
Bismillah. Assalamualaikum. Selamat membaca.
Jika
Jika
Jika
Dan jika
Satu alibi untuk jika
Karena
***
''Satu hal remeh di hatimu, tapi tidak dengan hatinya.''
(Lampung, 8 Desember 2018)
***
''Cemen sampeyan, Ash. Masa langsung jatoh.'' Sepanjang langkah itu belum sampai di tempat tujuan, Jojo setia menebar kata-katanya.
''Ya bagaimana? Ini mah bukan masalah cemen, namanya aja yang main emosi sama sabar mah beda.''
''Jadi sampeyan main sabar?''
''Mungkin.''
''Hhh. Siku sampeyan makin banyak darahnya tuh. Rada cepet jalannya, nanti kehabisan darah.''
''Lebay lah. Ini juga kakiku kan keseleo dikit. Gimana mau jalan cepet atuh.''
Menggerutu saja tak henti-henti. Satu mulut berujar, mulut satunya menanggapi. Jojo mulai geram dipikir-pikirnya entah jarak UKS dengan lapangan yang memang terbentang bak tengah laut dan tepiannya, atau karena langkah siput yang sedang mendominasi diri mereka.
''Tak gendong wae lah. Sampeyan naik ke punggungku!'' Tubuhnya yang tak lebih pun tak kurang besarnya dengan Ashad sudah berjongkok. Sampai-sampai tertaut jua kedua alis mata Ashad. Sedikit meringis, perasaan geli bertandang.
''Gak. Malu lah, Jo. Nanti kata murid lain apa? Masa bilangnya jeruk makan jeruk?''
''Garing ah komedi sampeyan. Cepet aku gendong!''
Lainlah dilangkah maksudnya menuruti perintah Jojo, ia melenggang jauh tanpa permisi. Bahasa tubuh jawaban penolakan sebagai perwakilannya. Dengan langkah yang terbata-bata dibawanya, karena menahan suatu nyeri di bagian pergelangan kaki sebelah kanan. Sudah tak banyak perintah, jatuhlah Jojo memberikan tindakan. Sigap membawa tubuh Ashad di punggungnya untuk sampai UKS. Antara malu dan perasaan takut kekalau Jojo tak kuat hingga berakhir jatuh meletup-letup lah di kepala Ashad.
Lantas pemandangan yang sudah bisa diterka itu menciptakan banyak pandangan. Mulut-mulut tergelak tawa menatap Ashad yang memerah wajahnya karena malu dan takut jatuh kembali, dan Jojo yang menahan-nahan diri agar tak rubuh sebelum sampai tempat tujuan.
''Eh, itu Ashad sama Jojo kan?'' tanya Mina. Keluarnya ia dari toilet bersama Ismi sudah disuguhkan pemandangan yang teramat mengocok perut.
''Hahah. Aduh jangan-jangan mereka homo!''
''Kayaknya karena Ashad jatuh terus digendong Jojo deh.''
''Ya elah. Apa fungsi tandu kalau begitu? Aneh memang mereka orang itu.''
Di sana, dalam ruangan yang tengah disinggahi beberapa bankar berlapiskan kasur dan sprei putih, serta merta lemari yang kekalau dibuka membuat ujung hidung merinding dengan bau obat yang menyengat. Di sana jua, Ashad sudah disambut beberapa insan anggota PMR berkerudung instan menutupi dada. Keterkejutan berada di wajah mereka, mendapati Ashad masuk UKS. Terlebih, hampir bergelak tawa melihat pemandangan langka, adegan digendong sesama teman lelaki.
''Kenapa? Sini-sini, biar kita obati,'' kata seorang gadis seraya ditepuk-tepuknya sebuah bankar di dekat jendela. Lain dari Ashad menuruti ketua PMR itu, ia memilih menjatuhkan pelan tubuhnya pada sebuah sofa hitam di ruangan tersebut.
''Enak, tho kalau digendong?''
''Untung aku gak jantungan.''
''Heleh.''
''Mana, Dek yang luka?'' Sedikit nada ketua PMR itu bernada menggoda. Bergidik, terlebih lagi ia enggan dicampur baurkan kulitnya dengan gadis yang bukanlah makhramnya.
''Jo, kamu aja atuh ya, yang ngobatin?''
''Lha? Ndak bisa aku, Ash.''
''Cepet, itu darahnya makin keluar deras. Sini!'' Gadis itu meraih tangan Ashad.
''Eh. Maaf, makasih. Bisa tolong taruh obatnya di kursi aja? Aku bisa ngobatin sendiri.'' Sedikit Ashad memanjangkan jarak dari gadis itu usai menepis tangan berupa api itu. Angkuh dan teramat kusut wajahnya. Sudah hampir merah padam karenanya gurat-gurat benang merah di wajah sudah menampakkan diri.
__ADS_1
''Jo! Tolong atuh obatin tangan aku.''
''Repot banget tho.''
Ketua PMR tadi berlalu. Membawa segenap perasaan pilu dan malu, Ashad menolaknya mentah-mentah dengan cara seperti itu.
