Atas Nama Cinta

Atas Nama Cinta
Bab : Dua Kisah


__ADS_3

Bismillah. Assalamualaikum. Selamat membaca.


Aku tak pinta


Kau sudah menimangnya


Kau sudah tuturkan


Aku tak pinta


Kau paham butuhku


Aku tak pinta


Sebab peluh itu motivatorku


Tidak pun tak apa


***


''Butuh seribu kali mematangkan pikiran di saat apa-apa yang aku butuhkan perlu dituturkan kepada Ibu dan Bapak. Mengapa? Peluh mereka. Itulah jawabanku.''


(Menahan rasa bosan. Lampung, 2018)


***


Sesosok angka yang menggelayut ngeri pada kertas berlabelkan Surat Keterangan Hasil Ujian sementara usai sudah disisip ke dalam mata. Angin pun berdesir tenang merangkak pada ruang terdalam bernama kalbu. Biarpun tak jadi yang pertama, setidaknya ia bukanlah menjadi yang terakhir. Angka-angka yang bertengger itu berada pada garis tengah-tengah. Nilai Matematika 78,  IPA 80, Bahasa Indonesia 75, dan Bahasa Inggris 70. Kendati sebelumnya angka-angka itu usai dipajang pada selembar kertas sebelum SKHU Sementara keluar guna pendaftaran sekolah ke jenjang berikutnya, menatap selembar kertas yang kini ia pangku jauh lebih memuaskan. Ibu dan Bapak pun akan jauh lebih percaya padanya.


Satu persatu tahap berhasil dilalui. Bermula keluarnya nilai UN, pendaftaran masuk SMA Negeri, tes tertulis, pengumuman, kegiatan Pengenalan Lingkungan Sekolah, sampai kini raganya usai sudah disahkan menjadi warga kelas Mia 2.


Tubuhnya masih mewanti-wanti siapakah nanti insan yang siap bergandeng tangan dengannya pada satu meja. Sebuah benda berwarna perak serta-merta terikat karet gelang itu diselundupkannya jua ke dalam tas lagi. Beberapa nomor kawan barunya usai tercatat di dalam memori ponsel. Kendati sudah cukup akrab ia dengn beberapa murid, kalimat-kalimat senda gurau terlontarkan, masih saja urung kawan sebangku didapat.


''Tenang aja. Katanya yang hari ini gak berangkat tuh masih ke Jambi. Besok katanya mulai berangkat.''


Pada sisi kanan baju Gadis yang baru saja berujar itu tertandakan nama 'Ismi'. Logatnya meliuk halus dari darah insan-insan bermahkotakan siger.


''Maaf ya, aku gak duduk sama kamu, Naj. Hehe. Biar kita teh bisa gaul! Gak cuma punya temen yang dari SMP doang!'' Mina menepuk bahu Najla.


''Gak apa-apa atuh. Kayak apa aja kamu mah, Min.''


Wajah-wajah baru nan polos tengah melingkupi ramainya kehidupan di SMA Negeri Agung. Delapan kelas yang sempat senyap berkat ketiadaan murid satu angkatan dari sekolah tersebut, kini bangkit kembali. Lorong-lorongnya yang membisu kembali bergumam. Wajah serta-merta lidah yang masih kaku untuk lincah bagaimana dan ke mana saja tingkah itu memayoritasi keadaan. Cukup menjadi peneliti dari orang awam saja, kelas Najla sudah mampu didefinisikan demikian. Sikap-sikap yang masih terjaga, rata-rata hanya bercakap dengan kawan yang satu jengkal jarak memisahkan.


Satu jengkal jarak yang sempat senyap Najla uraikan bersama sabana hidupnya dengan seseorang. Kini berisik lagi. Akan berebut oksigen pada ruang yang sama. Seseorang itu, Ashad. Tak ada dusta lah dalam hatinya, Najla mengakui kegugupan untuk tiga tahun ke depan ia akan satu keluarga di sekolah bersama Ashad.


