
"Auw. Lepaskan! Aku bisa pulang sendiri! Dasar tukang selingkuh! Tak tahu diri!" Seorang wanita berusaha melepaskan diri dari cekalan nya lelaki bertubuh besar
Dirga menegakan badannya mendengar jeritan kecil tak jauh dari tempat dia memakirkan mobilnya. Dia sehabis futsal dengan temannya, sudah kebiasaannya olahraga malam-malam karena kumpulan nya para pekerja dan pasti hanya ada waktu pada malam hari saja.
Memastikan bahwa ia tak salah mendengar suara, ia itu suara wanita. Pemuda itu melipir ke arah sumber suara. Ia melihat nya, Cicilia? Siapa orang itu? Batin nya menuntut untuk mendekati mereka.
"Aku kira putus adalah jalan yang terbaik, lagi kau kan senang bisa mencicipi mana saja yang kau mau. Mau bohay, triple atau pemilik pepaya terbesar sekalian juga tak akan ada yang larang.' Sarkas Cicilia.
"Hei, yakin kamu? Bisa jadi perusahaan mu bangkrut karena saham itu akan ditarik Papa ku!" Jawab lelaki itu tak lain adalah Miko Ardiyanto putra pemilik Test Nz.
"Tak masalah bagiku." Sahut Cicilia bergetar. " Sombong, yakin ? Jangan menyesal!" Cibir Miko menatap remeh.
"Aku main-main di luar yang penting ingat pulang, kau diam saja semuanya beres. Anak-anak adalah tugas kamu menjaganya. Kecuali kau mandul!" Komentar Miko sinis.
Dirga tercengang, sedemikian rupa tingkah laku anak pemilik mitra Papanya yang dia anggap bisa menjadi panutan. Siapa sangka anaknya songong dan berpikir kerdil seperti itu.
"Lagi jadi wanita itu yang nurut aja, terima apa yang bisa kamu nikmati. Jangan ngelunjak!" Bentak Miko sambil menarik tangan nya Cicilia.
"Lepaskan! Aku bisa diam jika Lelaki ku baik dan tak suka jajan selain itu dia juga smart. Jadi mudah cari uang!" Jawabnya sinis.
"Beraninya kamu!" Miko bermaksud untuk menjatuhkan tangan kirinya namun yang terjadi adalah lelaki itu terjungkal dan tubuhnya Cicilia masuk dalam dekapannya Dirga.
"Kakak.." Suara tertahan Cicilia menatap wajah Dirga karena terkejut. Miko mengumpati dan berdiri tegak walau pun sedikit terhuyung-huyung.
" Pergi! Jangan pernah tampak kan wajah mu di depan kami! Jika kau masih sayang nyawa mu!" Ancam Dirga.
__ADS_1
Detik selanjutnya Dirga menggandeng tangan nya Cicilia berjalan menuju ke arah mobil nya di parkirkan. Semetara Miko menahan amarahnya sorotan mata menatap tajam ke arah mereka pergi. Sedangkan Cicilia menjulur kan lidah nya ke arah Miko.
Tambah Gedeg dia pada ke-dua orang itu. Brak. Sedikit kasar Dirga menutup pintu, kesal iya jelas ia kesal. "Kakak marah? Maafkan aku merepotkan kakak." Ucap Cicilia merasa tidak enak hati.
"Maaf, hanya kesal saja . Banci tahu lelaki main tangan sama perempuan. Aku tak suka." Aku Dirga, Cicilia tersenyum menatap wajah lelaki itu.
Mobilnya pun berjalan meninggalkan tempat tersebut membelah jalanan kota sedikit sepi dan lengang membuat suasana semakin berbeda rasanya.
Cup. "Terimakasih sudah belain aku tadi." Cicilia mengecup pipinya Dirga sekilas, hanya ciuman ringan. Dan itu membuat nya terpaku. Terjaga dari keterkejutan nya ia melihat kedepannya menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, berlagak setenang mungkin.
"Apa yang kau kerjakan dengan nya tengah malam bersama. Apa orang tua mu tak mencari mu?" Cecar Dirga.
