Atas Nama Cinta

Atas Nama Cinta
Bab 28: Batin


__ADS_3

Bismillah. Assalamualaikum. Selamat membaca.


Kenapa dibisu?


Lidah mengaduh


Tak sampai suara


Bergolak dalam ruang dada


Lama-lama hati sendiri yang terasa sakit jua


***


''Sebenarnya, penyakit datang tak jauh-jauh dari sebabnya. Sebab terbesar, adalah hati yang tak mengerti cara yang baik dalam memberi hati kepada seluruh manusia.''


(Lampung, 19 Desember 2018)


***


Hari ini. Segala ketakutan siap menemukan jawabannya. Sampai-sampai sepasang mata Gagis itu kini sedikit mengembung. Susah payah, dihindarinya jua pandangan Ibu pagi-pagi sebelum ia berangkat. Entah kekalau Aini. Ia tinggalkan sang Adik seorang diri mengayuh sepeda tanpa memberi tahunya. Sedikit jua asupan sarapan yang masuk dan perutnya saat jam pelajaran PKN kali ini sudah terasa perih. Dirasanya kosong meski pelajaran masih dua jam lagi berlangsung.


Gerak-gerik tangannya berbicara apa yang tengah dirasa. Pelan meremas ujung almamater, fokusnya sudah tak bersisa memerhatin guru di depan. Sedikit-sedikit jua, Aurel melemparlan lirikannya.


''Why?'' Suara itu membisik di telinga Najla.


''Laper.''


''Hah? Dua jam lagi, Naj. Tapi kamu udah laper?''


Terangguk saja dirinya itu. Menerjemahkan sikap gurunya di kursi usai menancapkan kembali tutup spidol dan badannya bangkit.


''Coba dibaca-baca dulu ya. Ibu keluar sebentar, nanti kembali lagi dan kita akan ulangan harian.''


''Haaa. Tapi Bu... ''


Tak sekadar satu mulut, seluruh mulut-mulut murid 11 Mia 2 itu kompak berseru. Wanita berkerudung merah yang baru saja menyatakan ulangan harian tanpa aba-aba di hari sebelumnya itu tiada peduli. Raganya sudah tak lagi di kelas. Pergi entah ke mana. Jiwa-jiwa di kelas itu sontak saja kalang kabut. Membolak-balik lembaran kertas LKS PKN, diserap-serap materinya. Sedang seorang di antaranya justru tengah berkonflik dengan perutnya yang masih meronta. Maka, sekadar Najla lakukan kilas balik saja untuk ingatannya setelah semalam mencerna baik-baik materi PKN untuk hari ini.


''Nih makan! Jangan nolak.'' Sebungkus roti menggelitik tak geli di tangannya. Aurel santai-santai kembali jua meski urung belajar di malam lalu.


Najla memperkecil pandangannya kepada Aurel. Ingin hati menerima, tetapi rasa-rasa tak enak hati mulai menjelma. Ingin hati menolak, sungguhlah sudah berdusta terhadap rasa dan ia sudah tak tahan. Khawatir penyakit mag kembali menyerang.


''Ehm---''


''I dont like kalau kamu menolak pemberianku. Kamu harus makan daripada sakit?''


Segala-gala bentuk ibadah hampir tertepikan karena sakit yang pernah Najla rasakan. Kendati tak begitu parah, tetap saja ia makhluk yang bukan selayaknya superhero sejati. Bangkit dan tumbang pun tetap menjadi konsumsi sehari-hari. Teruntuk kali ini, ia menyesalinya menyiksa diri hanya karena terpikirkan duri-duri yang tumbuh menjadi sekat di antaranya dengan Ashad. Perasaan takut tak disegani lagi oleh insan yang diam-diam disukai memang kerap hanya diinginkan jadi mimpi buruk saja.


''Makasih, Rel. Maaf ya aku makan.''


''Udah cepetan. Nanti She is  Teacher Killer keburu masuk.''


Kelas-kelas berisik karena lembaran kertas yang tiada henti mendadak jadi instrumen musik tak beraturan. Kebiasaan saling menilik jawaban kawan sebangku tak bisa digubris kekalau telah berhadapan dengan pelajaran PKN. Tiadalah konflik karena pelajarannya, melainkan gurunya. Seperti yang telah Aurel katakan. Pun tak hanya itu, toleransi tak pernah berlaku walau sekali saja baru tertangkap basah mencuri jawaban. Biar hukuman tetap berjalan: menghafal satu bab materi berikutnya dalam kurun waktu tiga hari.


