
Dirga menelepon seseorang dengan nada memerintah dengan nada paniknya. 'Cepatlah jangan sampai kau terlambat! Ini kaitannya dengan nyawa orang!"
Dirga memutuskan hubungan sepihak kemudian ia mendial pengacaranya namun tak aktif ia mengirimkan pesan singkat ke aplikasi hijau.
Setelah itu ia menuju ke ruang tunggu di depan ruang tindakannya, setelah mengurusi administrasi nya. "Jangan sampai dia pergi, paling tidak aku bisa menolongnya. Cicilia, semoga tak ada korban seperti mu. Ku mohon bertahan lah."
Dirga duduk dengan gelisah menggenggam ponselnya. Teringat akan kenangan Cicilia, walaupun dia belum mencintai nya namun waktu itu dia memberikan sesuatu yang membuat nya melupakan sosok Larasati.
Untuk sesaat dia lupa dengan lukanya, rasa cinta sepihak nya. Pengalaman pertama nya dia belajar untuk menerima sesuatu. Keluar lah orang-orang berseragam putih itu.
"Kami sudah berupaya semaksimal nya, pendarahan nya berhasil kami atasi, baby nya baik-baik saja, untung nya tepat waktu. "
Dirga menghela nafasnya ada rasa lega di dadanya. "Dia di pindahkan ke ruang rawat inap sesuai dengan permintaan Anda. Kami mohon diri."
Dirga mengikutinya dari belakang ketika rombongan baju putih itu memindahkan nya ke bangsal VVIP. Dari id card nya jelas ia stafnya yang senior.
Karena di bedakan dengan tali yang melingkar di lehernya yang menjadi kalung id card pegawai.
"Bos aku mendapatkan anak dan pengasuhnya. Harus kemana kami bawa ?" Tanya penelpon yang baru saja diterima Dirga, saat dia sedang duduk di sebelah wanita itu.
Dirga keluar kamar nya saat menerima nya. Bawa ke apartemen dan temani mereka ini sudah malam, jadi besuk bawa mereka ke rumah sakit. " Jawab Dirga.
Lelaki itu kembali masuk ke kamar inap dan tidur untuk mengistirahatkan tubuh nya, bisa saja ia hanya memerintahkan saja, namun ia masih teringat Cicilia yang tertutup karena masalahnya.
Dan ia takut wanita itu bernasib sama dengan Cicilia. Ia pun memejamkan matanya untuk menjemput impian.
Keesokannya di kantor perusahaan Dirga ricuh karena pagi-pagi banyak polisi berjaga di pelataran gedung itu. Hingga TKP diberi tanda garis.
__ADS_1
Parkiran di amankan juga cctv nya ternyata mereka bertengkar di dalam ruangan dan di seret ke lift dan berakhir penganiayaan di parkiran Lantai satu.
Semua bukti di amankan oleh pihak kepolisian. "Jaga dirimu, dan mengenai perusahaan serahkan kepada Papa . Kau urus persolan mu dulu."
Heru Atmodjo Hanya menghela nafasnya, karena putranya selalu berhubungan dengan wanita yang salah. Pertama jatuh cinta dengan adiknya lalu dengan gadis introvert dan sekarang wanita bersuami.
"Hai, aku teman Mama mu. Namanya Anisa Wijayanti. Dan Papamu adalah Donny Alamsyah. Jadi kau bisa mempercayai aku sebagai teman baik."
"Jika aku tak membawa mu tadi malam. Takutnya Papamu akan menyakiti mu. Mama mu sedang sakit. Jadi hanya bibi pengasuh mu yang boleh masuk. Dan Kau akan tinggal dengan aku."
"Apakah kau mengerti,? Ini sampai Mama mu sembuh dan setelah itu kalian tinggal bersama." Jelas Dirga pada anak berusia tujuh tahun itu.
"Apa Papa mabuk lagi? Makanya pukul Mama, Jika Papa mabuk menyeramkan kata Mama dia bisa membunuh siapapun yang ia mau."
Penjelasan bocah itu membuat Dirga sakit hati, tak bisa di bayangkan bagaimana nasib wanita itu apa yang dilewatinya selama ini.
