Atas Nama Cinta

Atas Nama Cinta
Bab 11: Panas Katanya


__ADS_3

Bismillah. Assalamualaikum. Selamat membaca.


Peluh lah kini


Bagai bandingnya tiada


Hanya saja


Rapuh lah nanti


Sampai tak bersisa


Ingin tak dirasa


Terasa-rasa


***


''Dan aku tahu kini hanya sekecil api dari korek kayu. Esok adalah api dari sekumpulan kayu di bumi. Termometer sampai eror mengukurnya.''


(Lampung, )


***


Sebuah kelapa itu masih disakiti jua kulitnya yang hijau muda. Hingga garis terbelah-belah dan rambutnya yang masih tampak putih sedikit mocca terlihat. Sudah berulang-ulang pukulan golok itu diarahkan oleh si pecekalnya, tetapi perubahan besar urung hadir di kulitnya. Tangan sang gadis berlagak kelelakian pun menggantikan kegiatan si tangan sang penari itu.


''Ah sedari tadi lama sekali kau, Rel. Kupas kulit kelapa saja tak bisa.''


''Ishhh! Maklum dong, aku gak pernah kayak gini. So, mencoba meski tak bisa adalah caranya.''


''Sipp.'' Mina mengacunginya sebuah jempol. Kian girang sajalah Aurel. Kendati sedikit meringis kala ditatapnya kedua tangan yang bersemu merah.


''Aduduh. Tanganku jadi merah begini.''


Ketulian bagai Ismi terapkan sementara waktu. Sedangkan Mija sekadar garis senyum yang dipersilakannya kepada Aurel untuk dilihat. Gadis itu kian merengek kecil. Potongan gambar dalam kepalanya silih berganti tentang apa-apa yang sekiranya terjadi. Darah? Luka? Atau apalah sejenisnya yang Aurel kira tak nyaman dirasa.


Dari pintu samping rumah, Najla keluar membawa sebuah teko kosong dan satu bungkus susu putih cair. Keramaian lidah di luar sudah ia dengarkan sedari tadi di dapur. Geli sendiri saja kini ia menatap Aurel. Wajahnya teramat masam sembari mengibas-ngibaskan kedua telapak tangannya di hadapan Najla. Tawa tak tertahan ingin disemburkan, tetapi coba ditahan-tahan lagi.


''Kenapa tanganku merah, Naj? Please help me! Im so worry.'' Sebuah genangan sudah tertambat di kedua matanya. Benar-benarlah ia cemas. Alangkah cemasnya itu merambat pada relung hati ketiga kawannya. Bukan cemas dalam arti sama dengan apa yang Aurel cemaskan, melainkan cemas telah membuat sepasang matanya hendak jatuh membawa segerombolan hujan.


''Enggak apa-apa, Rel. Jangan nangis atuh. Udah-udah, itu cuma karena kelamaan dan gak biasa pakai golok.'' Sudah ditaruhnya teko dan susu, Najla menggerakkan jemarinya menyeka sudut mata Aurel yang mulai basah.

__ADS_1


''Maaf ya, Rel. Jangan nangis dong. Kamu biasanya ceria. Ayo senyum lagi,'' tutur Mina.


''Sudahlah menangis saja. Kamu orang jadi tak banyak bicara dan lebih terlihat cantik, Rel.'' Ismi menuangkan air kelapa ke dalam teko.


''Ih!'' Seraya menahan tawa, Aurel melemparkan sebuah batu pecahan dari batu bata ke arah Ismi. Yang dituju orangnya melengoskan diri dari pelurunya. Tak ayal, jatuhlah potongan batu bata itu ke dalam teko. Keterkejutan berada di wajah masing-masing. Tercemar sudah air yang dinilai dari sisi kesehatan mampu membersihkan jantung itu sudah disahabatkan si batu merah.


''Aurellllll!'' seru ketiganya.


Aurel melipat diri dari hadapan mereka. Berlari ke depan rumah Najla, nyatanya justru menjadi mangsa bagi Ismi. Dikejar-kejarnya laksana putaran kisah di masa kanak-kanak yang tengah memainkan suatu permainan itu terulang.


Kini, sekadar si daging putih itu sajalah yang terolah di dalam perut sampai habis. Airnya lenyap dibuang cuma-cuma. Di tanah akar-akar pohon kakau lah dibuangnya. Beberapa gelas es teh manis yang menggantinya untuk meredakan rasa haus. Beralaskan sebuah tikar, tubuh mereka berkutat dengan kertas-kertas dan sebuah hasil kerajinan tangan yang hampir jadi.


''Coba-coba aku yang tulis. Kamu kelamaan, Is.''


''Ya udah. Nih. Sampai selesai ya, Min.''


''Ini mau dilem lagi gak?'' tanya Najla. Tangannya mempertontonkan sebuah kerajinan berupa lampion duduk yang dibuat dari kardus bekas.


''Dia udah strong, Naj. Gak usah dilem lagi juga gak masalah.''


''Iya. Aku pikir juga gitu.'' Mina memperkuat pernyataan Aurel.


''Eh iya. Kalian sih, ngobrol! Kan aku jadi gak konsen.''


