
Seorang wanita cantik menyeret kopernya perlahan-lahan memandang kaca gate run away bandara internasional. Rambut nya dia Cepol asal dengan dress dan celana legging dan sepatu flatshoes belum tas ransel dipunggung nya
Suara ponselnya terdengar ia mengangkat nya sambil tersenyum," Iya , lagi jalan. Ini udah sampai pintu keluar." Jawabnya santai berjalan menyalami petugas jaga dengan anggukan kepala.
Matanya berbinar-binar menatap seorang lelaki berbadan tegap atletis. " Aku kangen !" Seru nya sambil berlari menuju ke pelukannya dan lelaki itu mendekapnya erat sambil mengangkat tubuhnya dan berayun-ayun.
"Aku juga." Bisik nya bersemangat, lelaki berparas tampan dengan manik coklat jernih itu tersenyum sambil mengurai pelukannya dan mengambil alih kopernya.
Berjalan beriringan menuju ke mobilnya, Damian Marley lelaki berambut merah , berkulit putih itu tak berhenti menatap wanita cantik di sebelah nya "Bagaimana dengan kuliahnya?" Tanya nya.
"Baik. Lancar juga seru. Aku punya teman baik tiga orang dua cewek satu cowok. Sahabat baik dari masa MOS hingga kini, hanya saja.."
"Hanya?" Damian menatap wajah sendu sang cantik yang disayangi nya." Sahabat aku mati, dibunuh oleh mantan pacarnya. Aku kesal sekali kak. Tapi keluarga nya sudah di bikin hancur oleh suami sahabat ku yang satunya."
"Larasati, sahabat aku. Ada Cicilia. Yang meninggal Cicilia. " Tangis nya pecah dan Damian Marley buru-buru menepikan mobilnya mencari yang aman agar tak bermasalah dengan petugas kepolisian. " Sayang, tenanglah. Aku turut prihatin dan bersedih."
Damian Marley mendekat setelah melepaskan seat belt lalu mendekapnya sambil mengelus punggung nya menenangkan hati adiknya, Galuh.
Ibu Galuh menikah dengan lelaki luar negeri, duda beranak satu dan lalu pernikahan mereka lahir lah Galuh dan Ashlee. Ashlee baru di bangku SMP tinggal bersama mereka kakak tiri juga orang tuanya.
Ayahnya seorang pengusaha di bidang kuliner juga kakaknya mengikuti jejaknya. "Bagaimana perkembangan kasusnya? Apa dia sudah di tangkap?" Tanyanya lembut.
__ADS_1
Galuh mengangguk dan Damian melepaskan dekapannya mengambilkan tisu untuk nya. "Jika sudah selesai itu bagus, dia sudah dipenjara setidaknya teman mu sudah tenang di sana, karena sudah mendapatkan keadilan juga ketenangan. Karena sudah terbebas dari belenggu dia!"
Hibur Damian Marley mengelus rambut sang adik. "Iya kak, tapi aku sedih persahabatan kami putus, aku hanya bisa mendoakan dia, tak bisa menyentuh nya lagi. " Cicit Galuh lirih.
"Nantinya kau akan bertemu lagi dengan orang lain yang baik nya sama dengan sahabat mu. " Lanjut Damian menstater mobilnya dan menjalankan nya menuju tujuan mereka.
Flashback. Setelah ketok palu hakim terdengar semua orang bernafas lega, tangis menggema di seluruh ruangan itu. Miko tertunduk berjalan melewati mereka semuanya, di luar sana Miko mendapatkan lemparan telur busuk dari beberapa mahasiswa yang tidak terima dengan tingkah lakunya.
Betapa bengis nya lelaki itu terhadap rekan mereka juga pada adik tingkat. Miko dijatuhi vonis mati tanpa keringanan juga tak ada sidang banding.
Tak ada keringanan bahkan pengajuannya rehabilitasi pun di tolak, sebab Miko secara nyata mengakui menyuruh orang untuk menyakiti Cicilia berikut bukti pernyataannya.
Tak ada gunanya mengelak ataupun berbelit-belit itulah nasehat pengacara Lukman yang dia dengarkan juga dia sesali karena itu ia mendapatkan hukuman mati yang menurut nya tak sepadan buat dia.
