Atas Nama Cinta

Atas Nama Cinta
Bab 20: Wanita


__ADS_3

Bismillah. Assalamualaikum. Selamat membaca.


Air ditemu debu


Tercemarlah


Di antara serentetan jalan


Hatinya air


Kepalanya debu


Kotorlah


Dia di kepala: wanita


Dia di hati: ayat-ayat cinta karena Illahi


***


''Tentang wanita, dia lah cinta. Tentang wanita dia pembawa suka. Pun demikian pembawa duka: pemicu adanya fitnah di mana-mana.''


(Mendirikan imajinasi di antara Ujian Akhir Semester lima. Lampung, 28 November 2018)


***


Sejumlah hari dalam kurang lebih 11 bulan itu sudah digandrungi otak-otak. Asupannya bagai mengurung banyak kepala, dan untuk hari ini bagai terbebas dari penjara bagi para jantung dan raga-raganya itu. Satu minggu dituntut dengan pertanyaan-pertanyaan dari belasan mata pelajaran, teruntuk Penilaian Akhir Semester 2 bagi Najla.


Kini, gadis itu bersama kawan segrupnya duduk di pelataran masjid. Masih jua menggumamkan diri dengan buku-buku, seolah mencari apa-apa saja jawabannya yang salah. Yang demikian itu, Najla saja yang masih mengusik. Ketiga kawannya santai bak di pantai, menikmati detik-detik yang mulai diberi kebebasan.


''Hm, tadi Najla salah jawab nih. Padahal jawaban sebelumnya itu A, malah Najla ganti jadi C!''


''Udah lah, Naj. Kamu orang risau sekali. Aku yang kemungkinan salahnya banyak pun tetap santai.''


Sungguh Najla sudah berserah, bagaimana pun hasil yang keluar nanti. Namun alangkah risau dan ketakutan masih ingin berada di sisi hatinya. Titik utamanya ialah Ibu dan Bapak. Diangankannya nilai-nilai baik bisa menyenangkan ruang hati mereka. Diangankannya, bisa menelepon Bapak yang tengah beristirahat dari letih tubuhnya dan membuat Pria itu tersenyum di ujung sana. Di balik telepon, pria itu mengatakan kepada Najla, ''Sip! Bapak seneng kalau nilai-nilai Teteh makin bagus. Berarti capeknya Bapak di sini gak sia-sia.''


Demikian respons Bapak tiap-tiap Najla mengabarkan dirinya mendapat nilai yang bagus. Alih-alih kini pun masih ia bungkus di kantong-kantong doa dan harapan, tetapi badai besar siapa tahu kapan datang? Kendati Najla tak menginginkannya.


Dibukanya saja tutup botol minum. Tampak tinggal setengah isinya, habis ia teguk saat ujian PAS terakhir di semester dua ini. Pelan-pelan ia teguk sisanya, terpejam, tenggelam, bersyukur. Disudahinya, dan masih ada sisa. Memang sengaja disisakan jua, sebabnya takut kekalau cuaca mendadak meluapkan emosinya siang ini. Antara-antara energinya yang tengah dipergunakan mengayuh sepeda.


''Aku deg-deg-an nih! O M G.''


''Kenapa?'' tanya Mina.


''Today! Pulang sekolah ini adalah pengumuman lolos dan tidaknya aku ikut seleksi tari untuk penyambutan presiden itu!''


''Hah? Sekarang?'' Sedikit, mata besar Najla kembali diperluas besarnya.


''Yup. Please wish for me.''


''Kalau lolos, ada acara makan-makan ditraktir kamu orang, Rel?''


''Gampang. Bisa diatur.''


Apalah arti uang yang sudah terbiasa Aurel genggam. Membelanjakannya untuk apa-apa jua tak ada rasa iba dan pemikiran berulang-ulang. Ia royal untuk membagi-bagi. Untuk diri sendiri, atau siapa pun yang memang sudah ia taruh perasaan kasih dan sayang. Ya, Najla, Mina, dan Ismi misalnya.

__ADS_1


''Ismi mah bercanda atuh, Rel. Iya kan, Is?'' Karena tak enak hati, Najla berkata demikian. Untuk kali kesekian akan ia tampa lagi bukti hati Aurel yang pemurah.


''Serius. Aurel biasanya kan kalau lagi bahagia suka traktir kita makan.''


''Jadinya kebiasaan. Gitu kan, Naj maksudmu?'' celetuk Mina.


''Iya.''


''Udah deh. Liat aja nanti. Toh, aku pun sama sekali gak merasa dipermasalahkan dengan permintaan Ismi. Kalian kan my best friend forever!''