Sekadar terheran-heran sajalah ketiga kawannya menanggapi. Alhasil sebuah tambalan dari suatu cairan putih itu merusak kesempurnaan tulisan. Bermulai dari pukul sepuluh pagi sampai menjelang dzuhur, tugas kelompok mereka usai. Kerajinan tangan dari bahan bekas siap mereka kumpulkan bersama penjelasnya di secarik kertas tentang laporan dalam pembuatan. Pukul 12 kurang lima belas menit, mereka merebahkan lelah dengan menyelaraskan kondisi kaki yang dipanjangkan. Langit laksana hendak terbakar, sampai-sampai sudah beratapkan genting pun hawa panasnya masih mengelupaskan banyak peluh. Tiada kipas angin, apa lagi pendingin ruangan, cukup membuat Aurel harus beradaptasi dari nol. Tak sampai di sana, pandangannya pun kerap dilucuti tanya kala menatap Najla yang sedari tadi bertingkah seolah biasa saja, kendati pelipisnya mulai basah. Kerudung lebar, bajunya yang lebih besar dari ukuran badan, pun jua kaus kaki dikenakannya. Sudah, hampir tertutup sempurna lah tubuh Najla.


''Diminum atuh es tehnya.''  Ditariknyalah satu persatu gelas dan mulai dipindah posisikan cairan oranye kecokelatan ke dalamnya dari teko.


''Aku minum ya, Naj?'' tanya Aurel seraya menarik sebuah gelas berisi es teh.


''Iya ya diminum atuh makanya Najla suguhin.''


''Alhamdulillah, seger Naj. Aku mau tambah lagi, dong.''


''Siap Bos Ismi. Saya tuangkan kembali.''


''HAha. Makasih, Naj.''


Keempat kerongkongan para insan itu terbasahi sudah. Keripik tempe menjadi santapan kesekian kalinya. Terbasahi lagi oleh es teh. Menyantap keripik lagi. Berulang-ulang lah demikian yang dibersamai sedikit pembahasan.


''Cantik-cantik ya, bajunya? Coba kalian lihat ini.'' Mina menyerahkan ponselnya.

__ADS_1


''Baju? Baju apa itu namanya? Syara, syira, sya-''


''Syari, Is.'' Najla menyela pernyataan Ismi.


''Kok kayaknya nyaman gitu ya? Tertutupi rapat. Eh nyaman tidak sih, Naj? Berpakaian seperti kamu orang ini?''


Daya tarik untuk memperlebar obrolan dari apa yang sudah mereka tangkap di ponsel berpindah haluan. Najla menjadi pusatnya. Dibantai pertanyaan. Dinanti-nanti jawabannya.


''Alhamdulillah nyaman. Jujur sih, maaf sebelumnya ya. Sebenarnya Najla teh malah merasa risih kalau pakai celana jeans ketat. Apa lagi kalau kerudung Najla teh disingkap kayak Aurel. Maaf ya, Rel.''


''Ey, not problem. Tapi, memangnya kenapa kamu malah merasa risih? Pakainku bebas, tak membatasi gerak, and gak mudah gerah seperti pakaianmu.''


Najla menangkap sebuah lengkungan garis senyum di wajahnya. Ingin ia berkata-kata banyak dalil dalam kitabnya umat muslim perihal berpakaian, tetapi alangkah urung desawalah waktunya untuk ia cetuskan. Sekadar dikatakan alasan dan serta-merta sudah menjadi perintah Allah.


''Kalau kerudung Najla minim, dan disingkap sampai dada Najla kelihatan, jujur Najla merasa seperti gak pakai kerudung. Bahkan Najla merasa seperti gak pakai baju.''


''Jadi, apakah pandanganmu sama aku kayak gitu, Naj? Kamu melihatku seolah tidak berpakaian?''


''Ma-maaf, Aurel. Ini sekadar uneg-uneg kalau seandainya Najla teh berpakaian seperti itu. Maaf ya.''


''Kenapa minta maaf? Aku cuma tanya kok, tenang aja.'' Entah terpaksa timbul atau memang timbul di bawah alam sadarnya. Aurel seolah berkata ia baik-baik saja. Najla pikir negara api dari perbincangan ini akan hadir. Sebab pembicaraan amatlah menjurus kepada masing-masing pribadi. Kehati-hatian dalam bertutur sudah terlaksana, masih jua mampu terpeleset.


''Naj, enggak gerah kah kau?'' tanya Ismi.


Kepala Najla menggeleng-geleng jua. ''Akan lebih panas api neraka daripada suhu udara sekarang ini, Is.''


''Kok jleb gitu ya, Naj.''


''Maaf ya. Kalau sekiranya perkataan Najla teh gak ngenakin kalian.''


Ketiga kawannya itu malah tertawa kecil. Menanggapi sikapnya yang sudah lebih dulu menenggelamkan kepala dan hati pada zona serius. Alih-alih Ismi, Mina, dan Aurel masih berpijakkan di tanah komedi. Tak mudah ambil hati. Sudah cukup penuhlah kantong-kantong hati itu bersama nasihat dan penuturan yang sekiranya memang bermanfaat.


Azan dzuhur mulai memanggil-manggil banyak kaki agar lekas dibasuhnya wajah para insan oleh air wudu. Sajadahnya sudah tersenyum-senyum tak sabaran ingin menjadi alasnya manusia-manusia untuk bersujud. Merdu. Merdu sekali hingga-hingga sebuah jantung bergetar dibuatnya.


Adzan usai, salah satu di antara mereka mencetuskan, ''Ashad.''


Tiga kepala lainnya menoleh. Menikamkan pandangan seolah bertanya 'serius?!' sebab puja-puji tertambatlah kehadirannya karena si muadzin melantunkan dengan sangat indah. Sedangkan sang daging tak bertulang yang baru saja bertutur di bawah alam sadarnya, merasa tergagap. Dibuanglah tatapan itu olehnya. Seolah merasa tak ada apa-apa. Najla memilih untuk berdoa, doa khusus sesudah azan. Biarlah kata peribahasa 'ada gajah di balik batu' laksana tengah dijalankannya. Tersemogakan mereka tak sampai mampu mengukur kedalaman hatinya.


***


Bersambung. Wassalamualaikum.

__ADS_1


__ADS_2