Atas Nama Cinta

Atas Nama Cinta
46.


__ADS_3

Acara sarapan pagi berjalan lancar, Bagaskara yang semula mode siaga menjadi rileks, mengobrol ringan bersama teman-temannya Larasati juga ayah kandung Larasati.


"Itu merupakan prospek bisnis, jika di lewati maka yang ada rugi. Jadi tak ada istilah negosiasi, selagi masih ada kesempatan maka digunakan secepatnya atau kau tak akan mendapatkan apapun!"


Bagaskara menjelaskan tentang semua peluang bisnis. Akbar manggut-manggut saja sedang Dirga tak komentar apalagi Davis yang terkesan acuh.


Sementara anak-anak perempuan bergabung dengan Larasati dan Adista. "Keliatan banget para wanita kita asyik dengan kesenangan sendiri." Gumam Davis masih menyuap sarapannya.


Larasati, Galuh, Cicilia juga Adista duduk merapat berbincang tentang seputar kehamilan.


"Fase ngidam orang berbeda-beda, ada yang tak suka makan apa-apa. Wanita yang menikah itu berbeda dengan wanita yang hamil karena tak sah. Wanita yang berzina akan di buang nikmat kehamilannya."


"Karena perbuatannya itu yang mengandung dosa berbeda dengan wanita yang menikah, ia akan diberikan kenikmatan bersama."


"Seperti tak doyan makan nasi, hanya mengandalkan makanan lainnya seperti buah-buahan. Umbi-umbian atau sejenisnya. Berbeda dengan wanita yang suka berzina jika ia diberikan bayi dalam rahimnya."


"Maka ia akan kehilangan kesempatan pahalanya, tak merasakan kenikmatan itu bisa jadi dia akan membunuh bayinya. Dan mendapatkan balasannya saat menikah nantinya."


Penjelasannya Adista membuat Cicilia Galuh saling menatap satu sama lainnya. Larasati mengetahui bahwa kedua sahabat nya itu menjadi berubah ekspresi nya.


Larasati hanya berpura-pura tidak melihat, asyik melibatkan sahabat nya dalam pembicaraan mereka. "Maafkan, aku ada sesuatu yang mesti dikerjakan. Ayo sayang kita pergi.' Bagaskara sudah berdiri di sini Larasati.


"Maaf, mungkin lain kali kita kumpul lagi.." Larasati ikut berdiri memegang perut buncitnya.


"Ada apa ? Baby nya jahil lagi sayang." Tanya Bagaskara merangkul Larasati dan satu tangan mengelusi perut nya memberikan kecupan di pelipisnya Larasati.


Galuh dan Cecilia saling melirik, Akbar merenggut sebal melihat bucin yang sudah menjadi biasa dia lihat jika di dekat mereka.

__ADS_1


Sedangkan Dirga masih mengalihkan pandangan karena dia masih sesak napas tiap kali di dekat Larasati. Walaupun berusaha untuk move on namun tetap saja belum bisa secepat itu.


Bagaskara dan Larasati mohon pamit pulang, " Sering lah datang kemari pintu rumah kami terbuka untuk kalian kapan pun." Ucap Heru hanya di jawab dengan senyuman Bagaskara sebelum memeluk lelaki paruh baya itu.


Larasati hanya acuh langsung berjalan meninggalkan tempat itu. Masuk ke mobilnya yang sudah di buka kuncinya oleh Bagaskara dari jauh. Tak lama Bagaskara menyusul mengikutinya.


Mobilnya meluncur meninggalkan kediaman Atmaja, membelah jalanan menuju ke apartemen mereka. "Lain kali kita kita tak perlulah mendatangi rumah itu."


Gumamam Larasati membuat Bagaskara menoleh menatap wajah sang istri. "Apa kau tak nyaman selama kita di sana?" Tanya nya penasaran.


Pasalnya tadi Larasati begitu rileks, bercanda ria serta banyak hal yang mereka bahas dalam obrolan bahkan terlihat jelas begitu luwesnya seolah-olah tak terlihat ada persengketaan antara mereka.


"Baiklah, sesukanya kamu sayang. Maaf aku tak bisa menemani mu, ada hal darurat di kantor." Bagaskara mengelus punggung hingga ke kepalanya Larasati.


