Atas Nama Cinta

Atas Nama Cinta
Bab 10: Kabar Bahagia


__ADS_3

Bismillah. Assalamualaikum. Selamat membaca.


Biar ditemu


Membulat bola mata


Kata-kata ayolah


Hampir sembunyi


Bahasa-bahasa janganlah


Siapa ditemu


Dia terjawab


***


''Ada permata sekecil abu. Ada api sepanas yang belum diketahui. Hati, bicaralah karena yang bukan siapa-siapa selain Dia.''


(Lampung, 4 November 2018)


***


''What? Kamu mau ekskul silat? Really?'' Bola matanya yang sudah lebar itu dilebar-lebarkan kembali. Pernyataan yang diselorohkan Ismi laksana memiliki daya tarik tersendiri bagi Aurel. Sampai-sampai tak sekadar bola mata dan kata-katanya yang seolah kaget, tubuh dan tangannya jua turut serta. Ia berkata seraya berdiri dan sedikit memberi penekanan di atas meja oleh kedua tangannya.


''Memangnya silat di mata Aurel teh kayak gimana sih?'' tanya Najla.


''Iya, responsnya kok sampai kayak gitu?'' Pertanyaan Najla diperkuat jua oleh Mina.


''Ismi seorang wanita, guys. So, aku rasa kurang pantas. Okelah kalau Najla dan Mina kan mau Rohis?'' Pandangannya tercecar ke arah Najla dan Mina bergantian. ''Nah Ismi mau gabung ke ekskul Silat? Itu gak ada aroma cewek-ceweknya gitu kesannya nih.''


Sang tokoh utama dalam obrolan yang sudah diobral pagi ini mengguratkan wajah kecutnya saja. Alih-alih sebongkah kayu yang ia bawa sudah terlahap api yang Aurel timpakan, nyaman-nyaman sajalah dadanya menghayati. Punggungnya yang tegap disandarkan pada badan kursi dengan baik-baik. Kedua tangan sudah laksana bos besar saja dilipat di depan dada. Benar, ia sudah merasa seperti bos besar dalam pembahasan yang mengecilkan kaum wanita dengan dalih kurang pantas atau sebagainya. Susunan-susunan kata yang sedemikian rupa tetapi satu makna sudah sangat bersahabat pada ruang hidup Ismi.


''Gak masalah, Rel. Selagi kemampuan bela dirinya Ismi itu digunakan dengan hal baik. Bukan untuk hal keburukan,'' bela Najla


''Yup! Setuju! Setuju banget sama kamu, Naj.''


''Mereka orang, Najla dan Mina pemikirannya wawai sekali. Kamu harus belajar dari mereka, Rel.''


*Wawai: Bahasa Lampung yang berarti BAIK.


''Aaaaa no! Jadi maksud Ismi pemikiran aku is never good?''


''Hanya dalam hal penilaian terhadap bela diri yang diikuti kaum wanita saja, Rel. Ah kamu orang baperan.''


Sebuah cengiran tampak jua dari wajah Aurel. ''Hehe. Im sorry.''


Dari mulut pengeras suara, sebuah mikrofon yang dimainkan oleh jemari hingga menghasilkan ketukan-ketukan itu mulai menggelitikki telinga insan-insan yang mampu menjamahnya. Keributan pada kelas-kelas 11 dan 12 seperti dihisap dalam-dalam karenanya. Sementara pada ruang-ruang para insan si penghuni baru warga SMAN Agung bisik-bisik suaranya lah yang hilang. Sebab keramaian tiadalah hidup di sana. Ralat, belum ada bukan tiada. Bersamaan dengan dimintanya seluruh murid berkumpul di Gedung Olahraga sekolah untuk ajang pameran ekskul, sepasang kaki seperti ribut dengan lantai. Dibawa-bawa langkahnya tanpa santai hingga ke kelas. Penghuni kelas yang dikepalainya hampir bubar, tiba di daun pintu masih terpacu lah napasnya.

__ADS_1


''Jangan bubar dulu! Ada pengumuman.''


Dalam satu gerakan tanpa melepas sepasang sepatu, ia langsung menaiki lantai depan papan tulis yang posisinya lebih tinggi.


''Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh.''


''Waalaikumussalam warrahmatullahi wabarakatuh.''


''Jadi begini, tadi saya kumpulan ketua kelas. Besok kita diminta bersih-bersih kelas, dan melengkapi fasilitasnya. Jadi otomatis kita membutuhkan dana untuk melengkapi apa-apa yang kurang. Setelah acara festival ekskul hari ini, mulai setor uang iuran 10 ribu per anak kepada bendahara. Kemudian kita musyawarah alat apa saja yang belum ada di kelas kita. Semuanya paham?'' Hilang sudah kata 'teh' dan segala embel-embel lainnya dalam pengucapan yang mencerminkan bahwa ia kental dengan darah sunda. Sekadar kala wibawa dan aspek lainnya saat menjadi pemimpinlah nada-nada bicara khas itu sejenak menghilang.


