
Suasana cafe ramai dengan pengunjung, ruangan yang terbagi menjadi beberapa bagian outdoor dan indoor. Dengan tema yang berbeda, diluar sana outdoor bertema remaja juga ada hiasan dindingnya dapat digunakan Selfi.
Didalamnya terbagi menjadi beberapa bagian, keluarga, untuk couple yang kasmaran, bersantai juga untuk keperluan kantor jika ada acara rapat kerja.
Disesi ruang keluarga telah disewa oleh Davis yang duduk menyamping mendampingi balita dihadapannya ada Dirga, Akbar dan Bagaskara.
Mereka dipertemukan kembali di kota kelahiran Davis. Atas idenya dan semuanya di fasilitasi olehnya, sengaja mengadakan acara reuni.
Sedangkan pasangan mereka bergerombol sendiri di sofa panjang empuk dan besar di sudut ruangan itu, sedangkan sisi lain ada tempat bermain anak-anak.
Seperti mini papan seluncur, ayunan dan aneka mainan anak-anak balita. "Seneng banget bisa kumpul bareng. Tak kusangka kau menikah dengan Davis. Oh, Allah maha mengetahui apa yang terbaik untuk umatnya."
Larasati menatap Galuh yang mengelus perut nya yang besar. Davis tak mau memakai kontrasepsi karena melihat ibunya yang lama hamil dia pikir Galuh pun sama.
Laki-laki itu ingin keluarga besar dalam jarak anak pertama dan kedua yang berdekatan jika diijinkan memiliki nya. Galuh tak keberatan dengan itu.
Sedangkan Larasati sudah memiliki dua anak laki-laki dan perempuan, " Terimakasih juga kau masih mau menjaga hubungan persahabatan kita walau jarak jauh." Galuh memeluk Larasati terharu.
"O, ya Kakak datang sama Dirga kan dan kamu sama Akbar?" Galuh menoleh ke dua orang wanita cantik di depan nya. Mereka tadi hanya bersalaman dan menyebut nama saja.
"Aku Anisa, dia anak kedua ku dengan suami pertama. Dan Mas Dirga tak keberatan dengan itu. Dan ini Alfian anak ketiga ku dengan mas Dirga." Jawab Anisa memperkenalkan diri.
"Zia kak, aku baru hamil muda tiga bulan. Anak kami Mas Akbar dan aku " Kata Zia wanita cantik itu tersenyum manis memamerkan gigi nya.
"Aku Larasati dan dia Galuh. Anak pertama ku di sana dan kita semua sedang hamil." Larasati tergelak sambil mencomot makanan.
__ADS_1
"Nampaknya para wanita sangat menikmati me time nya. " Celetuk Bagaskara yang tak lepas menatap Larasati.
"Ya, biar saja mereka saling berbagi tentang dunia ibu-ibu rumah tangga, juga mengenang masa lalu." Sahut Davis.
"Makasih kado nya kak Bagaskara, sampai-sampai dipaketkan segala. Bumil ku suka banget kadonya." Kata Davis dengan tulus menatap Bagaskara.
"Sama-sama. Kalian juga mensuport kita dalam keadaan terpuruk dan senang harus dibagi kan ? Kalian selalu ada di sisi Larasati jadi sudah sepantasnya aku balas baik ." Bagaskara mengelus pipinya bocah laki-laki berwajah tampan duplikat Davis.
"Tak menyangka ya, kita bisa berdamai setelah ada pertengkaran sengit diantara kita ", Akbar menatap Dirga yang menatap kearah para wanita duduk dan mengobrol.
"Bagaimana lagi kita tak mungkin memaksa nya semua keinginan kita, waktu lah menyembuhkan berbagai macam luka kita." Ucapan Dirga membuat semua terdiam.
"Aku minta maaf jika sudah melukaimu juga keluarga mu. Bagaimanapun aku hanya menjaga nya saja dan ingin bersamanya. Setelah apa yang kurasakan dan bagaimanapun aku tetap cemburu pada semua lelaki disekitarnya sering menatapnya lapar."
"Aku memahaminya, kak. Kau sudah tua memiliki istri muda cantik tentunya kau akan cemburu pada semua lelaki disekitarnya." Sahut Akbar.
"Bagaimanapun aku hanya mengagumi sosok Larasati, ternyata dia adik lain ibu. Dan kemudian aku kenal Cicilia dan Anisa. Wanita tegas dan tegar. Bertahan hidup demi sekitarnya walau sesakit apapun itu."
Dirga menatap Anisa Wijayanti, yang lain memahami perasaan Dirga. Walaupun pertemanan mereka tidak mengekspos semuanya namun gestur antara Cicilia dan Dirga kala itu sempat tertangkap oleh rekan nya.
"Terimakasih, sudah menjadi pahlawan bagi orang yang membutuhkan itu. Aku salut kau terjun langsung dan aku hanya bisa memberikan dukungannya lewat belakang saja." Lanjut Bagaskara.
"Davis juga melakukan hal sama cuma fokusnya ke anak-anak yang kurang beruntung." Lanjut Akbar.
"Kau juga hebat, kau membantu para karyawan mu dan kesejahteraannya. Jadi kita semuanya sama di sini." Sahut Dirga.
__ADS_1
"Mari bersulang dan menjaga silahturahmi antara kita agar bisa membantu orang di sekitar kita. Mereka yang membutuhkan itu apapun itu wujudnya. Selagi masih mampu dan bisa mengapa tidak?"
Davis mengangkat gelas minuman, walaupun minuman ringan tak beralkohol jelas tergelak sambil mengikuti gerakan lelaki itu.
Saling mengadu gelas minuman mereka bersulang," Demi persaudaraan kita kekal sampai anak turunan kita." Celetuk Akbar.
"Amin." Semuanya menyahut nya dengan senyuman bahagia.
"Istri mu, bagaimana kalian bertemu?" Tanya Bagaskara penasaran. "Dia wanita berstatus istri, korban kdrt suaminya. Mereka karyawan di perusahaan Papa."
"Pernikahan nya dirahasiakan agar dapat nafkah, parahnya sang suami masih mengaku lajang. Berkencan dengan wanita, penyuka lubang surgawi dia. "
"Laki-laki itu pengecut, nyusahin Anisa, tak diberi nafkah tapi tetap di suruh memberikan keturunan untuk keluarga mereka. Demi bayar Budi, karena keluarga mereka memberikan uang operasi ayah Anisa."
"Aku tak menyalahkan Anisa, jadi begitu aku mengetahuinya aku langsung eksekusi dia dan keluarganya tak tersisa. Geram setengah mati rasanya ingin membunuhnya!" Jelas Dirga.
"Jadi tresno jalaran saka kulino? Sama seperti aku dong" Sahut Akbar. Semuanya tergelak sambil tersenyum.
"Aku juga dengan Galuh alurnya sama seperti kalian, dan kalian tahu orang tua kami bersahabat juga pernah menjodohkan saat kami masih orok." Davis menceritakan tentang asal pernikahan mereka.
"Wah luar biasa Allah maha mengetahui segala sesuatu nya." Bagaskara kagum dengan cerita teman-teman istrinya.
"Jadi disinilah kita bahagia bersama dan selama nya bersaudara." Akbar mengangguk sambil mengangkat gelasnya diikuti lainnya.
"Cheers." Seru mereka bersamaan. Anak-anak bermain di tempat area bermainnya dan mereka saling berbincang tentang kegiatannya masing-masing. Berbagi cerita lucu dan bahagia bersama dengan orang tercinta.
__ADS_1