
Bismillah. Assalamualaikum. Selamat membaca.
Kasih telah ditemu
Tata cara rindu
Membeku
Kasih kasih kasih kasih
Dipucuk cinta
Kisah bertasbih
***
''Andai saja Tuhan menakdirkan rasa hidup bahagia di hati manusia itu karena harta, jadi bagaimana dengan hidupku yang seadanya?''
(Yang aku rindukan pun datang. Hujan. Lampung, 26 Oktober 2018)
***
Lengan kekar nan legam itu dirangkulkan ke tubuh mungil sang puterinya yang baru tiba. Dirasa basah pada baju di dadanya. Ditilik, nyatanya karena tumpahan kecil dari sudut mata Najla.
''Malah nangis nih Teteh mah.''
''Hiks. Kangen sama Bapak.''
''Ayo masuk! Adek sama Ibu di dalem. Lagi buka oleh-oleh yang Bapak bawa.''
Terangguk jua lah kepala Najla. Bahunya masih dilingkari lengan Bapak. Melangkah tak malu-malu, pun menangis tak malu-malu. Namanya saja rindu, hati mana yang tak bisa menahan bahagia kala temu? Titik bening itulah yang tengah berbicara perihal kebahagiaan Najla. Tiba di dalam, Aini seorang diri tengah menghitung jumlah buah anggur. Satu tas besar tampak-tampaknya urung terjamah tangan barang sekali. Masih rapi. Lain lagi dengan sekantong plastik merah besar di samping Aini. Sudah mulai mengeriput. Isinya telah dirampas. Ditemukan langsung di atas lantai.
''Teh! Coba tebak anggurnya ada berapa?''
Najla menaikkan sebelah alisnya.
''Bapak sini! Duduk di samping Adek! Bantuin ngitung anggurnya.''
Bersilalah Bapak di hadapan Aini. Sedangkan Najla masih mengapit lengan Bapak jua. Biarlah dikatakan kekanak-kanakkan, toh Bapak akan mengerti anak gadisnya beranjaklah gadis. Kendati jwanya masih mungil semungil anak berusia lima tahun. Selama apapun napas itu berembun di bumi, bisa kembali bermula tunas kala bersua sang pahlawan tanpa tanda jasa. Bapak. Ibu.
''Teteh ganti baju dulu!'' Aini menyentak Najla.
''Iya, Teh. Ganti dulu sana!''
''Ya udah. Maaf ya, Teteh lupa. Maklum saking kangennya sama Bapak.''
Najla beranjak ke kamarnya. Ibu kembali ke ruang tengah bersama segelas kopi hitam dan sepiring gorengan tempe. Disesaplah cairan hitam nan kental itu usah diabaikan sejenak. Mempersilakan anginnya alam membawa kabur uap-uap panas dari gelas. Berkumpullah lengkap keluarga kecil itu. Kisah-kisah diperlantunkan silih berganti oleh masing-masing kepala. Senja hingga malam kali ini kembali larut pada kesempurnaan tawa yang didengar langsung. Berdzikir-dzikir dan witir bersama. Sujud cinta pada Sang Kuasa berada pada garis tempat yang satu.
''Coba Bapak tanya sama Teteh sama Adek. Cita-cita kalian apa?'' Tangannya yang hitam itu mengusap kepala dua puterinya penuh cinta. Najla yang membaringkan kepalanya di atas pangkuan Bapak, dan Aini yang membaringkan kepalanya di atas pangkuan Ibu. Pada sehelai tikar kecil itulah dijadikan saksi tak bertuankan nyawa.
''Kalo Teteh-''
''Adek-Adek! Adek dulu yang jawab! Adek mau jadi guru! Kalo Teteh apa?''
''Kalo Teteh mau jadi bidadari surga.''
__ADS_1
''Bidadari surga?'' Punggung Aini terangkat seketika. Kalimat yang Najla lontarkan laksana memberi denyutan spontanitas pada punggungnya. ''Yang bener atuh Teh!''
