Atas Nama Cinta

Atas Nama Cinta
47.


__ADS_3

Aku mencintaimu sayang, tidakkah ada sedikit saja kau simpan cintamu untuk aku. Sebegitu indah nya cinta kita saat itu."


Karina membantahnya dan mengingatkan tentang hubungan mereka di mas kala itu. Bagaskara menatapnya tak berkedip tanpa ekspresi.


"Apa kau sudah selesai bicara? Antara kita sudah usai begitu kau berkhianat! Kau ! Aku sudah memberikan segalanya, harta, cinta juga kepercayaan namun apa balasannya?"


Bagaskara mengangkat alisnya satu meremehkan. "Aku khilaf, juga terbuat akan harta kau tahu, aku sangat ambisius. Aku menekuni karir ini dari bawah.. dan .."


Jeda kalimat Karina di potong Bagaskara dengan cepat. " Khilaf? Bukan tepatnya untuk istilahnya adalah kau kerajinan akan belaiannya lelaki hidung belang. "


"Kau gatal makanya kau tak lepas dari sugar Daddy mu? Bahkan kau tak melakukannya dengan satu orang yang namun berganti layaknya pakaian saja."


"Cepat lah periksalah dirimu, jangan sampai kau terkena penyakit akibat perbuatan mu sendiri. Alhamdulillah, aku sudah periksa dan aku sehat. Aku juga memberikan pemeriksaan terhadap istriku dan hasilnya sama ".


"Makanya aku tak membuat mu menderita kala itu, makanya aku memberikan kompensasi yang cukup. Nyatanya apa balasan mu?"


Bagaskara menjeda perkataan nya menarik nafasnya berat. " Kau sakit jiwa, bisanya kau memiliki ide membunuh istriku? Dan kau sekarang melakukan drama uji coba bunuh diri?"


"Yang benar saja. Bahkan kau nanti mencoba nya lagi dan lagi. Pada masa itu aku tak akan memperdulikan nya! Camkan itu!"


Bagaskara menekan kan setiap perkataannya adalah keputusan mutlak. "Rasakan juga bagaimana rasanya kau menjadi pesakitan, karena itu adalah keinginan mu sendiri! Tak tahu diri, sudah salah mau benar sendiri saja!"


"Aku tak akan meringankan tuntutan ku, dan nikmati saja waktu mu itu dan selamat tinggal!" Bagaskara berdiri meninggalkan nya sendirian bersama petugas karena Bagaskara tahu waktunya sudah habis.


Lagi pula dia tak mau mendengar penjelasan apapun dari mantan istrinya itu. Semuanya sudah dia berikan, bahkan ia sudah bersabar lagi. Kali ini Karina sudah melebihi batas, sudah selayaknya dia diberikan pelajaran yang setimpal.

__ADS_1


Itulah yang dipikirkan nya, "Nyonya, sebaik mungkin saya sarankan mengikuti saja dan berkerja sama lah dengan penyidik. Maka itu akan meringankan tuntutan dan hukuman mu."


Pengacara Gunawan memberikan saran sebelum mengikuti tuan nya berikut dengan asistennya Bagaskara.


Karina menatap nanar ke arah perginya Bagaskara namun baru di ambang pintu wanita itu berteriak.


"Aku tak menyesal karena berniat untuk membunuhnya! Dia layak mati, karena merebut mu! Wanita itu yang bertanggung jawab atas apa yang menimpa aku!"


"Dia ku kutuk berikut anaknya sampai mati pun aku tak terima . Aku mencintaimu kau tahu itu, apapun tentang yang kulakukan hanyalah rutinitas pekerjaan."


"Bagaimana pun kau tak bisa menyalahkan aku. Aku tak bersalah, dia pelakor! Dia yang merebut mu dariku!"


Karina tersengal, nafasnya turun naik karena mengeluarkan semua apa yang ada di pikiran nya. Amarahnya juga sedihnya bercampur aduk karena itu ia berpikir dengan matinya madunya itu adalah solusinya.


Bagaskara akan menjadi milik nya lagi, dan akan begitu adanya. Karina tersentak di giring lagi ke dalam sel oleh petugas kepolisian. Wanita itu berjalan dengan lunglai tak terasa air matanya mengalir dari pipinya.