Waktu terasa lambat, potongan-potongan pertemuan dengan guru di kelas sudah seperti berada di stasiun. Bahasanya sepanjang badan kereta. Kendati sebenarnya gelak tawa sempat tersisip di sana. Sayang, Najla tengah mati rasa perihal itu karena Ashad. Kini, tasnya sudah diperkenankan untuk ditarik dari ruang kelas. Dibawa kembali ke rumah.


''Naj, kamu orang naik sepeda?'' tanya Ismi.

__ADS_1


''Ya. Ismi diantar ya?''


''Iya. Kirain kamu diantar. Tadinya mau aku antar lah. Biar tahu rumahmu, Naj.''


''Aihhh. Ismi baik banget! Makasih ya! Kapan-kapan boleh kan, Najla ngerasain naik mobil Ismi?''


''Bolehlah! Tapi kamu orang-''


''Bantu mah gak ada tapi-tapinya atuh, Is.'' Disenggol jua bahu Ismi oleh Mina. Pemandangan insan-insan yang sibuk dengan motornya ada di hadapan ketiga gadis itu. Parkir khusus sepeda saja sangat lengang. Tak lagi cukup dihitung jari, dalam satu kali penglihatan pun angka berapa yang timbul untuk menghitung badan sepeda sudah mendarat ke permukaan.


''Tapinya aku ini bercanda lah, Min. Aku hanya mau bilang asalkan Najla tidak menolak untuk ajakan berikutnya. Kamu orang udah negatif thinking saja.''


''Ya, maaf.''


Ismi lantas pamit karena mobil jemputannya sudah tiba. Namun lain lagi dengan Najla dan Mina. Kedua insan itu masih membenturkan pandangan mata masing-masing pada suasana parkiran. Sengaja, Mina tak ingin bersusah payah membaurkan diri keluar dari keramaian-keramaian yang saling mendahului. Hanya saja kegundahan sempat melanda Najla. Dipandangi jua ia oleh beberapa insan yang melintasinya. Tak tahu menahu lah ia apakah sebabnya. Pandangan bertuturkan tanya dari mata-mata mereka, kian menggunungkan tanya jua di otak Najla.


''Kenapa pada liatin Najla aneh gitu, ya? Kan risih atuh jadinya.'' Coba membuang wajah jua dari hadapan-hadapan insan yang melintasinya.


''Kayaknya aku tahu deh, kenapa.''


''Kenapa?''


''Hm, jilbab kamu.''


''Jilbab aku?''


''Iya. Alasannya ya karena penampilan jilbab kamu paling menonjol di antara semua orang.''


''Najla paham. Karena kerudung Najla yang besar ini ya?'' tanyanya hati-hati. Disambut dengan anggukan kepala cukup berat dari Mina.


''Biarlah. Toh, dulu awal Najla masuk SMP juga dilihat asing. Bahkan sampai ada yang mengejek Najla bukan pakai kerudung, melainkan sprei katanya mah.''


''Hehe iya ya. Sip lah biarin aja. Yuk pulang sekarang! Aku antar kamu dulu ambil sepeda.''


Kedua pasang kaki itu membawa kisah akhir percakapan dengan meninggalkan tempat yang usai dipijakki. Dengan tak ada bahasa-bahasa lidah yang menyenggol masalah tadi. Mina mengantar Najla mengeluarkan sepedanya, kendati ia menggunakan motor.


Ditaruhlah tas yang sedari tadi menggantung di pundak Najla itu ke ranjang sepeda. Dipindah tugaskan kini kakinya kembali yang akan terbebani memutar-mutar pedal sepeda. Merasa tak kenal dengan dua sepeda yang menghimpit sepedanya, tak peduli sajalah ia. Toh tidak membuatnya bersusah payah mengeluarkan sepeda sendiri.


''Assalamualaikum. Permisi.''


Terangkat jua wajah Najla. Satu huruf vokal baru disuarakan sang pemiliknya itu saja sudah membuatnya kali ini hampir hapal. Ashad.


''Waalaikumussalam,'' jawab Najla dan Mina beriringan.


