Atas Nama Cinta

Atas Nama Cinta
35.


__ADS_3

Polisi menyidik dan mencatat semua nya juga membaca KTP nya, matanya menatap pelaku dengan intens, sang pelaku membuang pandangan. Lelaki itu mencocokkan bukti dengan wajah pelaku.


Maka dengan kesal karena si pelaku tidak kooperatif maka ia menyibaknya, topi dan juga KTPnya. "Karina? Artis papan atas yang terlibat scandal?" Pekik petugas kepolisian bersama dengan petugas sekuriti.


Semuanya menatap wajah Karina dengan tatapan sulit diartikan. "Suamiku melindunginya. Larasati adalah pelakor. Ini adalah surat pernikahan ku. Kau lihat aku menikah dengan nya secara siri " Karina memberikan akta perceraian berikut foto copy buku nikah.


" Mereka selingkuh! Aku tak terima di tinggalkan seperti ini, suamiku sengaja menjebak membuat image buruk untuk aku. Aku marah karena itu aku hanya menakutinya saja, entah bagaimana keduanya berbuat seolah-olah aku tersangka utama."


Karina memutar balik fakta dengan bersandiwara, menangis tersedu. Mereka menjadi iba dan bersimpati namun tidak penyidik. Mereka jelas menggunakan logikanya juga barang bukti.


"Maafkan kami, tolong Panggil kerabat atau pengacara untuk menjamin Anda dan kami menahan Anda karena anda pelakunya. "


"Tapi aku tak melakukannya dia menjebak ku." Karina mencoba berkelit menghindari perbuatannya.


Namun petugas tetap menggiringnya ke balik jeruji setelah pemeriksaan. Karina menjerit histeris seolah dia teraniaya mencari simpati agar terbebas dari jeratan hukum.


Dirga berlari-lari kecil menuju ruang IGD sedangkan orang tuanya mengikutinya dari belakang. "Dokter bagaimana keadaan saudara ipar saya dan adik saya ? Bagaskara dan istrinya." Tanya Dirga saat di resepsionis IGD kebetulan ada dokter berjaga di sana sedang berbincang dengan orang sipil seperti dirinya.


"Maaf, beliau dibawa ke meja operasi di sana Tuan. Anda bisa bersama dengan walinya yakni istrinya. Di sana!" Tunjuk sang dokter ke arah lorong sebelah kanan.


"Terimakasih. Pa Ma ke sana! Aku duluan.." Pamit Dirga bergegaslah ia menuju ke tempat yang di tunjuk. Heru memegang bahu Adista yang lemas karena mendengar kata operasi. "Pa.. Bagaimana nasib anak dan menantu kita?" Tanya Adista, luruh air matanya mengalir tak terbendung lagi.


Lelaki itu merangkul nya dan membawanya ke tempat tujuannya.


"Ayo berdoa Ma, semuanya akan baik-baik saja." Sejujurnya Heru juga khawatir dengan kondisi keduanya. Heru membisikkan kata-kata menenangkan sang istri.

__ADS_1


" Kejadiannya sekitar jam 17.00 lebih stelah kami berpisah di cafe net. Kami nge-game mabar, Entahlah apa yang terjadi mendadak kami dapat telepon dari Anda." Ucap Akbar pada petugas tak jauh duduk Larasati dan dua sahabatnya.


"Sayang kau baik-baik saja bukan? Apa ada yang terluka? " Tanya Dirga begitu sampai langsung jongkok di hadapannya Larasati.


Membingkai wajah Larasati menatap nya lekat, Larasati mengedipkan matanya. Bingung menatap wajah Dirga bingung."Kau? Apa yang kau lakukan disini? Singkirkan tangan mu! "


Ucapan datar bernada dingin di tujukan ke Dirga, sontak membuat nya melepas dengan perasaannya bercampur aduk tak karuan " Siapa yang memberitahu mu aku di sini? "


Dirga menarik nafasnya perlahan dan beringsut mundur. "Maafkan aku, sudah lancang. Aku hanya mencemaskan keadaan mu juga suami mu '


Dirga terdiam saat Larasati mensejajarkan tingginya dengan Dirga walaupun itu hanya sia-sia saja Larasati hanya berdiri menengadah ke Dirga.


"Kami baik-baik saja, terimakasih. Kami dapat melewati nya dengan cara kami. Maaf sudah merepotkan kalian.