Berjaga-jaga, Najla menujukan pandangannya pada pintu. Alangkah tergesa-gesanya ia nanti memasukkan roti itu jika sang guru sudah kembali ke kelas. Hendak menarik pandangan lagi, salahnya menarik melalui jalur kepada deret kursi dekat pintu. Bersua lah dua pasang mata yang tengah sayu terluka dan sepasang kata yang sudah membuat luka. Sampai-sampai secuil roti yang sudah masuk mulutnya tertelan amat serat.


''Seburuk apa pandangan Ashad ke Najla sekarang?''


Air mukanya kelabu. Tertunduk. Selai nanas yang bergelimangan tertutupi daging roti sudah hambar di pengecapnya.


Sesuatu yang nahas, kini bukan kisahnya yang sedang retak bersama Ashad. Bukan pula karena disesalinya kata-kata lelaki itu berhasil melongokkan diri di batin Najla. Terjamah-jamah, sekadar takut sebuah keretakan yang berujung perpisahan.


***


''Pulpen satu kan?''


''Iya, Om.''


Diterima jua sebuah pulpen hitam oleh Mina. Lantas diajaknya Najla kembali ke kelas yang sekadar mengantar dirinya itu. Bentangan jarak antara koperasi sekolah dengan kelas memang tak sampai membuat kaki lelah. Berada di belakang kelas Najla, hanya saja tersekat karena kolam ikan dan taman yang didirikan di sana.


Di ujung koridor, pandangannya disuguhkan dengan dua insan yang tak asing. Melangkah membawa arah padanya. Namun, hanya Najla yang menyadari hal itu. Dua insan yang sedang menjadi pusat pemikirannya sama sekali tak tahu pun tak peduli.


''Abis ini kita makan bekal ya, Naj?''

__ADS_1


Hening.


''Aku bawa sayur banyak. Dannn kamu tahu? Itu sayur kesukaanmu! Ibuku yang masak.'' Raut wajah Mina sudah bahagia seraya ditampakannya ke Najla, gadis di sampingnya itu justru tertunduk dan masih melenggang. Entah tak mendengar atau bagaimana, kini Mina bertanya-tanya seorang diri.


''Dia kenapa, sih? Aneh.''


Urung mengejar, Mina bermonolog demikian. Menggeleng-geleng kepalanya sambil menatap ke punggung Najla yang kian jauh darinya. Melangkah kembali tanpa berniat untuk menyamakan langkah dengan Najla. Seolah memperoleh apa yang pantas menggebrak simbol tanya di hati Mina, sekarang ia mengerti. Ashad dan Jojo baru saja melewati Najla. Hanya Jojo yang mengulurkan sapaan serta merta justru dibalas tatapan hampa di ruang mata Najla. Tatapan itu pun bukan tertuju kepada Jojo, melainkan lelaki di sampingnya.


''Kayaknya ada yang lagi marahan. Ya ampun Najla bisa seluka itu ngeliat Ashad? Sedangkan Ashad pasang muka datar gak peduli? Omaygat! Ada konflik apa ya?''


Najla yang dirundung rasa menatap Ashad tak bisa berkata-kata lagi selain 'memang aku yang salah telah menaruh hati padanya dan lebih salah lagi karena mencoba menutupinya dengan cara yang salah'. Sapaan Jojo tak sampai di telinganya, hanya gemuruh kata-kata itulah yang menyumpal pendengaran. Dari ruang hati merangkak naik sampai gendang telinga.


Ada bisikan lembut di hati gadis itu, cepat-cepat beristighar jua. Mata, hati, dan pikirannya sudah mulai disentuh debu-debu. Hendak melenggang lagi, teringat dengan siapa dirinya itu pergi hampir syok karena tak mendapati Mina di sampingnya.


''Hati kamu ada yang terluka ya, Naj?'' Mina menunjukkan senyum nakalnya kepada Najla. Sudah berbicara dari mimik wajahnya kekalau ia sendiri sedang merayu-rayu Najla untuk bercerita.


''Astaghfirullah! Ngagetin aja Mina mah. Hih.''


Lagi-lagi, Najla melenggang seorang diri. Meninggalkan Mina yang terkikik-kikik bahagia. Bahagia, menangkap basah perasaan sahabatnya.


Kisahnya hampir sama dengan Ashad yang kini sedang menunggu hasil fotokopian dari penjaga koperasi. Ia bungkam enggan menanggapi apa-apa jua yang Jojo ungkapkan, tetapi tetap saja lelaki berlogat jawa itu tak mau berhenti.


''Aduh wajah datar sampeyan lucu banget, Ash tadi. Aku liat Najla nyapa dia gak direspons, ternyata Najla malah ngeliatin sampeyan. Kayaknya lagi ada peperangan. Kenapa? Najla suka marah-marahnya sama sampeyan udah level tinggi ya?''


