
Bismillah. Assalamualaikum. Selamat membaca.
Biar dilalu
Lalui sudahlah
Usik janganlah
Dikubur sudah
Usik lagi
Angin memang hobi bercanda
***
''Aku enggan mendarat pada keramaian hati lelaki tak sepandang darah yang katanya cinta, karena aku hanya ingin menerjemahkan kata cinta ialah keindahan bukan kerusakan.''
(Lampung, 14 Oktober 2018. )
***
Sekali lagi suara tegukan itu mengempas sampai gendang telinga. Ujung belakang kain kerudungnya itu sempat berdansa, duet bersama sang bayu di bawah pohon mangga depan kelas. Sepasang mata bulatnya itu dilebar-lebarkan jua, tak sabar ingin lekas tiba di rumah lantas membaringkannya dari pandang-pandang dunia. Matematika berhasil membuat terkantuk-kantuk. Apalah arti api saat hampir menuju ending soal-soal matematika? Najla otaknya bagai tenang di atas air. Bukan perihal tiada gelombang mencari nilai x atau y, melainkan tak pernahlah ia memusingkannya hingga larut. Kekalau bisa, bersua jua jawaban dengannya. Kekalau tidak, ia tiada henti berkutat dengan angka-angkanya, kendati demikian tiadalah arti benang kusut ataupun api mendadak hidup di pikirannya.
Sejenak ia mengistirahatkan pikiran yang masih jernih itu sebelum kembali ke rumah. Berada di dalam kelas usai soal-soal itu dilahap habis, membuatnya tetap memilih menunggu sebelum mengumpulkan jawaban. Tersisalah waktu tiga puluh menit antara heningnya otak. Berulang-ulang kejenuhan dan kantuk dibunuh dengan membolak-balikkan kertas soal.
''Hei!'' Seorang Gadis meluncurkan gerak tangannya menepuk pundak Najla.
''Eh. Assalamualaikum, Mina.''
''Waalaikumussalam, Najla. Hehe.''
''Kamu belum pulang juga, Na?'' Gerak bola matanya melirik kepada Mina.
''Belum. Buktinya aku masih sama kamu sekarang.''
''Ish. Gimana tadi Matematikanya? Lancar?''
''Ya gitu deh. Lancar gak lancar tetap aku isi semuanya.'' Asma mengembuskan napas. ''Aku tahu tadi kamu udah selesai ngerjain Matematika sebelum tiga puluh menit waktu habis kan?''
''Iya.''
''Kenapa enggak langsung keluar?''
''Kayak baru kenal sama aku aja, kamu mah.''
''Ya deh. Jawabannya akan tetap sama ketika satu tahun terakhir ini kamu mulai aktif banget belajar. Kamu takut dianggap pinter dan takut hasilnya gak sesuai. Iya, kan?''
__ADS_1
Langit-langit berruang hampa suara. Sebab kaki-kaki banyak yang sudah beranjak membawa diri. Siapa saja, entah itu murid kelas 9, para pengawas, guru, penjaga koperasi, atau ibu kantin. Barangkali memang tinggal mereka berdua saja di sana. Antara persemayaman serta pergulatan suasana itulah Najla mengangguk. Mengiyakan perihal membenarkan terkaan Mina untuknya. Gadis di sebelahnya itu mendadak bangkit. Sedikit menjulur-julurkan kepala pada pemandangan rumput liar di dekat jalan, tepat depan gerbang sekolah. Sebuah motor matic berdiri di tepian bersama seorang Lelaki.
''Aku duluan ya. Bapak udah dateng jemput aku.'' Dibenahi jua posisi kerudungnya yang dirasa megganjal tali tas itu untuk menggantung di bahu. ''Kamu langsung pulang aja! Atau nunggu langitnya redup?''
''Kayaknya gitu. Sebentar lagi juga dzuhur. Kamu hati-hati ya!''
''Siap! Assalamualaikum.''
''Waalaikumussalam.''
