
Bismillah. Assalamualaikum. Selamat membaca.
Masih bertahap
Tenang saja
Aku akan memeluk matahariku
Langitnya di sini bukan?
Aku lantas menemukannya saja sudah ditemu
Memeluknya belum lah aku peluk
Kapan
Kapan-kapan
***
''Butuh waktu. Butuh hati. Entah kapan, seseorang yang mulai tergoyah akan menemukan waktu sadarnya.''
(Lampung, 20 November 2018.)
***
Tergesa-gesa jua langkah itu dibawanya. Dari dalam kamar, menuju pintu ruang tamu. Sudah bisa diterka lah siapa yang baru saja tiba lantas membiarkam jemari-jemarinya mengetuk badan pintu. Bersama kekhasannya tersenyuk menampakkan sederet barisan pagar merah mudah yang rapi di giginya.
''Finally!!! Kalian datang juga!''
''Kan udah janji, Rel.'' Mina tersenyum membuat semut mana saja ingin mengerubunginya.
''Tapi Najla teh ajak Aini gak apa-apa ya ke rumah Aurel? Soalnya dia pengen ikut. Di rumah gak ada siapa-siapa.''
''Slow, Naj. Not problem for me. Hello Aini, how are you?''
Alih-alih menjawab sapaan Aurel, justru dibuat hujan tak mengertilah ia. Ditariknya pelan jua tubuh Najla hingga sedikit membungkuk.
''Teh Aurel ngomong apa, sih?'' bisiknya.
''Dia tanya kamu apa kabar?'' Tak setara bisikan dengan Aini, Najla lepas saja suaranya sampai kekesalan memuncak di dada Aini. Dibiarkannya sajalah Najla dipukul keras-keras badannya. Aurel dan Mina justru bergelak tawa melihat tingkah adik-kakak itu.
Badan pintu terdesain menjadi dua bagian itu dibuka lebar-lebar. Terjejaki jua kaki Najla di rumah Aurel. Dipandang-pandanglah sampai tiada satu titik yang diabaikan. Najla mengagumi rumah Aurel yang terdesain dari luar sederhana dan minimalis, nyatanya sampai menyelami baru satu ruangan saja sudah berhasil membuat batinnya berdecak kagum.
''Sepi banget, Rel?'' tanya Mina.
''Enggak kok. Ayah, Bunda, sama Kak Natta ada di belakang. Lagi nyantai di gubuk deket kolam ikan. Ayo kalian duduk dulu! Aku mau ganti baju.''
Sang empunya berlari ke kamar, sang tamu terduduklah di sana. Alih-alih menikmati suguhan yang sudah disediakan di meja berupa beberapa toples berisi kue, keripik, dan kacang, justru bertanya-tanya lah keduanya. Mengutarakan pertanyaan. Saling tak menemukan jawaban.
''Cuma mau belajar bareng aja pake ganti baju segala. Ada-ada aja Aurel mah,'' gumam Najla.
''Iya, ngapain coba ganti baju? Hadeehh.''
Dari belakang, kala kedua punggung itu disandarkn di punggung kursi, dan kaki Aini yang diayun-ayunkan, seorang wanita datang dan tersenyum ramah.
''Wah, temannya Aurel ya?''
''Eh, iya, Bu.'' Mina bangkit dari kursinya diikuti oleh Najla dan Aini. Telapak tangan gadis-gadis itu menjabat tangan Ibu Aurel dan mencium punggung tangannya. Dipersilakan duduk kembali dan menikmati jamuannya yang telah disediakan.
''Ibu tinggal ke belakang dulu ya. Tunggu aja, sekarang kan masih jam 8. Teman kalian yang satu lagi juga belum datang. Nanti kalau udah mau berangkat, panggil Kak Natta di belakang. Dia yang akan antar kalian hari ini.''
__ADS_1
Pernyataan yang berhasil menuntun jadi pertanyaan. Balok-balok tanya saling menerkam pikiran. Tak tahu-menahu jadi berkata soal perjalanan. Bukankah mereka akan mematut diri dengan buku-buku yang dibawa di rumah ini? Lantas apa jua terjemahan dari perjalanan itu?
Sudah hampir merekah jua sebuah kelopak kata-kata tanya dari bibir Najla, tetapi terlanjur pergilah wanita itu.
''Emang kita mau ke mana, Teh?''
''Teteh juga gak tau, Dek. Perasaan kemarin bilangnya belajar bareng di rumah Aurel kan, Min?''
''Huum. Kenapa jadi bingungin gini coba?''
Tak sampai berlanjut pada obrolan berikutnya, karena suara halus dari mesin motor matic Ismi sudah ditambatkan di halaman rumah Aurel berhasil membungkus topik pembicaraan. Pakaiannya kali ini, celana jeans berwarna navy dan kaos lengan panjang. Padat menutup tubuh, hingga dipandang laksana tak ada celah udara untuk sekadar menyejukkan. Serta tak ada celah untuk tak menghimpit otot-ototnya agar lebih regang.
''Assalamualaikum. Kalian orang udah lama ya di sini?''
''Waalaikumussalam. Belum kok, Is.''
