Atas Nama Cinta

Atas Nama Cinta
Bab 9: Sampai Jumpa


__ADS_3

Bismillah. Assalamualaikum. Selamat membaca.


Temu itu dijarak lagi


Kapal-kapal kerinduan siap dilajukan


Kau tangan yang masih sekejap


Pada menggigil ruang-ruang


Kau kehangatan


Kendati paksaan adanya


Bukan hati yang tak kuasa


Ialah raga yang mulai renta


Kembali lagi


Kembali lah lagi


***


''Tidak ada kepergian yang tidak disejajari dengan kesedihan. Teruntuk para hati yang saling mengasihi bukan saling membenci.''


(Cukup rumit memperingkatnya menjadi quote. Lampung, 3 November 2018)


***


Angin yang menggigilkan itu masih merangkak-rangkak. Menusuk-nusuk punggung serta-merta tulang belulang insan yang melepas diri dari atap rumah. Disenandungkan oleh puisi modernisasinya dunia ritme dari mulut-mulut knalpot. Disenandungkan jua oleh beberapa puisi alam sarat makna dari kodok, jangkrik, atau jua gesekan daun yang nyaris merdu. Beberapa pasang roda motor melesat, lainnya melambatkan kecepatan. Dicuci pandangannya dengan sengaja pengendara-pengendara itu kepada tenda-tenda bibir jalan. Cahaya dari balik tendanya lahir berkat beberapa lampu putih, bak menuturkan gombalan cinta untuk menarik minat pengunjung.


Dari pertigaan jalan yang terjalur SMP tempat Najla mengenyam ilmu, dan dua jalur jalan besar yang mengakses keramaian-keramaian itu, dua buah motor baru saja berbelok ke kanan jalan. Asap yang melumpuhkan bau amis dari daging-daging yang ditusuk itu meloncat-loncat ingin sampai langit. Nyanyian dari pedagang kaset yang mayoritas menjual barang bajakan bersenandung sendiri. Tak luput, bau makanan apa saja yang dijual para pedagang beratapkan tenda di sana saling menyesakki indera penciuman.


Empat insan dari para insan yang berada di sana yaitu keluarga Najla. Bersama Bapak, Ibu, dan Aini ia bertandang. Tak kuasa lah kekalau sebatas sebuah sepeda motor. Namun Bapak berinisiatif meminjam kepada tetangga untuk menikmati malam-malam yang menjadi akhir dari singkatnya perjumpaan untuk panjangnya sebuah perjuangan.


''Pak, mau beli bakso?'' tanya Aini. Ia berada satu motor dengan sang kakak. Sedangkan Bapak dan Ibu satu kendaraan.


''Makanya berhenti di warung bakso ya mau beli bakso atuh Adek,'' celetuk Najla.

__ADS_1


''Ih! Orang Adek mah tanya ke Bapak! Bukan ke Teteh!''


''Iya, kita mau beli bakso, makannya soto, puteri kecil Bapak yang paaalliinng cantik.'' Kelima jemari kanannya mengelus penuh kasih kepala Aini yang terbalutkan kerudung hijau itu. Puteri kecilnya itu justri menerjemahkan kesalnya dengan mengerucutkan bibir. Tawa tergelak-gelak dari ketiganya.


Ruangan sederhana dengan delapan meja panjang berlapiskan plastik dengan embel-embel ilustrasi jenis teh dan micin itu hampir penuh. Beruntungnya mata Najla menangkap sebuah meja yang lengang, kendati mangkuk, botol teh, dan gelas yang masih tampak sisa-sisa isinya berada di sana.


''Itu, Pak. Masih kosong mejanya.''


''Yuk!'' ajak Bapak.


Urung tiba di sana, pemilik warung sudah menyambar mangkuk, gelas, dan botol serta menangkap cairan-cairannya yang tumpah di atas meja dengan sebuah lap. 


''Oh iya, belum pesen.'' Sudah duduk, Bapak hendak bangkit lagi.


''Teteh aja yang mesenin, Bapak di sini aja ya.'' Najla menarik diri dari posisi duduknya. ''Pesan 4 mangkuk pakai mi semua kan?''


''Ih! Adek baksonya aja! Teteh sok tahu!''


''Lalalala. Biarin pakai mi semua aja biar gak ribet!'' Berlalulah Najla. Meninggalkan Aini yang hampir merengek kesal, keburu diredam-redam dengan bahasa cinta yang dengan lembutnya Bapak tuturkan.


''Udah ya, Sayang. Teteh bercanda atuh. Jangan marah-marah gitu sama Teteh ya Sayang. Adek harus sayang sama Teteh kayak Adek sayang sama Bapak dan Ibu. Hmmm udah gede gini masih gampang nangisss.'' Tubuh Aini dijatuhkan jua ke dalam dekapan Bapak. Alhasil, malah cengar-cengir menyembunyikan diri. Sudah terlanjur malu dan benar disadarinya. Kini sudah kelas 5 SD masa kanak-kanak sudah terloncati, tetapi jiwa kanak-kanak kasih mendekam dalam dirinya.


''Iya dari tadi Ibu teh dicuekin.''