Mau tak mau, bergerak jua Jojo membuka kotak P3K, dibersihkannya dahulu luka itu dengan cairan alkohol, lantas mulai diberilah cairan obat merah. Sesekali Ashad meringis, mendapati pengobatan dari Jojo yang tak ada lembut-lembutnya sama sekali.
''Ah, pelan-pelan atuh, Jo!''
''Ini juga pelan-pelan, Ash.''
''Yang ini nih.'' Ashad menggerakkan telunjuknya ke arah luka yang urung terkena titik cairan obat merah.
''Nggih. Sabar lah.'' Dituangkannya lagi cairan obat merah itu dengan kapas baru. Jojo menempelkannya dengan asal pad letak luka itu berada serta merta dengan tenaga yang lumayan.
''Jojoooooo!!! Astaghfirullah.'' Sistem sarafnya bekerja cepat. Tubuh Ashad seketika bangkit menjauh dari jojo. Lukanya kian perih saja karena Jojo tekan.
''Maaf-maaf. Ndak sengaja aku.''
***
Kini, perasaan anyel yang cukup mengemas kuat batinnya masih terbawa-bawa. Seakan meratapi langkah kakinya yang seorang diri saja. Murid-murid sudah berhamburan sejak tadi. Sebelum itu, dipilihnya saja berdiam diri di depan ruang olahraga dekat perpustakaan. Hingga kondisi benar-benar sepi, barulah bangkit untuk pergi.
''Fix sendiri itu gak enak. But, for me hari ini adalah hari terburuk dengan tidak bersama mereka. Mereka tidak mencari atau bahkan menghubungiku. Ini ya, arti sahabat?'' Diratapinya jua, ruang duka yang kini menggerogoti. Seraya menatap dalam-dalam ponsel merah mudanya yang sengaja dihidupkan dan membuka aplikasi whatsApp.
Melangkah lagi kaki itu. Namun suasana di koridor jalur kiri sepertinya masih ada kehidupan. Ada langkah kaki yang sama tetapi lebih berisik. Gemuruh kata-kata menyelinap lembut pada ruang telinganya dan pelan-pelan ia menarik diri. Kian dekat, pita suara insan dari koridor kiri kian tegas. Bergegaslah menarik diri dan bersembunyi di belakang mading.
''Mereka belum pulang? Astaga!''
Mereka kian dekat. Dekat. Lantas benar-benar dekat. Terjeda langkah mereka itu di depan mading.
''Sebentar. Aku ada telepon masuk.'' Miba bersegera mengambil ponselnya di tas.
''Iya, halo assalamualaikum.'' Mina mendebgakan dengan baik suara dari ujung sana. ''Oh, iya. Ibu. Ini Mina udah mau pulang. Tungguin ya.''
Terputuspah sambungan telepon Mina dari Ibunya.
''Ada apa?'' tanya Ismi.
''Ooh.''
''Ya udah ayo atuh kita cepetan pulang. Kasian Ibunya Mina.''
''Yuk!''
Tiga jemari itu saling terkait membentuk rangkaian. Rangkaian pahit hingga-hingga pandangan tajam berada di mata Aurel. Ia amat sengit menatapnya. Mereka berlalu, tanpa beban di air muka untuk sekadar melihat wajah risau hari ini tanpa Aurel. Kendati Aurel sesungguhnya teramat risau karena tak bersama mereka. Pelan-pelan tiga punggung yang masih ia sayangi sampai saat ini itu pergi dan menghilang. Ponselnya berbunyi, telepon tersambung.
''Halo.''
Aurel tersenyum. Sebuah suara yang jarang ia perdengarkan, di saat langit hatinya tengah mendung sebuah cahaya matahari berhasil menerobos masuk. Membuat cerah lagi air mukanya.
***
Dua gelas es mokacino tersaji di atas meja. Sekembalinya pelayan kafe tersebut ke belakang, dua insan yang kini tengah sama-sama mengaduk es itu membisu. Sudah sepuluh menit berjalan lantas hanya membiarkan lidah mereka membeku saja. Sekadar sapaan 'apa kabar' sebagai pembuka di awal pertemuan ini lagi.
''Hm, Rel.''
''Dav.''
Keduanya hampir bersamaan dalam memanggil. Tersenyum. Diam. Lantas semua itu berjalan tanpa otot-otot yang rileks adanya. Aurel membuang pandangan usai menyedot sedikit es mokacino. Berlalu dilihat-lihatnya jua langit kafe yang digantungi lampu warna-warni, meja-kursi yang dibuat dari sisaan potongan pohon besar. Didesain sederhana, tetapi vernisnya berhasil membuatnya tampak mahal.
''Aurel, aku mau minta maaf.''
Masih dalam keadaan menerjemahkan suasana kafe Aurel mendapati Dava berbicara demikian. Kaku kepalanya diputarkan ke arah Dava.
''Karena apa?''
Biar dikata sudah tahu apa salah Dava, karena telah memutuskannya tanpa sebab, Aurel ingin tahu saja apa yang membuat lelaki itu pada akhirnya tunduk kembali.