''Kamu masih pakai sepeda, Naj?'' tanya Ashad.


''Kalo iya emang kenapa? Masalah buat Ashad?'' Sudah dilebar-lebarkan jua kelopak matanya. Agar lebih tampak jutek niat Najla. Namun Najla langsung menciut kala yang ditangkapnya bahwa Ashad tak melihat ke arahnya sekalipun. Ia berdialog seperti bukan dengan Najla, melainkan lantai parkiran yang berdebu itu.

__ADS_1


''Atuh cuma tanya aja. Kan rumah Najla teh cukup jauh.''


''Rumah Ashad juga jauh! Kenapa pakai sepeda?''


''Aku cowok, Naj.''


''Emang kalau cewek kenapa?''


''Enggak apa-apa. Udah lah itu tadi cuma basa-basi aku aja buat nyapa. Kita kan sekarang sekelas lagi.''


Tak lagi menyambar kata-kata Ashad, sebab Najla sendiri sudah tak memiliki perbekalan kata-kata. Bagaimana jua, ia berbincang dengan orang yang disukai, justru mampu mempersulit diri untuk mencari bahan perbincangan. Bungkamlah mulutnya. Kendati hati merasa iba selalu bersikap galak kepada lelaki itu. Terlebih, daya pacu jantungnya selalu tak mau dianggap sahabat dengan situasi seperti ini.


''Btw, sepeda kamu baru, ya, Ash?'' tanya Mina.


''Alhamdulillah. Duluan, ya. Assalamualaikum.''


''Waalaikumussalam.''


Mengentak-entak jua kaki Najla usai kepergian Ashad. Ingin saja dirasanya melilit diri agar tak bersua dengan lelaki itu. Lelah bersikap angkuh.


''Kamu kenapa sih, Naj?''


''Udah ah. Najla duluan. Assalamualaikum.''


''Waalaikumussalam. Itu bocah, udah ditungguin malah ninggalin.''


***


Kertas-kertas dalam memorinya masih dibulak- balik. Diperbincangkan lewat bahasa mata yang dipertanyakan kepada kayu-kayu atap rumah yang sudah nanar kelihatannya. Kekesalan merambat. Keegoisan merebut. Rasa suka tersulut. Mencintai memang tak bisa baik-baik.


Tok tok tok!


''Ini Bapak, Teh. Buka pintu kamarnya!''


''Iya, Pak.''


Kayu berbahankan papan itu terbuka lebar. Sesuatu mengganjal pandangannya. Hingga diusik kembali berulang-ulang, tetap nyata di hadapan.


''I-ini maksudnya apa, Pak?'' Telunjuknya mengarah pada ponsel yang masih terbungkus rapi kardusnya.


''Ini buat Teteh! MAaf ya, Bapak belum bisa beliin Teteh motor buat sekolah. Baru HP aja, buat bantu-bantu ngerjain tugas dari internet.''


Satu titik embun sempat menepi. Dijamahnya lagi wajah Bapak yang kusut karena usia. Sungguh hari-hari panjang ingin memiliki ponsel baru sudah berisik amat mengusik jiwa Najla. Seribu kali berpikir lagi kala ingin mengutarakan keinginan. Lantas terkubur dalam-dalam saat peluh-peluh itu jatuh menyetarakan lelah di badan Ibu dan Bapak.


''Makasih, Pak.'' Didekapnya kuat-kuatlah tubuh Bapak. Satu hal yang paling menyakitkan, di saat Najla sibuk dengan perasaannya pada tahap remaja itu, justru Bapak sibuk memikirkan ia agar mudah mengerjakan tugas dengan ponsel baru. Terluka memang tak butuh alasan karena disakiti, melainkan karena kesadaran diri. Sungguh, perasaan itu yang menggantikan posisi perasaan penyia-nyia waktu tadi. Perasaan kepada Ashad.


***

__ADS_1


Bersambuunng. Tolong beri pendapat untuk tulisan saya ini😊


Terima kasih. Wassalamualaikum.


__ADS_2