"Ada bibi yang bersih-bersih nanti aku minta dia menemani hingga kamu pulang." Jawab Larasati.


Bagaskara meminta asisten nya mengirimkan mobil nya yang di tinggalkan di kantor. Dan lelaki itu ingin melewatkan momen bersama dengan istrinya karena itu ia seringkali menyetir mobilnya sendiri jika bersama Larasati.


Mau bagaimana lagi Bagaskara tak bisa menolak pesona Larasati sang istri yang terkadang bertingkah laku kekanak-kanakan dan suka sekali bermanja padanya


Mobilnya meninggalkan apartemen miliknya Bagaskara memacu ke perusahaan nya setelah memastikan sang istri masuk ke Lit di apartemen miliknya. Bergegas memasuki gedung megah bertingkat setelah memarkirkan mobilnya dengan asal di depan lobi perusahaan


Sekuriti memarkirkan mobilnya Bagaskara begitu lelaki itu turun melewati nya. "Apa yang terjadi? Wanita itu menuntut pertanggungjawaban ku sebagai suaminya? "


Wajah Bagaskara yang tak bersahabat menatap asisten nya. "Dia ingin bertemu dengan Anda, namun sudah di jawab pengacara Gunawan jika anda tak ada waktu."


"Wanita itu kerap kepala bahkan melakukan uji coba bunuh diri. Saran saya temui dia sekali saja dan katakan secara langsung apa keinginan Tuan. Dia termasuk menghalalkan segala cara untuk menggapai keinginan nya yang jelas-jelas salah!"

__ADS_1


Bagaskara menatap asisten nya bersama dengan pengacara nya. "Baiklah kita pergi sekarang dan kita lihat apa yang terjadi. Jika dia berani berbuat maka dia harus terima konsekuensinya. "


Bagaskara tak jadi duduk di singgasana nya lalu keluar diikuti sang asisten juga pengacara nya. Di kantor lengang karena libur namun ada yang beberapa lembur.


Melihat penampakan sang bos yang berpakaian santai membawa atmosfer yang berbeda.


Bahwasanya sang bos yang terkenal dengan wajah kulkas juga terlihat kaku, sekarang ini mereka melihat pribadinya yang berbeda. Bahkan ada yang diam-diam memfoto nya dan membagikan di grup perusahaan.


Membuat para kaum hawa menjerit-jerit karena pesona ketampanannya.


"Sumpah bos keren banget berasa banget kaya anak kuliahan. Pakaian denim yang dikenakan nya pas banget."


"Tambah bengek kita tak lepas dari pesonanya."


"Apakah si Bos udah punya kekasih ya? Aku mau dong jadi kekasih nya, sekedar simpanan juga mau... Enggak nolak sumpah."


Masih banyak komentar masuk di grup perusahaan membanjiri aplikasi hijau itu. Bagaskara sendiri tak mengetahui tentang itu juga sang asisten, mereka fokus ke tempat kepolisian yang menahan Karina karena insiden penusukan itu


"KARINA ADA YANG MENEMUI MU ". seru petugas wanita dan menggiring nya ke ruangan khusus untuk pertemuan mereka.


Yang jelas di sana ada Bagaskara juga asisten berikut pengacaranya "Sayang kau datang." Seru Karina hendak menghamburkan dirinya ke pelukannya Bagaskara namun di tahan sang petugas.


"Jaga sikap Anda." Peringatan dari wanita berseragam coklat itu menatapnya tajam. Karina mencebikkan mulutnya kesal duduk di hadapannya Bagaskara hendak menarik tangannya namun lelaki itu menarik diri memasang muka datarnya.


"Katakan apa mau mu melakukan hal remeh seperti itu! Kau pikir siapa dirimu? Tak ada artinya bagiku. Kau hanya sebutir debu yang layak di buang. Dan kau pikir aku peduli terhadap mu?"


"Salah! Wanita seperti mu layaknya membusuk saja di tempat ini seperti busuknya hati kamu! Jadi jangan berlagak seperti kau ini korbannya! Tak akan ada kesempatan untuk kamu sekarang atau kapan pun!"

__ADS_1


__ADS_2