Satu kata meloncat dari seluruh daging tak bertulang di kelas itu terkecuali Ashad. Lantas kaki-kakilah yang bergerak. Beruduyun-duyun membawa tubuh menelusuri koridor kelas 12, bersua alam luar pada tanah lapang berlantai kasar disertai dua buah ring basketnya, dan tiba lah germbolan itu menyeruak seolah-olah merobek pintu GOR sekolahan.


Sebuah panggung sederhana sudah berdiri gagah di tengah lapangan. Beberapa mikrofon serta kursi menemani. Percobaan-percobaan dari petikan gitar dan orgen laksana menyambut kedatangan para insan.


''Di sini aja ya?'' tanya Mina.


''Kira-kira kalau matahari makin tinggi gak bakalan nyentuh kulit kita kan? Kalau iya, its okay not problem for me.''


''Segitu takutnya kamu mah sama matahari, Rel?'' Najla terduduk seraya membungkamkan tawanya yang ingin meledak ke udara.


''Yes or not? Jawab dulu pertanyaanku tadi.''


''Udahlah, kamu duduk saja apa susahnya, Rel? Repot sekali kamu ini.'' Ismi sibuk menyelundupkan helaian rambutnya yang kerap menunjukkan diri. ''Ampun! Pakai kerudung segi empat rambutku maunya keluar-keluar saja. Aturan sekolah gak boleh pakai kerudung instan pula!''


''Hei! Pokoknya aku gak mau duduk di sini kalau panas. Aku bicara serius loh!''


Tuntas sudah perdebatan di luar kantong-kantong berisi faedah itu. Posisi kursi tempat penonton yang memuncak seperti formasi kursi bioskop mulai padat. Volume kecil dari mulut-mulut mereka meningkat kala dirumahkan pada sebuah gedung. Satu persatu susunan acara dilaksanakan. Mulai dari pembukaan oleh ketua osis hingga serangkaian acara inti.


Beberapa ekskul sudah disebutkan serta-merta penampilannya dipertontonkan. Tak ayal acap kali usainya puluhan pasang jemari di gedung itu turut riuh. Ditepuk-tepukkan oleh sang empunya. Ekskul Musik, Paskibra, PMR, Jurnalistik, Pramuka, Rohis, KIR, Sepak Bola, hingga Basket sangat ampuh menciptakan histeria yang akan selalu menggenang dalam pikiran. Tak terhisap ataupun menguap.


''Aduh kece! Anak basket emang kece, ganteng, pasti perutnya juga ala-ala roti sobek gitu deh.'' Isi kepala Aurel sudah hampir merjalela ke mana saja. Beruntungnya Najla yang duduk di sebelah kanan Aurel sudah memberi peringatan lewat gelagat bahunya kepada bahu Aurel.


''Jaga mata, Aurel. Itu teh zina mata. Dosa.''


''Dosa? Aduh Najla just see but-''


''Dosa!''


Pandangan Najla justru kian meraba saja ke arah sekumpulan anak basket yang terduduk. Butiran-butiran bening sebesar biji jagung laksana mutiara pada pandangan kaum hawa yang memujanya.


''Handsome banget! Makin keren gitu ya, kalo keringetan.''


Antah berantah sadar atau tidak Aurel mengatakan demikian. Ujung telunjuknya saja sampai dijadikan korban ia gigit-gigit. Sebuah pagar hitam menghias gigi bersihnya pun tampak. Hanya saja, diperingatkan dengan kata-kata Aurel masih membeku, dibiarkan jualah kelima jemari Najla membungkam pandangannya. Aurel meronta-ronta. Mina tertawa. Ismi pun demikian. Namun sempat tertambat sebuah tanya jua dalam kepala Ismi.


***


Masih resah jua lah ruang hatinya. Sampai akhirnya memilih keluar toilet karena seseorang sudah tak sabaran hingga mengetuk-ngetuk pintu toilet.


''Eh ternyata kamu yang di dalam toilet ini? Aku pikir siapa. Kelamaan di dalem karena risih pakai kerudung dan baju kegedean gitu ya?'' Endingnya tersungging pahitlah bibirnya seorang siswi yang bisa Najla terka seorang kakak kelas. Sebab selama ia berada di sana tak ada anak seangkatannya yang membully kendati kata-kata saja yang tercetus.

