Atas Nama Cinta

Atas Nama Cinta
Wanita Sialan


__ADS_3

Axel meninggalkan istrinya sendiri, dia pergi ke taman belakang sambil mengeluarkan cigarette-nya. Dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi salah seorang bodyguardnya.


"Kita pergi sekarang" ucapnya lalu dia membuang puntung rokok itu dan menginjak-injaknya. Axel berjalan ke parkiran mobil, mengambil mobilnya lalu diiring beberapa anak buahnya dia pergi menuju suatu tempat.


"Gila...wanita sialan, berani-beraninya dia main api dibelakangku. Kenapa kamu tidak bilang Da jika kamu masih mencintai pria itu?kenapa harus aku yang jadi korbanmu?aku masih sangat menghargaimu dan tidak langsung membuangmu, tapi kamu benar-benar tidak bisa menjaga dirimu sendiri, sungguh sangat memalukan" Axel beberapa kali memukul-mukul setir mobilnya.


"Shitt....shittt" Axel mengerutkan alisnya, wajahnya memerah karena amarah. Baru kali ini dia merasa terkhiananti, dia pun menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi menebas apapun yang ada dijalanan


Perjalanan pun tiba hingga sampailah mereka disuatu tempat.


"Apartemen?" ucapnya lalu dia menoleh ke arah anak buahnya.


"Apa kamu yakin?"tanya Axel.


"Ya tuan...kami sudah mengambil cctv dari apartemen ini. Dari parkiran hingga depan pintu kamarnya" ucap pengawalnya.


"Apakah didalam tidak ada cctv-nya?" tanya Axel.


"Kami belum masuk ke dalam Pak, karena itu ranah pribadi" jawabnya.


"Baiklah...setelah kita masuk, langsung kamu cari semua cctv ruangan itu" Axel


"Siap"jawabnya


Salah seorang pengawal menggunakan jaket orange milik salah satu brand terkenal di negeri ini. Dia langsung memencet bel pintu itu.


"Paket Pak" ucapnya saat jendela pintu dibukanya dan dia pun menunjukkan paketnya. Terjadi beberapa percakapan disana hingga agak lama pintu baru dibuka.


Saat pintu baru saja terbuka sedikit, Axel langsung mendorong pintu itu dan dia bersama orang-orangnya memasuki ruangan apartemen itu.


Alangkah kagetnya Tio dan juga Ririn beserta dua orang temannya saat melihat Axel datang tiba-tiba ketempat itu.


Anak buahnya langsung bergerak mencari cctv, keadaan menjadi sangat kacau.


"Kalian mau apa kemari?"tanya Tio


"Aoa yang sudah kamu lakukan pada istriku bangs*t" teriak Axel sambil membembeng kerah kaos Tio


"Memangnya apa yang sudah aku lakukan?"tanya Tio pura-pura tidak tahu.


"Kamu masih mau mengelaknya" tiba-tiba Axel memukuli Tio bertubi. Melihat temannya dipukuli, teman-teman Tio yang lain tentu saja membantunya. Mereka bergelut satu lawan satu, ke dua teman Tio rupanya bukan orang sembarangan, terbukti mereka beberapa kali mengeluarkan uper cut ke arah Axel hingga membuat bibir dan hidung Axel berdarah.


"Kami akan lapor polisi atas penyerangan yang anda lakukan tuan Axel" Tio segera mengambil handphone-nya dan bermaksud melaporkan kejadian ini kepada polisi.


"Laporkan...silahkan...kita lihat siapa yang akan masuk ke penjara nanti" Axel

__ADS_1


"Jika kamu masih menginginkan istriku, katakan saja!! aku dengan sukarela akan melemparkannya ke hadapanmu" Axel.


"Kau jadi pria tidak berguna, dasar banci...cuihhh" Tio


"Apa maksudmu bastard" lagi-lagi Axel menghajarnya hingga Tio terhuyung-huyung dan hampir jatuh.


"Sialan kau banci, jika tak mampu menjadi seorang suami sebaiknya pakai baju istrimu" Tio


"Aku pantang menyentuh tubuh wanita yang sudah ternoda, bukan berarti aku tak mampu bercinta sialan" Axel


"Ambillah kembali barang rongsokmu itu, kalian berdua sama bejatnya"Axel


"Dan lebih bejat lagi kamu bangs*t, diam-diam menjalin hubungan dengan wanita lain disaat istri baru saja melahirkan" Tio mengusap darah yang keluar dari bibirnya.


"Jangan samakan wanitaku dengan wanitamu. Ku akui betapa bodohnya diriku menyelamatkan martabat wanitamu karena perbuatan bejat kalian. Besok aku akan mengirim mereka berdua kepadamu" Axel


"Ayo cabut boss...kita sudah mendapatkan apa yang kita mau"ujar anak buah Axel.


Mereka menarik Axel keluar sebelum boss mereka melakukan keonaran lagi.


"Pergilah pecundang sialan" teriak Tio lalu membanting pintu keras-keras.


Axel cs pun meninggalkan tempat itu dengan membawa beberap cctv. Mereka pergi menuju apartemen Axel, para pengawal menunggu diruang tamu sementara Axel memeriksa sendiri isi cctv itu dikamar tidurnya. Dia langsung menggelengkan kepalanya dan mengepalkan tangannya. Ingin rasanya dia membunuh pria yang sudah berani menyentuh istrinya. Memang dia sudah lama tidak pernah menyentuh Hilda tapi bukan berarti dia harus berselingkuh. Jika dia ingin bersama Tio tentu saja dia akan mengabulkannya. Axel sengaja menunda perpisahan mereka selama 6 bulan karena masih menghargai wanita itu tetapi balasannya apa? dia malah berselingkuh dibelakangnya.


