Atas Nama Cinta

Atas Nama Cinta
Bab 27: Titik Lelah


__ADS_3

Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum. Selamat membaca😊


Sekali


Dua kali


Berkali-kali


Jemu tak jemu kau begitu


Jemu sudah jemu kini aku


***


''Ada dua hal yang memang sulit untuk diterka di dunia ini. Pertama keajaiban, kedua hati perempuan.''


(Lampung, )


***


''Astaghfirullah. Heh!'' Ia mengabaikan sepedanya. Bangkit saja seorang diri seraya menepuk-nepukkan telapak tangannya yang kotor oleh sedikit baret-baret luka. Aspal jalan cukup ganas untuk tidak melukai tangannya.


Gadis di hadapannya masih bungkam tak bertindak. Lidah dan gerak raganya dikunci oleh sesuatu yang berdetak di atas rata-rata. Sampai akhirnya berhasil berkata, ''Maaf, Ash. Maafin Najla.''


Lelaki itu mengangkat kepalanya. Sekilas ia menangkap wajah Najla di balik kacamata. Maaf yang tanpa air muka merasa bersalah. Hampa sehampa-hampanya, kata maaf sekadar penyejuk yang bertandangnya tak dikirim langsung dari relung hati. Ashad tak tahu, sejujurnya semua itu sekadar permainan wajah yang tengah menyembunyikan sesuatu.


''Ashad, sih! Ngapain atuh berhenti di jalan? Kan Najla jadi nabrak Ashad.''


Tiada kata, Ashad kini membangkitkan sepedanya yang terkapar. Matanya tak seteduh biasanya, suhu hatinya tak sesejuk dilahap sabar. Ada sesuatu yang membuatnya merasa harus dikatakan 'cukup'. Untuk saat ini, ia laksana diterjang ombak dan berusaha melawan. Jengah, lelah, dan perasaan yang tak pernah bertandang mendadak memburu hatinya.


Bercak-bercak debu di bawah almamaternya terlihat samar. Jemari-jemari sang empunya almamater pun menampik pelan-pelan. Kini, ia sudah bersiap diri untuk kembali melaju. Sepeda sudah dinaiki, tetapi Gadis yang dianggapnya tak berperasaan itu mengurungkan niatnya.


''Ash.''


''Naj.''


Saling membersamai dalam berujar, dua-duanya merasakan desiran dalam dada lagi. Kendati api sudah akan membumbung tinggi dari suatu daratan yang tak pernah kehabisan sumber mata air.


''Maaf deh, kalau Najla salah. Kalau Najla salah atuh ya. Berarti belum tentu salah.'' Benar-benar tak bersahabat raut wajah Najla. Ia memandang ke arah jalan dengan kejutekan yang berhasil membuat Ashad bosan. Lelaki itu merespons perkataannya dengan senyum miring, berdesah kesal. Tentu, tanpa Najla tahu.


''Kamu itu muslimah.'' Gadis bernama lengkap Najla Atifa itu sudah mencium gelagat yang tak mengenakkan hati.''Aku tahu ilmu agamamu sangat baik, terbukti dari nilai dan keaktifan kamu saat presentasi pelajaran Agama Islam,'' lanjut Ashad.


Terjeda, mau tak mau, melukai ataupun tidak, diterima ataupun tidak, berujung benci ataupun tidak, Ashad sedang memotivasi diri untuk mengatakan hal ini. Ia bertahan dalam hitungan tahun pada ruang yang selalu kehilangan keramah tamahan sikap dan sifat Najla padanya. Kendati sebenarnya hati dan pikiran Ashad selalu buta untuk mengetahui penyebab gadis itu berlaku demikian. Diharapkannya perkataan yang sudah bulat di pita suara untuk diserahkan kepada Najla mampu membuat gadis itu berpikir. Terkhusus, bermuhasabah diri dan hati.


''Aku tahu kalau Najla teh memang unggul. Bahkan sangat unggul di pelajaran tersebut. Tapi, berat hati aku teh bilang ke Najla. Tolong perbaiki akhlak Najla. Dengan Najla bersikap banyak marahnya sama aku tanpa aku tahu apa sebabnya, jujur aku gak bisa menilai kalau ilmu yang Najla punya itu berkah. Ilmu akan selalu kalah derajatnya dibandingkan akhlak, Naj. Kamu muslimah. Tolong tunjukkan kalau kamu muslimah sejati!''


Sebuah bercak transparan sudah menembus permukaan mata Najla. Belum tumpah, karena tengah ditahan-tahan olehnya.


''Terakhir, Najla tahu betapa sulitnya mengubah pola pikir manusia yang masih membuang sampah sembarangan? Sesulit itu pula untuk aku mampu agar selalu percaya 'kamu tak membenciku' padahal sikap angkuhmu kepadaku itu sudah tak terhitung entah sampai berapa kali. Yang pasti, sudah bertahun-tahun.''


Satu titik air menepi. Najla menyingkap. Kepalnya terasa berat kali ini untuk tidak ia tundukkan.


