
Davis menarik nafasnya berat menatap punggung bocah remaja yang harusnya sekolah namun malah bekerja membanting tulang.
Pemuda itu melangkah ke arah pekerja yang berisitirahat makan siang. Perlahan-lahan menyusuri mencari keberadaan bocah yang menyelamatkan nya dari insiden tersebut.
Jika tidak kepalanya bocor terkena tumpukan papan yang di panggul pekerja tadi. Jelas ada paku yang masih menancap jelas terlihat. " Hai, Makasih, ya. Kau menolongku barusan."
Davis mencoba untuk beramah tamah mengawali perkenalan. Pemuda itu tersenyum mengangguk," Sama-sama Kak. Sudah sepantasnya kita saling tolong menolong. Toh nanti kita juga mendapatkan semua balasannya dari apa yang kita lakukan."
Penjelasannya tentang itu membuat Davis langsung terpaku, jujur ia jarang mendengarkan nasehat orang tuanya. Mungkin karena apapun yang di minta selalu saja di kabulkan. Membuat nya sedikit egois.
"Sudah makan siang? Davis membuka tas punggung nya dan membuka kotak bekal yang di berikan oleh sang ibu. Berisikan sandwich tuna, origini berisikan ayam.
"Kakak bawa nasi kepal?" Remaja itu menatap berbinar binar menatapnya. "Kau mau? Ambillah!" Davis menawarkan nya.
Tanpa basa-basi dia mengambil alih satu origini. "Enak sekali, kak. Andai adek ku bisa memakannya, sayang aku tak mampu membelinya." Pemuda itu tersenyum dengan menatap sendu.
"Namaku Davis kamu? " Davis menyalami nya mengajaknya berkenalan. "Sofyan. Kak." Balasnya sambil menyodorkan nasi bungkus. "Terimakasih, aku ini saja." Menunjukkan kotak yang masih ada dua buah sandwich tuna, karena dua origini dia berikan pada Sofyan.
"Aku bisa beli nanti jika lapar. Rumah mu di mana?" Tanya nya. ingin tahu. "Bantaran sungai xxxx Kak." Alis Davis terangkat sebelah saat Sofyan menyebutnya. Karena daerah itu tempat tinggal warga tanpa identitas.
Artinya orang yang merantau tapi gagal bertahan hidup di kota karena persaingan juga biaya hidup yang mahal. "Mau nyicip masakan emak aku Kak?" Tawar Sofyan.
Davis ragu menjumput nasi sambal terasi itu dan lelaki itu melebar kan mata. "Ini apa kriuknya?" Tanyanya. Asin gurih bercampur manis serta pedas
"Sambel terasi teri Kak." Jawabnya sambil tersenyum. "Menu andalan murah meriah bergizi, " Jelas nya dan Davis terkekeh geli melihat ekspresi wajahnya yang masih saja ceria.
"Davis. Ayo kita mesti pindah lokasi!" Teriak Bachtiar dari kejauhan. Davis pun pamit meninggalkan tempat itu menyusul seniornya. "Kau bisa menyetir kan?" Tanya Bachtiar. "Bisa." Davis menjawabnya sambil menangkap kuncinya yang dilemparkan Bachtiar.
__ADS_1
"Kau tahu jl. xxxx itu tempat pembangunan pasar tradisional. Kita harus meninjaunya. Sekalian makan siang." Perintahnya dan Davis menjalankan tugasnya tanpa banyak kata.
Menjelang petang mereka kembali ke kantor , Davis ngeloyor pergi ke kamar kecil begitu saja saat tiba di lobby. Mencuci tangan dan muka, rasanya lengket dan gerah. Baru ke ruangannya.
"Davis, ini bahan-bahan yang digunakan untuk proyek selanjutnya. Seorang wanita memberikan tumpukan berkas di meja kubikel nya
Davis melihat nya sambil tersenyum dan sekilas Davis bertemu pandang dengan Galuh namun hanya senyuman tipis dan samar dapat di tangkap Davis.
Bukan senyuman mengejek seperti biasanya berbeda kali ini. "Kamu yang bikin laporan nya nanti aku bantu cara bikinnya. " Sekali lagi Bachtiar memerintah nya
Davis hanya menghela nafasnya duduk lemas kali ini banyak yang ia pelajari dari seharian kegiatan ini. Galuh melintas di depannya memberikan permen enclair dengan sebuah note.
"Semangat, kau calon pemimpin ku. Jangan menyerah pada keadaan apapun!" Sebuah senyum terbit di paras tampan itu. Dan dilihat oleh Rania yang berhadapan dengan nya.
