Atas Nama Cinta

Atas Nama Cinta
Bab 19: Tandanya Apa, Ya?


__ADS_3

Bismillah. Assalamualaikum. Selamat membaca.


Dengarlah


Dan dengarlah


Lihatlah


Dan lihatlah


Jangan bertalu tanpa kalbu


Dia pakai kalbu


Kau tahu?


Suratan cinta di bawah pohon perdu


***


''Tercipta sebagai pengamat logika, bukan penerjemah rasa. Ya, itulah pria.''


(Lampung, 26 November 2018)


***


Kian pekat saja langitnya. Pekat jua suasananya. Jarum jam masih memberikan denyut kehidupan bagi sekian persen jantung manusia. Antah berantah yang masih terlelap, tergopoh mengejar dunia, atau bersujud menjadi peminta-minta terbaik di antara belahan bumi yang kini sepi sekali.


Beberapa hewan penghisap darah selalu mencuri perhatian untuk tak sejenak diam saja membuat pergerakan jemari itu agar tak menggaruk-garuk. Nyatanya ia alarm yang kerap dilupa dan diabaikan. Kendati demikian, Najla tak begitu.


Pipi kanannya sudah merah dan terbentuk bulatan sedikit timbul. Diusap-usap beberapa kali. Terganggu jua tidurnya. Pelan-pelan pandangannya disesuaikan, bersama uap mulut yang ditutupi punggung tangannya. Ia keheranan saat ada tangan yang melingkar memeluk tubuhnya. Mengenali siapa pemilik tangan itu, ragu-ragu jua ia untuk melihat langsung.


''Ibu,'' bisiknya hampir tak bersuara. Raut muka yang sempat dirundung luka tak terlihat itu sudah ditemukan jua penawarnya. Bukan obat merah atau suatu pelapis obat luka, ialah keberadaan Ibu yang tak diduga-duga. Sejenak, untuk mengambil air wudhu dan salat tahajjud, ia membalas pelukan Ibu dulu. Mencium aroma tubuhnya yang selalu khas, dan memandangi mukanya yang cukup lama dirindui. Sebuah temu setiap hari yang tak berarti karena perdebatan hati masih ada di sana-sini.


''Jangan ulangi kesalahan Teteh lagi, ya?''


Najla hampir terperanjat. Kembali tenang. Rupa-rupanya Ibu sudah terlepas jua dari lorong peristirahatan itu.


''Maafin Teteh ya, Bu.''


Gerakan tangan Ibu mengelus kepalanya penuh cinta sampai kewalahan sudah menjadi jawaban. Najla meresapinya dalam-dalam.


''Teteh kan pegang HP. Harusnya kabari Ibu.''


''Iya, Ibu. Teteh belum terbiasa pakai HP jadi lupa gak ngabarin Ibu. Oya, Ibu gak sakit kan karena kehujanan cariin Teteh sama Adek?''


''Enggak, Sayang. Ibu teh akan lebih sakit lagi kalau Teteh mengulangi kesalahan yang sama. Ingat, dimaafkan bukan berarti diperbolehkan untuk mengulangi kesalahan.''


Sebuah senyum kecil ditambatkam di bibir Ibu. Kelima jemarinya menepuk pelan sebelah pipi Najla.


''Udah. Mau salat tahajud kan? Ayo, Ibu juga. Sekalian bangunin Adek, ya?''


''Siap laksanakan!'' Najla bangkit seraya memasang tangan kanannya di pelipis.


***


Pagi sekali biarlah menjadi kali pertamanya kaki Najla berolah raga memutar-mutar pedal sepeda. Kendati waktu masih melaju pada porosnya, dan langit berputar jua. Hampir terang bemderang kondisi paginya Najla saat tiba di sekolah. Hal inilah yang kerap menjadi alasannya untuk tak sama sekali membiarkan PR tanpa bekas. Bisa tak bisa ia kerjakan saja. Urusan benar atau tidaknya, kekalau ada waktu ia diskusikan bersama teman-teman. Kekalau tidak, biar saja terlipat nilainya barang kecil sekalipun.


Ya, kala sepedanya mulai dituntun memasuki gerbang halaman sekolah, di kelasnya sudahlah diributkan oleh buku yang ditarik ke banyak tangan.


''Assalamualaikum, Bu.'' Najla berlalu sambil mengucapkan salam kepada guru piket pagi ini. BIasa, guru piket berjaga di depan gerbang. Menyambut tunas-tunas sekolahnya, menerima uluran tangan dari mereka yang berdatangan.


Dari sudut matanya, tampak ia mengambil gerakan melirik ke arah parkiran sepeda. Di sana Ashad nyatanya jua baru tiba. Punggung lelaki itu berlalu sambil jemarinya membenahi gagang kacamata yang kurang pas posisinya.


Senyum saja. Terukir menjadi catatan sejarah tiap-tiap pagi. Bisa melihat tanpa ketahuan. Sekali saja, lantas disudahi pandangan itu. Najla tak pernah meminta berlebihan untuk mendekati. Cinta yang kini adalah ujian. Pendefinisian rasanya kali ini.


