
Frans tidak menghiraukan Tina namun bukan Tina namanya jika tidak bisa menyeret Frans dan tetap mengekorinya seperti prangko. Dengan penuh perjuangan akhirnya Tina bisa membawa Frans ke area gedung belakang dengan pemandangan indahnya yang bagaikan sebuah gambaran.
"Aku ingin berbicara denganmu dari hati ke hati, setelah ini aku janji aku tidak akan mengejarmu lagi" Tina berkata sambil membuat tanda V di jari telunjuk dan jari tengahnya. Frans yang frustasi dikejar-kejar bagaikan penjahat akhirnya mulai melemah.
"Fine...bicaralah" ucapnya sambil bersedekap dada. Tina yang merasa mendapatkan angin surga menarik Frans ke sebuah bangku panjang agar mereka bisa berbicara tanpa adanya jarak lagi.
"Kamu banyak membohongiku Frans, janji-janjimu palsu semua. Bukankah kamu pernah berjanji padaku jika kamu akan meninggalkan dia? Lalu kenapa kamu masih bersamanya sampai saat ini? Bukankah hanya aku yang akan melahirkan anak-anakmu? tapi sampai saat ini kau malah menjauh dariku dan malah berharap memiliki anak bersamanya...kenapa kau melupakan semua janji-janjimu Frans?? Ingat...aku adalah cinta pertamamu dan kau orang pertama yang aku serahkan semua milikku tapi kamu malah mengecewakanku. Dan ibumu, kenapa dia lebih memilih Queen daripada aku?? Oh ya aku lupa jika mamamu adalah wanita matrelialistis makanya dengan mudahnya dia menerima Queen" Tina mengeluarkan semua unek-uneknya hingga dia berani menyinggung wanita yang hampir saja menjadi ibu mertuanya itu.
"Tutup mulutmu Tina, jangan pernah kamu merendahkan ibuku. Aku akan tetap membelanya bagaimanapun keadaan ibuku" ucap Frans dengan sorot mata menyalang karena marah. Melihat kemarahan Frans bukannya dia takut tetapi malah semakin merendahkan wanita itu yang telah melahirkan pria yang sangat dicintainya. Dia sudah tidak perduli lagi dengan kemarahan Frans toh dia juga tidak akan pernah kembali lagi kepadanya, biarkan saja dia memuaskan ego-nya dengan menghina keluarganya.
"Dengar...aku memang tidak mencintainya dan aku dijebak untuk menikahinya jika sampai aku tidak mau menikahi Queen maka keluarga aku akan dihancurkan olehnya. Kau tau seberapa kuat keluarga Nathaniel?? Keluargaku tidak ada apa-apanya. Aku pernah memakinya, aku pernah membencinya, aku pernah mengusirnya...aku pernah meninggalkannya dibandara sendiri, aku pernah merendahkannya tetapi dia selalu mencintai ibuku, aku akui memang terkadang orang tuaku berlebihan meminta kepadanya tetapi dia dengan keras kepalanya tetap membela ibuku. Kami terkadang ribut, aku tidak suka dengan cara dia membeli ibuku dengan materi dan sialnya ibuku memang pencinta materi. Aku sudah terlalu sering berbuat jahat kepadanya tetapi dia terus saja menganggapku sebagai suaminya. Sebesar apapun kejahatan yang aku lakukan padanya tapi dia selalu menerimaku dengan hangat hingga habis semua kebencianku padanya. Aku menyerah aku tidak sanggup lagi semakin aku menekannya ada sesuatu yang sakit didalam hatiku. Dia memang bukan gadis yang pintar tetapi dia sangat pintar membuatku tertawa. Kebodohannya selalu menghiburku dan aku sudah terikat padanya, aku tidak akan bisa melepaskannya. Maafkan aku...lupakan semua janji-janji kita, kamu harus bisa membuka hatimu untuk Irvan, dia pria yang baik dan aku rasa dia akan bisa menerimamu apa adanya" ucapnya dengan sedikit tercekat. Ucapan Frans benar-benar telah menusuk hatinya
"Dasar pria sialan...habis manis sepah dilepeh" tiba-tiba Tina melayangkan tangannya dan menampar Frans dengan keras 'PLAAKK'
"Aakkhhh..." Frans sedikit terhuyung, dia kaget dengan serangan Tina yang tiba-tiba hingga dia tidak bisa menghindar.
Frans memegangi pipinya yang panas akibat tamparan Tina, ingin rasanya dia marah namun dia berhasil menguasai keadaan. Tamparan itu tak seberapa sakit dibandingkan apa yang sudah dia lakukan padanya.
