Atas Nama Cinta

Atas Nama Cinta
38.


__ADS_3

Karina menunduk sambil menunggu, semoga Bagaskara bermurah hati memaafkan nya. Di sel tahanan ia duduk meringkuk di sudut.


Sudah hampir satu bulan ia dibalik jeruji tak ada yang menjenguknya, bahkan pengacara yang disewanya jelas menyerah saja akan keputusan majelis hakim nanti.


Tak ada yang dilakukannya untuk membelanya, darah dan air seni hasil tesnya murni tak ada kandungan obat juga test kejiwaannya sehat.


"Perbuatan anda lakukan dengan sengaja dan anda memperhitungkan segala waktu dan kegiatannya korban. Ada yang mengenali ciri-ciri anda hilir mudik di sana juga ada cctv yang membenarkan keterangan saksi." Jelas pengacara nya.


Seperti rohnya di cabut dari raganya Karina meruntuki nasibnya sendiri, gelap mata karena cemburu. Dan amarahnya saat di ceraikan dari Bagaskara.


"Seharusnya aku membujuknya, merayunya. Dan bertindak lemah lembut. Bodohnya kamu." Batin Karina.


"Seharusnya aku tak menuruti emosi ku, melakukan hal ini. Sudah miskin di hina sekarang masuk bui. Sungguh mengenaskan nasib mu Karina. "


Lagi-lagi Karina memaki dirinya sendiri dalam keadaan terpuruk, mudah terbakar emosinya. Seharusnya dia berpikir jernih. Di acuhkan Bagaskara dia seharusnya tidak membuat nya nekat mengambil cara ekstrim dan gegabah seperti ini.


Nasi sudah menjadi bubur apa lagi yang bisa kau lakukan Karina. Mau ditangisi juga percuma lelaki itu sudah pasti tak memperdulikan nya. "Maafkan aku Bagas." Gumamam sedihnya.


Di apartemen. Larasati menyiapkan makanan untuk semua dibantuin Galuh dan Cicilia. Akbar dan Bagaskara duduk di sofa, bel pintu terdengar.


Akbar membuka pintu," Tralala.. Desert tiba." Seru Davis. Ketiga wanita di ruang makan keluar tersenyum lebar menyambut lelaki rupawan itu. "Buat bidadari ku.. Red Velvet cake, puding mangga beserta segelas matcha."


Davis menyerahkan paper bag berisi makanan kesukaan Larasati dengan sikap manis nya dan sisanya diberikan kepada Akbar dengan kasar.


Bagaskara menyipitkan matanya, jelas istri nya dipuja oleh pemuda tampan dan lebih muda darinya. "Kau tak sedang merayu istriku kan?" Tuding Bagaskara.


"Emang lagi usaha. Kenapa ? Cemburu? Kenapa juga kau tak mati tertusuk?" Decak sinis Davis. Tentunya mendapatkan pukulan di lengan kekarnya oleh Larasati.


Akbar dan yang lainnya terperangah melihat kelakuan Davis yang berani, Bagaskara menahan kesal di buatnya.

__ADS_1


"Makan dulu sayang, jangan lupa obatnya." Larasati mendekat ke Bagaskara dan mengelus lengannya dan mengecup bibir suaminya.


"Suapi ya, sayang?" Pinta manja Bagaskara manja. Larasati hanya mengangguk, merangkul pinggang suaminya mengajaknya ke ruang makan.


Davis meliriknya sekilas di balas senyuman kemenangan Bagaskara. Ketiga rekannya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkahnya mereka. Makan bersama merayakan kepulangan lelaki itu setelah dinyatakan sehat oleh dokter boleh pulang.


Bau sup ikan menguar begitu tutup panci dibuka. "Mhm baunya harum lezat keliatannya." Puji Davis bersemangat.


Mereka duduk bersama melingkar makan sup ikan kakap, gorengan, bacem tahu tempe sambal terasi, sayur bening.


"Ayo, makan semuanya hanya masakan kampung saja semoga suka." Ucap Larasati.


"Apapun masakan mu lezat aku suka." Jawab Bagaskara yang menerima suapannya Larasati.


" Bagaimana dengan perkembangan kasusnya?" Tanya Davis. " Semuanya sudah di selidiki, Karina pelakunya. Mungkin emosi karena aku ceraikan dia, sepihak." Bagaskara memulai angkat bicara.


"Dia penyuka lendir, wanita murahan. Aku sungguh tidak menyangka jika dia berbuat seolah-olah dia perhatian dan mencintai ku."


