
"Apa ini? Sayang. Dirga?" Bagaskara ikut mendekat merangkul pundak Larasati agar tak hilang kendali.
"Dia sedang hamil dan juga terluka hatinya Dirga. Tolong jangan lupa tentang ini. Jangan memaksakan diri juga kehendak kalian. Selain itu ia terluka hatinya, apa kau tak mengerti?"
Bagaskara mendekat ke telinga Dirga, seraya menepuk pundak nya, seolah-olah dia membersihkan debu di sana.
"Apakah kau tak mengerti jika seorang wanita hamil itu sangat labil, mengerti sedikit saja Dirga jangan lakukan sesuatu yang membuat nama keluarga menjadi tercoreng oleh mu."
Bagaskara menggamit pinggangnya Larasati mengajaknya kembali ke tempat duduknya semula. Tak lama terdengar suara " Ibu Larasati."
*Sayang, ayo masuk. Mereka sudah memanggil mu!" Bagaskara merangkul pundak Larasati memasuki kamar periksa. Seorang wanita berseragam putih menyambut kedatangan mereka.
Melakukan tanya jawab seputar rutinitas sehari-hari juga keluhan dari Larasati. Baru kemudian memeriksa kandungan dengan alat USG. "Bayinya sehat, usianya 26 Minggu, lihatlah betapa aktif nya."
Dokter memuji pergerakan janin, Larasati menitikkan air matanya. Bagaskara mengecup kening nya berulangkali sesekali mengusap air matanya.
" Dia lucu, Alhamdulillah. Assalamualaikum sayang." Gumam Larasati menyapa sang anak. Selama ini Larasati memeriksa di bidan dekat kampus nya bahkan sudah dibujuk oleh temannya ia bersikeras di sana saja.
Bagaskara menghela nafasnya melihat tingkah laku ajaib istrinya, jauh dalam hati ia bahagia dengan segala kepolosan serta kesederhanaan sang istri.
Berikut kepintaran merawat juga menjaga dirinya sendiri. Ia merasa sebagai lelaki yang beruntung saat ini.
Dokter tersebut tersenyum setelah menjelaskan tentang seputar kehamilan dan kegiatannya yang tak diperbolehkan juga yang di sarankan. Karena itu kali pertama Larasati memeriksakan kandungan di rumah sakit.
Dokter membaca buku periksa dari bidan tersebut. "Dokter boleh tanya sesuatu?" Tanya Larasati.
__ADS_1
"Silahkan saja." Jawab sang dokter.
"Apabila saya bercinta dengan suami apakah boleh dalam keadaan hamil? Akh, akhir-akhir ini perasaan ingin nya itu. Karena itu saya sering peluk sama cium dia."
Blush. Bagaskara melengos, malu. Mungkin jika orang bisa melihat mukanya memerah menahan malu, karena ulah sang istri.
Jujur setelah insiden tersebut ia tak berani menjamah tubuh nya Larasati. Takut terjadi sesuatu pada baby nya. Dokter hanya tersenyum menanggapinya.
"Tentu boleh, saran saya lakukan lah dengan perlahan-lahan jika Nyonya merasakan kran perut maka anda harus menghentikannya." Jelas nya dengan tersenyum menatap Bagaskara.
Seusai sesi tanya-jawab Bagaskara mengajak nya pulang sepanjang perjalanan Bagaskara melirik ke Larasati sesekali. Bagaskara menghela nafasnya menatap jalanan berkosentrasi mengemudi.
Mobil terparkir di basemen apartemen, Larasati tersenyum menatap Bagaskara, wanita itu merangkul lengan kekarnya. Mereka berjalan beriringan menuju ke dalam gedung, saat di depan lift ponsel Bagaskara berbunyi. "Sebentar sayang jangan naik dulu!" Larasati ditarik oleh Bagaskara saat akan naik jadi lift nya tertutup tanpa ada orang di dalamnya , sedang Bagaskara asyik menjawab ponselnya dengan menggandeng tangan Larasati masih membelakangi nya.
"Kita bahas ini... Sayang awas!"
"Tekan darahnya!" Pekik sekuriti panik melepaskan pakaiannya sebagai alat untuk menghambat keluar darah yang lebih banyak.