''Makasih, Om.'' Sejumlah uang telah diselorohkan, Ashad pergi tak mengajak Jojo. Sampai berbusa-busa lelaki itu berbicara pun tak mau ia menanggapi. Ada perasaan yang masih sulit ditemukan definisinya, takut diperpanjang karena sebuah ejekan dari kawan lantas memperparah perasaan itu.


Di meja Najla, ia disambut entakn tangan dari jari-jemari Aurel. Sebelah tangannya lagi sedang menggenggam ponsel, sedang wajahnya sedikit merona. Najla terduduk. Lesu ia rasakan pada dirinya itu. Seumur-umur kisahnya tak pernah harus bertentangan dengan kawan. Masalah kecil saja yang bertandang dan tak sampai membuat keretakan yang berarti.  Maka kali ini, dunia telah mengajak Najla pada panggung persahabatan yang berkonflik karena suatu bunga yang tumbuh di pekarangan hati. Permasalahan dengan Aurel tak bertepi seserius ini.


''Kamu udah makan? Lagi istirahat juga, ya?''


''Iya. Ini lagi main musik sama temen di kelas.''


''Emang kamu gak laper? Makan sana. Nanti kamu sick lagi.''


''Aku punya lagu buat kamu.''


Aurel sudah gugup dibuatnya. Benar-benar terfokus pada Dava hingga pada tatapannya tak menangkap keberadaan Najla sudah di sampingnya.


Dari layar, Dava sudah tertunduk menatap senar-senar gitarnya. Namun mengetahui kedatangan guru dan bel sudah mengambil alih waktu untuk belajar, izinnya langsung diberikan kepada Aurel.


''YA udah.''


''Jangan marah.'' Dava tersenyum. ''Aku takut kalau kamu marah kamu gak cinta lagi sama aku. Bye.''


Satu gerakan sebelah mata dava mengatup pun ditambah segaris senyum yang Aurel dapati hampir-hampir membuat segala organ tubuhnya meloncat keluar. Sedikit menjerit dan melupa sedang di mana posisinya kini.


''Aaaaa Dava i love you so much honey! ''


Mata-mata di sana menyumpal tawa yang hendak tersembur menatap gadis pecinta warna merah muda itu.


''Seksi kebersihan harap keluar, dipanggil Pak Bambang.''


Satu kebahagiaan yang labgsung ditarik dari hatinya. Wajah merah merona itu berganti makna menahan entakan perasaan takut. Aurel tercekat, sepasang matanya bergerak melihat Jojo yang mengatakan informasi buruk itu, lantas beralih ke luar. Di sana, di samping taman kelas Pak Bambang tengah mengaitkan kedua tangannya di depan dada.


''Sangat horor!''


''Naj, anter ngadep Pak Bambang.''


''Pak Bambang bakal marah atuh kalo Aurel malah diantar. Nanti makin diomel-omel. DIbilangnya gak tanggung jawab sebagai pemimpin kebersihan dan apa -apa bareng temen.''


''Oh God. Please help me.''


Keluarlah tubuh itu dari bangku. Meratap-ratapi gelarnya kini sebagai seksi kebersihan. Diangan-angankan waktu segera bergerak membawanya di kelas 12.  Maka akan mengundurkan diri dan nerakan termengerikan di sekolah tak akan ia dapati lagi.


Kebisingan Aurel berbincang dengan Dava telah usai. Namun suasana kelas hari ini tak memberikan ketenangan laksana kesejukkan titik-titik air yang melalui kerongkongan dalam kondisi kemarau.


''Niqab model baru ya? Bagus ih. Ada renda-renda di bagian belakangnya. Pinjem sih aku coba.''


''Iya bagus. Maklum harganya juga bagus. Haha.''


''Bodo amat habis ini aku harus pesan ke  Bu Eko.''


''Bareng sih aku juga mau pesen deh. Cantik banget niqabnya.''

__ADS_1


Satu kalimat. Dua kalimat. Tidak kalimat. Terus-menerus saja hingga menggunung kaimat-kalimatnya di memori Najla. Dicetuskan oleh kawan kelasnya yang langsung mengintrogasi barang baru milik salah satu siswi itu. Najla dengar-dengar, Ismi dan Mina turut berbaur. Menanyakan harga dan mencobanya. Tiada tahunya, niqab mereka pakai lantas bermain dengan kamera ponsel.