''Iya. Teteh pengen jadi bidadari surga dan jadi guru agama.''
Tak dibiarkan wajah Aini itu selalu dikuaskan tanya. Bapak mengambil langkah pembicaraan. Dituturkannya jua lah penjelasan tentang bidadari surga. Diam-diam tentu diaminkannya apa yang dikata-katakan sebelumnya oleh dua puteri yang diangankan bisa menjulurkan tangan tuk bersama-sama sampai si rumah terindah. Surga.
''Adek mudeng gak apa maksud dari bidadari surga yang Teteh bilang?''
Aini menggelengkan kepalanya.
''Jadi, bidadari surga itu. Seorang wanita yang paling cantik hatinya. Yang paling dicintai Allah. Jadi bidadari surga itu lebih sulit karena harus menahan nafsu, menjaga diri karena Allah. Nah, kelak Bapak berharap kalian ini bidadari surganya Bapak sama Ibu. Kalo Bapak sama Ibu gak ada di surga, kalianlah yang membantu Bapak dan Ibu dibebaskan oleh Allah.''
''Dengerin apa kata Bapak,'' ujar Ibu.
Esoknya, pagi sekali bungkusan-bungkusan kecil berisi beberapa makanan dipertandangkan kepada tiap-tiap rumah yang sekiranya tak begitu jauh dengan rumah Najla. Membagikan sedikit senyum dengan perantara kabar oleh-oleh. Aromanya sudahlah pasti berbau Pulau Jawa. Tanah Sumatera tanah usai di garis lintang dan bujurnya tersusun rapi oleh serumpun kisah berselimut kasih.
Najla dan Aini yang membagikannya. Menggunakan sepeda Najla, ia membonceng Sang Adik yang sekadar menambah coretan kisah dan beban di bagian belakang sepeda.
''Ini Wa,'' ujar Najla seraya dijulurkannya sebungkus oleh-oleh itu kepada tetangga.
''Euleh, atos uih Bapak teh?''
*Atos\= Sudah
*Uih\= Pulang
'
'Eunya kemarin sore, Wa.''
''Oh. Nuhun atuh. ''
*Eunya\= Iya
Persimpangan cerita membagikan sedikit rezeki, berbelok jualah kisahnya lagi. Kini dua pasang kaki itu memutar-mutar pedal sepeda. Beban yang dibawanya bahkan tak dirasa-rasa kendati usia sudah tak lagi muda. Gelak tawalah yang mengguyur jejak ban sepeda itu di sepanjang jalan berbatu. Sudah lama tinta kisah yang seperti ini tak dipersuakan. Bertandangnya mereka ke ladang untuk mencari kayu bakar dan berlibur ala masyarakat desa. Tak ada pantai, tak ada mall, tak ada puncak, biarlah. Sebab rawa, pohon-pohon tinggi, tunas dari biji jagung, dan tanah basah bekas embun yang jatuhnya dengan volume tebal-tebal sudah memberi arti bahagia tersendiri.
Cangkul-cangkul ditancap lantas diangkatlah oleh para pekerja keras, pembajakan sawah, serta-merta kegiatan insan-insan berjiwa sosial alam terdampar kuat di sana. Saling sapa sudah tak canggung lagi. Suara-suara keras insan yang berlalu-lalang di jalanan kepada insan di petakan sawah atau di bibir jalan terlangitkan tiap pagi.
Bapak dan Ibu masih saja mengayuh sepeda. Hingga ditepikan jua di antara pepohonan yang menjulang tinggi tubuhnya.
''Bapak minta izin dulu sama yang punya ya. Kalian di sini aja.''
Cukup berjalan Bapak menemui pemilik pohon-pohon tinggi itu.
''Wehhh Mang Adang! Iraha balik? Ujug-ujug ketemu.''