"Kurang ajar...dasar pelac**" umpatnya kasar, malam ini dia ingin menyendiri dulu tanpa ada gangguan apapun. Dia khawatir jika bertemu Hilda saat ini juga sudah pasti dia tidak akan bisa menahan kemarahannya itu. Axel duduk disofa menghadap dinding kaca, melihat langit yang sudah berwarna hitam itu, sehitam hatinya saat ini.


"Iya Axel" nampak wajah Linda memenuhi layar ponselnya.


"Kamu sudah tidur?"tanyanya.


"Hampir...tetapi kamu menelponku, ada apa?"tanyanya.


"Buka pakaianmu" ucap Axel.


"Hah!! Linda langsung terkejut


"Ngaco kamu..tidak mau" ucapnya.


"Tapi aku ingin melihat tubuhmu sekarang sayang" Axel


"Tidak akan...kamu sinting Axel...sudahlah aku mau tidur kembali" ucapnya lalu mematikan ponselnya.


Tidak lama ponsel itu berdering kembali, dengan malas Linda mengangngkatnya.


"Hmmm...jangan minta yang aneh-aneh. Kamu baru saja bercinta dengan istrimu kan?" Linda

__ADS_1


"Tidak sayang...aku sedang diapartemenku, apa aku harus menculikmu malam ini?aku ingin tidur disampingmu"°Axel.


"Jangan nakal Axel...entah mengapa aku merasa seperti maiananmu saja, dan aku merasa tidak lebih dari seorang pelac**" Linda berkata pelan.


"Sayang...sayang...bukan itu maksudku, aku benar-benar tulus kepadamu. Jangan pernah ucapkan kata itu lagi, kamu sangat berharga untukku. Baiklah...aku tidak nakal lagi, sekarang tidurlah, beri aku ciuman" Axel mengecup ponsel itu seolah-olah itu adalah bibir Linda.


"I need you sayang...aku butuh pelukanmu" Axel


"Axel...ada apa dengan wajahmu?kenapa pada memar Axel?"Linda mulai khawatir melihat wajah pria itu.


"Ini tidak penting sayang, ini hanya kenakalan anak muda saja" jawabnya sambil terkekeh.


"Kemarilah aku akan mengobatimu" Linda.


"Jika kamu mengundangku, maka kamu harus tau konsekuensinya beib" wajah Axel berubah menjadi liar dan dia menggigit ujung bibir bawahnya dengan gaya sensual.


"Ya Tuhan..." baru pertama kali dia melihat sisi liar Axel dan itu membuatnya merinding. Dia jadi teringat serangan mendadak Axel tadi, apakah begitu liarnya Axel jika sedang bercinta? "Tuhann..otakku jadi berkeliling, pantas saja Hilda tidak ingin melepaskannya" begitu pikir Linda.


"Sayang...jadi tidak mengundangku malam ini?" Axel mengerdipkan matanya nakal hingga membuat Linda tergagap menjawabnya


"Ti-tidak Axel...suruh istrimu saja obati" jantung Linda berdetak keras.


"Sayang sekali, padahal malam ini aku ingin menjadi pengantinmu, aku ingin menjadi budakmu dan aku akan memuaskanmu cinta" Axel semakin erotik saja kata-katanya. Axel tau, Linda akan menjadi gugup jika melihat dirinya menjadi pria yang sangat sensual.


Linda hanya bisa menahan ludah saja mendengar kata-kata Axel.


"Jadi kita bercinta malam ini sayang?aku akan menjemputmu kemari atau aku akan memuaskanmu disana..yeeaahhh"


"Ja-jangan Axel...su-sudah dulu ya...bye" Linda langsung menutup ponselnya dengan hati yang berdebar-debar, bagaimanapun dia pernah merasakan sentuhan Axel, sentuhan yang lembut tetapi dia belum pernah merasakan disentuh dengan gaya liarnya..membayangkannya saja sudah membuat libido dan otaknya kemana-mana. Bohong jika dia tidak menginginkan kehangatan dari seorang pria.


"Bye sayang" Axel meletakkan ponsel itu dimeja saat layar sudah berubah gambarnya menjadi wajah Sky, anaknya.


"Anakku sayang" ucapnya sambil mengusap-usap ponsel itu.


Malam semakin larut dan Axel tak jua mengantuk, saat jam sudah menunjukkan waktu subuh barulah dia terlelap tidurnya.


****


Hilda bangun pagi itu, betapa kagetnya dia melihat beberapa cupangan ada didaerah dada dan perutnya.


"Sialan ini Tio...kalau Axel tahu bagaimana ini?bisa mati dah gue sekarang juga" Dia memeriksakan diri dikaca kamar mandi sambil menggosok-gosok tanda merah itu.


"Untunglah gue masih dilindungi Tuhan, bersyukurlah Axel tidak pulang malam ini. Kalaupun dia pulang tetap saja sama, gak bakalan disentuh gue. Ini semua gara-gara dia yang selalu mengacuhkan diriku. Gue masih muda dan wanita normal, gue masih butuh *** tapi suami gue gak pernah menghiraukan gue. Apa gue salah kalau gue mencari kesenangan diluar?" Hilda memijat-mijat kepalanya yang masih sedikit berat itu.


*****

__ADS_1


Met siang gaess....maaf semalam gak sempat up🙏


__ADS_2