Wanita itu sudah di beritahu jika ia akan di tugas kan menjaga majikan perempuannya sedang kan si kecil ikut Dirga. Dirga membawanya pulang dan menjadi teman Adista, sang ibu.
Lelaki itu Donny Alamsyah di tangkap malam hari setelah penganiayaan terhadap istrinya hanya berselang beberapa jam. Dirga lah yang mengajukan tuntutan penjara.
"Brengsek siapa yang berani mendukungnya untuk menuntut ku? Jelas dia pengacara terkenal. Bagaimana cara nya dia mengenal nya atau berapa dia punya uang hanya pegawai biasa tanpa pendidikan tinggi." Batin Donny Alamsyah menatap pengacara itu .
Melakukan dakwaan nya di kantor kepolisian, mewakili Anisa ? Yang benar saja untuk makan dan keperluan anaknya saja dia kewalahan untuk mencukupi nya."
Donny Alamsyah tak menyadari sikapnya yang menatap sinis serta remeh ke arah polisi juga pengacara yang sedang berbincang tentang kasusnya.
Mereka hanya menggeleng cepat bersikap seolah tak ada yang berpengaruh terhadap mereka. Donny Alamsyah yang melamun dengan ekspresi wajahnya itu jelas mempengaruhi akan keputusan pihak penyidik.
__ADS_1
"Lelaki itu tak meminta maaf kepada Nyonya Anisa bahkan dia masih angkuh dan menyebalkan. Saya sudah meminta orang untuk mencari tahu tentang kehidupan sehari-hari laki-laki itu!"
"Saya akan gali hingga ke lubang dalam biarpun itu di dasar neraka sekalipun. Si brengsek itu harus menangis berdarah karena berani menganiaya wanita."
"Tak ada ampun buat dia jika seandainya keluarganya turut serta memperlakukan nya buruk maka kita bisa menyeretnya ke jalur hukum."
Dirga tersenyum puas mendapatkan informasi dari pengacara nya. Melihat kondisi Anisa Wijayanti paling tidak mengurangi rasa sakitnya yang tak bisa bahkan tak tahu apapun tentang Cicilia.
"Akan ku pastikan tak ada korban jiwa seperti mu Cicilia, setidaknya jika di depan mataku. Setelah aku mampu aku akan mendirikan yayasan sosial untuk membela diri para wanita itu."
Dirga membatin sambil mengerjakan pekerjaannya, ia mengawasi anak laki-laki nya Anisa yang dirawatnya sementara.
Anisa masih tergolek lemah, karena pendarahan hebat pada waktu itu, di dampingi pengasuh anaknya. Karena Anisa seorang diri tanpa memiliki keluarga.
"Anisa makan yang banyak demi bayi juga anak mu. Laki laki itu mana ada dia rasa perduli dengan keadaan mu? Hanya di jadikan sebagai pelampiasan hasrat kau saja yang buta dan terlalu bucin."
"Apa kau sekarang sudah sadar akan semuanya? Kau harusnya mengerti tentang semuanya saat menikahinya. Masa kau luluh saja hanya dalam pelukannya?"
"Cinta boleh tapi otak juga harus waras, logikanya di pakai Anisa . Jangan mau di bodohi keluarga nya lagi.'
Anisa hanya terdiam menatap sekilas wanita yang sudah menjadi teman dan juga ibu baginya. Yang dikatakannya adalah benar, ia terlalu bodoh. Hanya karena senang ingin memiliki keluarga dia diam saja diperlakukan seperti itu.
Sudah semestinya ia melawan, mereka tak ada ikatan darah melawan bukan berarti kurang ajar, tapi hanya sekedar mengingatkan tentang keadaan yang semestinya dilakukan juga perlakuan yang pada umumnya
Bukan ngelunjak atau semacamnya, Anisa kau harus mampu melakukan dan melewati segalanya dan bertahan selama ini demi anak-anak.
Jadi sudah semestinya kau bertindak sekarang doa mu terkabul kan adanya penolong untuk keluarga kecil mu.
__ADS_1