Sebuah jam tangan kelahiran zaman Ibunya masih remaja ia kenakan. Pun kini ia lirik jua. Hatinya berdesis santai mendapati waktu sepuluh menit lagi bel sekolah akan menjerit. Kembali ditebarkan jua pandangannya kepada suasana makhluk-makhluk kasat mata di parkiran pagi ini.


''Ada yang beda,'' ujarnya.

__ADS_1


Usai paham apalah maksud siswi-siswi menutupi sebagian wajah dengan masker kain, Najla tersenyum. Di sana sudah banyak sekadar mata yang terjamah. Memperlihatkan bentuk hidung dan bibir sudah bukan lagi menjadi sebuah ajang kebebasan.


''Masker, untuk sementara jadi kembaran cadar? Bagus juga ternyata euy.''


Boleh hatinya riang gembira. Kaki dilangkahkan ke kelas seolah baru mendapat sebuah kejutan. Hidup dan dihidupkan pada lingkungan yang sama diinginkannya yakni islami sungguh amatlah menciptakan kesejukan yang merata. Dari kepala sampai kaki bagai tiada kira untuk terlewati dirasa indahnya.


Di kelas, usai pembacaan doa untuk mengawali pembelajaran, serta merta membaca ayat-ayat suci Al-Quran bersama-sama, Najla mengecup lembut Al-Qurannya itu. Lantas ditaruhnya lagi di dalam tas.


''Naj, kamu udah ngerjain PR Kimia kan?'' Usai mencolek bahu Najla, Mina langsung menodongkan maksudnya.


''Udah. Tapi ya gitu atuh. Gak tau bener apa salah.''


''Coba sih aku liat.''


Dirogohnya jua isi tas itu lagi. Sebuah buku bersampulkan plastik transparan diserahkan kepada Mina.


''Naj, aku kepikiran sama ucapanmu kemarin.''


Kalimat yang diluncurkan Aurel barusan sudah membuat tombol pause tangan Najla ditekan. Niatnya ditenggelamkan sejenak untuk mengambil air minum. Kerongkongannya cukup kekeringan usai mengaji tiga lembar tadi bersama-sama.


''Ucapan Najla? Yang mana, Rel? Naha Najla teh lupa.''


*Naha\= Kenapa


Sebentuk karbondioksida pun keluar melalui lorongnya. Aurel seperti membuat aura yang baik untuk jiwanya, sebelum penjelasan lebih lanjut ia tunaikan. Pelan-pelan, Aurel memulai.


''Ayah, Bunda, Keluarga, Sahabat. Ada waktunya air mataku lebih penting untuk menangisi mereka daripada seseorang yang bukan siapa-siapa dal hidupku. Kurang lebih seperti itu your said for me.''


''O-'' Sebuah aroma yang khawatir akan memberi bau tak sedap sudah Najla endus. Meski sesungguhnya ia tak mau. ''Maaf, ya? Najla gak bermaksud lancang sama Aurel.'' Kepalanya sedikit tenggalam. Laksana turut berbicara ia bersalah.


''No. Bukan itu maksudku, Naj.''


''Jadi?''


''Jadi, aku cukup tercubit sama kata-katamu itu. Ah you are very smart dalam membuat hatiku tertohok untuk menunjukkan jalan yang benar.''


''Ha? Serius?''


Terjeda, setelah akhirnya Aurel berkata lagi. ''Menurutmu aku bodoh gak telah menangisi Dava?''


Sejenak, isi kepala Najla dipinta untuk berpikir. Terlalu kasar lah ia apabila sejurus kemudian berkata langsung dengan satu kata 'bodoh'. Hati Aurel jelas akan dibuat satu tancapan benda tajam oleh Najla. Satu detiknya sebuah kisah pun melintas di kepala Najla. Tentang surat yang ditorehkannya kepada Ashad, yang tak sampai. Hingga kini hanya tertambat di bawah tumpukan bajunya di lemari. Tak pernah sampai ke tangan si tokoh yang diajaknya berbicara di dalak surat.


''Begini. Bagi Najla mah, gak ada yang terbodohi oleh cinta. Gak ada yang terbodohi oleh cinta, tapi yang sebenarnya adalah terbodohi oleh nafsu. Cinta itu suci dan yang mengotorinya adalah nafsu.''


Yang Najla tahu, cinta seputih air susu. Semanis madu. Seindah langit. Semenyenangkan dikasih sayangi banyak orang.


''Dan cinta yang sebenar-benarnya suci dari kita sekarang adalah cinta kepada Ibu dan Bapak.''


Singkat-singkatnya kalimat itu bisa memberikan jalan kepada Aurel. Sampai ia tenggelam kepada perdamaian dan dunia perenungan kepada diri sendiri. Segala macam tanya mengepung kepala. Dan sebuah tanda seru menyusup dalam dada, memberikan kata 'sadarilah!'.


''Ah, ya. Hampir lupa! Mulai hari ini tiap pulang sekolah aku akan latihan Tari Sigeh untuk pembuatan video klip! Doakan ya, semoga aku lolos jadi bisa diajak ke provinsi untuk jadi penyambut Pak presiden dan dimasukkan ke dalam album para seniman tari.''


