
Bismillah. Assalamualaikum. Selamat membaca.
Kabar terkini
Peluhnya jatuh
Dicari-cari jua angin itu
Kabar nanti
Ditarik helai hitamnya
Dipanggang
Hidup
Ditarik
Dipanggang
Manusia di kolam api
Bukan ayam dipanggang rasa balado
***
''Nyatanya manusia yang enggan berhijab kerap beranggapan dirinya belum mampu. Pertaanyaannya, adakah dalil yang mengatakan 'kerudungilah kepalamu, setelah kau mengerudungi hatimu'? Sungguh tidak ada.''
(Lampung, 13 Desember 2018)
***
Tubuh itu masih terasa dipanggang. Selimut yang membekapnya kian menahan panas saja. Air keringat urung menampakkan diri sebagai pertanda tubuhnya sudah cukup membaik. Usai subuh, ia kembali menggeletakkan diri di kamar. Tak kuasa kegiatan pagi buta yang biasanya ia sambut dengan lantunan ayat suci Alquran dan bacaan Al Matsurat pagi, ditinggalkan sejenak. Tubuhmya masih saja ingin mengajaknya tumbang.
''Teh, badannya masih panas, ya?''
Ibu datang dan terduduk di tepi kasur. Menyentuhkan punggung tangannya di dahi Najla. Seketika panasnya menjalar sampai hati, membuat Ibu cukup bersedih.
''Ibu masakin bubur dulu, ya? Terus Teteh minum lagi obatnya.''
''Iya, makasih ya, Bu.''
''Sama-sama, Sayang.'' Senyumnya indah. Pandangannya lembut. Lantas wanita itu pergi membuat kesan teramat cinta di ruang hati Najla.
Di dapur, Ibu langsung menerjunkan aktivitasnya membuat bubur ayam. Sekalian jua ia buatkan untuk Aini yang kini tengah menyapu lantai rumah. Selama dua hari semenjak tubuh Najla jatuh sakit, segala aktivitas membantu Ibu yang biasanya dibagi dua dengan sang kakak, harus ia dekam seorang diri.
Kian hadirnya matahari dari Timur, waktu berposisi di pukul setengah sepuluh lebih sepuluh menit Aini dan Ibu izin pergi ke ladang. Hendak dicarinya daun-daun singkong yang masih muda untuk disayur sore nanti. Kendati perasaan tak tega sempat mengayun-ayun di dalam dada kedua insan itu. Berulang-ulang jua Najla meyakinkan dengan tiga kata terbaik wanita 'tidak apa-apa'.
Ibu dan Aini pergi. Lima belas menit berjalan, Najla bangkit dari tidurnya untuk salat dhuha. Dipikir-pikir, ia enggan jua kalah karena sakit demamnya yang tidaklah parah. Air wudu sudah menjalar ke ruang-ruang mulut, wajah, tangan, serta bagian-bagian lainnya yang wajib dibasuh. Cukup terasa membuat Najla menggigil. Ia tahan-tahan, kendati dari wajahnya saja sudah terlihat pucat pasi.
Baru dikenakannya atasan mukena putih, seseorang mengetuk pintu rumah. Paham dan diterkanya Ibu serta Aini sudah pulang, Najla bergegas membuka pintu tanpa melepas mukena.
''Kok, suara--'' Langkahnya terjeda.
''Assalamualaikum.''
Di balik pintu, ujung-ujung kuku sebagai media gigitannya melampiaskan ragu. Gugup karena sudah paham siapa yang bertandang dari suaranya. Berkali-kali suara si tamu mengucapkan salam, detak jantung Najla kian dirasa dipermainkan jua. Berlari di tempat.
''I-iya waalaikumussalam.'' Sigap Najla segera bergerak membuka pintu. Wajahnya yang sudah pias semakin pias kali ini.
''Maaf, Naj. Cuma mau nganterin raport kamu. Tadi Pak Bambang yang nyuruh aku.''
Sudah dibuat terpana dan diistimewakan karena Ashad dipikirnya perhatian membawakan raport, nyatanya pernyataan Ashad setelahnya mematahkan harapan itu.
''Iya. Jazaakillahu khairaa, Ash. Maaf, Najla teh udah merepotkan Ashad.''
''Oya, sebentar.''
Dibukanya lagi tas hitam milik Ashad itu olehnya. Hampir-hampir ingatan dan niat pertama Ashad dari dua hari yang lalu akan habis menguap. Di sana, sebuah buku tulis dari beberapa buku lainnya ia keluarkan dan diserahkan kepada Najla.
Suara motor masuk halaman rumah membuat Najla dan Ashad meneh ke sumbernya. Najla sudah menerima buku tulis tersebut. Ibu dan Aini kembali.
