Atas Nama Cinta

Atas Nama Cinta
Rencana


__ADS_3

"Aku tidak bisa hidup seperti ini, aku akan menderita.Aku harus memikirkan caranya agar Axel bersimpatik padaku" Hilda menggigit-gigit bibirnya karena resah.


"Aku juga tidak ingin Axel kembali kepada Linda, sialan kenapa juga gue mesti mungut dia dulu?kalau tau dia bakal menggeser posisi gue...aarrggggg....sialan...sialann" Hilda melempar kotak make up-nya hingga membuat kaget anaknya dan langsung menangis. Tangisan anaknya membuat kepalanya semakin pusing. Dia berteriak memanggil suster dan asistennya.


"Aku bisa gila kalau begini...aku bisa gila" ucapnya sambil mengacak-acak rambutnya.


"Ini semua gara-gara Axel dan perempuan sialan itu. Lihat saja nanti jika sampai Axel kembali kepadanya, jangan salahkan aku jika hanya tinggal nama dirimu perempuan brengsek" makinya.


"Aku harus bersikap baik kepadanya...jangan sampai aku terlihat kasar kepadanya. Ya..ya..ya...aku akan mengunjungi dia siang ini ke penjara wanita" ucapnya kalem.


Hilda segera bersiap hendak pergi, niatnya ingin mengunjungi Linda, dia pun memoleskan beberapa cream wajah dan juga bedak untuk menunjang penampilannya. Tak lupa lipstik berwarna nude dia poleskan juga dibibir sensualnya. Dengan menggunakan t'sirt dipadu jeans sobek-sobek dan sepatu high heells dia mengambil tasnya dan hendak berjalan keluar rumah.


"Mbok jaga rumah baik-baik ya, jagain anakku juga...suster jaga dia baik-baik untukku. Aku pergi dulu sebentar mungkin malam baru aku pulang" ucapnya lalu dia mengambil kunci kontak mobilnya dan langsung tancap gas keluar rumah. Dia harus pergi ke penjara wanita untuk melihat keadaan Linda yang sangat menyedihkan.


"Hmmm...kau hancurkan aku maka kamu akan lebih hancur dariku" ucapnya dalam hati.


Betapa kagetnya Hilda begitu sampai penjara wanita, karena dia tidak menemukan Linda disana dia menghubungi kepala penjara dan bertanya tentang tahanan wanita yang bernama Linda, mereka memberitahunya namun Linda yang dimaksud berbeda orangnya.


Hilda memaksa kepala penjara meminta data para narapidana khususnya napi yang bernama Dokter Linda. Setelah bertransaksi dia pun mendapatkan data yang dia mau namun lagi-lagi tak ada nama dokter Linda tertera disana. Dia segera sadar, rupanya dia telah masuk kedalam permainan Axel, dia pun marah besar. Jika sampai Axel melindungi selingkuhannya itu, maka semakin besar pula keinginan Hilda untuk melenyapkan wanita itu.


Dengan tangan gemetar dia pun segera menghubungi Axel dan seperti dugaannya, Axel tak mau menjawab panggilannya. Ingin rasanya dia bunuh diri menghadapi kenyataan hidupnya yang mengerikan namun dia segera sadar, dia tidak mau mati sia-sia karena musuhnya akan mentertawakannya nanti. Dengan gontai dia pun akhirnya pergi kerumah kekasihnya.


Di apartemen Tio,


"Bagaimana suamimu, apakah dia mau memaafkanmu?"tanya Ririn


"Ambilkan aku es batu...aku ingin mengompres kepalaku" ujarnya sambil duduk dan memegangi kepalanya.


"Kamu kenapa?"tanya Tio


"Si brengsek Axel telah mempermainkanku, dia telah melindungi selingkuhannya...dasar sialan" Hilda menendang meja itu dengan marah.


"Ini gara-gara ketololan kalian, ngapain kalian bikin tanda ditubuhku???aku yang mati jadinya...puas kalian!! asal kalian tahu, aku telah ditendang dari mansion mertuaku, dan suamiku akan menceraikan aku pasti sebentar lagi dia akan menikahi dokter gila itu" Hilda marah-marah dengan arogannya.


"Aku tidak mau luntang-lantung seperti ini" ucapnya ketus.


"Lalu apa maumu? apa aku harus menikahimu?" tanya Tio


"Ini semua karena kebrengsekanmu Tio, anakmu gagal menjadi cucu milyarder itu" Hilda


Ririn diam saja mendengar temannya marah-marah. Jika dia ikut membuka mulut sudah pasti Hilda akan semakin marah.


"Jangan suruh aku melakukan kejahatan lagi Da, aku bisa membusuk dipenjara" ucap Tio takut.


"Jika bukan kamu lalu siapa lagi?bukankah kamu yang mengacaukan semua ini?"tanyanya berang.


"Sekarang kamu harus bertanggung jawab"ucapnya.


"Kamu harus menculik dokter gila itu dan kamu buang entah kemana, jangan sampai dia menunjukkan lagi wajah palsunya itu" Hilda.


"Tidak....aku tidak mau, pikir yang benar bodoh!! jika aku yang menculiknya sudah pasti suamimu akan mengetahuinya karena kalian sedang berselisih paham dan wanita itu ada disamping suamimu. Dia pasti akan mencurigai kita. Bisa mati kita semua dibantai suamimu" Tio


"Apa ada cara lain?" tanya Hilda.


"Aku tidak mau ikut-ikutan"Ririn mengambil tasnya lalu hendak keluar dari apartemen itu.


