Atas Nama Cinta

Atas Nama Cinta
Bab 18: Tentang Air Mata


__ADS_3

Bismillah. Assalamualaikum. Selamat membaca.


Kasihnya terkasih


Awan putih kalah putih


Cintanya tercinta


Lautan luasnya kalah luas


Tentang bara


Sudah dilupa


Iba, aduhai hati telah diluka


***


''Terlalu murah di saat air mata harus membayar luka karena insan yang bukan siapa-siapa. Kekasih, atau mantan kekasih misalnya.''


(Menjelang UAS Semester 5. Lampung, 24 November 2018.)


***


Kehidupan memang tiadalah luput dari apa-apa yang mudah membuat ruang tersembunyi pada jiwa manusia itu berkerut atau berkembang-kembang. Bunga-bunga kehidupan mudahlah kuncup dan merekah. Bukan sesuka hati Allah Yang Maha Esa membuat jalan kehidupan, melainkan sesuka hati para jantung yang tengah dibuat berdetak abnormal dalam meresponsnya. Satu luka, barang jantung itu tenang dan semantiasa mengerti pertolongan-Nya, maka berlapang dan akan dirasanya ujian berbuah pahala jua. Lain halnya kekalau jantung itu tak percaya pertolongan Allah, risau dan berdebu sampai membuat sesak.


Sekali lagi Gadis itu mengangkat kepalanya. Baru didamparkan pada ingatan Mahakuasa Allah untuk membantunya. Daun-daun kecil yang hijau di hadapannya itu berdiri tenang di batang-batangnya. Langit sedikit cerah, kerutan-kerutan awan bersih melaju di lalu-lintasnya. Tak menjeda cahaya yang tengah mengarungi suasana siang ini.


''Mau?'' Satu gelas kemasan air minum yang baru dibeli Mina di kantin ditawarkan padanya.


''Kebetulan air Najla teh habis. Nuhun ya, Min.'' Najla menerimanya. Terduduk jua Mina di sampingnya. Menyedot air minum sampai setengah gelas sisanya.


''Oya, menurutmu aku pantes gak pakai kerudung syari?''


Sedetik Najla menyipitkan sebelah matanya. Dialihkanlah pandangannya itu dari aktivitas anak-anak ekskul Silat kendati ekskul-ekskul lainnya diliburkan. Sayang saja, kepulangan mereka urung diizinkan. Jadilah kebosanan seperti tengah membisingi sekolah.


Senyum lembut Najla tuturkan. Dua lembah kecil pun tampak di pipinya. ''Kenapa tanya kayak begitu atuh, Min?''


''Ehm. Rada gak pede gitu sih. Mungkin efek belum terbiasa kali ya?''


''Nah, itu. Te aya muslimah te pantas lamun pake kerudung. Emmm apa lagi syari atuh. Tambah geulis. Hehe.''


*Lamun\= Kalau.


*Aya\= Ada


''Jadi, keputusanku gak salah kan?''


Sebuah putaran kepala ke kanan serta merta ke kiri sudah lah menjadi jawaban singkat untuk memperluas kelapangan hati Mina dalam bersikap percaya diri saja. Dua pasang mata itu dilayangkan kepada objek-objek yang mereka inginkan. Manusia-manusia di koridor yang saling tertawa tersebab mulutnya terbuka lebar, meski suara gelaknya tak sampai. Manusia-manusia yang tampak serius membicarakan suatu hal. Manusia-manusia berbaju hitam dengan gerak-geriknya memainkan otot dalam bela diri.


''Ismi keliatan jago banget ya.''


Setelah langit-langit lengang, perbincangan dibuka kembali oleh Mina.

__ADS_1


Najla memandang Ismi beberapa detik, lantas berkata, ''Iya. Oya, dia udah mengambil langkah sama kayak kamu, Min.''


Gadis bertas punggung cokelat itu menoleh. Air mukanya serius. ''Apa?''


''Hijrah.''


''Jadi, sekarang gak ada pandangan aneh lagi. Gak ada omongan yang merendahkanmu lagi. Kawanmu semakin banyak, Naj.''


''Omongan kita teh kok datar dan agak ngedrama kitu ya, Min dari tadi?''


''Iya ya?''


Diingat-ingat, benar jua. Dialog-dialog laksana direntangkan pada kanebo kering yang ditempa matahari. Tak ada air yang bisa sampai melunakannya, apa lagi sampai membuatnya bisa menggelitik orang-orang.


Keduanya diam. Sedetik kemudian tertawa. Menertawai lelucon karena pikiran di menit-menit sebelumnya. Tegang. Serius. Kini mencair, membuat geli karena sikap masing-masing yang cukup aneh untuk kali ini.


