Atas Nama Cinta

Atas Nama Cinta
43.


__ADS_3

Suasana Cafe Burns red sangat ramai akhir-akhir ini membuat kewalahan para pegawainya. Akbar tak tega melihat sang ayah kecapaian karena sering kali turun ke lapangan.


Membantu anak buahnya melayani pelanggan, pemuda itu ikut andil dalam pekerjaannya selama dua bulan terakhir ini. Setelah insiden penusukan Bagaskara, lelaki itu undur diri ingin membantu ayahnya di bisnis keluarga kuliner.


"Meja no. 7 Kosong ." Seru Zia yang melewati Akbar. "Segera!" Akbar menuju ke meja pemesanan menyerahkan kertas pesanan lalu beranjak menuju tempat meja no.7 dengan peralatan lap dan Alta semprot berisi cairan air dan dan sabun.


Akbar melap dan membereskan peralatan makan di rak berisikan peralatan makan kotor. Lalu bangku-bangku di rapikan kemudian ia menuju ke tempat penyimpanan barang-barang nya. Lalu kembali ke meja depan membantu melayani pelanggan kadang ia membantu mencuci perabotan kotor. Akbar tak malu atau canggung dengan luwesnya ia bekerja membaur akrab dengan para karyawan ayah nya.


Akbar mengunci pintu Cafe dan menuju ke motor matic nya menatap ke arah seorang wanita berjongkok menatap ke motornya dengan wajah muram.


Akbar berjalan mendekati nya menyapa tanpa menatapnya, lelaki itu memerhatikan kondisi motornya.


"Kenapa?" Tanya nya. Rupanya wanita itu Zia. "Ini kak ban nya kempes mana udah tengah malam. " Keluh nya menatap kesal ke arah motornya.


"Ayo, kita bawa masuk ke Cafe aja biar besuk di ambil teman ku sekarang percuma saja membawa nya tak ada bengkel sepanjang perjalanan menuju ke rumah mu!" Akbar memilih menarik motor hendak dia masukkan ke dalam cafe tanpa mendengar kan pendapat Zia.


"Biar ku antar saja, besuk kamu pakai ojek online." Ia kembali membuka pintu Cafe juga menutup nya lagi lalu mengantarkan Zia dengan motor nya.


Dia hanya hafal alamat rumah para karyawan nya namun belum pernah bertandang. Dia pikir ini akan berguna di kemudian hari. Nyatanya benar sekarang ini berguna karena Zia hanya diam saja tak mengatakan apapun sepanjang perjalanan hanya ucapan terimakasih kala gadis itu diturunkan di depan rumah nya.


"Terima kasih kak, atas bantuannya. " Ucap Zia. Akbar hanya mengangguk sambil tersenyum lalu menjalankan motornya meninggalkan nya.


Sementara itu di rumah besar kediamannya Cicilia, dia menawarkan minuman dan di jawab dengan anggukan kepala Dirga. Disinilah mereka berdiri berhadapan berbincang ringan sambil minum jus dingin.


Dirga menatap Cicilia tak berkedip apalagi melihatnya menjilati minuman kaleng tersebut yang meluber di sekitar pengait kaleng.

__ADS_1


Dirga merasakan hasratnya bercinta makin kuat ia melepaskan minuman nya ke lantai dan langsung mencium Cicilia, ******* bibirnya, sesaat Cicilia terkejut namun dia mengalungkan tangannya di leher Dirga.


Mengikuti alur ciuman panas mereka. Dirga melepaskan diri menarik nafasnya yang memburu, " Maaf. Seharusnya aku ..... Sebaiknya pulang. Maaf aku mencium mu. Maaf." Ucapnya sambil mundur dan saat akan membalikkan badan.


Cicilia langsung memeluknya, dan menciumi bibirnya berulangkali lalu berkata ," Aku menginginkan mu Kak. Sejak awal aku menginginkan mu, walaupun sekali saja aku tak akan menyesalinya."


Dirga mengerjap menatap Cicilia memastikan pendengaran nya tak bermasalah, Cicilia mengangguk sambil tersenyum dan lelaki itu langsung mengecup bibir nya lagi dan lagi.


Mengeratkan pelukannya melekat erat tak ada celah diantara mereka.


