Atas Nama Cinta

Atas Nama Cinta
31. Ayah ?


__ADS_3

Bagaskara menghela nafasnya kala mendapatkan laporan sekretaris nya ada tamu lelaki paruh baya menunggu konfirmasi nya di lantai dasar. Tepatnya di lobby perusahaan nya, Sunarto Atmajaya tengah menunggu nya sejak dua jam lalu saat ia sedang meeting mengenai proyek yang di jalankan.


"Suruh dia masuk dan kirimkan minuman juga makanan ringan untuk tamuku." Titahnya pada sekretaris nya


Lelaki itu mengirim pesan pada istrinya yang sudah ada dirumah karena tak ada jadwal kuliah setelah jam satu. "Bisakah kau datang ke perusahaan sayang? Tiba-tiba saja aku kangen."


Itulah pesan singkat yang dia kirimkan, ia ingin tahu apa yang dilakukan istri kecilnya jika mengetahuinya. Sunarto Atmajaya datang ke kota ini mencarinya dan mempertemukan ayah kandungnya. Bagaimana reaksinya?


Itulah mengapa ia enggan untuk menanggapi hal ini dan langsung mencegah Atmaja untuk menemui istrinya, takut jika ia terluka karena saat ini sedang berbadan dua. Takut nya terkena sindrom baby blues yang berakibat pada sang bayi.


Ketukan pintu membuyarkan lamunan Bagaskara. "Selamat datang di tempat saya, Pak." Sambut Bagaskara menyalami lelaki paruh baya itu.


"Senang sekali dapet bertemu dengan mu. Maafkan, merepotkan mu. Tentunya kau sangat sibuk bekerja." Ujar Sunarto Atmajaya menyalaminya.


"Begitulah, insyaallah saya akan meluangkan waktu." Sahut Bagaskara dengan penuh hormat berkata dengan suara lembutnya.


Langsung Bagaskara mempersilahkan tamunya duduk di sofa bersamaan itu muncul office boy membawakan minuman juga makanan kecil. "Silahkan, maaf. Saya tadi ada pertemuan dengan staf saya jadi agak lama karena ini menyangkut tentang pekerjaan orang banyak." Jelas Bagaskara.


Sunarto Atmajaya mengangguk, " Saya mengerti. Bisakah kita membicarakan tentang ini. Mengenai Putriku, tentunya kau sudah mengetahuinya, jika aku adalah ayah Larasati." Sunarto Atmajaya langsung membicarakan tentang tujuannya.


"Saya hanya mengetahui nama saja selebihnya tidak ada komentar atau hal yang bisa saya katakan tentang itu." Jawab Bagaskara menutupi, karena rasa penasaran yang ingin mengetahui tujuan lelaki tengah duduk di hadapannya sekarang ini.


"Saya meninggalkan nya saat ia berusia belia dan aku ingin menghilangkan bayangan istriku. Wajahnya semakin lama sangat mirip dengan sang ibu. Itulah sebabnya aku menitipkan anak ku pada ipar dan adikku. ".


"Berikut dengan rumah kami, tak kusangka jika dia diperlakukan buruk. Salahku tak bersikap tegas mendidik nya sendiri dan mencurahkan perhatian juga materi.".

__ADS_1


"Terlalu berlarut-larut memikirkan almarhum aku lupa, Larasati yang membutuhkan perhatian juga bimbingan dariku selaku orang tuanya."


"Faktanya dia tak hanya diperlakukan seperti itu namun juga sebagai alatnya. Mereka sudah keterlaluan! Tindakan saya mengusir nya adalah sudah benar kan nak Bagaskara?' Tanya Sunarto Atmajaya setelah menjelaskan panjang lebar sesuai versinya.


Hening. Bagaskara menghela nafasnya teratur tak ingin diketahui emosinya yang ditahannya terbaca oleh MERTUA bayangan. Mungkin ini istilahnya? "Maafkan aku nak, bisakah aku menemui nya? Tolong nak pertemukan kami." Pintanya mengiba.


Rengekan sang MERTUA tak jua dijawabnya, Bagaskara menunggu nya, Larasati. Semoga saja dia datang menemuinya. Jadi drama ayah anak ini akan selesai dengan sendirinya tanpa dia turun tangan.


Pintu diketuk. "Apa aku mengganggu?" Muncul Larasati hanya mengenakan tunik dan celananya pensil dan flatshoes dan tas cangklong. "Kau datang sayang." Sapa Bagaskara. Larasati berjalan memeluk tubuh suaminya dan dibalas dengan kecupan dipelipis nya setelah Bagaskara menguraikan pelukannya.