"Ada apa ?" Tanyanya Penasaran. " Tak ada kak." Sahutnya sambil membuka berkasnya, masih ada dua jam sebelum kantor bubar, Davis semangat menyelesaikan laporan nya dibantu Bachtiar yang duduk di sisinya. Dan Galuh dia cuek saja di tempat nya mengerjakan pekerjaannya.
"Masih lama ya?" Tanya Davis. "Udah kok, nih nunggu mati mesinnya. Setelah itu ia memastikan kabel dan semuanya aman baru berdiri mengambil tas nya.
Bersama dengan Davis meninggalkan tempat ruangan dan menguncinya lalu meletakkan di tempat sekuriti. Bersama mereka meninggalkan gedung perkantoran.
Ada kasak-kusuk saat mereka melalui karyawan lain. Karena hanya mereka berdua yang mencolok penampilan mereka, fisik jelas peranakan blasteran indo.
Jelas berbeda dengan kulit, mata atau fisik yang jangkung atletis apalagi paras nya yang God looking. "Weekend jalan yuk, temani aku." Ajak Davis menatap Galuh yang duduk di motor matic beat.
Tanpa menoleh dia menjawabnya." Kita lihat saja nanti, hati-hati di jalan."
"Kau juga cantik. Love you.' Seru Davis setelah melihat sekelilingnya yang sepi, Galuh tak menjawabnya hanya deru motor nya meninggalkan tempat itu baru kemudian Davis.
__ADS_1
Arah mereka berlawanan jadi tak mungkin Davis menjemput atau mengantar pulang. Lelaki itu menuju ke kediaman nya dengan senyuman manis ia masih menyapa para pekerja di rumahnya.
"Capek sayang?" Sapa Safira menatap sang anak. "Iya, aku bagian lapangan langsung saja di ajak meninjau ke lokasi kontruksi. Mandi dulu Ma. Bau nih." Protes Davis kala sang ibu memaksa mencium pipi sang anak.
Wanita itu hanya tertawa kecil sambil berjalan ke pantry menyiapkan makan malam mereka dibantu asisten nya. Tak lama sang suami muncul menyergapnya. " Putraku baru saja datang, dia kecapaian Semoga kau tidak banyak hal yang akan kita diskusikan."
Keluh sang istri sedangkan Dave Grohl hanya terkekeh mengecup bibir nya berlalu. Lelaki itu dari awal pernikahan nya tak sungkan menunjukkan keintiman mereka di publik. Bahkan dia bangga menunjukkan adanya hubungan mereka yang intens dan baik.
Di kamarnya. Davis langsung membersihkan diri dari keringat dan debu, Di bawah shower ia teringat akan si Sofyan remaja tangguh tak minder, giat bekerja. Setelah selesai ia memilah pakaian yang dikenakan, jatuh t shirt polos biru dan celana pendek lalu menggunakan lotion buat kulit nya agar tak kering lalu parfum baru ia turun ke ruang makan.
Sang ibu menunggu nya dengan senyuman manis." Aku bertemu dengan seorang anak remaja hebat Ma. Dia kepala keluarga, rencananya akhir pekan aku mau melihatnya seperti apa keluarga nya. Dia menyelamatkan ku dari insiden di lokasi kontruksi tadi siang."
Penjelasannya Davis membuat Safira tertegun menatap wajah putra nya. "Maaf kan aku Ma, sering membuat susah Mama dan Papa selama kuliah. Aku nakal karena bosan di layani dan di manjakan. "
"Sementara itu di sana banyak anak kekurangan bahkan rela melepas pendidikan demi sesuap nasi." Davis menundukkan kepalanya, dia mengusap wajahnya kasar menghilangkan buliran air yang hendak jatuh.
Dave Grohl tertegun mendengar kalimat sang anak langkahnya terhenti mendengar suara anaknya. Safitri mendekat memeluk tubuh anaknya penuh haru.
Sang pengasuh Davis yakni asisten Mamanya di sudut ruangan menangis haru. Melihat majikan mudanya memohon maaf kepada sang ibu. Karena dia paham seberapa besar keras kepalanya anak itu.
"Kau bisa mengajukan permohonan pendidikan home schooling sayang, mereka bisa kerjasama dengan sekolah pemerintah. Itu program baru yayasan kita ." Bisik Safira lirih.
"Iya Ma, Aku akan membujuknya. Dan semoga mereka mau di bantu. Dan terus berusaha." sahut Davis.
Safira mengelus punggungnya lalu kembali ke bangku nya baru Dave muncul dan menyapa sang anak seolah tak ada kejadian apa-apa.
Berbincang-bincang tentang hal ringan lalu makan malam bersama dengan ceria sesekali bercanda ria.
__ADS_1