Atas Nama Cinta

Atas Nama Cinta
Bab 5: Jumpa


__ADS_3

Bismillah. Assalamualaikum. Selamat membaca.


Semerbak cinta di pulau jangka


Terpisah-pisah


Terjauh-jauh


Merindu-rindu


Pasangan kisah


Tak lagi berdarah sendu


Kangen


Rindu


Ingin jumpa


Temu


***


''Kemasilah rindu di Pulau Jangka. Pulang, dan uapkan rindu di Pulau Temu.''


(Beberapa hari ini sempat dilanda malas menlajutkan kisah KARENA. Lampung, 26 Oktober 2018)


***


Hari-hari yang sempat terdampar di kesunyian puisi-puisi Matematika, IPA, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, hampir terkikis. Rentangannya jauh dari kisah penuturan mata pelajaran. Tinggal dinantikam sajalah angka berapa yang siap terjamah matanya. Buah dari apa yang usai diperjuangan dan masih didoakan.


Pupusnya kesibukan dari kegiatan sekolah usai UN, Najla memayoritasi gerak-gerik tubuhnya itu membantu Ibu membuat tempe. Lantas dititip-titipkan olehnya kepada tiap warung, dan Ibu yang menjajakannya di pasar.


Lantunan indah bermuatan bacaan ayat-ayat dalam Al-Quran pun tak sungkan meningkat drastis mengisi rumah bercat putih kusam itu. Sesekali jua suara pemutaran chanel radio. Di tahun 2016 yang terbilang sudah zamannya serba modern, hanya saja bagai tak tampa dari sisi kehidupan keluarga Najla. Direlakan serta ikhlaslah saja teruntuk sebuah jalan kesederhanaan. Tuntunan Rasulullah diletakkan pada hati dan dideskripsikan pada sikap.


Sebelum nilai-nilai hasil UN yang siap menggetarkan hati kendati bukan tanda jatuh cinta, dilaksanakanlah dulu sebuah acara sebagai penanda perpisahan di SMP tempat Najla mengais ilmu. Kini kelas 8A-8C yang dinding pemisahnya itu ialah sebuah pintu geser dibuka semua. Menyatukan tiga ruang kelas teruntuk tempat sekian ratus kursi  dan tempat pementasan. Terjulurlah kepala Najla menilik ratusan kursi yang beberapa di antaranya usai terisi oleh wali murid. Pandangannya berlari-lari mencari Ibu.


''Ibu kok belum datang, ya?''


Hampir kusamlah ruangan dalam dadanya. Ditunggu-tunggu hingga kursi hampir habis ditempati para wali murid, wajah wanita itu urunglah menjadi salah satu wajah yang berada di ruangan tersebut.


Beralihlah Najla ke gerbang sekolahan. Rupa-rupanya bukan saja hati Najla yang mulai kusam, langit pun demikian. Lukisannya yang biru cerah itu pudar tersisihkan si hitam yang tampaknya mengandung beban. Siap ditumpahkan, sedangkan suara gelegarnya yang khas sudah mulai ingin menyobek pendengaran.


''Bentar lagi hujan. Acara mau dimulai juga. Ibu, atuh Ibu teh kunaon lami pisan?''


*lami pisan\= lama sekali.


Berdiam diri jua Najla di bawah pos jaga sekolah. Masih dipandang-pandanglah jalanan depan sekolahan. Kini bukan kedatangan Ibu yang digadang-gadang, melainkan kondisi Ibu. Tak rela jualah Najla kekalau sang wanita tercintanya itu kehujanan sekadar untuk menghadiri acara perpisahannya di SMP.


Berlian kecil tak bercahaya itu pun perlahan tertambat di bumi. Kecil-kecil saja awalnya, sampai perlahan jatuh rintiknya yang besar. Hilangnya suara menggelegar.


Samar-samar, pengendara motor yang tak jauh dengan gedung sekolah tampak melawan arus hujan. Najla menerka-nerka kekalau sang pengendaranya ialah Ibu. Tak terjamah wajah dan tubuhnya karena terselimuti mantel hujan.


''Ibu bukan ya?''


Berhentilah sepasang roda motor itu di depan Najla. Terheran-heranlah ia. Bukan Ibu. Iya, bukan Ibu yang mengendarai. Tetapi Ibu yang menjadi penumpamg jok belakang motor. ''Jadi dia siapa?''