*Iraha\= Kapan
*Balik\= Pulang
*Ujug-ujug\= Tiba-tiba
''Kemarin, Mang.'' Bapak menjulurkan tangannya. Lantas disambut hangat.
''Alhamdulillah.''
__ADS_1
''Bade minta kayu-kayu kering, Mang. Eta tah anu maluragan.''
*Eta tah\= Itu tuh
*Anu\= Yang
*Maluragan\= Berjatuhan
''Sok we. Tidak perlu izin dulu juga gak apa-apa atuh.''
*Sok we\= Silakan saja
''Biar afdol. Hehe. Nuhun nya.''
Kembali lah Bapak. Golok yang dibawanya mulai digerakkan mematahkan kayu kering yang sekiranya masih berukuran besar. Sedangkan istri dan kedua anaknya dipinta menyusun kayu-kayu tersebut. Tak ada lelah yang dikeluhkan dari daging tak bertulang keempatnya. Perbincangan kecil saja yang kerap menyelinap lantas membumbungkan tawa. Hingga dirasa-rasa sudah cukup banyaklah kayu bakar yang didapat, mereka mengakhiri kegiatan itu. Kerongkongan dibasahi dengan cairan bening dalam botol yang sengaja dibawa dari rumah. Terduduk di tanah beralaskan karung khusus Aini dan Najla. Bapak dan Ibu tak apa sebab terbiasa duduk di atas tanah ataupun rumput.
''Mang Adang!'' Lelaki yang Bapak hampiri tadi berseru.
''NAon Mang?''
*NAon\= Apa
''Lamun pengen kelapa muda, ambil aja ya! Tinggal manjat tah.''
*Lamun\= Kalau
''Oh. Siap. Nuhun MAng.''
Pembalasan itu tak berlangsung lama. Allah mengirimkannya secara cepat. Pagi tadi biarlah tangan mereka yang terjulur dari atas. Kini tanpa diminta ada lah yang menjulurkan tangan kepada mereka. Kerongkongan pun bersua air kelapa, gigi mereka mengunyah dagingnya yang masih lembut itu. Nikmat yang tak terkira pada rumah hati hamba-Nya yang senantiasa bersyukur.
Masih bercakap jua kala lidah terkecap kelapa muda itu, nasihat yang mendadak bertuankan sendu pada satu hati. Kendati yang menasihati bernada canda.
''Nah gimana capek gak cari kayu?'' tanya Bapak.
''Capek Pak.'' Aini menelan daging kelapa yang usai dikunyahnya.
''Lumayan capek, sih,'' ujar Najla.
''Ibu sama Bapak mah udah biasa. Jadi gak capek. Ya, Pak?''
''Betul. Tapi, kalian itu jangan mau kayak Bapak sama Ibu! Hehe. Kerja jauh, panas-panasan, tung-tungna nyeri cangkeung!''
Gelak tawa jatuh jua berderai-derai. Najla saja lah yang tertawa di atas angin. Tanpa makna lucu baginya. Makna pilu lah yang bermuara.
''Kalian harus jadi orang sukses! Apa yang dicita-citakan yang kalian bilang semalam harus diusahakan! Berdoa! Oke!'' Sudah seperti seorang proklamatorlah Bapak dalam menuturkan pesan itu.
''Siap!'' Bersamaan, tangan Najla dan Aini laksana hormat saat pengibaran bendera merah-putih. Kendati ada yang berkabut dari mata Najla. Ia tahu betul bagaimana peluh di punggung Bapak dan Ibu itu jatuh. Melihatnya saja sudah cukup terenyuh, entah bagaimana pula jikalau ia rasakan menjadi daging dan tulangnya Bapak dan Ibu. Sedangkan Aini terkikik saja. Lain makna pada jiwa kekanakannya yang masih melekat.
***
Bersambuunng.
Menurut kalian, kualitas menulisku menurun gak? :(
Karenaaa aku merasa begitu.
__ADS_1
JAwab ya😊
Terima kasih. Wassalamualaikum.