Tawa ringan bersenandung riang jua. Najla duduk di sebelah Ibu, dan didekap oleh wanitanya itu penuh kehangatan. Tak berselang lama empat mangkuk bakso sudah terhidangkan. Mengepul-ngepul panasnya. Menyusup hidung. Menarik musik tubuh dari perut. Sebuah warta tentang esok hari Bapak akan kembali mengangkat kakinya ke Jawa urung tersampaikam. Malam sudah amat larut untuk dibisikkan kabar yang terlalu cepat datangnya ke telinga Najla dan Aini. Dibiarkan dahulu sampai kelopak mata itu berbekas ke mimpi. Paginya, Bapak menyampaikan asupan pahit di telinga untuk Najla dan Aini.


''Sarapan yang banyak. Hari ini mau dikasih uang jajan berapa dari Bapak?''


''Uang jajan Teteh masih ada, Pak. Yang kemarin belum dijajanin.'' Najla membuka tutup toples kerupuk.


''Nah kalo Adek diem aja kenapa? Ibu teh jadi curiga.''


Ibu sudah memasuki perbincangan hangat yang akan menggigilkan itu. Keluar dari dapur, dengan membawakan sepiring pisang goreng. Sebuah tikar menjadi alas tubuh mereka menikmati sarapan.


''Uang Adek udah abis. Hehe.''


''Jangan boros-boros ya, Dek. Ditabung, biar uang Adek tambah banyak. Hehe.''


''Iya, Pak. Maaf ya.''

__ADS_1


''Gak apa-apa. Doakan aja biar Bapak dimudahkan mencari rezeki. Biar Bapak teh bisa ngasih uang jajan dan bantuin Adek sama Teteh ngejar cita-cita. Oke?''


''Okeee.'' Aini saja yang membalas. Ibu dan Najla cukup tersenyum meresponsnya. Kehangatan pagi itu pun berjalan. Mendadak bertemu dengan tebing-tebing yang curam dengan gumpalan saljunya. Semangkuk sayur bayam, tempe dan tahu goreng sudah hambar dirasa di kerongkongan Bapak, setelah ia mulai membulatkan kalimat untuk menjadi peluru pagi.


''Teteh sama Adek jagain Ibu lagi, ya?'' Lantas Bapak meneguk segelas air putih. Menyudahi sarapannya.


''Bapak mau berangkat merantau, la-gi?'' Amat hati-hati lah Najla bertanya. Sebabnya ia memang masih berat hati dengan kedatangan Bapak yang singkat dan kini harus pergi lagi.


''Iya.'' Tak ada satu lidah saja yang menyela. ''Kok pada diem aja? Hm?'' Mengembanglah senyum di wajah berwatak keras Bapak. Kendati hatinya tak sekeras kelihatan wajahnya.


''Sini-sini, Bapak peluk dua puteri Bapak nu geulis-gelis iye teh.'' Kedua tangannya direntangkan luas-luas. Lantas kembali mengeriput saat Najla dan Aini menyambutnya. Ibu tersenyum bahagia saja, menikmati kehangatan keluarga sederhananya itu.


*Nu\= Yang


*Geulis\= Cantik


*Iye\= Ini


Dua kali suara klakson terdengar arahnya dari depan rumah. Sudah bisa mengira lah Bapak siap yang datang. Ibu bergegas ke kamar mengambil tas Bapak.


''Nah, itu udah dateng Mamang ojeknya.''


Angka enam pada jam dinding menjadi petunjuk pertama  jarum pendeknya. Kedatangan Bapak siap dilepaskan kembali. Hingga di pintu depan, Ibu, Najla, dan Aini mengantarkan Bapak. Tak sampai hilang dari ingatan yang baru saja tercetuskan, Bapak segera membuka dompetnya. Menarik dua lembar uang dua puluh ribuan untuk Najla dan Aini.


''Ini untuk Teteh, kalo kurang minta sama Ibu ya? Sekolah yang bener ya, Teh. Jagain Adek sama Ibu. Jangan lupa salat dan doakan Bapak.''


''Ini buat uang makan Bapak selama perjalanan Bapak aja. Inshaa Allah Teteh laksanakan amanah dari Bapak. Terpenting Bapak bisa pulang lagi ya?''


Bapak terangguk dan punggung tangannya dicium oleh Najla. Bibir Bapak jua dijatuhkan ke dahi Najla penuh cinta. Sama halnya kepada Aini. Anak bungsunya itu bukan berkata-kata, melainkan langsung memeluk Bapak tak ingin kehilangannya. Kepada Ibu lah, kini Bapak pamitan.


''Makasih, Ibu selalu mengerti keadaan Bapak. Selalu doakan Bapak ya, Bu.''


''Hati-hati ya, Pak.'' Sebuah senyum terangkat. Bapak mendekap Ibu. Akibatnya, Najla dan Aini justru tersenyum-senyum jua melihatnya. Tak sekadar demikian, Bapak pun mengecup dahi Ibu. Ibu terpejam menanggapinya.


Kepergian itu pun datang pagi ini. Doa-doa karena kerinduan sudah melambaikan tangan hendak bersua di antara mereka.


***


Bersambuuuunng. Terima kasih, wassalamualaikum.

__ADS_1


__ADS_2