
Davis menatap Galuh yang masih terlelap dengan perasaan nya bercampur aduk tak bisa dia ungkapkan rasa itu. Davis menggeram menahan hasratnya.
Intinya berdenyut denyut kala sang istri menekan nya tanpa sengaja mencari posisi tidur nya yang nyaman di pelukannya.
"Pagi sayang.." Sapa Davis kala melihat Galuh membuka matanya secara perlahan. Cup. Sebuah ciuman dia daratkan
"Morning kiss. " Sahutan cuek saat Galuh mengernyitkan keningnya. Dan berikut nya Davis bergerak menyatukan mereka tanpa aba-aba. "Kita olahraga sebentar sayang." Bisiknya pelan.
Galuh yang disesaki langsung mencengkeram pundaknya Davis. Galuh meringis namun Davis membungkamnya dengan ciuman bibirnya.
Bergerak cepat memacu hasratnya yang ditahannya beberapa waktu lalu, Galuh menjerit pelan kala bibir mereka lepas namun di satukan lagi oleh Davis.
Lalu berganti dengan sesapan nya di pundak nya Galuh kala ia melepaskan semburan membasahi di rahimnya Galuh.
Galuh menengadah ke atas sambil menarik rambutnya Davis merasakan kenikmatan bersama saling berpelukan sesaat.
Setelah berdiam setelah pelepasannya Davis menarik diri, mengangkat tubuhnya Galuh yang langsung memeluk lehernya Davis. "Aku bisa mandi sendiri.." Cicit nya malu.
Mereka dalam keadaan polos dan Davis tersenyum menunjukkan dengan dagunya ke arah ranjangnya." Lihatlah, kau hanya milikku. Jangan berpikir bahwa kau kotor. Tak ada yang menyentuh mu! Bahkan si brengsek itu!" Bisik Davis menatapnya lekat.
Galuh mengangguk sambil menyembunyikan kepalanya di ceruk Davis. Ia melihat bercak darah percintaan mereka, bagaimana cara Davis menebus nya beberapa kali dan istirahat memberikan ia rasa nyaman.
Didudukkan di closed Davis mengisi bathtub dengan sabun dan air hangat. " Berendam lah aku duluan rileks sayang nanti akan sembuh lukanya." Ucap Davis.
Galuh menatap nya dengan wajah tanya, "Aku baca artikelnya. Sumpah kau yang pertama." Serunya sambil mandi di bawah shower. Galuh menunduk malu pikiran nya traveling mengira-ngira suaminya bergaul bebas.
Seusai kegiatan mereka Davis merapikan seprai mengganti dengan yang baru sedangkan yang itu ia simpan di bagian almari pakaian dan di kunci nya.
Setelah itu ia turun ke ruang makan ada Damian Marley, Maxim Marley, Ayu wangi dan Ashley. Senyuman manis tercetak jelas di parasnya saat menghampiri mereka. Mereka baru saja selesai dan hendak beranjak tapi tak jadi.
__ADS_1
"Yang lagi unboxing ceria bener." Sindiran Ashlee membuat yang lain terkekeh geli. "Galuh sudah rileks Mommy. Semoga dia lupa akan peristiwa itu." Jelas Davis malu-malu.
Ia gugup saat mengambil minum yang disediakan oleh sang mertua. "Baguslah, kabar baik. Semoga ia dapat bekerja dan aktivitas seperti biasa." Sahut Maxim Marley.
"Aku harap juga demikian," Sambung Damian Marley yang acuh.
"Ku harap dia kembali ceria dan kembali lagi beraktivitas seperti biasa." Ayu wangi ikut angkat bicara.
"Doa nya saja, semoga semuanya berjalan lancar." Davis memberikan pengertian.
"Kau tak menunda kehamilan kan?" Maxim melirik anak menantunya. Davis tersedak makanan yang dikunyah nya.
"Tidak Daddy. Kita lihat saja hasilnya. Aku berusaha melakukan nya." Jawab Davis setelah menetralkan rasa pengar akibat tersedak. Ada canggung dengan menjawabnya.
Ashley bangkit meninggalkan tempat itu karena pembicaraan sudah menyinggung ranah dewasa. "Aku mesti pergi." Damian memilih menyingkir takut Daddy nya menyinggung nya.