Tak lama, Ismi membawa waktu istirahat ekskulnya dengan menghampiri Najla dan Mina. Datang-datang seraya mengibaskan kain kerudungnya yang telah lebar itu.  Tanpa permintaan izin, sudah diraihnya jua air sisa Mina dalam gelas.


''Akhirnya. Hausku hilang. Terimo kenai, Mina.''


''Ampun. Datang-datang langsung nyerobot aja buat minum. Izin dulu kek.''


''Iya, Nek.''


''Ish.''


''Mina teh bukan kawan gelut Ismi. Kawan gelut Ismi kan Aurel. Jadi Mina gak suka nanggepin Ismi kalo bikin keributan.''


Tiada diketahui, diam-diam yang sekadar diujarlan namanya tanpa raganya di dekat mereka itu berdiri tak jauh. Sudah menangkap jua kata-kata Ismi barusan. Dari balik tiang sekolah, langsung disambarnya lah perkataan Ismi. Garis lekukan di mukanya memberi arti lain dari kanvas warna-warninya hari ini. Seperti gelombang-gelombang yang terkadang membuat ketakutan.


''Apa-apa? So, im to be object the dialog kamu-kamu? Jahat!''


Hampir terkaget-kaget mereka.


''Apa sih, Rel? Kamu orang baru datang sudah main api saja.''


''Kalian membicarakan aku kan? Bawa-bawa nama Aurel segala.''


''Enggak membicarakan, hanya bilang kalau kamu teh partner Ismi buat diajak gelut.''


Kekalau sudah diambil alih Najla, sebuah kain penyumpal mulut untuk dalih-dalih berikutnya pun bagai bergerak otomatis ke mulut Aurel. Ia seperti membawa jiwa ke samping sahabat-sahabatnya itu dengan sebuah kenalan baru bernama konflik. Caranya bersikap, berekspresi wajah, bernada bicara, sudah lain.


''Sad banget. Aku galau, kenapa dia gampang banget mendapatkan cewek baru? Why? Why? Aku kurang cantikkah? Baru putus beberapa minggu, sosial medianya udah saling unggah foto lagi sama cewek lain!''


Dia benar-benar serius mendeskripsikan kondisi hati saat ini. Ismi yang hendak melemparkan godaan kepada Aurel pun dikemasi lagi niatnya itu. Keburu satu titik air mata menepi di pipi Aurel. Lantas berkelanjutan membentuk aliran kecil yang tak henti-henti.


''Hiks, aku gak tau salahku apa! Aku gak tau kekurangan aku apa di mata Dava! Aku gak tau! Dia putusin aku waktu itu tiba-tiba tanoa penjelasan, sekarang malah membakar hati aku dengan mengunggah foto bersama gadis lain!''


''Aurel sayangnya kita semua. Kamu orang tenang dulu lah. Tenang ya.'' Ditariknya Aurel ke tubuh Ismi. Di sana ia sampai tersedu-sedu melepas tangis.


''Kamu cantik, baik, mungkin emang Dava aja yang gak bisa melihat semua itu dari kamu, Rel,'' ujar Mina.


Posisi Najla yang tersekat oleh Mina untuk sekadar mengusap bahu Aurel, membuatnya diam. Meresapi kata perkata di sana. Sedikit, dadanya merasa diberi suatu beban. Ruang napas menyempit. Berduka lah ia mengingat satu sahabatnya itu belum bisa digoyahkan hatinya. Untuk sama-sama menaiki kapal ke pulau sebrang. Padahal Najla kira semua sudah dikemasi dengan baik, ternyata masih ada Aurel yang tertinggal. Satu dalil Quran yang diberikannya saat di kafe belum bisa meluluh lantakkan hati Aurel untuk menangisi kesalahannya di mata Allah.

__ADS_1


Najla bergerak ke hadapan Aurel, seraya berbisik, ''Najla sayang Aurel. Najla gak mau air mata Aurel jatuh buat Dava yang bukan siapa-siapa Aurel. Dia gak berhak dapat tangisan dari Aurel. Masih ada Bunda, Ayah, Kakak, dan Sahabat yang lebih pantas Aurel tangisi pada waktunya.''


Bukan tanpa alasan. Najla seperti membisikkan kondisi hatinya yang juga rapuh. Dia berlemah, beringsut takut, kacau, risau karena Ibu yang masih memberikan selimut dingin untuknya.


Dua hati yang saling berduka. Satu terbuka, satu terjaga. Satu karena bukan siapa-siapa, satunya karena Ibu tercinta.