"Tidak. mereka sudah tahu jika aku pergi dengan calon tunangan aku. Kami biasa berparty dan pulang juga pernah menjelang pagi atau bahkan tak pulang." Jawab Cicilia santai.
Mereka terdiam sejenak, Cicilia meliriknya sekilas. "Kakak pasti juga pernah kan make up sama teman perempuan, pacar pertama kali waktu di SMU?";Goda nya. Lagi-lagi Dirga menggeleng sambil tersenyum menatap wajah Cicilia.
Takjub Cicilia menatapnya tak percaya. Lampu merah mobil berhenti, Cicilia timbul sifat jahil nya, Cup. Cup. Cup. Grep.
Cicilia mengecup bibir Dirga beberapa kali dan terakhir kalinya ia memegang benda keramat itu meremasnya ringan. Ajaib direspon oleh pemiliknya.
Dirga melotot dan terbawa arus, wajarlah jika lelaki normal di goda seperti itu siapa yang tahan? Jalanan sepi tak ada kendaraan melintas atau lebih tepatnya mereka sendiri di perempatan jalan raya itu.
Dirga menahan kepala Cicilia saat dia menarik diri, lelaki itu merespon ciuman. Kasar dan tak lihai namun nafsu nya terpancing. Cicilia mengulum senyumnya ia merasakan benda itu jelas besar.
Dirga melepaskan diri mengumpati dirinya sendiri celananya sesak melirik Cicilia yang diam saja. "Kau sudah biasa melakukan itu?" Tanya nya penasaran, Cicilia mengangguk.
__ADS_1
"*** adalah salah satu kebutuhan dan biasa saja, apa kau menerima nya jika wanita mu nantinya tak perawan?' Tanyanya penasaran.
"Apakah wanita itu tak keberatan melakukannya dan jika hamil kemudian ia ditinggalkan, menurut mu siapa yang rugi."
Dirga bertanya menatap Cicilia lekat, ada nafsu yang masih dia tahan. Dia tak mau jika Cicilia menatap dia sebagai predator penjahat kelamin.
Padahal ini kali pertama ia terpancing biasanya dia dapat mengelak dari serangan wanita genit. Dirga menata rambut dan letak duduknya kemudian berkonsentrasi menjalankan mobilnya.
"Kemana aku mengantarkan mu?" Tanya dia tanpa menatapnya. Cicilia mengangguk dan mengatakan alamat rumah nya. " Jalan lingga 456 B. "
Wanita itu menjawab dengan bersandar santai karena tempat duduknya dia condong kan ke belakang sedikit rebahan. Saat melirik spion samping Dirga tak sengaja melihat rok mininya Cicilia.
Batin nya berdecak kesal. "Ck. Kenapa juga aku harus meliriknya. Dia makin tak bisa tidur. Sial benar."
" Kita sudah sampai, kenapa sepi?" Tanya Dirga menatap rumah besar bergaya modern minimalis. "Mama ikut Papa perjalanan dinas ke luar pulau. Mau bagaimana lagi aku sudah ditinggal sendiri sejak SMP kak. "
"Kakak mau masuk ? " Tawar Cicilia. "Tak apa di rumah tak ada pembantu juga mereka tinggal di belakang rumah ini. Sekuriti juga ada depan itu enggak bakal sampai ke sini."
Cicilia menawarkan Dirga mampir. Lelaki itu seperti menimbangnya antara menerima atau akan menolaknya. Menatap halaman luas dengan pos sekuriti di depan sana jauh dari rumah utama itu.
Dan di dalam rumah ia sendirian tanpa pembantu rumah tangga? Gadis ini benar-benar pemberani dan mandiri. Bahkan ia tak salah beberapa saat lalu meminta putus pada tunangan nya. Tanpa memperdulikan akibatnya nantinya.
" Beneran kakak tak masuk nih?" Tanya Cicilia memastikan nya. Dirga mengangguk mengiyakan lalu mengikuti nya berjalan ke dalam rumah utama.
"Tempat ini besar kau tak takut?' Tanya Dirga mengikutinya karena lampu hanya remang-remang saja yang di nyalakan dari ruang tamu hingga ke dapur. Sedangkan lantai atas hanya ada pencahayaan dari balkon balkon.
__ADS_1