"Dia Larasati dan dia .." Bagaskara belum selesai berkata Larasati menyela.


"Ayah? Kau datang?" Kata Larasati lirih menatap lelaki paruh baya itu.


"Kau mengenaliku?" Tanya Sunarto Atmajaya terbata menatap wajah cantik pujaannya, yang kembali ke masa itu.


"Mengapa baru sekarang pulang? Apa karena aku sudah kaya di matamu? Sehingga kau mau turut andil karena yang membuatku ada begitu?" Pertanyaan sarkas Larasati membuat lelaki itu tercekat.


Sunarto Atmajaya sungguh tak menyangka jika wanita yang berstatus putri nya akan mengatakan itu. "Ayah, hanya ingin kau mengetahui jika aku tak lepas dari tanggung jawab secara materil. "


"Rumah yang ditempati oleh bibimu dan keluarganya adalah milikmu. Dan setiap bulan aku mengirimkan uang untuk sekolah dan keperluan mu."


"Masalahnya bibimu yang ku serahkan tanggung jawabnya untuk mengurusi mu. Sudah menyalah gunakan untuk kepentingan pribadi nya. Dan aku terlambat mengetahuinya. Maafkan ayah." Jelas Sunarto Atmajaya


"Begitu kah? Rasanya seperti drama saja, apa ini sungguh-sungguh?" Tanya Larasati menatap nya, ekspresi wajahnya datar tak nampak emosinya.

__ADS_1


"Mereka sudah aku usir sebagai bentuk kepedulian ku padamu, juga kemarahan ku karena berani nya mereka membuat mu seperti ini." Jelas Sunarto Atmajaya.


"Sayangnya semua sudah terlambat. Aku sudah mendapatkan siksaan itu dan aku juga sudah menjalankan tugas sebagai istrinya. Jadi mau bagaimana lagi? Apa kalian bisa mengembalikan masa indah yang semestinya aku terima saat remaja?"


"Apa keperawanan ku bisa kembali juga?" Tanya Larasati mengerjap menatap wajah Sunarto Atmajaya yang kebingungan harus menjawabnya.


"Apa aku harus bangga karena ayah masih hidup? Apa aku harus bahagia jika ayah memberikan semua materi itu?" Tanya Larasati menatap wajah lelaki itu yang kebingungan memberikan jawabannya.


"Larasati, setidaknya aku memperbaikinya dan memang semuanya itu adalah milikmu. Maaf aku ego meninggalkan mu dan menikahi seseorang. Membina rumah tangga baru tanpa kamu. "


"Dari bayi hingga kau tumbuh sangat mirip, sekarang kau pun sangat identik dengan ibumu. Bedanya Sulastri melepaskan hijab nya demi Dia."


"Dia?" Larasati menaikkan alis dan mengernyitkan dahinya. "Siapa yang kau maksud?" Tanya Larasati menatap tajam.


"Dia adalah orang yang membuat mu lahir di dunia. Ibumu Sulastri menikah dengan ayah saat kau diperutnya berusia dua bulan. "


"Ayah kandung menceraikan ibumu karena ketahuan selingkuh, jadi jelasnya ibumu wanita keduanya."


"Sulastri marah dan mengutuknya dia depresi dan masih mau makan walaupun sedikit saja. Aku menyuapi nya dan mengajaknya bicara. Dia tak ku bawa ke dokter kejiwaan karena ia tak menunjukkan tanda-tanda orang gila."


"Dan aku menikahi ibumu secara agama juga pemerintah saat kamu berusia empat bulan. Perut ibumu masih tipis belum kelihatan kami pindah ke desa dan membeli rumah dari penjualan mobil, rumah di kota."


"Sisanya uang kami simpan, awalnya ibumu masih diam namun seiring berjalannya waktu dia pulih, namun nasib berkata lain. Ia pendarahan hebat saat persalinan mu hingga akhirnya tak tertolong lagi. "


"Larasati aku ayahmu secara agama juga pemerintah. Entahlah mungkin orang mengira aku baik dan sebagainya. Masalahnya ayahmu jika suatu saat ia ingin bertemu dengan nya. Apa yang kau ucapkan saat bertemu nantinya? "

__ADS_1


Penjelasannya tentang ayah kandung nya yang tak jelas, membuat Larasati pening. "Ayah? Benarkah demikian adanya? Aku memiliki ayah sambung juga ayah kandung. Larasati terkesiap mendengar penjelasannya satu per satu secara runtut. Hidupnya seperti drama yang selalu muncul di tv lokal yang tak pernah dia ikuti karena alurnya yang memanjang, berbelit-belit yang tak usai membuat pemirsa bosan pada akhirnya.


__ADS_2