Atas Nama Cinta

Atas Nama Cinta
56


__ADS_3

"Mengapa kau suruh aq pakai baju tertutup? Kau bilang ke Daddy, mau nge date? Yang benar saja!" Galuh menggerutu sambil mengambil duduk di sisi Davis.


Yang hanya diam saja duduk dibalik kemudi, mereka baru kerja dua mingguan dan lelaki itu mengirimkan pesan minta ditemani. Tapi pamit ke ayahnya mau ngajak ngedate.


Mobil Pajero sport itu melesat di jalanan menuju ke tempat pemukiman kumuh. Galuh menatapnya bingung,"Maksudnya ngajak ke sini mau apa?" Tanyanya.


Davis menatap "Ayo, turun! Ku mohon, ayo kita jalan sekarang, cari teman baru ku. Aku ingin mengenalkan nya padamu!"


Davis menarik paksa tangan Galuh menggenggam tangan nya erat, pemberontakan Galuh percuma, kalah tenaga, postur rasanya sia-sia saja melawannya.


Lelaki itu tersenyum menatap apa yang diinginkan nya di dapat nya. Mereka mendekati seorang lelaki muda yang duduk dengan dua orang anak kecil dan seorang wanita duduk melipat kardus bekas juga botol bekas.


"Hai Sofyan.. Apa kabar mu?" Sapa Davis menatapnya dengan tatapan senang. Galuh menatapnya bingung. "Kakak ke sini? Apa perlu apa?" Tanyanya.


"Aku hanya ingin mampir ketemu kamu sama keluarga mu. Bu, kenalkan saya Davis dia, Sofyan tak sengaja menolong aku. Saya hanya ingin kenal dengan keluarga nya. Jika diijinkan, bisakah kita menjalin persaudaraan?" Tanya Davis.


Wanita itu tertawa kecil, "Nak tolong menolong dalam kebaikan adalah adat istiadat nenek moyang kita, sudah selayaknya kita lakukan '.


"Nak, jangan sungkan seperti ini." Wanita itu tersenyum menanggapinya. Davis yang langsung jongkok hanya menundukkan kepalanya.


"Saya bawa oleh-oleh buat ibu dan adik boleh kah saya membawa nya kemari ?" Tanya Davis langsung.


"Apapun itu asal kau ikhlas kami terima kasih atas pemberian nya." Ujar nya. Davis mengangguk.


"Sofyan ayo bantu aku, " Ajak Davis menggamit lengan pemuda itu. Dan kedua adiknya antusias. "Boleh kami ikut?' Tanya mereka malu-malu. Davis mengangguk dan Galuh mengikuti nya dari belakangnya.


Mereka ke mobil milik Davis yang berisi jajanan minimarket juga beras, serta sembako dan minuman kemasan, Syrup, susu kedelai.

__ADS_1


"Ini berlebihan kak." Bisik Sofyan saat melihat isi bagasinya. "Tak seberapa dibanding dengan pertolongan mu kemarin." Jawab Davis menatap Sofyan. Galuh hanya terdiam mendengar saja percakapan.


Mereka mengangkat barang-barang itu dengan percakapan ringan. Masuk ke gubuk papan itu yang tak layak di sebut rumah, sewa yang lebih murah jika di bandingkan dengan sebuah rumah yang layak.


"Tak banyak bagi Davis namun sangat membantu buat mereka yang kurang beruntung, namun masih bertahan hidup di jalanan.


"Ibu membuat bunga kertas-kertas ini ? Ini cantik." Galuh mulai memotret nya dan juga memotret dua anak perempuan adik Sofyan. Pemuda itu sedikit mengerti tentang sosial media.


Meliriknya sekilas tak suka," Lihatlah aku hanya memposting hasil karya ibu mu. Bermaksud menjual barang nya. Siapa tahu ada suka, lalu membeli beberapa."


Jelas Galuh menunjukkan unggahan nya, tak ada fotonya dua gadis cilik itu. Sofyan tersenyum tak enak hati karena melayang kan pandangan tak suka.


Davis menatap Galuh penuh kasih, tak sangka dia memikirkan hal yang membantu pekerjaan mereka. "Thanks You.' Ucapnya tanpa suara.


"Ibu jika laku pasti ibu bisa pindah dari sini dan bisa menyekolahkan anak-anak." Kata Galuh menyemangati dan wanita itu berkaca-kaca mendengar penjelasannya.


