
"Aku sudah menjelaskan tentang kronologis kejadian, Mau Bagaimanapun beliau adalah Ayah mu kandung. Aku hanya memastikan keadaan mu. aku memastikan milikmu kembali dan.."
"Aku tak butuh materi itu. Aku bisa mencapai cita-cita ku sendiri juga uang, aku bisa bekerja. Jadi aku baik-baik saja. Katakan padanya aku baik-baik saja, seperti dia yang bahagia bersama keluarganya. Terimakasih sudah mengunjungi. " Larasati berdiri mengulurkan tangannya pada suaminya.
"Aku lapar, ayo kita ke kantin aku kangen dengan soto Betawi buatannya.." Lanjut Larasati dan Bagaskara menyambut uluran tangannya.
"Baiklah. Aku permisi, maafkan aku sudah menelantarkan mu. Aku egois sudah mengabaikan mu." Sunarto Atmajaya ikut bangkit dan melangkah keluar di ambang pintu ia berhenti," Semoga kau bahagia, nak. Cukup ibumu yang sakit hati, maafkan aku. Adikku dan istrinya sudah menyakiti mu. Aku pikir dengan didikannya kamu bisa menjadi hebat juga bahagia, nyatanya pikiran ku salah. Maaf." Kemudian ia pun pergi meninggalkan nya.
"Jadi makan soto Betawi nya?" Tanya Bagaskara sambil mengelus pipinya. Larasati tersenyum mengangguk mengiyakan. Mereka berjalan meninggalkan tempat itu menuju ke kantin.
Di kantin Larasati kalap, bukan hanya makan soto Betawi, batagor, ayam geprek super pedas, bakso ditambah air jeruk anget, es kelapa muda.
"Gadis ini benar-benar bikin gemes" Batin Bagaskara, yang hanya melongo menatap banyak makanan di meja mereka. Belum lagi gorengannya.
"Yakin habis nih?" Tanya Bagaskara menyakinkan nya, Larasati cuek saja makan tanpa menatap sang suami. Sibuk dengan makanannya sendiri bergantian menghabiskan semua menu pesanannya.
"Apa dia akan menemui ku?" Tanya Larasati mendadak pertanyaan ini muncul Bagaskara menatap nya , pura-pura tidak mengerti.
"Siapa? " Tanya Bagaskara acuh. Asyik makan dengan mengotak atik ponselnya.
" Dia! Kakak tahu siapakah ayah kandung ku? Apakah benar dia Dirga kakak ku?" Tanya Larasati menatap Bagaskara.
"Benar. Memang benar dia, aq melarang nya mendekat karena takut kamu stres dan ganggu perkembangan si kecil. Kamu terkena baby blues benar itu yang aku takutkan, jujur itu yang bisa aku lakukan buat kamu."
__ADS_1
Penjelasannya Bagaskara membuat Larasati hanya terdiam, ia makan lagi dan seolah tak ada apapun.
"Aku minta maaf, karena menjadikan mu istri kedua ku. Dan percayalah dia sudah ku ceraikan. Kami hanya menikah sirih. Kupikir dia sakit nyatanya, dia pura-pura saja."
Bagaskara menghela nafas panjang lagi Larasati acuh akan penjelasannya. "Sehabis makan mau apa?" Tanya Bagaskara menatap istrinya itu.
Wajah nya yang dulu tirus sekarang berisi, juga beberapa tempat yang tepat padat berisi. "Maaf aku membuat mu terlibat dalam kehidupan kami dan menyakiti mu. Aku janji akan melindungi mu segenap kemampuan ku." Larasati menengadah mengangguk mengiyakan.
"Boleh main time zone ga?" Tanyanya sambil tersenyum, Bagaskara tersenyum. "Bagaimana kalau sama teman kamu? Aku banyak pekerjaan, sayang. Maaf,." Bagaskara menghela nafas berat dan mengecup bibir nya yang belepotan saus sambal batagor.
Para karyawan melihat tingkah lakunya sang bos yang arogan berubah menjadi sosok bucin tak tahu malu. Larasati hanya menundukkan kepalanya dan mengangguk mengiyakan. Bagaskara gemas melihat nya mengacak rambut nya yang dicepol asal.