''Waktu aku manggil Najla pulang sekolah, kayaknya Najla gak denger. Jadinya teh ya aku balikin sekalian sekarang.''
__ADS_1
''Nuhun, Ash.''
*Nuhun: Terima kasih
''Eunya, sami-sami.''
*Eunya\= Iya
*Sami-sami\= Sama-sama
''Assalamualaikum. Eh ada Ashad? Aya naon atuh?''
Punggung tangannya dicium bergantian oleh Najla dan Ashad.
''Ini, Bu. Cuma mau nganterin raport Najla disuruh Pak Bambang sama buku tulisnya yang waktu itu ketinggalan di kelas.''
''Ohh. Nuhun atuh ya. Jadi ngerepotin. Masuk dulu atuh. Ibu bikinin teh.''
''Uhm.'' Hampir mengelak, Ibu masuk lebih dulu dan mempersilakannya duduk. Tak enak hati jua Lelaki itu. Ibu dan Najla masih di sana, sedangkan Aini sudah membawa diri ke belakang.
Sebuah ingatan bertandang di kepala Ashad. Ada sesuatu yang memang masih dirasanya mengganjal kekalau urung dilaksanakan. Sebuah kegiatan yang memang tak wajib, tetapi selalu dilakukannya tanpa alasan apapun. Maka, di rumah itu, enak hati ataupun tidak ia berkata jua, ''Maaf, boleh izin salat Dhuha, Bu? Udah jam sepuluh lebih, nanti kalau di rumah takut nggak keburuh. Punten ya, Bu sebelumnya.''
*Punten\= Maaf.
Tiada mungkin niat baik itu dipatahkan oleh Ibu. Wajahnya merekah dengan senyuman, teramat semangat untuk mempersilakan Ashad menumpang salat. Hanya saja, Najla yang kini tergugu. Ia pikir, Ashad datang lantas pulang atau Ashad datang tanpa meminta izin untuk salat di rumahnya. Kekalau demikian, Najla yang menahan-nahan rasa lemas tubuhnya bisa melaksanakan salat Dhuha setidaknya dua rakaat. Namun kini, pikirannya mendadak bimbang. Sebuah pucuk cinta yang berusaha tak ia pupuk akarnya, bisa-bisa merekah karena... Salat Dhuha bareng Ashad?
''Ayo, Nak Ibu antar ke belakang buat ambil air wudu.''
Ashad berwudu, Ibu menyeduh segelas teh celup. Teruntuk kali ini ia harus menghindar daripada berbohong. Terlebih, mukena masih ia kenakan.
Najla sudah melangkahkan kaki hendak ke kamar. Namun, rencananya gagal. Ashad datang dari belakang melihatnya lebih dulu. Ruang salat yang memang tanpa pintu berada di sebelah kamar Najla, kini ia rutuki. Kenapa harus berada di sana?
''Najla udah salat dhuha atau belum?'' Pertanyaan ini berhasul dibangkitkan dari pikiran Ashad karena melihat Gadis itu sejak kedatangannya sudah mengenakan mukena.
Najla berbalik badan, wajah pucatnya disangar-sangarkan lagi.
''Bukan urusan Ashad, salat aja sana!''
''Allah gak suka sama orang yang gak mau diingatkan tentang agama, Naj.''
''Iya makasih udah ngingetin. Daripada waktu dhuha keburu habis karena ngingetin Najla, mending Ashad teh geura salat.''
*Geura\= Cepat
Gadis itu lolos sampai kamarnya. Kata-kata tak lagi dijatuhkan Ashad dari daging tak bertulangnya itu. Bergegas ke ruang salat, menggetarkan hati, dan mendialogkan harapan-harapan serta keluh-kesah kepada Sang Pemilik Hati. Sedang ia tak tahu, Najla geram pada diri sendiri. Betapa lemah dirinya itu hanya karena khawatir cintanya kian bertumpuk kepada Ashad sebabnya salat dhuha bersama. Kekecewaan dan penyesalan membuat ruang cukup dalam di hati Najla. Pun jua, perasaan bahagia menggebu di dalam dadanya. Suara tasbih dan dzikirnya lelaki itu menembus sampai ruang tersembunyi bernama hati.
***
Beruntungnya, kondisi Najla telah kembali seperti semula. Sehingga raga itu kini bisa menghadiri undangan yang Aurel beri. Siap memasang pandangan takjub tersebab keberhasilan sahabatnya.
Musik tari mulai mengisi ruang-ruang pendengaran insan di sana. Kaki-kaki para penari Sigeh Pengunten pun telah dilangkahkan pelan, hingga sampai pada titik tengah panggung. Riuh tangan berbicara laksana indahnya tarian tersebut di mata mereka. Pak Presiden Republik Indonesia mengembang sempurna garis bibirnya. Hingga gigi-giginya tampak dan rona bahagia berada di mukanya yang mulai keriput.