"Rencana selanjutnya apa?" Tanya Galuh beralih menatapnya penasaran. "Menurut Mama aku bisa memasukkan ke program pendidikan home schooling untuk mengejar ketinggalannya. Dia bisa kuliah dengan membekali ketrampilan."


"Ada yayasan sosial milik Mama yang bisa membantunya, aku sungguh menyesali diri ku karena egois menyia-nyiakan kesempatan juga waktu." Davis menatap jalanan padat di depannya dengan wajahnya murung.


"Yang jelas penebusan dosa akan diterima jika di dasari oleh ketulusan hati yang paling dalam " Galuh menenangkan Davis yang gusar.


Mobil meluncur ke jalanan padat kemudian membelok ke sebuah cafe terkenal di gandrungi anak-anak muda. "Kenapa kita ke sini?" Tanya Galuh gugup.


"Makan siang, aku lapar ayo.." Davis langsung seenaknya menarikan ke dalam dan duduk di sudut ruangan. Ada dua pasang mata menatap kebersamaan mereka.


Davis memesannya melalui pelayan juga makanan favorit Galuh turut serta ia pesankan. "Kau tahu aku berencana membuat kan usaha kecil buat ibu Sofyan. Jadi dia bisa kerja tetap bersama dengan anak-anaknya. "

__ADS_1


"Itu bagus, lebih baik seperti itu daripada memberikan uang cuma-cuma." Sahut Galuh masih dengan rasa gelisah.


"Sayang kau datang? Mau makan?" Seorang lelaki berpostur tinggi dan atletis duduk bersama mereka dan ada lelaki yang berjalan mendekat.


"Hei.. Maaf ? Kau siapa? Apa kalian saling mengenal?" Davis menegakan badannya menatapnya bertanya dengan curiga.


"Kenal, sangat dekat bahkan kita pernah tidur bersama bahkan mandi bersama." Dengan seringai menatap Davis tengil.


Davis tak terima dengan tingkah lakunya langsung mencengkeram erat kerah kemejanya menarik nya keluar paksa. Membawa ke parkiran cafe ingin menyelesaikan semuanya. "Hati-hati dengan bicara mu! Beneran kamu anggap Galuh apa ? Brengsek berani kau melecehkan nya!" Maki Davis .


Galuh panik karena tindakan Davis langsung, ia sangat paham sikap lelaki itu yang spontan juga tak memberikan ampunan untuk musuhnya. "Davis " Pekikan Galuh tak digubris Davis langsung menyeret lelaki itu.


"Kenapa kau tak terima ? Aku kenal dia bahkan aku membuka bajunya juga pernah.." Bug. Tinju Davis mendarat di wajah tampannya dan langsung Davis ditarik seseorang dan Galuh menubruk lelaki itu.


"Kau tak apa-apa?" Galuh panik memeriksa wajahnya. "Lepas ! Brengsek berani dia melecehkan nya! Cari mati kau!" Maki Davis. Plak. Galuh menampar pipi Davis


"Kau ? Apa kau membelanya? Dia melecehkan mu apa kau buta?" Tanya Davis terperangah, shock.


"Apa yang dikatakan nya bener adanya. Lalu kenapa? Kau keberatan?" Tanya Galuh dengan gemetar menahan amarahnya juga tangisan.


Davis berhasil menyentak tangannya saat dipegang oleh orang dan memeluk Galuh. "Apapun yang terjadi di masa lalu itu masa lalu. Sayang, kau kekasih ku! Kau jodohku. Sudah sepantasnya aku lindungi kamu!" Ucapnya lirih namun terdengar oleh semua nya.


Menyingkirkan Galuh di belakangnya dan menatap wajah lelaki itu langsung menantang nya." Kau , berani melakukannya lagi akan ku bunuh kau!"


Ancaman Davis hanya mendapatkan tepukan tangan dan kekehan kecil terdengar dari lelaki itu. " Kak Damian please." Galuh memanggil nya dengan frustasi karena kebiasaan lelaki itu yang selalu merecoki pertemanan nya.


"Davis dia kakak tiri ku, please. " Teriak Galuh merangkul tubuh Davis langsung dari belakang, begitu lelaki itu mulai tersulut emosi nya lagi menatap ekspresi Damian.

__ADS_1


Dan Damian Marley hanya melipat kedua tangannya dengan senyuman tipis dan Davis kaku di tempat.


__ADS_2