Sedangkan ibunya Cicilia pingsan saat ia mendengar keputusan nya, tak sanggup lagi menahan derita dan rasa bersalahnya karena selama ini dia sudah abai pada sang anak.
Mobil sport mewah memasuki halaman rumah luas dengan bangunan tradisional yang ada di sisi rumah pendopo untuk tempat ibadah. Galuh menapaki jalanan kecil memasuki rumah utama.
"Kakak.. " Seorang gadis remaja berlari kecil ke pelukannya Galuh hingga tubuhnya bergoyang heboh. "Miss You ' Bisik Galuh lirih. "kakak sehat? " Raut si cantik berubah melihat sang kakak yang berbeda dari biasanya.
"Kakak letih juga ada kejadian di kampus jadi ya kakak butuh istirahat." Jelas Damian Marley. Sang adik mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
Mereka berjalan beriringan menuju ke ruang tengah ada sng ayah dan ibunya yang baru keluar dari dapur membawa sepiring cookies dan coklat panas untuk semuanya.
"Daddy kangen sweetie." Kata Maxim Marley memeluk tubuh putrinya. "Me too..." Jawab Galuh membalas pelukannya.
Mereka duduk bersama dan koper di ambil alih oleh pelayan. "Adik kehilangan sahabat nya Mom. Dia meninggalkan karena di bunuh oleh mantan pacarnya yang gila." Jelas Damian Marley.
"Daddy baca di media dia salah satu kenalan, cuma kenal aja. Sengaja tidak bertanya kepada mu. Takutnya kamu tambah down. Maaf, karena tak menceritakan tentang ini." Jelas Maxim Marley.
Mereka menyimak cerita Galuh dengan runtut mengisahkan tentang sosok Cicilia juga sahabat nya Larasati. Gadis ini tak menceritakan tentang dirinya berasal dari keluarga yang kaya, hanya bercerita mampu bayar semuanya, dengan kerja part time sebagai tambahan uang saku.
Dan Larasati tak mengetahui tentang keadaan keluarga Galuh, demikian pula yang lainnya. Hanya Cicilia lah yang terang-terangan menunjukkan kemewahan yang dimilikinya. Dan Akbar sosok temannya sederhana, namun mampu kuliah di universitas ternama atas bantuan saudara perempuannya.
Galuh bercerita tentang Larasati dan Bagaskara juga Dirga yang kakak senior yang nyatanya adalah kakak satu ayah beda ibu dengan Larasati. Galuh sengaja tak pulang ke tanah kelahirannya selama kuliah, hanya liburan semester saja dia pulang ke rumah. Demi menjaga kerahasiaannya bahwa ia anak seorang pengusaha. Takutnya di manfaatkan oleh orang sekitarnya, karena dia pernah mengalami saat di bangku sekolah dasar.
"Daddy tahu Bagaskara, pernah baca profil sebelumnya, Daddy salut, hanya beda bidang kita." Jelas Maxim Marley.
"Dia emang amazing, banyak sekali yang kagum pada Bagaskara. Ada kenalan aku yang satu kampus dengan nya dia baik pribadinya." Sahut Damian Marley.
"Bagaskara sangat cinta pada istrinya. Dia cantik, muslimah juga keras hati. Tapi sangat ringan tangan, menolong orang tanpa pikir panjang." Galuh membayangkan sosok sahabat nya.
"Mommy senang kau selalu dapat teman baik sayang, selama ini kau jarang bercerita tentang semuanya. Kau hanya bercerita tentang kegiatan rutinitas mu." Sang ibu memeluknya, mencium pelipisnya. Ayu wangi sangat perduli dengan anak-anak nya, dan selalu cemas jika anaknya tak memberikan kabar dalam sehari.
__ADS_1
Walaupun dia hanya mendapatkan pesan singkat dari aplikasi hijau dia sudah bahagia dan tentram hatinya.
"Sekarang semua sudah clear kan, jadi kita senang-senang saja kan tinggal hari wisuda. Kakak datang pas hari h saja. Dan tinggal di sini." Si kecil Ashlee ikut nimbrung di pelukan antara Ayu wangi dan Galuh. Semuanya tersenyum menanggapinya.