Bahkan Cicilia mengambil inisiatif menuntun Dirga untuk menyentuh nya. Dirga merasa musafir yang mendapatkan air di tengah, Dirga bergerak menurut instingnya menyatukan mereka.


Bergerak cepat memacu hasratnya hingga meledak. Mereka hanya berdiri di tengah-tengah dapur itu. "Di samping tangga ada kamar tamu, Kak bawa aku ke sana mari kita lagi.. Please.." Pinta Cicilia manja.


Setelah diam beberapa saat memulihkan tenaga Cicilia di angkat Dirga ala koala berjalan menuju ke kamar yang di maksud.


Paginya Akbar datang lebih awal, membawa peralatan membongkar motor milik Zia di depan Cafe. Lelaki itu sengaja mengganti ban dalam nya langsung dan juga mengecek mesinnya yang lain.


Dia cukup lama tahu jika Zia sangat di andalkan oleh keluarganya. Dan wanita itu sangat mandiri, motor matic miliknya dia beli second. Karena kemampuannya untuk membeli hanya sebatas itu.


Gadis yang tinggal dengan sang paman dengan bibi nya yang bermulut culas penuh dengan tipuan di depan sang Paman membuat gadis itu waspada juga hati-hati.


"Selesai sudah. Fuih.' Akbar menarik nafasnya kemudian membereskan peralatan nya memasukkan ke dalam cafe. Dia membuka pintu cafe lalu mulai bersih-bersih tempat tersebut.


"Pagi, kak Akbar!" Sapa Luna dan Ariel bersamaan senyuman tipis Akbar membalasnya. "Assalamu'alaikum." Balasan Akbar membuat keduanya tersenyum kikuk.

__ADS_1


Mereka mulai aktivitas mereka di tempat bagian kerja masing-masing.


Aktivitas nya dimulai dari bersih-bersih cafe, meeting pagi rutinitas sehari-hari lalu menunggu pelanggan dan melayani mereka semaksimalnya.


"Kak Akbar, terimakasih. Berkat kakak motor ku sudah diperbaiki. Berapa ongkosnya Kak?' Tanya Zia kepada Akbar.


"Bisa kau bayar dengan mengisi kotak amal aja. " Tunjuk Akbar dengan dagu ke kotak kecil di depan kasir.


" Terimakasih, atas pengabdian mu selama 4 tahun ini." Jawab Akbar sambil melap meja kala penutupan Cafe.


"Kak kami jalan dulu!" Abdul menyapa diikuti yang lainnya. "Ok. Terimakasih semuanya. Semoga Allah melindungi perjalanan kalian selamat sampai tujuan". Teriak Akbar.


"Amiin." Jawab semuanya serempak sambil jalan meninggalkan tempat itu.


"Sama-sama Kak, Bahkan aku yang berterima kasih. Hanya lulusan SMP di terima oleh ayah Kakak. Juga pernah dipinjamkan uang waktu paman sakit."


"Aku akan mengabdi kepada tempat ini, dan belajar semuanya. Selama di berikan kesempatan. Terimakasih Kak, aku pamit." Ucap Zia dengan tulus.


"Sama-sama. " Jawab Akbar menatapnya sekilas karena dia meninggal kan nya bersama dengan rekan kerjanya yang lain.


Akbar meneliti setiap sudut cafe karena ia yang terakhir meninggalkan tempat tersebut. Setelah aman ia menguncinya lalu pulang membawa alat-alat yang di bawanya untuk memperbaiki motor Zia.


"Gadis yang hebat, sayang nasib nya kurang beruntung. Semoga kau bisa maju dan berkarier lebih dari ini." Gumam Akbar.


Melajukan motornya di jalanan yang mulai sepi yang ada kerlap kerlip lampu menghiasi taman kota sepanjang jalan yang di lewati nya.

__ADS_1


Zia sendiri merasa beruntung karena mendapat pertolongan dari anak sang bos namun tak membuat besar kepala karena itu bukan tolak ukurnya.


"Akbar orang baik, suka menolong siapapun sama seperti bos. Dan ia seorang low person tak ada salahnya berteman dengan nya." Zia bermonolog dalam hati.


__ADS_2