Atas Nama Cinta

Atas Nama Cinta
39. Galuh vs Davis


__ADS_3

Bruk. Setumpuk minuman kaleng berjatuhan menggelinding di lantai minimarket di salah satu mall terbesar di kota J.


Seorang gadis berkacamata tebal itu menarik nafasnya berat. Orang yang menyenggol bahunya melenggang pergi setelah melempar tatapan tajam.


"Dia yang salah kenapa aku yang di salahkan?" Gumam Galuh, ia membungkuk memunguti minuman kaleng yang di susun sebagai pajangan untuk menarik pelanggan.


"Maaf, kak. Tidak sengaja." Ucap Galuh kala dua karyawan mendekati nya ikut memungut.


"Ini sudah biasa kok mbak.. Tenang saja, ada cctv yang menjelaskan tentang keadaan nya." Tunjuk satu karyawan yang baru datang ikut bergabung dengan mereka. Galuh meringis sambil terus bekerja ikut menyusun minuman kaleng tersebut.


Bahkan gadis itu menyusun sendiri dengan unik berbentuk karakter daun waru, simbol cinta yang dikenal banyak orang. Kemudian ia meninggalkan tempat tersebut untuk membayar belanjaan nya.


Mood nya sudah turun bebas kala bersinggungan dengan orang asing tadi dan menyalahkan nya. Untung para pegawai itu mengetahui jika dia tak bersalah. Bahkan mereka mengucapkan terima kasih saat ia berpamitan.


Sengaja pulang jalan kaki karena masih malas untuk cepat pulang. Toh, di kost ia sendirian juga sementara teman-teman kost sedang di apelin kekasihnya hanya dia yang bergelar jones.


Berjalan menyusuri jalanan kota dengan kreseknya berisi minuman dan camilan favoritnya. Santai saja makan sambil jalan, dengan menatap lurus ke depan.


"Nelangsa sekali nasibku, tak ada teman. Cicilia ada urusan keluarga. Aku?" Batinnya. Ia berhenti duduk dipinggir jalan yang ada shelter. Meminum minuman nya menatap jalanan dengan tatapan kosong. Galuh melamun sendiri di sana.


Bagi nya malam Minggu adalah hari menyeramkan, ia sendirian tak ada teman karena mereka sibuk sendiri. Cicilia punya pacar,. Akbar selalu membantu cafe milik keluarga nya.


Hanya dia anak perantauan sendiri, biasanya dia bersembunyi di kamar tanpa suara. Sedangkan di luar dan di kanan kiri ada adegan mesum, karena ia mendengar rintihan nya tiap akhir pekan.


Tempat kost nya dibebaskan dari segala aturan. Karena itu ia memilih tinggal di sana. Namun efeknya terhadap mental nya yang tak kuat.


Sebuah motor besar menghampirinya berhenti tak jauh dari tempat duduknya. Dia melepaskan helm. Nampak jelas Davis menatap nya heran.

__ADS_1


"Apa yang kau kerjakan di sini sendirian?' Tanya nya, kedatangan tiba-tiba langsung duduk dan bertanya kepada Galuh. Membuat Galuh terkejut. " Apa ? Aku hanya menghirup udara segar saja." Elaknya gugup.


Baru kali pertama mereka berinteraksi dekat seperti ini. Biasanya mereka bersama duduk dengan yang lainnya. Namun sekarang berdua di tempat seperti ini, serasa berkencan ga sih? Kau berlebihan Galuh. Dia tergila-gila pada Larasati tak mungkin memperhatikan Upik abu kaya kamu, batinnya bermonolog.


"Udaranya segar? Yang ada polusi kali .." Komentar Davis meliriknya sekilas lalu dengan santai nya membuka kresek yang di pangkuannya Galuh.


"Aku haus minta boleh kan?" Ucapnya sambil mengambil air botol mineral berlabel biru itu. "Kamu suka minum air seperti ini?" Tanya Davis sambil memiringkan kepalanya.


"Kata Mama bagus untuk kesehatan aku. Dia suruh ini itu aku turut saja, katanya demi kesehatan." Jawab Galuh lirih sambil menunduk.