''Dan sekarang, rasa percayaku itu udah hilang, Naj.'' Sudah selesai gumpalan-gumpalan kata yang tertahan di hatinya selama ini. ''Punten ya. Aku pulang duluan. Assalamualaikum.''

__ADS_1


Lelaki beralis tebal itu mulai mengayuh sepedanya. Perasaan ringan ia bawa, meski ada sedikit bagian hatinya yang turut nyeri. Meninggalkan perasaan yang teramat berat teruntuk gadis yang ia berikan kata-kata dari hati. Sampai membuat lirih suaranya dalam membalas salam, ''Waalaikumussalam.''


Nanar. Hatinya kini nanar.


***


Sudah teramat mendarah daging kekalau tugas praktek seni di kelas 6 SD yakni membuat taplak meja dari kain strimin. Sebuah kain berlubang-lubang yang amat kecil itu menjadi medianya bagi jari jemari yang kreatif merajutkan benang wol. Dibuat dengan menyilang dari pojok kanan atas ke pojok kiri bawah, lantas di balik bagian depan kain itu benang wol ditujukan ke pojok kanan bawah lantas pojok kiri atas.


Semua tertuntun dengan hitungan yang telah diatur rapi pada sebuah buku desain dengan beraneka macam gambar. Sengaja, Aini memilih motif tepiannya berupa garis lurus nan tebal saja. Pun nanti gambar utama tengahnya akan ia pilih beberapa bunga yang warna serta tingkat pembuatannya tidaklah rumit. Di antara waktu sejam menjelang maghrib lah kini ia mengutatkan sepasang indera penglihatan serta jari jemarinya pad strimin. Di ruang tengah, di atas kursi bambu.


''Satu, dua, tiga, empat. Warna ijonya empat ke kanan sebanyak lima kali.'' Ia menunjuk-nunjuk buku tipis di atas meja itu. Kembali fokus pada benang wol dan kain strimin.


''Dek.'' Najla menyingkap sehelai kain yang menjadi tirai pintu kamarnya.


''Hm.''


''Butuh bantuan, gak?''


Sadis, Aini tujukan kepada Najla. Sebab tak biasa-biasanya sang kakak menawarkan diri dalam hal membuat kerajinan. Kendati sebenarnya ia dan sang kakak seumpama seorang insan yang berdiri di depan cermin. Memunyai banyak kesamaan dari segi fisik dan jiwa. Keterampilan, bukan jiwa mereka.


''Tumben atuh Teteh mau bantuin Adek bikin kerajinan?''


Sudah duduk di samping Aini, batin Najla langsung dibuat tak nyaman. Namun kondisi yang tak baik sedari pulang sekolah hari ini membuatnya urung jua untuk menanggapi perkataan Najla. Ia memilih diri untuk meraih strimin dari tangan Aini.


''Wahhhhh. Kemajuan ini mah! Makasih Tetehku yang geulis!''


Strimin sudah tak berpijak di genggamannya, dipilihnya jua mengambil Alquran di kamar. Lantas kembali dengan posisi duduk menghadap Najla. Hatinya sudah berbinar-binar tak sabaran untuk memperlancaf hafalan juz 30 dan menyetorkannya kepada guru agama sebagai nilai tambahan.


Santun suara Aini yang masih khas anak kecil. Membuihkan benih-benih baik sampai di pekarangan hati Najla yang sedang tak subur. Surat-surat pendek terus ia bacakan, sedang Najla menyelaminya hingga-hingga menguaplah konflik yang sampai detik tadi mengikat kepala. Tangannya jua lebih semangat bermain di atas kain-kain berlubang semut itu.


''Aamiin. Pasti Teteh doakan.''


Sudah membaikkah hatinya? Entah jua. Najla usai sudah merasakan musik terbaik dari Illahi. Membuat perasaanya, suda SEDIKIT membaik. Ya, sedikit.


''Eh, Teh-Teh. Adek mau tanya.''


''Apa?''


''Teteh suka sama A' Ashad, kan? Tapi kenapa kok galak banget atuh teh kalo ke A'Ashad? Kayak waktu itu pas A' Ashad numpang salat dhuha, A' Ashad kan tanya Teteh udah salat Dhuha aoa belum, eh Teteh jawabnya gak bisa biasa aja.''


Ashad. Pekarangan hatinya sudah mulai cukup subur lagi, tetapi untuk kali ini seperti dibuat tandus kembali. Sudah berat Najla rasakan, tetapi ia tak ingin tertangkap basah oleh Aini untuk yang kedua kalinya setelah tragedi surat itu.


''Teteh kan waktu itu lagi sakit atuh. Jadi kondisi hati Teteh juga lagi gak baik. Bawaannya pengen marah terus. Lagian, Teteh gak suka ya sama dia.''


''Ya Allah Najla bohong.''


''Ohhh. Eh Teteh jangan bohong. Dosa loh. Padahal udah jelas Teteh suka sama A' Ashad. Tenang Adek gak ngasih tau Ibu sama Bapak kok. Selagi Teteh GAK PACARAN.''


''Naon Adek teh. Gak jelas. Eh Adek kok tahu A' Ashad tanya kayak gitu ke Teteh?''


''Hehe. Ngintip dari kamar Ibu.''