__ADS_1


Usai hilangnya tubuh siswi tadi ke dalam toilet, gemuruh itu datang lagi menyentuh hati Najla. Bukan gemuruhnya karena merasa ditaruh bara api pada dadanya oleh sisiwi tadi, melainkan yaitu tiga lembar lima ribuan uangnya. Sudah hilang dari pandangan dan rabaannya di saku almamater.


''Aduh, uang Najla teh jatuh di mana ya? Apa ketinggalan di rumah? Perasaan pagi tadi udah Najla masukin saju almamater.''


Terusap jualah wajahnya. Terbayang-bayang harus membayar iuran kelas saat ini juga. Jika alat bayar yang dimilikinya tak ada, haruskah dengan lembaran daun sebagai gantinya? Astaga! Gadis itu benar-benar pusing. Pergi sajalah ia dari sana. Entah harus kembali ke kelas langsung tanpa perbekalan untuk melunasi kewajibannya membayar iuran, atau kabur ke tempat-tempat seperti perpustakaan dan taman sekolahnya? Teruntuk kali ini saja Najla seperti tak bisa mengemban tanggung jawab dengan sebaik mungkin.


Ia masih menelusuri lorong-lorong kelas yang panjang itu. Namun gerak kakinya sempat tertambat untuk sejenak berhenti melangkah. Berkat pandangan mata yang membungkus arti ada suatu benda kecil di hadapannya berwarna biru. Bola matanya menyipit. Pipinya turut menyipit seperti membentuk lubang kecil.


''Uang lima puluh ribu?'' Mulutnya dibekap. Lorong itu sepi dari gerak-gerik para kaki. Ada dua perintah yang menciptakan gelembung kian resah. Diambil atau pasrah mengambil. Pada sekian detik melalui pertimbangan singkat itu pun diselundupkanlah uang tersebut ke saku almamater. Lantas berlalu.


***


''Andi Tri Bakti.'' Ujung pulpennya mencentang nama tersebut usai selembar uang bernilai sepuluh ribu diserahkan. ''Angga Saputra.''


Perlahan nama-nama dari nomor absen awal sudah terkikis menuju absen pertengahan dan akhir. Nama Najla terlewati dan urung tercentang. Sebab insannya saja hilang antah ke mana.


''Semuanya udah kecuali-''


''Assalamualaikum!'' Pusat perhatian jatuh kepada Najla.


''Nah ini dia Najla datang. Bayar iuran, Naj.''


Najla tak bergeming. Bibir bagian bawahnya tergigit seumpama pelampiasan jiwanya tengah bergetar untuk melakukan suatu tindakan. Dan titik fokus tak jatuh kepada Najla lagi, sebuah suara dari mulut speaker yang menyita.


''Diberitahukan bagi yang merasa kehilangan uang lima puluh ribu, harap menemui ketua osis atau anggota osis.''


Jiwa Najla bergetar untuk mengatakan bahwa ia sedang tak berkepemilikan uang.


''Aku. Aku minta maaf-''


''Naj! Tadi kamu titip uang sama aku kan? Ini ada di saku almamaterku,'' ujar Mina. Ia lantas menuju meja bendahara. Hati Najla perlahan damai. Kendati masih bertanya-tanya, benar atau tidakkah apa yang dikatakan Aurel itu. Kalaupun tidak, tak masalah. Najla bisa membayarnya esok hari dan tentunya ia amat meratukan terima kasih kepada Allah telah mempermudah urusannya melalui Aurel.


Telah melihat Aurel bertindak ke meja bendahara, Najla tak sengaja melihat ke arah Ashad yang sedang membaca buku hadis. Lelaki itu melepas kacamatanya. Terangkatlah pandangannya dan tak sengaja bertemu tatap dengan Najla. Lantas menunduk. Bukan perihal takut karena lagi-lagi Najla menayangkan wajah sangar kepadanya. Melainkan, untuk tetap menjaga kesucian matanya.


Najla duduk di bangkunya. Mengusap wajahnya tenang dengan cukup lama. Di sela-sela terkatup bola matanya itu, tentu indera pendengarannya tidaklah turut terkatup. Menangkap sebuah dialog singkat dari kawan bangku sebelah barisannya.


''Aku baru tahu ternyata Bu Eko jualan kerudung syari ya?''


''Kok aku jadi pengen pake kerudung syari ya? Tapi, harganya lumayan.''


Sekali, senyum di wajah Najla terbentuk. Cukup lama. Mendadak ada kehausan yang akan dibasahi oleh beberapa manusia. Dan sungguh Najla amatlah luas bahagianya dengan penuturan beberapa kawannya itu.


***


BERSAMBUUUNG!


Komentarnya ditunggu😊


Terima kasih. Wassalamualaikum.

__ADS_1


__ADS_2