"Sayang kau baik-baik saja bukan? Bagaimana dengan kandungan mu?" Tanya Adista berusaha menengahi perdebatan Dirga dan adik .


Adista tak marah kala mendapatkan tanggapan dari Larasati yang masih kurang bersahabat. "Kami datang untuk membantu mu jika ada yang bisa kami bantu. Tak ada niatan apapun itu."


Adista masih memberikan senyuman manis dan tatapan mata teduhnya. "Kau boleh marah itu hal wajar, mau bagaimana pun dia adalah ayah kandung mu, sayang. Berikanlah kami kesempatan untuk memperbaiki kesalahan kami."


"Baiklah asal kau bisa kembalikan ibuku maka akan ku maafkan, pergilah jika kau tidak bisa!" Larasati kembali ke tempat duduknya.


Adista menarik nafasnya menatap wajah Larasati dengan ekspresi sendu.


"Larasati, tolong maafkan kami." Heru mendekati Larasati. "Pergilah! Dia sudah menceritakan tentang ibu ku. Bahwasanya kau hanya mementingkan ego mu, Tuan Atmaja." Sindir Larasati tanpa menoleh.

__ADS_1


Masih duduk di tempat duduknya enggan untuk melihatnya. "Tapi terimakasih atas simpati nya." Lanjut Larasati, hanya menjawab tanpa ekspresi ekspresi datarnya.


Sekian terdiam dengan pemikiran masing-masing, hening suasananya. Larasati teringat peristiwa beberapa saat lalu, bersama Bagaskara, mereka berjalan bersama menuju tempat hunian mereka.


Mendadak ada Karina si sisi kanan mereka, sebenarnya Larasati melihatnya keluar lewat tangga darurat di belakang lobby apartemen, kantor satpam yang biasa berjaga..


Larasati membeliak kala melihat Karina mengeluarkan Sajam (senjata tajam) dan ia sudah berpikir buruk salam hati ia berkata, "Matilah kau Larasati."


Srek. Krak


Pakaian mereka dalam sekejap terkena noda darah, Larasati panik dan tak tahan melihat darah segar mengalir deras itu pun pingsan setelah sang suami mendekapnya.


Pemeriksaan terhadap nya juga sang suami berbeda, NYONYA anda dalam keadaan sehat, selamat. Kami turut senang mendapat Kan bahwa seluruh pemeriksaan Anda sehat tak berkurang suatu apapun."


Petugas medis itu menjelaskan situasi yang di alaminya. "Dan mengenai Tuan maka Nyonya harus memberikan surat kuasanya. mohon di baca dan cermati." Petugas medis memberikan kertas berisikan surat pernyataan.


Larasati langsung menandatangani surat pernyataan tersebut agar suaminya segera mendapatkan tindakan. Dan di sinilah mereka sampai sekarang belum mendapatkan kabar dari sang dokter bagaimana kesehatan atau keadaan terbaru sang suami.


Bagaskara ternyata mendekap Larasati sehingga dia selamat, Bagaskara lah yang terluka, dia masih bertahan. Nyatanya penjaga maut belum berniat menjemputnya, karena itu dia masih bernafas saat di bawa ke rumah sakit .


Karina sengaja menikam mereka semuanya, menurut Larasati wanita itu cemburu dan marah karena di acuhkan Bagaskara. Entah mengapa Larasati tak mengerti juga enggak ingin tahu.


Memikirkan hal ini saja kepalanya serasa mau pecah, faktanya orang tuanya menyingkirkan nya dengan sengaja, "Jika senang-senang mengapa tak cegah kehamilan begini kan anak jadi korban".


Batin Larasati kesal jika mengingat kembali masa lalu nya. Ibunya juga dibohongi sehingga Larasati mengira ibunya meninggal dunia karena sakit hati dan susah move on.

__ADS_1


Karena terlalu cinta dia menderita sehingga dia tak memperdulikan kesehatan nya jadi sakit lalu meninggal dunia, itulah yang terbesit di pikiran wanita itu.


"Aku harus mendiskusikan tentang hubungan antara mereka berdua jika Mas Bagaskara sudah sehat." Pikir Larasati. Dia tak mau putri nya jadi seperti dirinya korban keegoisan orang tuanya.


__ADS_2