''Iya, mungkin baru sepuluh menitan lah,'' tambah Najla.
''EEhhh Aini! Ikut juga? Masih ingat tak dengan Teteh siapa ini?'' Bola matanya baru menangkap wujud Aini yang terduduk di samping Najla, dihampirinya.
''Masih.''
''Siapa coba?''
''Teteh kamu orang kamu orang.''
Terkikik-kikik geli jua Najla dan Mina. Kekhasan Ismi dalam berbicara karena logatnya sebagai orang Lampung, nyatanya melekat jua di kepala Aini. Gadis polos itu akhirnya diterkam pipinya yang gembul oleh jari jemari Ismi.
***
Pada sebuah kata 'perjalanan' yang menjadi induknya cabang pertanyaan kini telah terjawabkan. Di dalam sebuah mobil Kijang Innova tiga jantung bernamakan Najla, Mina, dan Aini berhenti memasuk kepala dengan keingin tahuan. Ismi? Ya, Ismi nyatanya sudah dirangkul untuk Aurel beritakan perjalanan ini sebelumnya. Bersama gadis itu ia diskusikan, tempat mana yang pantas menjadi sarana me-refresh otak dan mencekokinya lagi dengan materi-materi sekolah.
''Iya. Kita kan gak ada persiapan apa-apa ya, Naj?''
Di luar dari segala persiapan yang Mina cetuskan, hati Najla mengeriput takut karena tak izin kepada Ibu. Pikiran dan hatinya kini justru kompak dirisaukan dengan wajah cemas Ibu yang kekalau sampai sore nanti ia urung tiba di rumah. Perjalanan ini tak cukup untuk melangkah pada bait-bait waktu hitungan menit saja, terkecuali dari enam puluh menit hitungannya dikalikan tiga. Ya, tiga jam.
''Kejutan aja. You know? Because im know kamu-kamu itu butuh negosiasi dulu untuk diajak jalan-jalan. Memikirkan uang, waktu, dan izin orang tua. Tenang aja, semua itu aku dan Ismi yang atur.'' Berkata demikian, seraya Aurel memutar tubuhnya ke belakang. Menghadap wajah Najla dan Mina yang sedikir kusut. Sedangkan Aini yang duduk di sampingnya dan Ismi, justru mengeluarkan segala bahagianya. Mau tak mau, Najla ikhlas dan berbahagia jua karena Aini menikmati perjalanan ini.
''Aurel, kamu duduk di depan aja kenapa sih?'' Satu jam berlalu, baru lah satu kalimat keluar dari mulut Natta.
''Malas deh, Kak. Enak di sini seru ngobrol sama Aini.''
''Ck! Berasa kayak sopir tau gak?''
''Udah deh, Kak. Nanti aku beliin topi pantai ya. Sekarang sopirin mobil yang bener.''
Jalanan Kota Metro, Natar, dan Bandar Lampung usai terlewati. Hilir-mudiknya kendaraan yang dimayoritasi oleh mobil-mobil pribadi, truk, dan puso menjadi pemandangan beberapa pasang mata penghuni mobil Kijang Inova putih itu. Aini sempat berbusa-busa pada kata-kata dengan Ismi dan Aurel, kini terlelap di bahu Aurel. Dikatakannya tadi sempat pusing dan perutnya mulai tak enak. Najla sempat ketar-ketir, sampai akhirnya tenang karena Aini sudah diberi minyak kayu putih dan kini tertidur pulas.
Mulai memasuki kawasan daerah pesawaran, tepatnya di gerbang yang bertuliskan 'selamat datang di kawasan pariwisata Pesawaran, Lampung Barat' mulai terlihat bukit-bukit dan pohon yang tinggi. Dari kaca mobil, sejauh kata memandang lautan yang tampak tenang itu mulai terlihat. Perahu-perahu wisatawan tampak kecil dari kejauhan. Pelan-pelan semakin besar berkat jarak jauhnya yang kian terkikis.
''Alhamdulillah.'' Najla mengusapkan lembut telapak tangannya ke wajah. Mobil berhenti di parkiran khusus pengunjung. Panas matahari benar tak terbantahkan siang ini. Azan zuhur yang berkumandang sudah lewat tiga puluh menit sebelumnya.
Setibanya, mereka sempat meregangkan otot dan pikiran sejenak. Setelahnya langsung mengambil air wudhu dan salat dzuhur berjamaah di mushala, diimami oleh Natta. Lidah Najla dan Aini sempat dijulurkan karena tak tahan asin saat berwudhu. Cukup kaget jua keduanya. Namun bagi Mina yang sempat ke Pantai Sariringgung sudah tak terkaget-kaget lagi. Demikian pun dengan Aurel, Ismi, dan Natta yang entah sudah keberapa kalinya merasakan pasir Pantai ini yang menggelitik telapak kaki.
''Panas banget.'' Mina mengusap dahinya. Melipat mukena.
Di luar, angin pantai bergerak cukup besar. Keluarnya mereka dari mushala usai salat langsung disambut oleh kawanan alam itu. Kerudung diajak menari. Tubuh diajak sejuk menempa panas matahari. Pada sebuah gubuk di tepi pantai lah mereka duduk. Menikmati makanan yang Aurel bawa, lantas belajar bersama.