Sepeninggal Mina, Najla tak usahlah lagi meniatkan diri berdiam di sana untuk sekadar menunggul langit sedikit memudarkan panasnya. Menjelma jua niatnya itu untuk bertandang pada salah satu masjid di dekat pasar. Sekolah Menengah Pertama yang memang didirikan pada lokasi yang strategis. Tak lama, kedua kakinya sudah kembali memutar-mutar pedal sepeda. Matahari kian menggeliat saja dirasanya. Lalu-lalang kendaraan di jalanan pasar menipis. Manusia-manusia tentu banyak yang memilih bersembunyi di bawah atap rumah masing-masing. Keluar rumah kekalau ada keperluan saja.
Tibalah penyangga sepeda Najla kembali ditugaskan menopang badan sepeda. Beberapa insan yang meraup rezeki dengan berdagang di pasar mulai berdatangan ke rumah Yang Mulia itu. Melepaskan penatnya dari dunia, menyapukan air suci itu sebagai syarat sempurnanya salat, pun jua lantas melipat masalah-masalah atau angan-angan dalam dada dan kepala untuk diserahkan kepada-Nya. Manusia menjadi sang peminta-minta tentang apa saja di hadapan Tuhan-nya.
***
''Main masak-masakan yuk, Aini!''
Bocah yang diajak bermain itu masih menimang-nimang ajakan kawannya seraya menikmati es balon.
''Kita abisin dulu esnya! Nanti baru kita main. Gimana?'' tawar Aini.
''Oke.''
Dua buah papan yang digantungkan menggunakan tali tambang pada pohon rambutan itu mereka duduki. Terayun-ayun pelan sampai gerakannya membuat tangan Aini bergerak jua. Air esnya jatuh mengecup kerudung. Meninggalkan bekas bernoda. Kaki Aini masih jua ditapakkan ke tanah lantas diangkat, membuat ayunannya terus menghasilkan pergerakan. Fokusnya pecah seketika untuk terus bermain ayunan, saat retinanya sempat menangkap sosok Najla, Aini langsung menghentikan aktivitasnya. Berteriak menyudahi permainan hari itu kepada kawannya.
''Kamu teh ngapain, Dek?''
''Ish! Tadi adek liat Teteh pulang sekolah, ya udah Adek kejar. Pas Adek main tempat Popon.''
Tiada respons barang sekata saja. Usai dilepaskannya sepasang sepatu yang telah menyelimuti kedua kakinya setengah hari ini, Najla bersegera diri masuk rumah. Masih dibuntuti oleh Aini yang terus berenang-renang di dalam danau kerisauan. Semalam kemarin telah berlalu dengan menapakkan jiwa bersalah yang sampai detik ini jua tak hilang. Isi kepala selalu dikerubuti dengan wajah sang kakak. Menerka-nerka apalah air muka yang tertambah di wajah Najla kala soal Ujian Nasional itu dihadapi.
''Teteh,'' panggil Aini. Suaranya hanya meletup kecil. Takut dan bersalah bergemuruh paling besar di hatinya. Sampai suara Aini nyaris tertelan.
''Kunaon?''
*Kunaon\= kenapa.
''Teteh lancar?''
Hendak merumit jua isi kepala Najla. Gerakan tangannya untuk menyingkap tirai pintu kamar itu diurungkan jua. Bau keaneh-anehan saja yang membuntuti hati.
''Lancar apa? Kamu teh kenapa Dek? Aneh kitu.''
*Kitu\= gitu.
Kalimat-kalimat tersusun dalam bahasa hati saja. Lidah Aini kelu untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa lisan. Lama jua Najla menanti apalah kalimat yang hendak dilontarkan sang adik, alhasil menggeleng kepala sajalah ia lantas masuk kamar. Isi kepalanya larut dengan potongan-potongan kisah hari ini, sementara itu potongan kisah di malam lalu telah menjadi ampas dan jatuh pada kolam pembuangan. Sedangkan Aini sebaliknya. Isi kepala cenderung pada kisah di malam lalu, sementara untuk kisah di hari ini bagai lorong kosong saja. Jiwanya ribut dengan rasa bersalah. Ketakutan menenggelamkan permintaan maaf itu untuk diwujudkan.