Sedari tadi Najla hampir meluber hatinya karena istighfar yang ia lantunkan. Menanggapi tingkah Aurel, lantas tingkah kawan-kawan sekelasnya. Namun hanya di ruang hati yang tak sampai didengar banyak telinga.


''Ngegosipin niqab lebih diutamakan daripada pergi ke kajian.''


''Kenapa mereka selucu itu Ya Allah?'' lanjutnya.


Mengingat hari-hari yang lalu sangatlah menjamur kegiatan pengajian di desa-desa. Namun kesulitan mengajak mereka datang mampu Najla rasakan. Dengan segala kata dan rasa hati mereka laksana tebih tinggi yang sulit Najla raih.


Hari ini. Hari yang hampir dirundung banyak benci. Tak sadar kekalau dilakukan riset lebih jauh Najla adalah orang yang sebenar-benarnya buruk. Mengaplikasikan daya pantaunya hanya di ruang batin.


***


Masihlah kepulan asap tampak dari samping rumah. Sedari tadi tak menyala-nyala apinya karena daun-daun kakau itu masih basah dikecup air hujan. Aini membakar sebuah koran yang didapatnya dari dapur bekas bungkusan gula merah atau biasanya bawang dan cabai yang dibeli dari warung. Sedikit-sedikit, nyala api hampir ada, tetapi hanya membakar kertas pemberi informasi melalui media cetak  itu. Selanjutnya, daun-daun masih utuh. Asapnya tak lagi mengepul. Bukan apa-apa, kekalau Aini biarkan karena menunggu kering pasti akan dibongkar oleh ayam-ayam Ibu. Kegiatan menyapu harus Aini lakukan kembali karenanya.


''Assalamualaikum.'' Najla menuntun sepeda lantas meyandarkannya di dinding samping rumah. Aini bangkit menjawab salam serta mencium punggung tangan Najla.


''Sore ini Teteh mau masak apa? Ibu kan belum pulang dari pasar.''


''Apa yang ada di rumah aja biar Teteh masak.''


Dilepasnya jua ikatan sepasang sepatu itu. Terduduk di jalan pintu samping rumah.


''Adanya kompor.''


''Iya udah Teteh masak kompor.''


''Hahaha. Teteh mah aya-aya wae.''


Mengulum senyum jua sang kakak. Melihat kain strimin Aini yang tergeletak di ruang tengah dan urung selesai membuatnya tergerak. Bukan tergerak untuk membuatnya sampai finish melainkan tergerak menanyakn suatu hal kepada Aini.


''Dek, Teteh mau nanya.''


''Nanya apa?''


''Sini dulu.''


Aini yang hendak berkutat dengan sampah basah itu lagi ia urungkan. Menghampiri Najla.


''Apa?''


Ujung jarum jam bergerak sekian detik. Najla masih membisu dan akhirnya membuka suara.


''Kenapa kamu gak jujur sama Ibu soal obrolan Teteh sama Adek yang waktu itu tentang A' Ashad?'' Aini diam. Najla meneruskan pekataannya. ''Gak nyeritain pas Teteh mau salat dhuha dan tentang surat itu?''


Tak sampai di pikiran Aini bahwa Najla akan menanyakan hal itu. Di ingatannya saja sudah melupa tentang kebohongan yang diberikan kepada Ibu.


''Teteh mau Adek jawab jujur?''


''Pasti.''


''Adek sayang sama Teteh. Udah itu aja.''


Berdesirlah hati Najla mendengarnya. Retak-retak basah di matanya tak sampai menetas di pipi. Ia memeluk Aini.


''Makasih, tapi Teteh gak mau ngajarin kamu ke hal yang salah cuma gara-gara Teteh,'' katanya lembut.


''Tapi Adek tahu Teteh bisa jaga amanah Ibu sama Bapak jangan sampe pacaran. Makanya Adek berani berdosa buat ngelindungin Teteh.''


''Dan sayang sama Teteh juga?'' Usai sudh pelukan itu, Najla menangkup wajah Aini. Memberikannya tatapan yang menuntut kejelasan.


''Kalimat yang tadi itu ditarik aja. Huh.''


Aini berlalu mengambil sapu. Mengusir anak ayam dan induknya yang sudah membuat kekacauan pada tumpukan sampah.


''Haha. Awas ya kamu, Dek.''


Najla sempat salah mengomeli sikap kawan-kawannya dalam hati. Najla jua mencegah orang yang disayangnya untuk tidak berbuat salah. Waktu yang akan menjawab di mana posisi hati gadis itu yang sesungguhnya.


***


Bersambuuunng.

__ADS_1


Mau berapa Bab untuk cerita ini? 😂


Wassalamualaikum.


__ADS_2