''Maaf ya, Teh. Ibu telat ya?''

__ADS_1


''Gak apa-apa, Bu. Harusnya kalau hujan Ibu gak berangkat juga gak apa-apa.''


Kaca helmnya dinaikkan. Saat hujan lebat itu pelan-pelan menurunkan volumenya.


''Bu, Ashad ke parkiran ya.''


''Eh. Iya makasih, ya udah mau bantuin Ibu.''


''Sama-sama, Bu. Assalamualaikum.''


''Waalaikumusalam.'' Salam terjawab dari dua daging tak bertulang.


''Kenapa bisa berangkat bareng Ashad, Bu?''


''Tadi ban motor Ibu bocor. Ketemu dia baru mau berangkat ke sekolah. Ya udah Ibu bareng aja. Dipaksa dia juga karena katanya acara udah mau mulai. Eh sekarang malah udah mulai ya, Teh?''


Sedikit bergetar hati Najla. Mendengar satu nama itu saja sudah hendak membuatnya ingin menutup telinga. Kini kehadirannya laksana pahlawan dalam kisah-kisah kolosal di zaman perjuangan.


Dilangkahkan jualah kedua pasang kaki itu. Biarkan membelah kolam-kolam kecil berisi air yang tak terpinta kehadirannya. Kendati hujan sudah jatuh serupa helaian bulu bunga dandelion, tetap saja Najla mengindahkan Ibu dengan memayunginya memakai almamater yang sempat Najla kenakan. Diam-diam, terenyuh jua hati Ibu. Betapa kasih sayang Najla kepadanya amatlah tampak dan terasa menghangatkan. Suhu hujan seketika tertempa begitu saja.


Tiba di ruangan, acara sudah dimulai. Perwakilan dari tim Osis yakni sang ketua berdiri menghadap mikrofon. Ujarannya menggelembung keras dan besar. Sampai di telinga siapa saja yang berada di sana.


''Ibu mau teh anget gak? Teteh cariin dulu, ya.''


''Enggak. Gak usah. Mending Teteh kasih ke Ashad aja. Sebagai tanda terima kasih.''


''Ha? E-''


''Tapi, cuma ngasih ya Teh! Langsung pergi. Jangan berduaan. Bukan makhram.''


Sudah hendak membuka jua mulut Najla. Sayang, akhirnya ia urungkan saja. Kalimat penolakan tak jadi diluncurkan. Sekian kali penolakan, bisa saja memberi umpan dalam pikiran Ibu bahwa ada yang tak beres. Kondisi hatinya akan tertebak.


''Heem.''


***


Diterimalah jua dua gelas plastik teh hangat oleh Najla. Usai dibayarnya empat ribu rupiah kepada Ibu Kantin. Hatinya mulai menggigil kali ini. Antara ragu serta-merta amanah yang dititipkan Ibu berkibar-kibarlah menghantui.


''Hm, aku harus cari Ashad ke mana?'' Najla menggigit bibir bawahnya.


Asal melangkah saja Gadis berlesung pipi itu. Kerudungnya yang cukup lebar sempat menari diiringi musik alam. Angin.


''Assalamualaikum.'' Ia mencegah langkah seorang Gadis berkerudung instan.


''Waalaikumussalam.''


''Maaf, kamu temennya Ashad kan?''


''Iya.''


''Tahu Ashad di mana gak?''


''Enggak tahu.''


''Oh. Ya udah, makasih ya.''


Tak kunjung berhentilah Najla mencari Ashad. Kelas, kantin, dan tempat-tempat lain yang sekiranya Lelaki itu berada sudah dijumpai. Nihil jua hasilnya.


''Argh! Astaghfirullah. Ashad di mana sih?'' Najla terduduk di bangku koridor kelas. Dibiarkannya dua gelas teh hangat itu terdampar di sisinya.

__ADS_1


Jengah, enggan, serta-merta perasaan tak siap disita oleh degup yang tak beraturan sungguh tengah menepa diri Najla. Lorong kelas sunyi. Barangkali para murid memang sibuk menonton pentas seni persembahan dari kelas 8.  Lantas Ashad? Barangkali ia memang di sana. Hanya saja daya pikir Najla yang sudah bergumam pelik tak sampai berpikir demikian.