__ADS_1
''Aduh, kumaha ngomong ka Tetehna nya?''
*Gimana bilang sama Tetehnya ya?
Aini masih menggali-gali ide yang enggan menyembulkan diri jua. Hingga sebuah mode laksana lampu terang-benderang sinarnya. Segaris senyumpun bertengger pada wajahnya yang bersih.
***
''Teh, Ibu kok belum pulang ya?''
''Biasanya juga pulang sore, jam empat atau tiga. Sekarang baru jam 2.''
''Terus Bapak kok belum nelfon kita ya, Teh?''
''Biasanya kalo nelfon juga malem. Pas Bapak istirahat.''
Di atas sebuah potongan badan pohon kecil yang tergeletak asal, Aini mencabuti rumput. Sementara Najla mengumpulkan dedaunan kering di sana menggunakan sapu lidi. Tiada tahunya Gadis berlesung pipi itu, bahwa Aini melontarkan tanya guna sebagai aba-aba atau pemanasan dari permintaan maafnya. Niat meminta maaf seraya berkalungkan resah. Najla tak menjamah getar-getar suara Aini kala bertanya dua hal yang lengang dari pemikiran kuat untuk mencari jawabannya. Sudah beberapa tahun ini, Ibu memang kerap kembali pukul 3 atau 4 sore karena menjajakan tempe buatannya pagi hari berkeliling desa, siang hari ke rumah para pengepul kacang kedelai, lantas kembali ke rumah. Sedangkan Bapak, sudah hafal jua Aini sebenarnya. Pangerannya itu selalu menghubungi di antara gemeretuk atap rumah yang mulai menggigil tersebab rindu bertandang tatkala tirai hitam dibentangkan di langit.
''Em, a-anu, Teh. Adek minta, minta maaf ya?''
Refleks, terbungkuslah konsentrasi Najla. Ia menodongkan tanya dengan lembut, tersirat melalui sinar mata.
''A, itu. Sebentar!'' Aini berlari ke dapur. Sesaat kemudian kembali membawa sepiring nasi goreng yang cukup menghitam. Gosong.
''Buat Teteh,'' ujar Aini. Wajahnya berlukis permohonan maaf dalam-dalam. ''Sebagai permohonan maaf Adek ke Teteh. Semalam kan Adek udah bikin Teteh marah. Soal-soalnya bisa Teteh jawab semua kan? Adek takut gara-gara semalam Teteh jadi gak fokus belajar, terus soal Matematikanya gak bisa Teteh kerjain.''
Sekalinya berani, kalimat seruntut serta merta sepanjang badang kereta api itu berdengung dari lidah Aini. Kepahaman Najla mulai membuka diri usai Aini berkata demikian. Hendak menertawakan hasil masakan Aini, keburu hanguslah niat itu. Melebur karena rasa haru. Didekap jua lah tubuh Aini.
''Emm. Adek Teh Najla emang pinter!''
Sekali Aini terpejam sepersekian detik, menyesap dan menikmati rasa bahagia hatinya. Terbebas sudah rasa takut dan bersalah itu dari benak dan kepala yang sedari kemarin mengikat.
''Eh, Teh!'' Aini melepaskan pelukannya.
''Kenapa?''
''Itu, itu siapa Teteh?'' Tiada gerak tubuh melalui telunjuk untuk menunjukkan apa yang Aini maksud, ia lebih mengarahkannya melalui gerakan bola mata. Ke arah jalanlah pandangan Aini. Najla mengikutinya.
''Hm, itu?''
''Iya.''
Mimik wajah Najla hampir tak keruan maknanya. Aini sulit mengartikan. Menanyakan siapa Lelaki yang baru saja lewat bersama Bapaknya menggunakan roda yang ditarik sapi. Dalam artian siapa yang bukanlah nama.
Najla diam. Hatinya berisik.
***
__ADS_1
Bersambuunng. Terima kasih. Wassalamualaikum.