Galuh baru selesai berpakaian kala Davis kembali ke kamar membawakan makanannya. "Terimakasih. " Ucap Galuh dan di rengkuh lah tubuh Galuh sambil mengecup kening nya
"Mommy yang masak dan aku tinggal ambil saja. " Sahut Davis. Membimbing nya duduk di sofa.
Di tempat lain. Danie Wong bangkit dari lantai penjara ia dihajar dengan rekan satu sel nya. "Penjahat kelamin! Cuih! Berlagak jaga image orang baik! Munafik!"
Buk! Tendangan bebas mendarat di perutnya kembali ia meringis, terjatuh ke lantai. Danie Wong sekali lagi meringis menahan sakitnya tak berani lagi bersuara takut semakin menjadi-jadi mereka menghajarnya.
Dia sudah banyak membaca artikel tentang kekerasan yang terjadi di penjara ada saja alasannya yang sungguh diluar masuk akal.
Mau disesali tapi semua itu sudah terlambat. Ia sungguh tak tahu wanita incaran nya adalah anak atau mungkin kekasih orang berada jauh di atasnya.
Ayahnya terakhir kalinya bertemu dengan nya mengatakan tak ada pengacara yang mau membantu bahkan relasi juga meninggalkan ayahnya satu persatu.
__ADS_1
Belum hujatan dan karma instan yang mereka terima akibat amukan massa yang mereka tahu dari berita-berita yang sudah tersebar bahkan fotonya juga dimuat di sana.
Danie Wong hanya berharap dapat melalui hukuman nya dengan ketenangan dan lancar tanpa menerima lagi siksaan demi siksaan. Rasanya ingin sekali mati tapi bunuh diri sangat lah tak dia inginkan karena itu sangat menyiksa karena dia pernah membacanya di artikel.
Makan makanannya disudut ruangan dengan meneteskan air matanya menahan suaranya. Tikar dan semuanya diambil napi lainnya ia hanya beralaskan lantai yang dingin.
Davis memasuki bangunan masih dalam pembangunan, melihat bahan-bahan nya juga melihat dasar bangunannya. Bertanya kepada penjaga, pengawas yang menanganinya
"Semen yang direkomendasikan memang nya yang mana mas? Tanya Davis berlagak tak pernah mengerti.
"Tiga roda mas. Bahkan si supervisor malah memerintah di campur dengan yang itu mas. Yang itu kan baiknya untuk mengaci Mas. "
Alis Davis mengangkat langsung mengubah ekspresi wajahnya dengan senyuman disertai mengangguk sambil berjalan meneruskan perjalanan menuju ke dalam gedung lalu melihat kerangka besi juga batu yang digunakan untuk mengecor dan lainnya.
Dia banyak menemukan beberapa fakta tentang keadaan yang sebenarnya sangat berbeda dengan yang diajukan dan dijadikan pembahasan saat rapat bersama pimpinan proyek.
Jadi menurut instingnya adanya unsur-unsur sabotase, tapi siapa yang menjadi korban nya di sini? Apakah ini penjebakan yang disengaja? Bukankah nanti perusahaan yang di rugikan?
Davis menggaruk kepalanya yang tak gatal, lalu ia memacu motornya kembali ke kantor menyimpan data-data yang telah disatukan dan ditemukan di lapangan.
Bahkan ia sudah konfirmasi dengan seniornya jika bahan sebenarnya adalah sesuai kesepakatan bersama saat rapat
Ia sudah bertanya kepada nya hingga tiga kali juga pada orang di lapangan dan pemilik toko
Dia sudah menelpon bagian keuangan meminta tolong meminta nomor rekening bank nya."Aku tak tahu dalang nya tapi yang jelas ini akan menghancurkan reputasi perusahaan dan tak akan aku biarkan. "
"Kita lihat saja nanti dengan siapa kalian bermain, kau nyalakan api maka kau sendiri yang akan terbakar nanti nya. Jangsn salah kan aku!"
Batin Davis sambil menatap seluruh ruangan melihat adakah yang mencurigakan yang patut diselidiki nya.
__ADS_1