***


Pelan-pelan api menjalar pada lembaran-lembaran daun kering yang bertumpuk itu. Di dalam sebuah lubangnya yang dangkal, asapnya mulai merayapi penciuman Najla. Hingga-hingga hendak merayapi langit.


Najla masih tak mengambil diri dari sana. Ia mundur mencari tempat yang layak didudukinya. Terus saja dipandang-pandangnya daun yang semula kering kuning itu lantas mengitam dan pupus menyisakan abu. Sapu lidi masih di tangannya. Sedikit, punggungnya ditegakkan seraya bersandar di dinding rumah. Rasa ngilu karena diajaknya punggung itu menunduk selalu selama menyapu daun-daun yang merusak kebersihan halaman.


''Adek, cepet mandi terus ngaji!''


''Iya, Ibu. Beresin buku dulu.''


Sebuah perintah dan jawaban yang Najla perdengarkan arahnya dari dalam rumah. Ibu di dapur, Aini di ruang tengah. Sudahlah membaik kisah mereka. Najla seperti orang ketiga yang tertangkap basah saja karena suatu kesalahan. Didiamkan, bertanya tak disahut, seperti tengah gulung tikar terhadap kasih sayang.


Dilangkahkan sepasang kakinya menuju dapur. Potongan-potongan kakung sudah berada di baskom kecil. Sementara bumbu-bumbunya sudah diceburkan ke dalam minyak panas. Kini tengah diaduk-aduk oleh Ibu, sampai wangi khasnya meliuk-liuk mengenai ujung hidung. Najla membereskan wadah-wadah yang telah Ibu gunakan untuk dicuci. Tak ada yang saling menyapa. Ragu-ragu, Najla sudah akan pergi mencuci piring. Sampai di pintu belakang kakinya tertahan. Ditenggelamkan dalam-dalam jua kepalanya dengan menunduk.


''Bu,'' panggilnya pelan. Tanpa tahunya lah, Ibu menoleh.


''Teteh minta maaf atas kesalahan Teteh waktu itu.''


Biarlah Najla dikata mudah jatuh pada air mata. Kenyataannya inilah kali pertama ia merasa dimusuhi oleh Ibu. Rasanya? Sungguh apa-apa seperti tak berarti. Kecerewetan berupa topeng dari perhatiannya senyap dan sungguh dirindu-rindukan Najla. Ibu diam saja dan kembali fokus dengan tumis kangkungnya. Najla menyeka air mata dan melaksanakan niatnya mencuci piring.


Menjelang bintang-bintang ditebarkan, sampai ujung jarum jam hinggap di angka tujuh lebih tiga puluh menit usai iqamah sakat Isya, Najla dibuat cemburu. Ibu begitu hangat dan dekat dengan Aini. Benarlah Ibu tak pantas memusuhi Aini, karena memang Najla lah akar masalahnya. Sang adik sekadar turut terbawa saja. Istilah singkatnya, korban.


''Bu, Bapak pulang lagi kapan ya?''


''Emangnya kenapa?''


Najla menyaksikannya. Dari ia singkap tirai pintu kamar Ibu, wanita itu mengusap puncak kepala Aini dengan cinta. Sebuah lengkungan di bibir begitu cerah.


''Pengen makan anggur lagi! Hehe.''


''Hmm. Dasar! Udah tidur aja! Besok sekolah, kalo kesiangan gimana?''


''Kan ada Ibu


yang siap bangunin Adek.''


''Ehhh kamu ini.''


''Ahahah. Iya-iya, Adek tidur. Cium Ibu dulu tapi.''


Sudah. Cukup. Najla ingin langsung beringsut jatuh memeluk dan mengecup pipi Ibu jua. Namun ia memilih untuk mengakhiri pertunjukkan itu dengan melampiaskan duka di kamarnya. Tenggelam dan terisak-isak lah ia. Meski tak sampai ke telinga Ibu. Suara jangkrik di luar telah turut menenggelamkan jua. Pelan-pelan kesesakkan hilang dengan sendirinya. Melalui aliran sungai kecil, seperti membawa sampah-sampah bau busuk yang menjeda aliran napas agar tak berjalan dengan baik. Najla tenang, terlelap. Alam sadarnya hilang, dan tak dirasakannya jua sebuah pelukan yang ia rindukan itu tengah jatuh kepadanya dengan kerinduan yang sama. Mengecup dahinya, dan turut lelap tertidur bersamanya.


***


Bersambuuung.


Terima kasih yang udah mau ngerespons. Wassalamualaikum.

__ADS_1


__ADS_2