
"Menyebalkan sekali melihatnya tersenyum seperti itu?Baru pertama kali aku melihatnya tersenyum....hmmm goddess face...i miss her" ucapnya tanpa sadar.
Lama Axel berada didalam mobil hanya karena ingin bertemu dengan Linda. Walau dia bete, dia lelah, dia mengantuk, dia lapar itu tidak menjadi masalah untuknya. Intinya dia akan menunggu...menunggu dan menunggu.
Pukul 17.30 Linda baru keluar dari rumah sakit itu, lagi-lagi bersama dengan dokter itu hingga membuat Axel sangat geram. Ditengah persimpangan barulah mereka berpisah karena parkir mobil mereka berbeda arah. Hal tersebut dimanfaatkan Axel untuk bersembunyi dibelakang mobil Linda.
Linda berjalan sambil merogoh tasnya, mencari kunci mobilnya, setelah pintu mobil terbuka dia pun segera masuk kedalam mobil itu. Namun dia tidak dapat menguncinya karena ada kaki Axel bertengger mengganjal pintu itu.
Linda menjadi kaget dan panik.
"Ax-Axel...Pak Axel"ucapnya takut.
Linda segera keluar dari mobilnya .
"Maaf bu dokter saya butuh bantuan ibu, istri saya akan melahirkan, ikutlah dengan saya" ucap Axel bersandiwara.
"Apa?nyonya ingin melahirkan?kenapa saya Pak?saya bukan dokternya, saya tidak bisa tetapi saya akan membantu bapak, sebentar ya" Linda mengambil ponselnya didalam tas dan akan menghubungi dokter kandung temannya namun Axel segera menutup ponsel Linda dan menarik tangannya pergi menuju mobilnya..
"Cepatlah dokter kita tidak punya waktu lagi, kamu harus segera menyelamatkannya"ucap Axel
"Tu-tunggu Pak...saya tutup mobil saya dulu" Linda melepaskan cengkeraman Axel dan menutup pintu mobilnya.
"Cepatlah"Axel kembali menarik tangannya takut jika Linda akan kabur. Dengan cepat dia membuka pintu mobilnya untuk Linda dan langsung menguncinya, kemudian dia pun mengitari mobil dan langsung masuk ke bangku kemudi.
"Pakai seatbelt-mu" ucap Axel, Linda pun menurutinya, dia pun mulai melajukan mobilnya menuju suatu tempat.
"Tas saya?"Linda melihat ke wajah Axel.
"Tas saya tertinggal didalam mobil Pak, kunci mobil saya?hah....kunci mobil saya menempel distarter mobil saya pak...aduh bagaimana ini" Linda menjadi sangat khawatir.
"Tolong Pak, bisakah kita kembali ketempat semula?"tanyanya penuh harap.
"Tenanglah..nanti saya suruh orang untuk mengurus mobilmu" ucap Axel tenang.
"Coba tolong beritahu alamat anda Pak, saya akan menelpon kawan saya. Dia bisa membantu istri Bapak" Linda segera mengambil ponselnya dan siap mengetik alamat Axel namun Axel tidak memberikan alamatnya.
"Saya hanya butuh kamu bukan dokter yang lainnya" ucap Axel.
"Tapi Pak..sa-saya sudah lama tidak pernah praktek bagaimana mungkin saya bisa menolong istri Bapak?saya khawatir tidak bisa menanganinya dengan baik" ucapnya jujur
"Katakan padaku kenapa kamu tidak pernah bilang jika kamu adalah seorang dokter kandungan?"tanyanya sambil menatap wajah Linda sekilas.
__ADS_1
"Ba-Bapak tau dari mana jika saya dokter kandungan?"Linda mulai curiga.
"Tentu saja dari nametag kamu, bukankah disitu tertulis gelarmu juga" jawab Axel
"Aah..iya...saya hampir lupa..maaf" ujarnya kemudian Linda duduk diam, dia resah tangannya mengepal kemudian meremas tangannya sendiri, ditambah lagi karena belum memberi kabar ke anaknya.
"Pak...kita mau kemana?ini bukan arah rumah Bapak loh" Linda bingung melihat jalan, dia pikir Axel akan membawanya kerumahnya namun jalan yang dituju berbeda.
"Saya lapar, saya belum makan dari siang tidak mengapa kan jika kita makan dulu?"tanya Axel
"Oh ya..silahkan Pak, memang jika menjelang kelahiran para suami selalu dibuat resah menunggu kehadiran si buah hati" Linda tersenyum.
"Bagaimana saat kamu melahirkan dulu?"tanyanya
"Ak-aku...aku juga ditunggui oleh ayah anakku"ujarnya berbohong.
"Siapa nama ayahnya?"Axel mulai menyelidik
"Hmm...Rizal...ya Rizal"ucap Linda
"Dia orang mana?"Axel
"Orang Jawa" Linda
"Ya...tentu saja" Linda
"Kenapa Sky berwajah bule?apa dia orang bule yang sudah lama menetap di Jawa atau bule keturunan?" tanya Axel meyakinkan.
Linda terdiam, dia hampir saja terkecoh dengan pertanyaan Axel.
"Maksud saya, ah ya dia orang luar yang sudah lama menetap di pulau Jawa" jawab Linda sedikit panik
"Kenapa tidak tertulis nama ayahnya di akte Sky?"Axel.
"Apa!! darimana kamu tau?"Linda mulai tak tenang.
"Aku hanya menebak saja" Axel tersenyum samar.