Lagi Larasati jadi baper menatapnya dengan tatapan matanya berkaca-kaca dengan senyuman tipis. "Sayang aku SMS Akbar sama temen kamu, ya?" Tanya Bagaskara sekali lagi wanitanya mengangguk mengiyakan.
Mereka berjalan beriringan menuju lobby utama setelah makan siang dengan aneka drama pasangan itu. Bagaskara menggandeng tangan nya sesekali ia menciumi nya.
Karyawan nya yang dilewati mereka meliriknya sepintas ada yang diam-diam memfoto nya, Bagaskara cuek saja. Di lobby nampak Akbar, Galuh dan Cicilia nunggu mereka.
"Aku titip ya? Jangan sampai malam main nya." Pesan Bagaskara hanya di acungi jempol Akbar, para wanita sudah menghambur keluar ke parkiran. Bagaskara langsung kembali ke ruang kerjanya.
"Jadi time zone?" Tanya Akbar sang driver. Larasati menggelengkan kepalanya, lalu ia memasang muka sendu. Hua.... Bumil itu menangis sejadi-jadinya.
Nah Lo.. Ketiganya bingung kelimpungan tak tahu penyebabnya. "Aku telpon mas Bahas aja. " Usul Galuh.
__ADS_1
"Jangan ganggu dia! Hua... Aku sedih..." Teriak Larasati yang lain kebingungan. Galuh mengusap punggungnya Larasati dan Galuh memberikan tisu.
"Aku baru tahu, aku anak titipan. Ayah kandung aku buang aku sama ibu. Dan ibu di nikahi sopir ayah ku. Parahnya kamu tahu siapa ayahku?"
Yang lain menggelengkan kepalanya yang tak mengerti. "Heru Atmaja. Dia bapak kandung aku, aku dan Dirga kakak adik. Ibuku di tipu daya oleh nya dan mau di nikahi siri. "
"Ibu yang lugu di sakiti hatinya, setelah hamil dia ceraikan dan balik sama istri pertamanya. Jahat banget kan?" Tanya Larasati yang menceritakan kisah nya dengan gaya anak-anaknya dan ketiga temannya mengangguk mengiyakan saja.
Mobil masih melaju kencang di jalanan sungguh tak mungkin langsung menepi karena terjebak dalam kendaraan yang penuh di jalanan padat berisi kendaraan. Mereka hanya diam mendengarkan cerita bumil yang melow.
"Aku ingat kak Dirga bilang bahwa kita adik kakak tapi aku cuekin aja. Aku jauhi dia karena aku takut insiden tersebut berulang lagi. Apa aku salah?"
Laras bertanya kepada rekannya dan mereka menggelengkan kepalanya, ya mau gimana lagi teman nya ini bercerita dan bicaranya dengan gaya layaknya seorang anak.
Spontan mereka juga berlaku sama seperti Larasati, wanita itu masih saja menangis dan sesekali membuang ingusnya. "Tega sekali pak Atmadja meninggalkan ibu begitu saja, jika dia hanya senang-senang kan bisa cari wanita bayaran kenapa nyusahin orang, bikin patah hati juga bikin sengsara."
"Jahat banget! Boleh kan aku jahat juga? Dia pikir jika kaya bisa berbuat sesukanya begitu? Apa kami orang jelata tak layak bahagia? Aku boleh kan enggak mau ketemu sama mereka yang jahat sama aku?
"Mau makan es cream enggak?" Celetuk Akbar tiba-tiba mengusulkan. Ketiganya mengangguk mengiyakan, Akbar menarik nafas lega. Bagaimanapun ia paling tak tahan dengar suara tangisan apapun dari wanita.
Cicilia menatap wajah sahabat nya yang terlihat sembab agar terlihat cerah dan menyamarkan bekas air matanya.
Akbar dilahirkan dengan banyak saudara perempuan dan sang ibu kadang lupa jika anak bungsu nya laki-laki.
__ADS_1
Karena dia single parents setelah sang ayah meninggalkan nya demi wanita lain, nyatanya dia tidak pernah tahu jika memiliki anak laki-laki. Yang dia ketahui ayahnya juga tak memiliki anak laki-laki dari pernikahan keduanya.