"Suami oh salah mantan mu itu sudah sewajarnya saja dia mengacuhkan mu. Kau berusaha untuk membunuhnya. Aku yakin 💯 % jika dia mengacuhkan mu!"


Suaranya yang lantang menertawakan dirinya, membuat Karina gelap mata dan menyerangnya dengan membabi buta. Wanita itu terkejut dan terjungkal karena serangan Karina.


Terjadinya kericuhan perkelahian antar mereka membuat sel menjadi gaduh. Awalnya Karina memimpin, menendang menampar juga memukuli musuhnya.


Wanita bertubuh tambun itu, namun dalam sekejap Karina di banting lalu di tindihnya. Pukulan berulang kali mendarat di pipinya yang mulus, petugas wanita datang dan memisahkan keduanya. "Cukup ! Berhenti ! Apa-apaan ini?"


"Ini bukan hutan kalian di sini untuk merenungkan kembali kesalahan kalian, sambil menunggu hukuman penjara kalian bukan malah menambah angka kejahatan kalian!"

__ADS_1


Petugas kepolisian itu memisahkan keduanya dan mengikatnya secara terpisah. "Perkelahian antara kalian tak di benarkan! Kalian bisa kan membicarakan tentang ini dengan kepala dingin! Jangan menambah masalah itu akan memperburuk keadaan kalian sendiri!"


Petugas kepolisian itu memberikan nasehat untuk semua nya. Dan meninggalkan tempat itu kembali ke mejanya.


Karina meringis kesakitan,. tak ada pertolongan pengobatan ke dokter umum ataupun pribadi. Polisi wanita itu hanya memberikan salep dan obat nyeri setelah itu dia di tinggalkan begitu saja.


"Seharusnya kau tak terpancing untuk melakukan hal anarkis. Siapa yang rugi ? Kau sendiri! Dasar bodoh!" Seorang wanita berbadan kurus berkata tanpa melihat nya, membuat Karina bertambah kesal karena itu.


"Aku mengatakan ini demi kebaikan mu, jika tidak suka lakukan lah sesuka mu, mau berkelahi atau membunuh orang di sel rasakan saja hukuman penjara atau mati nantinya kau sendiri yang menerima nya."


Karina menyandarkan tubuhnya yang terasa capai dan kesal bercampur aduk. Apa yang dikatakan oleh wanita itu ada benarnya juga.


Sekarang dia merasakan kesakitan karena berkelahi membabi buta. Bagaskara tak akan. perduli lagi. Lelaki itu sudah mengatakan keinginan nya tak memperdulikan apapun keadaannya sekarang.


Andai ia bisa mengulang kembali maka ia tak akan berselingkuh, tak akan melakukannya tak akan pernah menuruti perintah lelaki itu. Memilih pensiun saja , di keluarkan dari agensinya.


Tak ada job paling tidak, tak akan ada yang mengetahuinya tentang keadaan nya yang kelam.


"Bagaskara, maafkan aku. Aku salah melakukannya. Aku terlalu tamak akan harta juga kesenangan. Maafkan aku?' " Batinnya menatap langit-langit sel tahanan tempat tidur nya entah sampai kapan.


Bagaskara hanya terdiam, bohong jika ia baik-baik saja. Walaupun Karina sudah berbuat salah tapi dia juga yang menyebabkan terjadinya tragedi penusukan itu.


"Alhamdulillah, kau sudah melindungi keluarga kecil kami. Anak kami yang tak berdosa, yang belum melihat indahnya dunia ini ".


"Terimakasih atas semuanya, Ya Allah semoga aku bisa menjadi pelindung juga imam yang baik." Batin Bagaskara.

__ADS_1


Yang masih terdiam menatap jalanan ya g dilaluinya. "Maafkan aku Karina, kau juga memiliki andil merusak hubungan kita. Bukannya aku tidak ingin membantu mu, kali ini kau sudah keterlaluan! Andai saja kau mengakui kesalahan mu sedikit saja, aku pasti tak akan menuntut mu. "


"Maafkan aku, sayang tak bisa melindungi kalian dari bahaya, ancaman Karina. Aku akan berusaha sebaik-baiknya untuk kalian. " Batin Bagaskara.


__ADS_2