lagi?" Axel menatap tajam kearah Linda.
"Iya Axel" jawabnya singkat.
"Lalu apa yang kalian bicarakan?" tanyanya memburu.
"Ti-tidak ada, hanya obrolan kecil saja" jawab Linda menetralisir keadaan, dia tahu Axel selalu memasang wajah jutek jika mengetahui dokter Pandu menelpon dirinya.
"Sudahlah..kamu sudah bangun, yuk lekas bersiap aku akan segera pulang kerumah bertemu dengan malaikat kecilku" Linda bangkit dari duduknya mengambil tasnya.
"Tunggu..tunggu dulu, kamu mau kemana?"tanya Axel pura-pura.
"Pulang...kita akan pulang hari ini kan?"tanyanya sedikit bingung.
"Tidak...aku malas, aku masih ingin disini bersamamu" Axel duduk dikursi malas sambil memainkan ponselnya.
Linda bengong dengan jawaban santai Axel, dia sudah membayangkan hari yang cerah dengan putranya namun pria itu masih ingin lebih lama bersamanya. Bagaikan kutub utara dan kutub selatan, dirinya dan Axel sangat bertolak belakang.
__ADS_1
******
Maaf bestie...udah lama gak update, sibuk kerja masih belum bisa bagi waktu. Besok kita ketemu lagi ya genks🤗