Pembukaan tari Beliau memilih berdiri menerima sambutan. Tak terlewat, sebuah selendang tapis khas Lampung bersulamkan emas telah tergantung di lehernya. Diberikan saat tubuh itu terlepas dari langit atap mobilnya.
Rambut tersanggul apik, mahkota siger berdiri tegak, tanggainya yang memperindah jemari, serta merta senyum yang tak lepas dari bibir mereka adalah sebuah keharusan acap kali menari. Lemah gemulai tangannya, Aurel berada pada barisan paling depan. Pada waktunya, ia membiarkan empat penari di belakangnya tetap di panggung. Sedang Aurel sendiri yang sejak awal karena berada pada barisan paling depan dan membawa sebuah kotak kecil, bergerak menuruni panggung. Menyambangi Pak Presiden dan menyodorkan sebuah kotak yang berisi dodol durian khas Lampung. Pun demikian yang ia lakukan pada tamu-tamu lainnya. Sampai di pendengaran kekalau musik tari sudah waktunya meminta Aurel kembali ke barisan lagi.
Ia masuk dari barisan belakang, hingga barisan di depannya itu menyeruakkan diri memberi jalan, Aurel melangkah perlahan. Posisinya kembali terdepan. Sepasang matanya yang bercahaya tak sampai menemui insan-insan yang ia pinta untuk hadir. Entah terduduk di kursi mana, Aurel tak tahu. Sekadar tahu mereka hadir untuk melihatnya menari hari ini. Sebuah momentum bersejarah dan terbaik selama Aurel menggeluti dunia tari.
''Yah, anak kita Aurel! Ya Allah dia terlihat sangat cantik dan anggun ya?''
''Pasti dong, Bun. Gak sia-sia Bunda masukin Aurel ke sanggar Tari dari kecil.''
''Itu karena Aurelnya yang tekun bukan cuma karena Bunda.''
Tertambat di telinga Najla, membuatnya menyetujui sebuah argumen 'setiap buah hati yang menang dalam berperang, di sanalah di balik perjuangannya terdapat orang tua yang mati-matian berjuang'. Di samping Najla, Mina dan Ismi masih turut berisik menyoraki para penari. Sementara kondisi hatinya mendadak digetarkan dengan nama Ibu dan Bapak. Nanti, atau entah kapan Najla harus bisa membuat bangga dua hati itu. Harus.
''Bangga punya sahabat kayak Aurel si bule KW. Baik, cantik, pinter nari. Jadi terharu ngeliat dia nari di sana.''
''Sama. Aku pun begitu.'' Ismi melempar pandangannya kepada Mina. ''Hey, kamu orang menangis? Terharu?''
''Iya lah. Siapa yang gak terharu coba?''
Tarian itu usai, pergilah Ayah, Bunda, Natta, Dava, Ismi, Mina, dan Najla ke balik panggung. Menemui Aurel yang telah usai dibuat debaran dalam dadanya pada detak yang abnormal. Kendati demikian teramat bahagia hatinya hati ini. Dari ujung kepala menggunakan Siger, kemudian badannya dipakaikan baju kurung, kain tapis dengan sulaman benang emas, gelang burung, gelang kano di tangannya, tanggai di jemari, dirasa-rasa engganlah Aurel lepas semua itu dari tubuhnya.
*Siger\= Mahkota gadis Lampung
__ADS_1
*Gelang Burung\= Gelang dari perunggu dipakai di lengan bagian atas
*Gelang Kano\= Gelang yang terbuat dari perak atau perunggu, dipakai di lengan bawah.
*Tanggai\= Kuku-kukuan berwarna emas
Berlatar belakang poster dengan tulisan utama 'Selamat Datang di Bumi Ruwai Jurai Penetapan Tol Trans Sumatera' dalam aksara Lampung, Aurel foto bersama kelompok tarinya. Beberapa kali ditangkap kamera, lantas disudahinya untuk menghampiri tamu undangannya.
''Selamat ya, Sayang. Bunda bangga sama kamu.''
''Thank you very much, Bunda. Semua ini juga gak lepas dari didikan Bunda.''
''Pengen meluk, tapi nanti gelang-gelangnya nyangkut di baju Bunda lagi. Hehe.''
Tiada tutur kata lagi, Aurel bergegas mendekap tubuh wanita itu. Berhati-hati jua.
''Selamat ya, Nak.''
''Makasih Ayahkuuuu terganteng!''