''Ya, karena udah nyakitin kamu, Rel.'' Lembut sekali Dava dalam bertutur kata. ''Aku minta maaf, ya.'' Sekali ini kian lembut jua. Hingga tak sampai hati Aurel untuk membencinya. Suara Dava, sikap, dan pancaran matanya diam-diam berhasil menerobos lagi sesuatu yang telah diberi tebing tinggi nan besar. Pelan-pelan tangan Aurel yang tergeletak di meja, diraih jua oleh Dava. Getaran yang lama hilang, datang kembali. Menelusup pelan-pelan, mematikan perasaan benci, pun jua menghidupkan lagi suatu asmara tanpa tuntunan agama.
''Aku minta maaf udah mutusin kamu tanpa sebab.''
__ADS_1
Bar tertunduk saja kepala Aurel. Genggaman Dava yang sarat makna menggenggam kembali hatinya. Lantas berakhir, sebuah kecupan yang cukup lama di punggung tangannya. Membulatlah kelopak mata Aurel.
''Maaf. Maafkan aku, Sayang.''
'Sayang'. Kata itu berputar-putar mengusik lagi. Sayang. Sayang. Sayang. Sayang kalau dibuang? Begitu kah maksudnya? Alangkah demikian bagusnya pikiran Aurel, hanya saja tidak. Ia tidak sampai berpikiran demikian. Gelora asmara usai sudah membuatnya menarik hati kembali untuk diisi Dava. Ia tersenyum, lantas berkata, ''Kamu masih sayang sama aku?''
''Kenapa tidak?''
''Fotomu bersama wanita yang di instagram itu apa? She is your girl friend?''
''Dia saudaraku, Rel. Oh kamu cemburu? Makasih.''
''E-enggak!''
''Iya juga gak apa-apa.''
''Hih.''
''Kita balikan lagi, ya?''
''Maksudnya?''
''Pacaran.''
Sebuah kata yang tak tersambung kembali dengan kata-kata lain di belakangnya. Tertanda rekaman di suatu kisah berusaha merobek perasaan Aurel, kekalau pacaran itu DOSA. DOSA. DOSA. PEGANGAN TANGAN ITU ZINA. Semua kekata yang Najla cetuskan meletup lagi pada padang ingatannya.
Gadis itu menarik tangannya. Isi kepala tak sampai menembua isi hati. Perihal cinta yang dosa. Perihal cinta yang palsu. Ia akan beranjak pergi, setelah menyerahkan sebuah undangan dalam acara tarinya satu bulan lagi di Bandar Lampung. Biarlah. Biar undangan itu tertambat untuk Dava. Ingin hati membuktikan benar-benar mencintai lelaki itu, pun jua sedikit ingin menonjolkan diri kekalau ia teramat cantik nan anggun saat menari.
''Aku berharap banget kamu bisa datang,'' katanya.
''Undangan apa?''
Aurel berlalu. Sampai sekian langkah, Dava menyerunya kembali.
''Aurel!''
Tak didapatinya Aurel membalikkan badan. Sudah masuk mobil, dan meninggalkan seberkas tanya pun jua digantungnya perasaan Dava.
Malamnya, sungguh tak bisa terpejam jua mata Aurel. Sebagaimana asmara itu mengusiknya tak henti-henti. Di pelupuk mata dan hati, ia teringat kata-kata Dava. Di pelupuk mata dan hati, ia tak sampai tersentuh apa-apa saja pemicu dosa.
Kling. Sebuah chat whatsApp bertandang.
Sujala Squad
Anda telah ditambahkan
Najla
''Assalamualaikum. Aurel, kamu tadi teh gak berangkat sekolah ya? Kenapa atuh? Sakit?''
Ismi
''Iya, kenapa, Rel? Kangen tau. Gak ada kamu orang jadi gak ada kawan cekcok sama aku.''
Mina
''Aurel. Maaf ya kalau kita ada salah.''
Najla
''Iya. Maafin atuh ya, Rel? Oya selamat ya kamu LOLOS!!! Kita ikut seneng tau.''
Ismi
''Aaaa iya betul. Aku pun minta maaf ya. Dannnn akhirnya si bule KW Aurel ini bisa jadi penari terhormat buat nyambut Pak Presiden.''
Sedemikian banyaknya huruf-huruf itu tertata di grup. Ia urung menampakkan diri dengan frasa-frasa bermakna suka, duka, atau biasa. Badan gelas berisi cokelat hangatnya ia genggam perlahan. Sebelah tangannya masih menggenggam ponsel. Berkata jua, ''I Miss you so much. Tapi---.'' Diseka lah sesuatu yang telah membentuk rinai di matanya. Satu titiknya jatuh di meja makan itu.
Aurel
(Mengirimkan sebuah gambar)
***
__ADS_1
Bersambuuunng. Maaf ya lama banget updatenya. Satu minggu!!! Katakan bagaimana perasaan kaliam membaca bagian ini? Please, satu minggu itu berhasil membuat kepalaku asing untuk merangkai kata. :(
Terima kasih masih betah baca. Wassalamualaikum.