Kejenuhan sudah mulai merabai mereka. Akhirnya satu dari keempat insan itu pun mengajak untuk pulang saat ini jua. Murid-murid lain pun sudah membawa pergi diri mereka bersama tas punggung atau selempangan yang ringan. Sekadar berisi beberapa buku, papan ujian, dan alat tulis saja lah.


Saling menunggu mengenakan sepatu, Aurel paling terakhir selesai.


''Lets go!''


''Hhh. Nungguin kamu orang pakai sepatu bisa berjam-jam gini.''


''Ish. Gak usah berlebihan deh, Is. Just five minuts.''


Sudah kaki mereka dilangkahkan beberapa meter, Aurel mendadak merentangkan tangannya. Pertanda sebuah pinta untuk ketiga kawannya sejenak berhenti. Sebuah pemandangan baru ia dapati kali ini.


''Wait! Kalian lihat itu.'' Telunjuknya bergerak mengarah pada seorang siswi yang sekadar punggungnya saja lah terjamah mata. Tak ada yang aneh. Hingga-hingga ketiga kawannya justru melayangkan kata aneh untuknya.


''Aneh? Kok malah anggap aku aneh?''


''Kita teh gak mudeng, Aurel maksudnya apa nunjuk siswi yang pakai tas biru itu?''


''Oh my God! Coba lihat lagi. Tadi aku melihat wajahnya, giliran kalian aja yang cuma bisa lihat punggungnya.''


''O-'' Kelima jemari Mina membekap mulutnya. Najla berdesir bahagia hatinya. Ismi terpesona dibuatnya. Ada dua hati dari keempat hati itu yang ingin seperti siswi tersebut.


''Cadar,'' lirih Ismi.


Selama ini, Najla sekadar mendengar desas-desus tentang siswi yang bercadar di sekolahnya. Siapa dia, benar urung diketahui namanya. Cukup dari pandangannya yang teduh itu bisa Najla serap ke memorinya. Sekadar untuk memotivasi diri.


''Bangga deh liatnya. Aku pengen, tapi terlalu banyak tapi-tapi yang lainnya.''


''Aku mau ah. Bu Eko kan jual, pesan yuk!''


''Tapi nanti tunggu aku punya uang ya, Is.''


''Sip.''


''Semoga niat baik kalian terlaksana ya. Ayo kita pulang! Dari tadi teh gak nyampe-nyampe ke parkiran.''


Lagi, mereka pergi. Membawa seberkas memori baru yang langka untuk disisip dalam kepala.


***


Sedari tadi kain itu dibuatnya pusing, kekalau seandainya bukan benda mati. Sebab hilir-mudik, kanan-kiri, atas-bawah, putar-putar, pada media kaca dilakukan sang tuannya. Butiran-butiran yang hampir tak bisa disentuh pandangan pun lenyap ia bersihkan. Semula kusam, kini cerah lagi.


''Teh! Tolong ambilin kursi, sih. Bagian atas kacanya belum Adek bersihin. Gak nyampe.''


''Ambil sendiri.'' Angkuhnya biar tak peduli jua tak apa-apa. Menyibukkan diri saja dengan tugasnya mencabuti rumput-rumput liar pada halamannya yang lumayan luas itu.

__ADS_1


''Tolong loh, Teh. Adek capek nih. Kursinya kan berat.'' Sengaja Aini menampak-nampakkan air muka letihnya. Kursi yang biasa berdiri di sana sudah diangkut ke belakang.


''Jangan nyuruh-nyuruh! Kalau bisa dikerjain sendiri mah kerjain!''


''Teh... '' Aini kian merajuk.


Kendati mulut Aini sampai berbusa, hati Najla takkan dibuat luluh. Tanah yang cukup lembab membuatnya bersuka ria mencabuti rumput-rumput itu. Laksana menarik helaian rambut pada gundukan tepung terigu. Hujan lebat yang bertandang tak sampai berlama-lama di hari kemarin karenanya.


Hari Minggu yang teduh untuk hari ini, serta-merta bisa diajak bersantai. Santainya bukan berleha-leha memainkan ponsel, duduk-duduk, atau menikmati tiap-tiap tayangan dari layar televisi. Santainya bercengkrama dengan alat-alat kebersihan memakan waktu yang panjang. Bersama Ibu dan Aini tentunya. Ibu membersihkan pelataran sumur yang mulai dihuni sejenis tumbuhan yang licin. Bisa membuat kaki mana saja jatuh dibuatnya.


Sambil bersenandung, tak sadarlah Najla ada sebuah sepeda melintas pelan di jalan depan rumahnya. Tiada diketahuinya, dia lah Ashad. Ashad baru kembali dari ladang, dengan sekarung rumput yang ia ikatkan di kursi belakang sepeda. Sekali pandangannya jatuh kepada Najla, sadarnya sempat hilang memandang Gadis berbaju hijau itu. Sekejap kemudian tersadarkan, sebuah teriakan yang cukup nyaring menyambar hingga gendang telinganya.