Mudah sekali makhluk tak kasat mata penggoda manusia untuk meluluh lantakkan keadaan menuju baik. Perenungan Aurel ditarik secara lembut dengan membuatnya ingat tentang kabar baik itu dan mengatakannya kepada Najla.


''NAjla hanya akan meminta yang terbaik untuk Aurel dari ALlah.''


''Whatever.  Terpenting kamu bahagia saat aku lolos dan turut sedih kalau semuanya gak sesuai ekspetasiku.''


***


Bunyi-bunyi sendok dan garpu yang seolah diajak berperang dengan media piring atau mangkuk itu mendominasi. Krusak-krusuknya suara plastik jajan kemasan turut membisingi. Mulut-mulut yang terjejal asupannya pun tak ingin kalah. Ada yang sampai tertawa, sekadar berbicara. YA, intinya dari tingkat rendah sampai tinggi ada di sana.


Kendati demikian, anteng-anteng saja Ashad dan Jojo. Dihadapkan dengan masing-masing sepiring somay dan segelas air putih beruap dingin.


''Yang kenyang, Jo!''


''Hah? Kayak mau bayarin aku aja, Ash.''


''Ashad biarin sih. Bukan bayarin.''

__ADS_1


''Anjay!''


''Oy, bahasa Jojo gak enak didenger atuh.''


''Maaf, kebablasaan sih.''


Singkatnya sekadar menjeda saja guna tak kaku dan seolah formal di atas meja berbahan triplek itu. Dua-duanya tenggelam lagi menyusupkan potongan-potongan somay. Jarang jua kantin ditapaki kaki mereka. Kali ini, adalah untuk beberapa kali yang bisa disimpan rapi dalam memori kepala. Yang ketiga dari satu semester setengahnya perjalanan udara mereka hisap di lingkungan sekolah itu.


Ashad meneguk air di gelasnya. Menegakkan badan, ancang-ancang hendak melakukan sesuatu tampaknya.


''Hm, Jo.''


''Nggih. Ada apa, Ash?''


''Mau tanya.''


''Ya tinggal tanya. Biasanya juga ndak suka basa-basi.''


Ditatapnya sejenak langit kantin. Mempertimbangkan dan mengusahakan diri biasa saja.


''Kalau ada cewek yang sama kamu bertingkah jutek, tapi sama cowok lain mah bertingkah biasa aja bahkan baik, itu gimana ya?''


Jojo mengusaikan makannya. Menelan, dan memasukkan kembali sepotong somaynya yang terakhir. Sebuah pabrik buatan Allah tengah difungsikan masih di gerbang pembuka. Baru penghalusnya. Mulut. Ashad sudah tak sabaran untuk menerima apa yang akan Jojo katakan. Sayang jua, diterka Jojo justru seolah mempermainkan Ashad. Waktu dibuatnya ditarik sepanjang mungkin dengan tanpa isi, selain sibuk mengunyah.


''Aku bayar somay dan duluan pulang ke kelas, Jo.'' Ashad sudah bangkit dari bangkunya.


''Eitsss. Hehe. Maaf-maaf. Duduk dulu! Ya aku jawab sekarang ya.''


''Hm.''


''Pertanyaanmu ndak berbobot, Ash. Udah biasa kalau wanita seperti itu. Eh tapi, kok tumben membicarakan wanita?''


''Ada lah. Ayo jawab.''


''Hayooo, ngopo?''


''Ngopi.''


''Ngopo?''


''Ngopi.''


''Ash.''


''Iya.''


''Ngopo? Sampeyan jatuh cinta ya?''


''Sembarangan.''


''Ngaku aja.''


''Jawab pertanyaanku tadi, Jo!''


''Hih. Dasar ndak mau ngaku. Yowis aku kan baik. Itu tandanya, cewek itu gak suka atau bahasa kasarnya benci sama kamu.''


Tenang? Atau risau? Ashad terdampar di dua lembah yang memutar kepalanya untuk mendeskripsikan isi hati.


Jojo berkata kembali, ''Tetapi, bisa jadi DIA SUKA KAMU, ASH!''


Teruntuk kali ini, somay yang telah memasuki percampuran dengan asam lambung bagai hendak ditarik lagi, lantas terjeda di kerongkongan. Ashad tak bisa memungkiri dengan jawaban itu. Perasaan tenangnya mendadak ingin ditempatkan saja bahwa berarti benci, bukan cinta. Ashad akan lega kekalau demikian. Namun ia akan cukup mengalami gegar keadaan hati kekalau kalimat kedua yang Jojo ucapkan ialah faktanya.


Kendati demikian, tiada suara, rupa, dan tingkah Ashad pelan-pelan saat ini jua akan bahagia. Kalau...


''Najla suka sama aku?!''


***


Kok aku susah ya, bisa bikin karakter saling ngebaperin yang belum halal? Wkwk. Kaku aja gitu.

__ADS_1


Jangan lupa koment ya, yang masih setia menanti endingnya. Haha😂 padahal konflik utama aja belum ketemu😂.


Oke terima kasih. Wassalamualaikum.


__ADS_2