"Aku sudah panggil ambulans. Aku sudah panggil dokter Rizka di lantai 6. Untuk membantu, dia jaga malam jadi dia masih di dalam apartemen." Seru satu sekuriti lagi.
Ada tiga laki-laki satu menangkap basah pelaku dan dua mendampingi mereka. Ada warga apartemen menjaga jarak memberikan kesempatan kepada mereka bertindak.
Larasati merasakan perubahan sekitarnya seperti berputar, tubuhnya terasa ringan seperti kapas bersama kabur pandangan mata nya. "Sayang.." Suara Bagaskara tersendat memeluk tubuh sang istri melindunginya.
Tak lama petugas kepolisian tiba bersamaan dengan petugas medis melakukan pertolongan, sedang polisi menggiring paksa tersangka. Banyak foto-foto dibidik lewat ponsel orang yang berkerumun menonton nya.
__ADS_1
#######
Suara sirene ambulans mendekati IGD, para petugas medis berlari membantu petugas ambulance juga memeriksa keadaan pasien. Ada dua yang di angkat yakni Bagaskara juga Larasati.
Penanganan dibagi dua tim, "Pasien hamil kita akan memeriksa keduanya ibu dan anak". Ucap petugas yang menyongsong kedatangan mereka.
""Pasien mengandung 26 Minggu ada ini tas ia baru saja dari rumah sakit ini untuk periksa kandungan tadi pagi." Jelas seorang wanita berpakaian kasual namun banyak noda darah di tubuhnya.
"Pasien ini luka parah saya hanya membalut nya darurat sesuai prosedur. Saya tak mungkin membedah di tempat karena minim peralatan. Saya dokter Rizka bertugas di rumah sakit Bunda Kasih. Kebetulan saya satu gedung dengan pasien." Jelas wanita itu pada petugas medis.
Ini bukan tempat kerjanya dokter Rizka jadi dia hanya mendampingi nya saja juga menjelaskannya.
Semuanya mengangguk mengiyakan " Kalau begitu kami ambil alih, terimakasih sudah membantu." Kata salah satu dari dokter yang menarik brankar yang di tempati Bagaskara.
Rizka menghentikan langkahnya kemudian menunggu nya di ruang tunggu. Sedangkan kedua suami istri itu ditangani oleh petugas medis di dalam ruangan tindakan.
Rizka meminta ijin kerja mendadak karena tetangga nya, dia mengenal Larasati, walaupun mereka tidak akrab namun Rizka tahu Larasati orang yang ramah walaupun sedikit acuh.
Di kepolisian setempat seorang wanita di tarik paksa di dudukkan di depan petugas yang sedang sibuk berkutat di depan komputer, langsung di mintai keterangan oleh penyidik mengenai kejadian yang di adukan oleh petugas security-nya apartemen Flamboyan langsung membeberkan kronologi.
"Kami sedang berjaga saat itu. Mengobrol berdua dengan rekan saya ,dia sedang jaga sekarang. Kemudian bapak Bagaskara beserta istri baru pulang. Saya tak tahu beliau berdua dari mana."
"Yang jelas akan naik ke atas tempat hunian mereka. Tapi pak Bagaskara menarik Nyonya menjauh dari lift. Saya lihat itu sepintas. Kemudian sebuah jeritan lalu mereka jatuh bersama, Yang jelas Pak Bagaskara melindunginya. Maksudnya istrinya dilindungi agar tak kenapa-kenapa pas jatuh. Makanya beliau mendekapnya erat juga mengganjal kepala juga tubuhnya dengan tangannya Pak Bagaskara."
"Orang ini sudah masuk satu jam lalu dan hilir mudik di sekitar apartemen. Kami sempat curiga namun ia bilang famili nya Nyonya Larasati jadi kami ijinkan masuk. Ada KTPnya." Lelaki itu memberikan data juga keterangan yang sama sesuai cctv di lobby apartemen.
__ADS_1
Polisi menyidik dan mencatat semua nya juga membaca KTPnya, matanya menatap pelaku dengan intens, sang pelaku membuang pandangan. Lelaki itu mencocokkan bukti dengan wajah pelaku.
Maka dengan kesal karena si pelaku tidak kooperatif maka ia menyibaknya, topi dan juga KTPnya. "Karina? Artis papan atas yang terlibat scandal?" Pekik petugas kepolisian bersama dengan petugas sekuriti.