Gelisah, kedua kakinya bergerak abstrak karena itu. Davis mengerti namun berlagak tak tahu. "Bahaya seorang wanita duduk sendirian di pinggir jalan, biar kata di sini banyak orang."


"Belum tentu perduli dengan orang lain. Jaman sekarang tolong menolong itu sudah menipis, hal yang langka. Mereka cenderung mengambil gambar untuk IG nya atau semacamnya."


Galuh hanya mendengarkan namun dalam hati membenarkan hal tersebut. "Aku malas pulang ke kost, rasanya... Tak nyaman saja." Cicit Galuh. Davis mengerti, memalingkan wajahnya menahan tawanya.


"Ayo aku antar pulang, anggap aku ojek online saja. " Tawar Davis, belum Galuh menjawabnya perutnya sudah bersuara nyaring.


Davis tertawa kecil memalingkan wajahnya juga Galuh. Rasanya ingin dia menenggelamkan kepalanya ke bumi ketahuan kelaparan.


"Ayo kita pergi !" Davis langsung menyeret nya ke arah motornya. Memberikan helm nya


"Kamu bagaimana?" Tanya Galuh bingung.


"Ya, bagaimana lagi bawa cuma satu juga enggak pernah boncengan, apalagi cewek malas banget. Buat kamu pengecualian."


"Nyawa juga satu berdoa aja kita selamat, juga tak bertemu polisi. Jika iya aku buat kamu jadi jaminan nya!" Ucapnya asal, Galuh menatapnya horor.

__ADS_1


"Becanda aja. Yuk, jalan. Jangan seriusan, nanti keriput wajahnya! Itu kata orang Lo.." Lagi Davis mengatakan becandaan garing, senyuman di wajahnya kaku melihat ekspresi datarnya Galuh.


Tak lama motornya melaju kencang mengikuti angin yang bertiup. Galuh hanya berdoa untuk keselamatan mereka berdua. Matanya terpejam dan tangan nya mencengkeram erat pinggang nya Davis.


"Kita sudah sampai. Mau pegangan sampai kapan ?" Tanya Davis menggoda Galuh. Kini gadis itu pun turun den memberikan helm nya sambil celingukan.


"La, ini bukan tempat kost aku." Celetuk nya. "Aku ngajak kamu makan kan kamu laper, lagi kamu ga bilang arahnya. Aku bukan cenayang tahu!' Davis ngeloyor pergi menuju angkringan dan duduk setengah memesan minuman.


Ia mengambil nasi bungkus juga gorengan dan sate jeroan lalu duduk lesehan yang kosong. "Nih ambil, makan ! Aku udah Pesen air jeruk anget buat kita."


"Atau kamu mau yang lainnya?' Tawar Davis yang tak mendapat jawaban Galuh. "Enggak, ini saja makasih ya?" Jawabnya gugup.


Davis mengangguk ia makan sate dan main game menunggu minuman mereka. Galuh hanya makan gorengan dulu menunggu air nya. Setelah pesanan mereka tiba langsung mereka makan dalam keheningan.


Davis membayar makanannya setelah selesai dan melangkah ke motor nya diikuti Galuh. "Aku tinggal di jl. xxxx nomor 234. " Kata Galuh dan dijawab Davis anggukan kepala saja. Motor melaju membelah jalanan padat dan masuk ke perkampungan padat berakhir di ujung kampung di gang pinggir sungai.


"Cukup enak suasana, juga ada lahan parkir, ada warung nasi di sana tak jauh hanya depan gang, juga laundry."


"Dan juga suasana juga enak. " Komen Davis. "Makasih." Jawab Galuh memberikan helm Davis.


"Eh ,boleh numpang ke belakang ga?" Tanya nya menahan sesuatu wajahnya memerah.


Galuh hanya mengangguk sambil tersenyum berjalan ke kamarnya dan membuka kamar nya lebar. Davis meletakkan tas rangsel juga helm sembarangan.


Melepaskan sepatu juga kaos kakinya berjalan ke kamar mandi yang jadi satu ruangan dengan kamar nya. Setengah berlari kecil lelaki itu langsung masuk tanpa permisi.


Tak lama dia keluar dengan perasaan lega, karena sudah menuntaskan buang air kecil. Matanya beredar menatap ruangan itu tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2