Najla, Ismi, Mina, dan Dava sudah menyelorohkan kata selamat jua. Tertambat di Dava, gemuruh batuk-batuk buatan sampai di sana. Pun jua 'cie-cie' turut disertakan. Malu-malu, Aurel sekadar menahan panas di pipinya.
''Aku bangga sama kamu,'' ujar Dava. Pandangannya lembut tertuju pada wajah Aurel. Gadis yang dipandangannya justru menunduk.
''Thanks, ho-honey.''
''Cie, ada yang balikan kayaknya,'' goda Mina.
''Aurel belum jawab permintaan balikan dariku waktu itu. Jadi belum balikan.'' Seakan-akan pernyataan bermakna sindirian dari Dava. Dilihatnya, Aurel justru menggemaskan tersebab mengerucutkan bibir. Kesal kepada Dava.
''Apaan sih. Cowok kan emang gak peka. Udah dipanggil honey juga masih aja tanya kejelasan hubungan. Cuma Ayah yang selalu peka. Iya kan, Yah?'' Adunya kepada Ayah.
''Kak Natta juga,'' celetuk Natta.
''Ah iya! Kakak belum kasih ucapan selamat buatku! Dasar!''
Tak sampai menuruti, Natta justru tersenyum cuek saja. Sudah dipukul-pukul jua lengannya oleh Aurel, ia tak tergerak sama sekali. Membuat sang adik kesal, lantas menggelitiki pinggangnya. Di sanalah, gelak tawa menggema.
Siangnya, acara telah usai. Beberapa kali para penyambut tamu kehormatan hari spesial ini usai sudah diabadikan melalui layar kamera. Masing-masing dihadiahi paper bag yang entah jua isinya apa. Katanya sebagai cinderamata pernah menjadi insan-insan terpilih untuk menyambut Presiden.
Aurel beserta keluarga dan kawan-kawannya memutuskan untuk singgah pada sebuah rumah makan kedaerahan di Bandar Lampung. Menu-menu yang disediakan berasal dari segala provinsi di Indonesia. Di sana, Najla memilih pempek, Aurel ketoprak, Mina gudeg, Ismi tentunya Seruit. Makanan kebanggaan yang amat disukainya. Di sana, satu meja penuh bersama Natta, Dava, Ayah, pun Bunda jua. Masing-masing memesan apa yang diinginkan. Segala pembayaran ditotalkan oleh Ayah. Katanya, ''Itung-itung syukuran karena kesuksesan Aurel.''
''Untung ada pendingin ruangan, kalo enggak udah gak tahan aku pakai baju kurung.'' Aurel menelungkupkan sedok dan garpunya. Pertanda ia sudah mengakhiri makan siang ini.
''Untung juga, siger kamu orang yang beratnya lumayan bikin pusing itu udah dilepas.''
''Yes. Andai enggak aku lepas, Najla udah aku suruh ngerokin.''
Najla yang tahu menahu hanya mengangkat kepalanya. Disambut tawa yang berdekak-dekak meramaikan meja.
''Kalian gak gerah ya, pakai kerudung lebar gitu?'' Bergantian pandangan Aurel sampai ke Mina, Ismi, dan Najla. ''Jangan bilang kalau neraka lebih panas! Please dont!''
''Aurel mah bisa aja. Lagian, dengan kayak gini teh kita ngerasa nyaman. Ngerasa terlindungi dari pandangan kotor para lelaki.''
''Betul.'' Mina menimpali.
Di sana, di atas piring-piring itu hanya tertinggal bekasnya saja. Makanannya sudah sampai di pencernaan, menekan perasaan lapar yang menggeliat sedari tadi. Beberapa menit dibiarkan raga-raga itu melepas penat di sana usai mengisi perut. Aurel sibuk mendorong Najla untuk aktif bermain instagram, sesekali bercanda tawa jua bersama Dava.
Di akhir kepergian mereka meninggalkan rumah makan, Aurel membawa sebuah kalimat keinginan yang terbenamkan karena keadaan. ''Aku ingin berhijab, tapi merasa belum baik. Ah someday saja. Terpenting aku menjadi baik dulu.''
Semua pergi, Aurel digenggam jemarinya oleh Dava. Satu mobil bersama Ayah dan Bunda, sedangkan Natta bersama ketiga sahabatnya.
Satu pikiran yang sesat dan tak sadar akan kesesatannya. Urung mengerti berhijab sama dengan kewajiban.
***
Bersambuunngg.
Hayo siapa yang udah ngarep Najla sama Ashad salat Dhuha bareng? 😂
Oya, Baru kali ini bisa sampai 2000+ kata. Hehe. Komentarnya atuh untuk bagian ini. Itung-itung spesial part terpanjang. Wkwk.
Ditunggu ya komentarnya😉
Terima kasih. Wassalamualaikum.
__ADS_1