''Huuu dasar tukang ngintip!''

__ADS_1


''Biarin!''


Tak sampai keributan antara adik dan kakak itu, Ibu menampakkan diri dari pintu samping. Telah kembali dari warung dan kini Najla dibuat gelisah hatinya. Sampaikah di ruang pendengaran Ibu kalimat yang Aini cetuskan tadi?


''Assalamualaikum.'' Wajah Ibu sudah tak menunjukkan suasana yang baik.


''Waalaikumussalam.''


''Ada apa? Sanar-samar tadi Ibu teh denger Adek sama Teteh ngomongin pacaran-pacaran terus suka-suka gitu.'' Ia berkata seraya melangkah mengambil ajr minum dan terduduk saat meneguknya.


Petir di siang bolong sudah menggelegar di hati Najla. Lantas di pikirannya sudah menerka 'akan ada masalah lagi'. Wajah serta merta sampai kuku-kuku kakinya dibuat membeku. Menatap takut ke arah Aini.


Gadis kecil itu tahu apa yang sedang sibuk di pikiran sang kakak. Ia menerjemahkan dari sudut pandang Najla yang menyimpan buih-buih kegelisahan. Usia Aini yang sedikit-sedikit telah mengenal perasaan suka pada lawan jenis, membuatnya paham jua bahwa insan yang dipanggilnya TETEH itu telah berbohong. Mengelak pernyataannya tadi tentang menyukai Ashad.


''Ibu tanya ada apa? Kenapa atuh malah diem semua?''


''Itu loh, Bu. Ada kawan Teteh yang pacaran terus Adek sama Teteh diskusi tentang pacaran dalam islam.'' Tak sampai memperlihatkan semua itu adalah serangkaian kata yang tak ada dalam suatu adegan nyata. Diimajinasikan pada ruang kebohongan.


''Ohh. Gitu, Teh?''


Najla tersenyum seraya dianggukkannya jua kepalanya itu. Berhasil! Ia berhasil menciptakan kebohongan yang beruntun-untun. Hal terparahnya turut serta menuntun insan lain untuk berbohong. Hati kecilnya meronta memohon ampun.


***


''Pak, Adek udah hafal juz 30! Kasih hadiah dong.''


''Hadiahnya kan udah.'' Pada tempatnya, Bapak sedang menikmati segelas kopi hitam. Asap-asapnya naik dan dibawa udara. Bising kendaraan berlalu-lalang di depan tempatnya bekerja sampai di pendengaran Aini.


''Hadiah apa? Adek belum dapet hadiah, Pak.'' Ia merengek. Di sampingnya, Ibu hanha tersenyum-senyum. Najla turut menyimak perbincangan itu.


''Jangan berharap dikasih hadiah sama Bapak karena hafalan Adek di juz 30 udah selesai. Minta hadiahnya sama Allah aja. Hadiah yang Allah kasih pasti lebih bagus dan lebih besar dari apapun.''


Salivanya terteguk pelan. Sedikit muram karena amat mengharap Bapak setidaknya akan pulang dan membawakan buah anggur lagi.


''Iya, Pak.''


''Bapak pulang pas Adek udah kelulusan SD. Adek bakalan Bapak anter beli buku, daftar sekolah, berangkat sekolah di hari pertama masuk. Insya Allah pulang bawa buah anggur juga.''


Ini yang Aini inginkan. Sederhana saja: Bapak pulang, membawa buah anggur, menikmati hari-hari bersamanya. Sungguh, rindu adalah alasan utama hal sederhana itu tercipta pada keinginan Aini. Tentu, tercipta pada keinginan Ibu pun jua Najla.


''Yeay! Oke. Ya udah Bapak gentian ngobrol sama Ibu sama Teteh ya. Adek mau lanjut ngerjain PR. Assalamualaikum. Emuach!''


Kecupan yang mendarat di badan ponsel Ibu. Hangatnya sampai di Pulau Jawa, pada pemilik hati lelaki pujaannya yang dipanggil 'Bapak'.


Berpindah jua ponsel itu kini kepada Najla. Tak seorang diri, ia memperbesar volumenya sehingga bisa berdua dengan Ibu. Membahas segala hal tentang sekolah Najla, pekerjaan Bapak, pekerjaan Ibu. Hingga akhirnya sambungan telepon diputuskan usai salam penutup dututurkan. Di sana, Bapak merebahkan dirinya pada bangku panjang di depan kosan. Meluruskan tulang-tulangnya yang sedari pagi diajak membungkuk. Menatap langit yang sepi dari keberadaan banyak kejora.


Kala itu pula, seisi rumah Najla mulai memejamkan mata. Seorang saja matanya yang dipaksa terpejam, gelisah hatinya mendera. Ketakutan untuk menyambut hari esok sudah membayangi sejak detik ini. Padahal, semua ia lakukan untuk menutupi perasaan itu. Tanpa pernah berpikir berhasil membawanya pada konflik yang tentunya tak pernah diinginkan.


***


Bersambuunng.


Kali ini, siapa yang patah hati karena retaknya kisah Najla dan Ashad?

__ADS_1


Wassalamualaikum.


__ADS_2