"Ririn...tunggu, enak saja kamu mau menghilang begitu saja!! aku akan menyeretmu sekalian" Hilda


"Hahh!! Ririn menjadi takut dan kalang kabut

__ADS_1


"Anggap saja aku tidak mendengar pembicaraan kalian. Aku akan tutup mata dan tutup telinga" Ririn.


"Jangan seret-seret aku Hilda, aku sudah membantumu selama ini, aku tidak ingin dipecat dari rumah sakit Da" Ririn memohon.


"Memang aku mau melakukan apa Rin?"tanyanya kesal


"Bu-bukankah kamu ingin menculik dokter Linda?"Ririn


"Ya tapi itu bukan aku yang melakukannya, orang lain yang akan melakukannya" Hilda


Ririn merinding mendengar ucapan Hilda, dia tidak ingin ikut-ikutan namun dia sudah mendengar semuanya. Jika dia tidak ikut bergabung lagi dengan mereka sudah pasti dirinya yang akan terkena bencana.


"Tuhan...aku mesti apa?" rintihnya.


"Pokoknya aku tidak mau ikut rencana gila kalian" Ririn lalu meninggalkan apartemen itu.


Hilda menyeringai sinis.


"Apa harus kita beri pelajaran dia?"tanya Hilda


"Aku juga takut sebenarnya Da" jawab Tio


"Ingat anak kita, jika kita melakukan kejahatan kembali anak kamu sama siapa?"Tio bertanya balik.


"Hmmm...kenapa kalian jadi pengecut semua sih?aku begini juga gara-gara kalian!!" Hilda mulai marah karena tak ada yang mau mendengar omongannya.


"Sayang...bagaimana jika kamu melakukan hal sebaliknya" Tio mendekati Hilda.


"Telpon atau temuilah wanita itu dan mintalah padanya agar dia meninggalkan Axel. Katakan anakmu membutuhkan ayahnya, aku yakin dia akan mendengarkanmu daripada kamu melakukan tindak kekerasan" Tio


"ciihhh....aku harus mengemis didepan wanita sialan itu?? tidak akan!!" ucapnya garang sambil melipat tangannya di dada.


"Sayang...aku tahu dokter itu sepertinya punya hati yang lemah, dia mudah kasihan pada orang lain. Kita manfaatkan kelemahannya itu untuk menekannya, bagaimana saranku?"tanya Tio


"Tidak sayang....tidak...yang penting tujuan kita berhasil, kamu ingin kembali kan kepada Axel?jika dokter itu meninggalkan Axel maka dia akan kesepian...disitulah kamu mulai bermain" saran Tio


"Hmm...oke...oke...aku akan mencari nomor dokter itu" Hilda.


"Tanyalah pada Ririn, dia pasti punya nomornya" Tio


"Otakmu kadang encer juga" puji Hilda dan Tio tersenyum sambil memeluk pinggang Hilda dengan mesra.


*****


"Sayang...ada orang ketuk-ketuk pintu, tolong bukakan" perintah Axel pada Linda.


"Kamu pesan sesuatu?" tanya Linda pada Axel.


"Tidak sayang...mungkin room boy yang datang" Axel.


"Baiklah...aku akan membukakannya" Linda bergegas menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.


"Selamat siang dengan nona Linda?"tanya room boy itu


"Iya dengan saya sendiri" Linda


"Silahkan anda tanda tangan disini" pria itu menyodorkan kertas dan pulpennya.


"Ini...ini apa?"tanyanya

__ADS_1


"Ini satu set perhiasan dan gaun spesial untuk acara makan malam nanti" jawabnya.


Linda langsung melihat ke arah Axel.


"Axel...apa-apaan ini?" Linda


"Tanda tangani saja sayang, kita akan pergi ke gala dinner nanti malam" jawabnya


"Ohh..." Linda menggeleng lalu menanda tangani kertas itu.


"Terima kasih" ucapnya lalu room boy itu meninggakan tempat itu.


Linda membawa gaun beserta perhiasannya ke hadapan Axel.


"Semoga kamu suka" ucapnya sambil menatap mata indah itu.


"Jangan melakukan pemborosan Xel, untuk apa kamu membeli semua ini?"Linda


"Aku melakukan apa yang harus aku lakukan untuk menarik perhatianmu sayang"jawabnya.


"Aku tidak akan berangkat" Linda


"Aku akan memaksa" Axel


"Coba saja kalau bisa" Linda


"Benarkah?"tanya Axel


"Ya..."


"Janji kamu akan memegang kata-katamu?"


"Iya Axel"


"Jangan menyesal kamu" Axel segera mengangkat tubuh Linda dan menaruhnya dipundaknya, membuat Linda berteriak-teriak ketakutan.


"Axel...Axel...lepaskan aku" Linda meronta-ronta namun Axel menaboki bokongnya dengan gemas, ingin sekali dia menggigitnya namun dia takut Linda semakin marah.


"Kamu harus dihukum"Axel


"Jangan Axel...jangan...baiklah...baiklah...aku akan ikut denganmu" Linda


"Berjanjilah"


"Aku berjanji Axel, aku tidak pernah berbohong" Linda.


Axel menghempaskan tubuh itu diranjang empuk.


"Aku pegang kata-katamu...cium aku" pintanya


"Tidak mau...nanti kamu tidak akan menyudahinya" Linda


"Tidak sayang...only kiss i promise" Axel


Linda pun menuruti maunya Axel mencium tipis bibir ayah anaknya.


*****


Met siang gaess...happy reading...emak kerja lagi yak...bye😘

__ADS_1




__ADS_2