Tina tidak bisa menguasai keadaan, dia memeluk Frans dan menangis didadanya. Frans diam tak bergeming, dengan sebelah tangannya dia mengusap rambut Tina dan berusaha menenangkan hatinya namun Tina bukannya diam tetapi malah semakin erat memeluk Frans. Frans membiarkan dirinya menjadi pelampiasan kemarahan Tina.
__ADS_1
"Huhuhu...bagaimana jika suamiku menanyakan kesucianku? Bagaimana jika dia tidak mau menerimaku dan menceraikanku?huhuhu" Tina menangis tersedu.
"Tenanglah, banyak pria yang akan menerima keadaanmu, jika dia mencintaimu maka dia akan menerimamu apa pun keadaannya. Dan aku rasa Irvan bukan type pria seperti itu. Jika dia mencintai seseorang maka dia akan menerima masa lalu orang yang dicintainya. Aku sudah tahunan bersahabat dengannya. Dia seorang pria yang terbuka fikirannya dia bukan type pria kolot yang menuntut kesucian calon istrinya. Kamu beruntung jika bisa mendapatkan dia" Frans memberi pencerahan kepada Tina tentang pribadi Irvan agar Tina tidak merasa resah.
Padahal itu hanya akal-akalan Tina saja, dia harus mencari cara agar Frans merasa bersalah seumur hidupnya dan mau menjadikan dia sebagai istri simpanannya, Tina sudah tidak perduli jika dia menjadi yang ke dua, ke tiga atau pun menjadi yang ke seratus, pokoknya dia tidak akan melepaskan pria itu.
Frans berusaha melepaskan pelukan Tina namun Tina masih enggan melepaskannya.
"Tunggu lima menit lagi" katanya dan Frans pun pasrah.
Queen melihat SW Dokter Irvan dengan kata-kata pujian selangit untuk kekasihnya, dia tertawa membacanya ternyata seorang dokter bisa lebay juga jika sedang jatuh cinta. Namun dia kaget melihat wajah kekasihnya. "Tina? Hah...ini Tina mantan laki gue apa bukan sih?" Queen terus melihat wajah itu sambil mengingat-ingatnya.
Setelah membersihkan tubuhnya dia mencari gaun yang paling bagus untuknya.
__ADS_1
"Aahh....aku lupa membawa gaun, mana aku tau kalau ada acara makan malam segala" Queen memporak-porandakan semua pakaiannya. Dia mengambil kaos tangtopnya dan menggunting sebelahnya tangannya.
"Rok satin gw mana ya" dia mencari rok satinnya panjangnya kemudian dia mengguntingnya hingga setengah pahanya terekspos. Dia memadukan atasan dan bawahan sebagai pakaian pestanya. Dengan cepat dia menyisir rambutnya dan menyanggulnya dengan jepitan rambut dan membiarkan sebagian rambut bagian sampingnya berjuntai. Dia harus menciptakan dirinya sendiri menjadi wanita sexy namun dengan kesan liar dan anggun.
Tak perlu memakai make up tebal karena waktunya terbatas. Dia hanya menggunakan lipstik warna nude sesuai dengan warna pakaiannya dan menyisir alisnya serta memakai maskara untuk melentikkan bulu matanya. Dia memakai perona pipi pink dan sedikit kerlap-kerlap wajah agar tetap nampak kesan seorang gadis belia.
Setelah rapi dia langsung menghubungi suaminya namun tidak diangkat, dia pun melakukan panggilan ulang hingga beberapa kali namun sama hasilnya. Akhirnya dia segera menelpon Dokter Irvan dan bertanya tentang ruangan pesta. Irvan segera memberi tahu ruangan dan dilantai berapa pesta diadakan.
"Waduh bahaya ini....jangan-jangan laki gue udah mabok kali sama kucing garong. Katanya mau jemput gue, tapi gue telpon malah tidak diangkat. Awas aja kamu ya Pak Suami. Aku potong jatah malammu" Dengan menenteng handbag dan menggunakan heels lima senti Queen cepat-cepat mencari ruangan pesta tersebut. Sepanjang perjalanan hatinya kesal dan waswas dia terus menyumpahi Tina jika dia berani mengambil suami tercintanya maka dia akan membunuhnya dan mencincang-cincangnya menjadi makanan buaya.
__ADS_1
Met sore genk....maaf ya sekarang udah mulai sibuk jadi gak bisa up cepat-cepat namun selalu di usahakan untuk tetap up 😊