"Nyatanya, semuanya palsu. Aku lega pada akhirnya semua nya sudah jelas dan aku pasti memperhitungkan segala perbuatannya. Dia sudah membahayakan keselamatan Larasati."


"Sudah sepantasnya dia di hukum setimpal sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku." Bagaskara menjelaskan tentang hubungan mereka, yang terjalin lama.


Dari awal mereka bertemu hingga ke jenjang pernikahan mereka. "Dia sudah berani berbohong saat pasca insiden kecelakaan maut yang di alaminya."


"Dia pura-pura amnesia, kala itu. Mengintimidasi Larasati, sudah pasti tak bisa aku maafkan semua perbuatannya, memang sudah dia niatkan. Demi kebaikan dia sendiri."


"Mereka akan mengabarkan perkembangan lebih lanjut, aku tak akan menjenguknya. Tak ada empati terhadap nya. Saat dia dengan tanpa rasa bersalah mempermainkan perasaan kami." Bagaskara menarik nafasnya.


"Biarlah semua berjalan dengan sendirinya." Bagaskara menjelaskan tentang keadaan Karina. Larasati hanya terdiam sambil menyuapi Bagaskara juga dirinya sendiri. Bahkan saat Larasati menghabiskan desert yang dibawakan Davis tanpa sisa setelah itu tanpa rasa bersalah dia bersendawa keras.

__ADS_1


Semuanya terdiam mendengar suara ajaib istrinya Bagaskara, detik berikutnya semuanya tergelak. "Bumil rakus tak sopan tahu!" Umpat Akbar.


Jangan ditanya bagaimana merahnya wajah Larasati yang menahan malu karena tingkah lakunya sendiri. "Aku heran kamu makan rakus, tapi yang besar hanya perut mu saja!" Kata Galuh.


Larasati hanya terdiam mendapatkan elusan di kepalanya. "Mau gemuk atau kurus yang penting sehat juga selamat nanti jika melahirkan anak kami." Sahut Bagaskara.


"Amiin." Jawab semuanya kompak. Galuh dan Cicilia membereskan meja juga mencuci perabot makan yang digunakan mereka. Sedangkan Bagaskara, Akbar, Davis dan Larasati duduk berbincang sejenak di ruang tamu. Ngobrol ringan tentang seputar rutinitas kampus dan tugas-tugas nya. Setelah ke-dua orang itu bergabung dalam pembincangan. Tak lama mereka pun berpamitan.


Bagaskara sehari masih banyak lagi istirahat, jahitan agar cepat sembuh dia dilarang banyak bergerak. Larasati membantu menyeka air sebagai ganti mandi.


Di kediaman Atmaja. "Jadi Bagaskara sudah diijinkan pulang? Apa tak sebaiknya kita menjenguknya Pa?" Tanya Adista


"Entahlah, aku pesimis dengan segala penolakan Larasati padaku . Aku ragu untuk menemui nya lagi ". Jawab Heru


"Kita harus mencobanya, kemarin dia tak mengomentari tentang aku saat aku menunggu Bagaskara." Sela Dirga.


"Kau harus mencobanya Mas. Siapa tahu kita bisa bersama lagi, apa dia akan selamanya membenci mu?" Bujuk Adista.


"Bagaimana cara nya dia putri mu, dan kebetulan dia istri Bagaskara. Sebuah keberuntungan bagi keluarga kita. Bagaskara sangat protektif terhadap Larasati." Bantahan Heru tak mematahkan keinginan Adista.


"Bagaimana pun kuncinya ada pada putri kita Mas." Adista menjelaskan tentang keadaan nya, agar suaminya mengerti tentang keadaan mereka.


"Baiklah kita akan mencoba nya, kita berdua saja dulu. Dirga kau lain waktu ya? Kau tahu aku takut penolakan nya lagi, dan mungkin akan menyakiti mu." Heru menatap wajah Dirga.


Heru merasa bersalah karena cinta pertama putra nya adalah pada adiknya sendiri. Sungguh rasanya ingin mengganti kesakitan hatinya Dirga, semuanya adalah salah Heru yang berupa keisengan belaka.


Namun berakibat fatal, membuat orang-orang menderita bukan hanya dia namun semuanya. Orang disekitarnya ikut terseret rasa sakitnya. Terlebih putrinya yang tak berdosa.


Sampai teganya mereka melakukan itu pada Larasati, dia yang orang tuanya saja tega apalagi kalau orang lain itulah yang dipikirkan nya.

__ADS_1


__ADS_2