Keheningan terbungkamkan. Dari ujung koridor suara langkah kaki tegas membentur dinding. Najla menjamahnya. Namun diabaikan. Bola matanya justru terpejam. Laksana tengah menimang-nimang hati agar tak bergemuruh.


''Assalamualaikum, Naj.''


''Waalaikumussalam.'' Najla menjawab saja,  tidak tahu serta tak ingin tahu siapalah insan yang mengujarkan salam padanya itu. Dia kembali bangkit. Pada langkah ke sekian, gerak kakinya seperti menempel pada lem tak kasat mata dari permukaan lantai. Punggung yang terus berjalan menjauhinya itu sudah Najla kenali. Ia kalang kabut, memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri sebagai upaya pelampiasan untuk maju menghampiri yang tak kunjung maju.


''Ish! Bismillahirrohmanirrohim.''


Gemulai suaranya mengawali tekad yang dibulat-bulatkan. Antah berantah pecah atau tidak nantinya. Biar dilangkahkan pasti saja kaki Najla itu. Mengingat kalau kedua tangannya tengah mencekal dua gelas teh. Tiada disadarinya, kehangatan dari segelas cairan berwarna oranye kecoklatan itu telah membumbung-bumbung sedari tadi. Hampir hilang.


''Emh, Ashad!''


Jalan menepi yang tak tepat. Usai ditemui ujung koridor, rupa-rupanya di sana cukup banyak insan yang menjatuhkan tubuhnya di atas bangku-bangku. Bergulat pada kata-kata yang tak bisa Najla dengar. Bukan tuli, fokusnya tengah berpusat kepada Ashad.


''Assalamualaikum, Najla.''


''Iya, waalaikumussalam.''


Lagi, wajah tegas nan masam itu dipajanglah oleh Najla. Dirasanya kekuatan bisa berdiri di hadapan Ashad dengan cara demikian. Hanya, memunduklah wajahnya.


Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Empat detik. Lima detik. Salah satu tangan Najla pun tak tak bersegera menunjukkan gerakan. MEnyerahkan salah satu dari dua gelas teh itu.


''Najla,'' panggil Ashad lembut.


''Diam!''


Bingung jua lah Ashad dipinta diam oleh Najla. Satu kata yang entah berapa jumlah penekanannya.


''Ini teh buat kamu!''


''Buat aku?''


''Terima aja sih! Cepetan!''


''I-iya.''


Satu amanah tertunaikan sudah. Tak ayal Najla lantas melarikan diri. Jantunya usai membunuh kelenturan lidahnya menuturkan salam. Pada suasana berikutnya, Najla bergumam sesal. Ia tak menyempurnakan kalimat saat memberikan teh kepada Ashad.


''Seharusnya tadi Najla bilang kalau teh itu dari Ibu. Ibu yang nyuruh. Aduhh nanti Ashad salah paham. Kalau dipikirnya aku perhatian? Aku suka? Aku peduli sama dia?''


Kompak, kedua kaki serta-merta tangannya itu dientak-entakkan. Sampai ditenggelamkan jua lah kepalanya di antara kedua tangan. Ruang kelas tak begitu ramai. Dirasa Najla ramai sekali berkat kata 'malu' usai bertingkah di luar kendali kepada Ashad tadi.


Barangkali Ashad akan menuangkan istilah bermuka tembok kepada Najla. Kian kusam jua lah ruang pikiran Najla.


***


Acara perpisahan berlangsung dengan baik. Tak ada kecacatan meski tak pula disebut sempurna. Najla dan Ibu kembali ke rumah, berintunglah kali ini yang mengantarkan Ibu yaitu Mina. Sedangkan Najla seperti biasa menggunakan sepeda. Sempat ditawari Ibu agar ia saja yang bersepeda sampai rumah. Satu jawaban bermanka penolakanpun gesit Najla berikan.


Najla menepi di rumahnya usai menaruh badan sepeda di bawa pohon cokelat. Pintu menyeruak, sosok yang dipanggilnya 'bapak' lah yang membukakan. Tak ayal rindu mulai ditebarkan. Pelukan mulai menghangatkan.


***


Entah ya kenapa akhir-akhir ini lagi males nulis lanjutan KARENA. :(


Butuh semangat😂


Koment dong😉

__ADS_1


Wassalamualaikum.


__ADS_2