''A' Ashad! Gak mampir dulu?''


''E-eh. Kapan-kapan,  Aini. Dahhh.'' Seketika, ia percepat kayuhan sepedanya. Diakhiri dengan lambaian tangan, lantas bersandiwara untuk fokus lagi mengendarai sepeda.


Perginya Ashad, justru memicu datangnya ledekan dari Aini. Ia mesem-mesem menghampiri kakaknya, tak peduli jua kakinya tak memakai sendal.


''Teh, tadi yang lewat pacar Teteh ya?''


''Heh! Pacaran itu gak boleh! Do-sa!''


''Alahhhh. Tapi kalo nulis surat buat orang yang kita suka gak dosa kan, Teh?''


Bukan kata perkata yang keluar, Najla malah membulatkan matanya. Tak disangka-sangka, pikiran Aini ternyata masih bisa dihidupkan loncengnya tentang surat itu. Kali ini, lonceng kedua yang enggan Najla dengar. Ya, perihal surat rahasia. Wartanya surat itu merebak hingga telinga Ibu dan Bapak, sudah lah keadaan kesehatannya bisa  terancam punah.


Sorenya, semesta bertugas dengan baik. Bekas matahari yang cukup memanggang siang tadi, bisa membawa kedamaian di mata, hati, dan alam sorenya. Semakin silau cahaya pada jam-jam siang, maka semakin cantik lah sinarnya yang akan kembali ke peraduan.


Di dalam sebuah kamarnya yang sederhana itu, Ashad terduduk menghadap jendela yang masih dibiarkan terbuka. Melesatnya kepada tujuan hari ini memurojaah hafalan surat Al-Baqarah seraya berdzikir atas keagungan Allah menciptakan keindahan alam di penghujung matahari menutup diri.


Berlapiskan sarung kotak-kotak putih dan baju koko marun berlengan panjang, lelaki itu membenahi posisi peci hitam polosnya. Mushaf Al-Quran pelan-pelan dibukanya, tepat Al-Baqarah dari ayat pertama.


''Audzubillahiminnas syaiton nirrojim. Bismillahirrohmannirrohim.'' Lembut. Selembut sutera. Indah seindah permadani.


Keagungan Allah ia rasakan dalam dada seraya mengulangi hafalan suratnya. Pelan-pelan, kian kemari, seperti ada ledakan yang mulai mengempis dalam jiwa. Keagungan-Nya berhasil membuat Ashad merasa sangat kerdil sore itu. Bacaannya baik, hukum-hukum mad tabii, idgham bilagunah, dan sejenisnya benarlah ia berlakukan. Serangkaian alam seperti tunduk, dirasa dari tenangnya angin yang meraba muka. Dilihat dari biasnya langit di ufuk barat. Pohon-pohon menyambut kedatangan suara murojaah Ashad dengam gembira.


Tiba di ayat lima puluh, ingatannya mendadak buntu. Lidah itu sudah kehilangan tuannya tentang ayat-ayat selanjutnya. Matanya terpejam, menggali sedalam mungkin ingatannya yang mendadak seperti melarikan diri.


''Hm.'' Ashad masih tak sampai. melepas diri dari kekhilafan. Sampai-sampai kitab suci umat islam itu ia dekap. Berharap bisa membisikkan melalui jalan kalbunya, dan disampaikan kepada isi kepala, lantas menitahkan si daging tak bertulang untuk melantunkan. Namun lagi-lagi nihil, dan Ashad menyerah.


''Astaghfirullah.'' Air mukanya sudab cukup risau lah. Masih memandang pada hamparan sawah yang lengang dari tanaman. Sekadar tanahnya yang ada usai dibajak para pemilik.


Matahari kian bertekuk lutut, dan hilang. Dari sebelah rumah Ashad adzan maghrib sudah dikumandangkan dengan indah. Ahad menutup jendela kamarnya. Sekali lagi beristighfar, ia akui apa-ala kesalahannya hingga membuat hafalannya itu tenggelam di lautan yang tak sengaja ternoda.


''Benar, gara-garanya teh sekarang ini aku mudah memikirkan Najla, mengangankannya, mencuri-curi untuk memandanginya. Astaghfirullah.''


Ditaruh lagi Al-Quran di persemayamannya. Membuka peci, sedikit frustasi dengan ia gambarkan diri mengacak-acak pelan rambutnya. Mengambil air wudu lagi, mengenakan peci, dan bergegas ke rumah Sang Pemilik Hati. Tersemogakan hati dan pikirannya jernih kembali, ampunannya diterima.


***


Bersambuunng.


APa yang membuat kalian bertahan untuk bacaKARENA sampai bab ini?


Terima kasih, wassalamualaikum.

__ADS_1


__ADS_2