"Ya Tuhan...hampir saja aku jujur, aku harus hati-hati menjawab pertanyaannya" Linda membatin dia khawatir jika Axel akan menjebaknya.
Merekapun tiba di kafe Langit, tempat kencan Axel dan Linda dahulu.Linda melihat penampakkan luarnya...aahhh tempat yang tidak asing lagi rupanya, namun dia tidak tahu apa tujuan Axel membawanya kesini.
__ADS_1
"Ayo turun" Axel membukakan pintu untuknya, namun Linda sepertinya enggan untuk melangkah. Tampat itu adalah tempat kenangan mereka dahulu, dia tidak bisa melangkah lagi kesana. Baginya semua sudah musnah dan sirna, dia tidak akan mau menginjakkan kaki ditempat kenangan mereka dahulu.
"Maaf bapak saja yang makan, saya belum lapar saya akan tunggu bapak disini" ujarnya namun Axel memaksanya. Diam-diam dia ingin mengulang kembali kenangan yang dahulu bersamanya namun Linda sudah enggan. Walaupun Axel memaksa namun Linda tidak mau menurutinya.
"Makanan disini enak-enak loh, kamu coba dulu ya atau kamu hanya menemani saya makan saja jika kamu tidak lapar. Saya tidak ingin meninggalkan kamu sendiri di mobil, bagaimana jika ada yang akan menculik kamu?bagaimana nanti saya menjelaskannya kepada Sky?"Axel bertanya balik. Tiba-tiba dia memegangi perutnya yang nampak sakit.
"Kenapa Pak?apa ada yang sakit?" Linda memeriksa bagian lambung Axel.
"Hati-hati jangan sampai telat makan, bahaya nanti lambung anda" Linda
"Apa kamu masih tidak mau menemani saya makan?saya bisa sakit loh gara-gara dokter" Axel sedikit membungkuk sambil tetap memegangi perutnya
"Baiklah pak...mari saya antar makan" Linda mengalah, dia menyampirkan tangan Axel dipundaknya bermaksud membantunya namum Linda tidak tahu akal Axel yang sesungguhnya.
Seperti biasa Axel memilih menu favorite mereka, dia sengaja melakukan hal itu agar Linda mengingat kembali kenangan diantara mereka namun rupanya Linda memilih menu lain, dia seolah menekankan jika seleranya sudah berubah sekarang. Walaupun tersenyum kecut Axel nampak puas bisa makan bersama malam ini. Dia melupakan istrinya yang sudah ratusan kali menghubunginya.
Tiba-tiba wajah Sky langsung memenuhi layar ponsel Linda, dia pun meminta ijin untuk mengangkatnya dan pergi sedikit menjauh namun Axel menahannya, dia ingin Linda menerima panggilan langsung dihadapannya karena dia pun merindukan Sky.
Dengan sangat terpaksa Linda menerima panggilan itu dihadapan Axel dan membiarkan Axel berinteraksi dengan anaknya juga. Sebab percuma juga dilarang toh Axel juga pasti akan mengganggunya. Ayah dan anak itu tampak sangat bahagia saat melakukan panggilan video call, Sky bertanya kenapa mereka tidak bisa bertemu lagi padahal dia merindukan om Axel dan ingin bermain lagi bersamanya. Tampak awan mendung menggelayuti wajah Axel, betapa dia ingin selalu berada disisi anak itu. Dia benar-benar mengutuk dirinya sendiri. percakapan itu berakhir saat kakeknya mengetahui dengan siapa Sky berbicara.
"Sky mari kita bermain, kakek punya cerita baru untukmu" kakek mengambil ponsel itu dan sebelum dia menutup telponnya dia nampak bilang sesuatu kepada Axel.
"Jangan pernah menghubungi keluarga saya, baik itu anak saya ataupun cucu saya. Suruh Linda segera pulang" tanpa basa-basi lagi kakek langsung menutup telpon itu.
Axel kaget saat melihat ayah Linda, dia tahu jika ayah Linda sangat membenci dirinya sekarang ini, semua pasti karena dirinya yang telah meninggalkan anaknya dahulu. Dan semua keraguannya sudah terjawab secara tidak langsung, Linda hamil karenanya dan dia tidak pernah mengetahui keadaannya karena setelah mereka putus Lindapun seperti hilang bagai ditelan bumi.
Axel mengusap wajahnya penuh frustasi, wajahnya menjadi tegang karena amarah. Ya dia marah karena Linda tak jujur kepadanya dan dia juga marah kepada dirinya sendiri. Dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika dia tidak bisa menempatkan semuanya sesuai ke tempatnya semula.
"Maaf...sudah malam, aku harus segera pulang"
Tanpa banyak bicara Axel langsung bangkit dan segera berdiri, dia menggenggam tangan Linda mengajaknya jalan bersama namun Linda melepaskan tangan itu sambil menggeleng.
"Semua sudah berubah, tetaplah sesuai jalan yang telah kita ambil" ucapnya sambil tersenyum.
Axel merintih perih, hatinya menjerit melihat senyum itu. Dia telah menyia-nyiakan wanita sebaik Linda, hanya ada 1001 wanita yang seperti dirinya, seharusnya dia menjadi pria yang sangat beruntung namun kenyataannya sebaliknya.
Entah dengan cara apa dia bisa meyakinkan Linda kembali, namun satu yang pasti dia siap berjalan diatas bara untuk bisa mengambil hati Linda kembali.
*****
Met sore genks..heppy weekend ya say🤗😘
__ADS_1