''Adek kalo mainan di sini aja. Jangan ke lautnya ya!'' Najla sudah berceramah saja kepada Aini seraya mengeluarkan buku-bukunya.
''Yah Teteh mah gak seru.''
__ADS_1
''Teteh takut Adek. Harus nurut!''
''Sama Kak Natta aja yuk mainnya! Dijamin aman.''
''Ayo! Teh boleh ya? Kan aku dijagain A' Natta.''
Baru menarik satu napas, Aurel sudah mengeluarkan gelumbung ujarannya.
''Biarin aja, Naj. Masa cuma diem di sini liatin kita belajar? Tenang, Kakakku orangnya bertanggung jawab kok. Hehe.''
''Ya udah, Kak Nat, titip Aini ya?''
Natta mengangguk saja. Kemejanya seperti diselubungi angin sampai sedikit mengembang. Rambut pria berusia 19 tahun itu pula diajak terlipat ke belakang oleh sang bayu. Digenggamnya jemari Aini, entah hendak diajaknya ke mana.
''Jadi ini tuh gimana ngerjainnya, Naj? Bingung aku.''
''Ohh. Ini pakai rumus yang sebelumnya dulu, Min.''
''Ya ampun. Basa-basi sekali ya, kenapa tidak langsung ke rumus tekanan uap aja? Ribet kali.''
''Not! For me, lebih ribet lagi kenapa harus ngitung tekanan uap yang gak ada?''
''Udah, sini aku jelasin dulu.''
''Capek Naj, ngitung yang semu itu.''
Dua pasang mata itu hampir membulat penuh mendengar pernyataan Mina barusan, kecuali Najla.
''Ternyata kamu orang bisa sealay ini, Min?''
''Speachless!''
''Nah keluar deh Mina yang asli. Hehe. Dia juga teh dari dulu emang kayak gitu. Tapi kalo baru-baru kenal, jaim tau.''
''Najlaaa!''
Seperti tanpa henti, tawa-tawa berkesinambungan di antara mereka. Di langit, kadang matahari gagah bersinar, kadang meredup. Di laut, ombaknya menampar pasir pantai dengan tenang. Usai belajar, ketiga gadis itu mengolahragakan otot kaki dengan menaiki salah satu bukit yang memang disediakan bagi pengunjung yang ingin mendaki. Membuat banyak mata terpesona dari atas sana melihat keindahan Pantai Sariringgung yang air lautnya seperti pelangi karena tamparan matahari, dan pasirnya seperti mutiara yang putih bersih. Tak luput membuat hati Najla jua yang tak sabaran ingin menikmati keindahan dari Allah Yang Maha Esa untuk alam. Ia bersemangat jua kendati butiran bening di pelipisnya mulai berjatuhan. Kendati sering berhenti karena Aurel yang mudah berkeluh kesah. Namun ia tak ingin membuat perjalanannya itu tak tuntas sampai puncaknya.
''Kereennnn! Aku emang baru kali ini mendaki bukit di pantai ini. Dulu berkunjung untuk pertama kalinya tapi males mau ndaki,'' ujar Mina.
Mereka sudah sampai puncaknya. Di atas sana angin bergerak lebih besar. Kawanan manusia sangat kecil. Beberapa pohon kelapa melambai tenang. Najla langsung menyadari, kekerdilan manusia. Diandaikan kekuatan Allah itu baru setinggi bukit yang dipijakinya, manusia-manusia saja sudah terlihat kecil. Kecil sekali. Padahal, kebesaran-Nya melebihi dari segala yang tercipta di alam, bumi, langit, angkasa, dan seisinya.
''Manusia memang sangat kecil ya? Dari segi fisik dan kemampuan.''
''Kenapa kamu tiba-tiba berbicara gitu, Naj?'' tanya Mina.
''Kita bisa lihat dari sini. Semua manusia di bawah itu teh terlihat sangat kecil. Sedangkan bukit ini besar, lautan itu luas, bumi ini besar, dan Allah? Kekuasaan-Nya melebihi semua itu.''
Mina, Aurel, dan Ismi membisu. Menanti apa lagi yang akan Najla katakan dari sisi memandang keagungan Allah. Mata mereka fokus melihat pemandangan di bawah bukit, telinga mereka fokus menangkap kalimat Najla.
''Dan, dari atas sini saja, kita masih merasa cukup goyah karena angin yang bergerak.''
Tanpa sadar, satu titik air mata Najla menepi. Tanpa sepengetahuan ketiga sahabatnya. Sama-sama terduduk di bawah pohon di atas bukit itu, pun jua sama-sama melepas pandang ke laut lepas. Sejauh mata memandang.
''Aku merinding mendengar perkataan kamu orang, Naj. Aku mendadak ingin hijrah dari kehidupanku yang masih banyak cacatnya.''
***
Bersambuuunng. Jangan lupa beri komentar untuk tulisanku😊 agar bisa lebih baik lagi.
Terima kasih. Wassalamualaikum.
__ADS_1